Setelah telpon itu deris langsung beranjak dan pergi meninggalkann kediaman Sean alexsander.
disisi lain Zarina masih memikirkan perkataan deris tdi alisnya sedikit tertekut menunjukkan raut bingun di wajahnya,ada perasaan ragu di hatinya tentang perkataan deris tadi.
"huh...sudahlah kenapa aku harus memikirkan kata kata deris tadi aku yakin pasti dia juga akan selalu memihak tuannya." ucap Zarina kemudian menutup matanya untuk mencoba terlelap dalam kebingunan nya.
-
-
-
-
-
sinar matahari tanpak enggan dan malu malu menampakan dirinya,angin terus berhembus dgn alunan yg senada.
tampak seorang pria tampan yg telah terbangun dari tidurnya wajahnya tampak berkerut dengan tangan yang mengusap kepalanya pelan.
"huh kepala ku sangat sakit"ucap Sean sambil beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.
disisi lain tanpak Zarina yg sudah rapi dengan stelan dres coklat selutut dan rambut yg terikat tinggi sehingga mengeksposh leher jenjangnya dia tampak menikmati sarapannya.wajahnya mancarkan ketenangan dan aura yg mempesona dan anggun,sekilas tidak akan ada yg menyangka jika gadis itu hidup dengan kesengsaraan.
tap....
tap....
tap....
terdengar langkah kaki seseorang tengah menuruni tangga dengan nada yg seirama.ya siapa lagi jika bukan Sean.
wajahnya menunjukkan ekspresi dingin yg dapat mencekat seluruh atmosfer yg ada di sekitarnya,tanpak para pelayan menunduk hormat ketika melihatnya.
pria itu berjalan dengan gagah dan menawan dengan stelan jas hitam yg melekat rapi di tubuhnya,dia berjalan menuju meja makan dan duduk tepat di hadapan zarina.sean memperhatikan raut wajah Zarina yg tampak tanpa ekspresi sedang menikmati makanannya Tampa memperdulikan kehadiaran Sean di hadapannya.
Sean tanpak geram melihat Zarina yg tak kunjung melihat kearahnya dan berkesan mengacuhkannya.
dengan kasar Sean mengambil sendok yg ada ditangan Zarina dan meletakkannya di samping peralatan makannya sendiri.
Zarina masi tampak tenang tanpa mengeluarkan ekspresi dia malah mengambil sendok yg baru dan mulai melanjutkan kegiatan makannya tampa memperdulikan sean.sean yg di perlakukan acuh oleh Zarina malah semangkin geram dan dipenuhi amarah.
"sepertinya kau sangat tenang hari ini apakah selingkuhan mu itu telah memberi kabar untukmu dengan kata kata indah nya itu" ucap Sean dengan nada mengejek kepada Zarina.
Zarina menghentikan aktifitas makannya kemudian beralih menatap Sean dengan lekat matanya tampak mengamati gerak gerik Sean di hadapannya.
"apakah kau cemburu tuan Sean alexsander?"ucap Zarina datar dan langsung membuat Sean gelagapan dan salah tingkah.
tetapi bukan Sean namanya jika dia tidak dapat menguasai emosinya dengan cepat.
"hah...aku cemburu kepada wanita sepertimu,jangan bermimpi terlalu jauh.baguku kau hanya sebuah debu kecil di mataku"ucap Sean dengan sinis.
"benarkah tuan Sean?bagus jika begitu akupun tak berharap menjadi sebuah batu besar di matamu"ucap Zarina sambil menggenggam telpon pintarnya dan ingin beranjak dari meja makan.
tring.......
nada dering telpon mengalihkan perhatian keduanya.zarina tampak mengerutkan keningnya melihat nomor yg tidak dikenal tengah menghubunginya.sean juga menyadari hal itu tanpak di wajahnya raut penasaran tentang siapa yg sedang menghubungi istrinya itu. dengan ragu zarina mengangkat telpon itu.
"hallo?".ucap Zarina lembut.
"hallo,Zarina apa kah kau masih mengingatku?"tanya seseorang dari kejauhan.
Zarina tampak diam dan mencoba untuk mengenali suara seseorang di kejauhan,belum sempat Zarina mengingat nya seseorang dari sana telah mengatakan siapa dirinya.
."aku axsel.... apakah sekarang kau mengingatnya?"ucap axsel dengan nada menggoda.
Zarina tampak mengalihkan tatapannya kearah Sean yg masih setia menatapnya Tampa berkedip.
"axsel?....bukankah kau pria yg ada di pesta kemarin malam?"tanya Zarina memastikan.
mendengar Zarina menyebutkan nama pria lain wajah Sean tampak menahan amarah.matanya tampak menunjukkan tatapan membunuh melihat Zarina dengan langkah yg cepat Sean mengambil handphone Zarina dengan kasar dan mematikan sambungan telpon itu.
Zarina tampak terkejut melihat kelakuan Sean.
dengan marah dia berkata.
"apa yang kau lakukan,apakah kau tidak melihat aku sedang berbicara dengan seseorang?"
"kenapa hah? apakah aku mengganggumu berbicara dengan selingkuhanmu itu?"ucap Sean dengan penuh kemarahan.sorot matanya sudah tampak tak bersahabat dan siap menerkam mangsanya.
belum sempat Zarina menjawab perkataan sean.dengan kasar tangannya sudah di tarik oleh Sean menuju sebuah kamar.sean menghempaskan tubuh Zarina keranjang dan mengunci pintu.dia berjalan kearah Zarina dan mencengkram dagu Zarina dengan kuat.
"kau hanya milikku ingat itu dan aku tidak suka jika milikku di sentuh oleh orang lain"ucap Sean dengan dingin emosinya sudah tidak terkendali dia bahkan tak dapat berpikir dengan jernih lagi .
Zarina menghempaskan tangan Sean dengan kasar dari dagunya dan menatap Sean dengan tajam.
"aku bukan milikmu,dan kau tidak berhak atas diriku,"ucap Zarina lantang. "kenapa ha apa kau marah,tuan Sean jika ada yg menghubungiku memangnya apa hakmu atas diriku bukankah kau tidak menganggap ku sebagai istrimu dan hanya seorang anak dari pembunuh adikmu, jadi mengapa kau harus marah jika ada yg menghubungiku."ucap Zarina tak mau kalah.
Sean tampak diam dan mencerna kata kata Zarina.
"kau benar aku memang tidak menganggap mu sebagai istriku,tapi aku menganggapmu sebagai objek mainanku.apa kau tau aku tidak suka jika mainanku di sentuh atau diambil oleh orang lain sebelum aku membuangnya ketempat sampah,jadi berhati hatilah aku tidak akan membiarkan kau dan selingkuhanmu itu bersatu."ucap Sean dan berlalu meninggalkan Zarina di tempatnya.
melihat Sean telah pergi meninggalnya Zarina mengehala napasnya dengan kasar.
disisi lain axsel tengah tersenyum licik menatap ponselnya.tampaknya dia sudah tau kenapa sambungan telepon nya dengan zarina terputus tiba tiba.
"Sean alexsander kau akan menyesali perbuatanmu karna telah menggangguku dan aku pastikan kau akan kehilangan semua yg kau punya termasuk istrimu."ucap axsel dengan yakin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments