ditengah kepusingan yg melanda kepala nya
Sean memutuskan untuk kembali kerumahnya dan membuktikan sendiri siapa sebenarnya istri kecilnya itu.
akhirnya Sean sampai di kediamannya setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit,memang jarak antara rumah dan perusahaan Sean tidak jauh hal ini memang sengaja di rancang oleh Sean agar dia tidak perlu terlalu lama berkendara.
"dimana wanita itu?"tanya Sean datar pada pelayan yg kebetulan lewat di depannya.
"tadi saya lihat setelah dari taman nyonya langsung masuk kamarnya tuan dan belum keluar sejak tadi"ucap pelayan itu menunduk hormat.
tanpa menunggu lagi Sean langsung bergegas menuju kamar Zarina.
langkahnya terdengar terburu buru mendatangi kamar Zarina,
Sean membuka pintu kamar itu dengan pelan tidak seperti biasnya yang langsung membanting pintu kamar Zarina, kali ini Sean ingin melihat apa yang dilakukan gadis itu tanpa sepengetahuannya.
sedangkan di dalam kamar tampak Zarina sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke meja kosong di depannya,Zarina terlihat menunduk seperti sedang mengerjakan sesuatu,Sean sangat penasaran tentang hal itu Sean mulai berjalan sepelan mungkin agar Zarina tidak menyadari kedatangannya.
tapi perkiraan Sean salah Zarina sudah menyadari kedatangan Sean sejak Sean membuka pintu itu. Zarina langsung memasukkan benda yang sedang di tangannya itu kedalam laci meja yang ada di hadapannya tanpa sepengatahuan sean.
"apakah menjadi seorang yang mengendap endap seperti pencuri di rumah sendiri sudah menjadi Trent pada zaman ini tuan Sean Alexander?"ucap Zarina dengan nada menyindir.
Sean yang mendengar kata kata Zarina seketika menghentikan aksi mengendap endap nya itu dan mulai salah tingkah karena ketahuan oleh Zarina ,tapi bukan Sean namanya jika dia tidak bisa mengendalikan keadaan dia segera mengendalikan dirinya dan berdiri angkuh di tempat nya.
"ya tentu saja apa kau tidak tau kalau hal itu memang sedang Trent pada zaman ini?"ucapnya tanpa berpikir.
"heiii apa yang kau lakukan Sean kenapa kau berubah menjadi pria bodoh di depannya?"guman Sean tersadar dan mengrutuki kekonyolannya yg hanya dia yang bisa mendengar nya.
"terserah padamu saja taun Sean yang terhormat aku tidak peduli,sekarang katakan kenapa kau kekamarku tidak mungkin karna kau merindukanku kan?"ucapnya dengan senyum sinis memandang Sean.
"kau terlalu percaya diri untuk apa aku merindukan anak seorang pembunuh sepertimu memangnya apa hebatnya dirimu sampai berani berpikir aku akan merindukan mu?"ucapnya pedas.
Zarina hanya diam saja mendengar kata kata Sean
sekarang yang ada dipikirannya hanya satu dia mencoba mencari tahu sebenarnya apa lagi yang di rencanakan Sean kali ini terhadapnya.
"siapa kau sebenarnya?"tanya Sean tiba tiba menghancurkan lamuanan Zarina.
Zarina menatap dalam mata Sean kemudian berjalan mendekat ketempat Sean berdiri.
"kau penasaran dengan ku?"ucapnya dengan tatapan intens terhadap Sean.
"berhenti membuang waktuku katakan siapa kau sebenarnya?"ucap Sean geram melihat tingkah Zarina yang sama sekali tidak pernah takut padanya padahal Sean sudah melakukan banyak hal padanya.
kali ini Zarina kembali mengikis jaraknya dengan Sean hingga sangat dekat bahkan Sean dapat merasakan deru napas Zarina.
"aku adalah istrimu jika kau lupa tuan Sean, dan aku juga adalah anak dari seorang yang kau tuduh membunuh adikmu "ucapnya pelan dengan pandangan mata yg tak lepas dari mata Sean.
dengan cepat sebelah tangan Sean memegang pinggang Zarina dan mendorongnya ke dinding dengan tangan yang lainnya mencengkram dagu Zarina agar menghadap kearahnya,jarak mereka sangat dekat bahkan bibir keduanya tampak bersentuhan.
"kau terlalu menguji kesabaran ku gadis kecil"ucap Sean dingin dengan tatapan tajam menghunus ke arah Zarina.
Zarina berusaha melepaskan tangan Sean di dagunya tapi hal itu sia sia karna posisi nya sangat tidak menguntungkan bagi Zarina sekarang.
"apa kau pikir dengan bertingkah pongah dan sombong seperti sekarang ini kau bisa mengelabui ku hah? aku pasti akan segera tau siapa kau sebenarnya."tambah sean tajam.
Zarina menghempaskan tangan Sean dari dagunya dengan kasar hingga membuatnya bisa terlepas dari kukungan Sean.
"hahaha benar kah itu tuan Sean kau akan tau siapa aku?benarkah?apa itu mungkin?"tanyanya dengan senyum mengejek ke arah Sean.
"kau bahkan tidak bisa membongkar siapa pembunuh adikmu yang sebenarnya,kau juga bahkan tidak tau siapa saja yang bisa kau percayai di rumah mu sendiri dan sekarang kau ingin mencari tahu siapa aku?itu terdengar sangat konyol tuan Sean."ucap Zarina dengan senyum sinis ke arah Sean.
Sean yang melihat tingkah Zarina sangat geram dan ingin sekali membuat wanita itu diam di depannya sekarang juga.
"apa kau sangat marah sekarang? atau kau berpikir untuk membunuh ku sekarang tuan Sean?ck ck ck kau tau Sean aku ini memang masih sangat muda tapi aku ini gadis yang pintar apa kau mau bukti?"ucapnya sombong
Sean hanya diam mendengarkan kata kata Zarina.
dengan perlahan Zarina mendekat kearah Sean dan menarik tangan Sean menuju balkon kamarnya,Sean hanya diam saja mengikuti Zarina tanpa mau membantah Sean ingin melihat apa yang akan di lakukan gadis kecil ini.
"dengarkan aku sekarang bertingkah lah seolah kita sedang bermesraan"ucap Zarina tiba tiba dan langsung memeluk Sean.
Sean sedikit kaget dengan perlakuan Zarina jantungnya terasa ingin keluar dari tempatnya karna Zarina memeluknya.tapi lamunannya langsung terhenti ketika mendengar kata kata Zarina.
"lihatlah kearah jam sembilan sekarang tapi ingat jangan menimbulkan kecurigaan"
Sean mengikuti kata kata Zarina dia melirik kearah yang di katakan Zarina dengan hati hati..
berapa terkejutnya Sean ketika melihat seorang dengan pakaian serba hitam dan menggunakan topeng sedang mengintai rumahnya dan jangan lupakan sniper panjang yang ada di tangannya.
seketika Sean panik dan ingin segera memanggil para bodyguard nya tapi hal itu di hentikan Zarina
Zarina langsung mempererat pelukannya pada Sean agar pria itu tidak beranjak dari tempatnya.
kemudian dengan cepat Zarina mendekatkan wajahnya ke arah Sean seolah sedang berciuman kemudian berjalan perlahan masuk ke kamarnya kembali.dan langsung menjauh dari Sean.
dengan segera Sean ingin keluar dan memanggil bodyguard nya.
"kau tidak perlu memanggil bodyguard mu Sean"ucap Zarina santai.
"apa maksudmu kenapa aku tidak bisa melakukannya?"ucap Sean.
"pria itu tidak akan menembak atau melakukan penyerangan ke rumah mu ini"ucap Zarina santai.
"dari mana kau bisa seyakin itu"ucap Sean dengan nada menyelidik.
"apa kau tau dia sudah ada di sana sejak lama jika dia memang ingin menembak seisi rumah mu ini dengan snipernya itu maka pasti dia sudah melakukannya sejak pertama kali dia datang kesini"ucap Zarina.
Zarina berjalan menuju laci tempat dia duduk tadi dan mengambil sebuah benda seperti monitor kecil.kemudian berjalan mendekati pintu dan menguncinya rapat kemudia beranjak mengambil sebuah laptop dari bawah ranjangnya.
"kemarilah dan lihat ini"ucap Zarina memanggil sean untuk mendekat.
Sean mendekat kearah Zarina dan melihat kearah monitor laptop Zarina dan betapa terkejutnya dia dengan hal yang dilihatnya di layar monitor itu.
"anggelin......"
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
duhh anggelin? kok bisaa🤔🤔 duh jadi penasaran kok bisa ada anggelin.itu anggelin siapa ya apa mungkin adiknya Sean kali ya🤔🤔AU ahh author pusing juga🤣😅
💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢
pokonya jangan lupa like dan coment ya daahhhh💋💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments