Matahari bersinar cukup cerah namun tak cukup terik di dalam hutan yang rimbun, seorang pria tampan dan gagah dengan rambut gondrongnya berjalan santai seraya bersiul, sesekali dia menengok ke langit menatap beberapa burung nan elok berkicau seolah menyapanya. Sudah hampir lima hari dia pergi dari kawanannya dirinya enggan kembali hanya untuk menyaksikan kepedihan dan ratapan menyedihkan dari kakaknya atas kekasih nya yang menyedihkan. Lagi pula sejujurnya ia juga tak tahu kemana kakinya melangkah cukup ceroboh sampai sampai ia tidak menyadari bahwa ia kini memasuki sebuah wilayah territory sebuah klan yang cukup terkenal kekuasaannya diantara kaumnya.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya Charlos menemukan sebuah danau yang airnya cukup jernih dan terlihat segar untuknya membasuh diri dan mendinginkan tubuh di hari yang panas seperti ini.
"Tidak ada salahnya berendam di sini sebentar.” Ucapnya, lalu tanpa sungkan menanggal kan pakaian atasnya dan sepatunya menyisakan celana panjangnya dan tubuh atas nya yang atletis.
"apa yang sebaiknya harus kulakukan.” gumamnya sendirian, wajahnya menyiratkan rasa Lelah bukan karena perjalanan panjangnya. Tapi karena beban pikirannya yang menggunung sebagian besar karena masalahnya dan kakaknya.
" Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk masalah Kyle, kita sudah berulang kali mengingatkannya dan kau tau seperti apa kakakmu. Dia tidak pernah mendengarkan kita sama sekali." ucap Max dan itu benar sebagai seorang adik Charlos melakukan segala yang ia bisa untuk kakaknya setidaknya untuk memperingatkan Kyle tentang berhenti terjebak dalam lingkaran balas dendam tidak masuk akal yang di tanamkan ayah mereka padanya.
Cukup lama Charlos berendam di danau itu asik menyelam ke sana kemari hingga kemudian dia menyadari sesuatu. Hidungnya menangkap aroma begitu memikat indra penciumannya jantungnya berdebar cepat. Benaknya menjawab perasaan aneh tersebut.
“Cahrlos! mungkinkan?!” Max jiwa serigala yang bersemayam dalam diri Charlos mengingatkan. Segera Charlos mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba menemukan pemilik aroma yang sangat memabukkan itu, jika aroma matenya tercium sepekat ini itu berarti ia berada tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"tidak mungkin... dimana!?" batinnya. Charlos memahami makna aroma ini, aroma yang hanya bisa ia cium dan satu satunya yang mampu membuat mereka bertekuk lutut.
"Berdiri Charlos aromanya dari arah sana." Perintah Max seraya menunjuk hutan yang berada di seberang danau tempat ia menyegarkan diri. Tanpa pikir Panjang Charlos berenang menuju sisi lain danau meninggalkan pakaiannya yang tergeletak begitu saja di tanah. Max begitu semangat dan antusias saat mencari sosok mate nya ia terus meneriaki kata ‘mate’ dan bergerak aktif di dalam sana.
"Diamlah sebentar kau membuatku tidak focus Max!” Gerutu Charlos. Namun ditengah tengah perjalanan Max berteriak kencang.
"Berhenti charlos!" Membuat Charlos terpaku di tempatnya berdiri sekarang.
"Shitt, kenapa lagi Max?!" Mindlinknya.
"Di sini.. dia di sini.” Charalos menatap bingung sekitarnya tak ada siapapun. Apa penciumannya salah namun memang benar dari tempatnya berdiri sekarang Aroma itu semakin tercium pekat.
"Bodoh! Lihat ke atas!" Atas? Charlos dengan bingung mengikuti perintah jiwa serigalanya, dan betapa terperangah nya Charlos saat mendapati sosok wanita berparas sangat cantik bertubuh sedikit mungil namun tetap ideal dengan rambut nya berwarna coklat sebatas pundak, berkulit putih pucat dan mata merahnya begitu menghipnotis. Hingga sedetik kemudian Charlos menyadari sosok itu merupakan Vampire. Suara geraman keras sarat akan ancaman tanpa di sadari Charlos lolos dari kerongkongannya namun Max mengambil alih tubuh mereka selama beberapa detik seraya memaki Charlos.
"Bodoh! Dia adalah mate yang kau cari!" Teriak Max, Charlos terdiam sejenak ia merasa tak percaya akan kenyataan yang ada di hadapannya kini. Saat Charlos berhasil mengendalikan dirinya Max perlahan mundur dan menyerahkan kendali tubuh mereka kembali pada Charlos.
Pria itu untuk kedua kalinya menatap wajah gadis itu, mata mereka saling bertemu satu sama lain namun wanita itu terlihat membeku di tempatnya sorot matanya sarat akan perasaan sedih dan pilu yang tak bisa Charlos mengerti. Apakah itu rasa takut? Wanita itu tentunya tahu bahwa Charlos merupakan pasangannya.
"Apa kau akan menolaknya? Jangan coba coba Charlos aku tidak perduli dia adalah apa dia adalah miliku.” Tegas Max ia khawatir Charlos mungkin tidak menerima hal ini dan pergi meninggalkan mate mereka, Charlos seakan tengah menimbang nimbang apa yang akan ia putuskan hal itu membuat Max gelisah ia tahu bahwa Charlos tidak begitu menyukai kaum mereka mengingat secara alami kedua kau ini adalah musuh bebuyutan. Namun Charlos nyatanya tidak membenci kenyataan ini meski ia sedikit kaget karenanya.
"Tidak akan." Ujar Charlos seakan ia tahu apa yang di khawatirkan Wolf-nya.
"Mate? Kau akan tetap membatu di atas sana? Aku menunggumu lama sekali kau tahu." Lucy tersentak kaget mendengar panggilan dari pria itu ‘mate'. Air mata menggenang di pelupuk matanya ia sama sekali tak pernah bermimpi bahwa apa yang ia lihat beberapa waktu yang lalu merupakan sebuah tanda yang nyata. Ia melesat pergi tanpa fikir Panjang kemari dan pada akhirnya ia berhasil bertemu dengan seseorang yang selama ini ia nantikan. Kekhawatiran menumpuk di benaknya saat tahu pasangannya merupakan seorang werewolf namun melihat pasanganya ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya membuat Lucy terharu. Ya sosok Vampire asing itu adalah Lucy dari Klan Walcott.
Charlos semakin merasa bersalah saat sadar bahwa Vampire memiliki kehidupan yang abadi dan sama seperti mereka kau werewolf mereka cenderung hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Tak bisa Charlos bayangkan berapa lama ia menunggu kedatangannya seperti ini dan berdiri dihadapannya.
Dengan cekatan Lucy melompat turun dari atas pohon besar tersebut, saat kakinya berhasil menginjak tanah Lucy seakan kehilangan kekuatannya. Ia nyaris terjerambab ke tanah jika saja Charlos tidak berlari menangkapnya dengan cepat. Tangis Lucy pecah saat lengan kekar itu menyentuh tubuhnya tanpa permisi lagi Charlos segera memeluk Lucy erat.
"Sttt.. tenanglah aku di sini."Bisik Charlos menenangkan wanitanya namun tangis Lucy semakin keras di dada bidangnya.
"Lama sekali.. aku menunggumu selama ini, kemana saja kau.." isak wanita itu yang justru membuat Charlos terkekeh, kini ada sesuatu yang terisi di relung hatinya yang selama ini kosong.
"Aku tahu.. aku tahu, maafkan aku. Harusnya sejak dulu aku kabur dari tembok gelap dan suram itu." Canda Charlos, Lucy tidak menghiraukannya dirinya teramat bahagia saat ini.
"Namaku Charlos." Ujar Charlos memperkenalkan diri saat Lucy nampaknya sudah sedikit tenang.
"Lucy. Kau bisa memanggilku Lucy." Mereka saling menatap kemudian tersenyum bersamaan.
"Beautiful." Puji Charlos hingga membuat wajah Lucy merah karenanya.
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments