Mafia 6

Malam hari

keluarga Richard sudah berkumpul kecuali Richard di meja makan

^^^"wah kakak ipar apakah semua ini masakan kakak, semuanya harum aku tidak sabar untuk mencicipi" puji Raisa kepada Morista yang hanya ditanggapi dengan anggukan saja. ^^^

"nak mana suamimu " tanya mertuanya

"oh iya bu mas Richard masih di kamar mungkin ketiduran, tunggu biar saya panggil saja bu " sambil beranjak dari kursinya

"iya kakak ipar cepat panggilkan aku sudah lapar cacing ku sudah demo sejak mencium aroma masakan yang kakak buat"

"iya iya baiklah".

Morista berjalan ke kamar mereka yang ada di lantai 4 sebenarnya mansion itu sudah ada lift tetapi belum diketahui oleh Morista.

Di depan kamar.

tok tok tok Morista mengetuk pintu

" ya masuk saja "Morista langsung masuk

" Tuan mari kebawah makan karena tuan sudah ditunggu ibu dan ayah "menunduk karena masih ada ketakutannya kepada Richard yang membentaknya tadi siang , sebenarnya Morista belum pernah mendapatkan bentakan dan kekerasan dari seseorang

" hm "dengan arogan turun kebawah

"ham hem dasar manusia es, kemana suara dia yang tadi siang yang membentak ku uh andaikan kau bukan suamiku sudah ku getok kepalamu lalu Kuantan ke matahari biar cair dan sekalian gosong dah " batin Morista yang ingin tertawa geli mengingat jika Richard gosong tapi langsung di tatap tajam oleh Richard

"hei kenapa senyum senyum kamu menjelek jelekkan aku yah " dengan arogan dan dingin

"gak kok tuan serius " tiba tiba sadar mendengar ucapan suaminya.

"awas saja jika iya makasih kupastikan kepalamu akan kupenggal"

"iya tuan " ketakutan. mereka pun melanjutkan berjalan dan sampai di meja makan

Morista langsung menyendokkan makanan ke piringnya semua anggota keluarga termasuk Sekretaris Rey.

Setelah selesai "mari silakan " dan mendapatkan anggukan

"wow kakak apa nona yang masak ini semua, sangat enak kak melebihi restoran, nona cocok jadi tipe saya" sekretaris Rey sengaja dengan maksud memanas manasi Richard walaupun tidak ditanggapi tuannya itu karena hati Richard seperti beku."nggak kok ini berkat pembantu aku cuman membantu saja" jawab Morista setelah selesai makan mereka bercengkerama di ruang tamu.

"kak lain kali ajarin aku kak " Raisa dengan nada memohon

" baiklah tapi hanya bisa besok atau setiap minggu karena aku sedang sibuk menyiapkan diri untuk wisudaku yang bentar lagi "

"iya kak, tapi sekalian itu yang itu hap hap hiya krekkkk ilmu bela diri " sambil menirukan gaya Morista sewaktu melawan preman

"boleh tapi kuliah kamu jangan jadi terbengkalai "

"siap bu guru " sambil membungkukkan badannya seolah Morista gurunya sekian senyum kecuali Richard yang malah sibuk chat dengan kekasihnya.

Tiba tiba Richard berbicara dengan arogan

"bu besok kami pindah rumah saja "

"kenapa son " tangan ayahnya

"biar kami lebih mudah saling kenal " dan langsung di setujui

Setelah selesai bercengkrama panjang lebar mereka beristirahat kekamar masing masing

Di kamar

"kamu" Richard menghimpit badan Morista ke tembok, tiba tiba Morista langsung badan Morista bergetar hebat ketakutan seperti ada trauma. Richard langsung sadar melihat perubahan Morista.

"heleh hanya segitu saja sudah begini, jangan harap kamu mau saya sentuh is najis " dengan arogan dan mendorong tubuh Morista dengan kasar ke lantai kebetulan kamar Richard kedap suara jadi apa yang terjadi tidak diketahui orang tuanya.

"ingat kamu hanya sampah dan benalu di rumah ini " jadi jangan harap kamu bisa tenang selama kita bersama. Morista seketika menangis. Richard melihat mata Morista dan bertanya dalam hatinya "deg deg mata gadis ini seperti gadis yang pernah ku kenal tapi tidak mungkin , gadis itukan kakak Williams dan itupun mereka tinggal di Jepang , huh biarlah untuk apa gadis itu kupikirin jelas jelas kakaknya yang memintaku menjahuinya" dia pun tersadar

"Sana pergi kau dari hadapanku" mengusir Morista

"Baik tuan" Morista bergegas ke sofa lalu meminum obat tidur dan mulai mencari posisi ternyaman untuk tidur setelah reaksi obat itu bekerja dia pun tidur nyenyak memang kebiasaannya meminum obat tidur karena dia sering depresi sejak masa kuliah.

Pagi Hari

Morista bangun dan mulai memikirkan perkataan Richard yang semalam dan berkata dalam hatinya "Tuhan apakah aku tahan dengan sikapnya, aku memang ingin mempunyai keluarga bahagia dan mengubah suamiku tetapi mengapa sangat sulit, atau apakah aku harus berhenti disini" lalu Morista mengingat pesan ibunya "nak bagaimanapun sikap suamimu kamu harus sabar dan jangan putus asa, bagaimanapun dia doakan dia " lalu Morista pun langsung berdoa mendoakan suami dan seluruh keluarga..

Setelah selesai berdoa dia

untuk memasak, lalu mandi dan menyiapkan pakaian suaminya dan turun kebawah. Morista sengaja tidak membangunkan suaminya karena mengingat perkataan suaminya supaya tidak menyentuh tubuhnya.

Dimeja makan sudah berkumpul dan Richard pun sudah turun. mereka makan tampa ada pembicaraan.

lalu setelah selesai mereka melakukan kegiatan masing masing dan Richard bersama Morista pindah rumah walaupun orangtuanya Richard tidak setuju dengan tapi tak bisa mencegahnya lagi.

"pah,mah kami berangkat "pamit Richard

" iya kami pamit dulu dan ya kamu Raisa kamu aku ajarin lain waktu deh atau bisa nanti hari minggu depan deh "

"baik kak" jawab Raisa

"yaudah kalian hati hati" putus ayah Richard

setelah selesai acara pamit pamitan mereka langsung berangkat.

setelah sampai walaupun mansion Richard lebih besar tetapi dia senang karna melihat banyak bunga.kemudian mereka masuk.

"kamu kamar kamu disana " menunjuk kearah salah satu kamar

"dan ini kartu bisa kamu pakai karena pasti kamu hanya ingin uang untuk belanja aku sudah banyak bertemu orang seperti kamu " Morista mendengar meremas bajunya hatinya sangat sakit mendengar suaminya itu

"Aku tidak butuh itu tuan saya masih ada uang kok "

"tidak ada penolakan" menyodorkan black cart mau tak mau dia menerima.

Lalu Richard langsung pergi menuju kantor dan didatangi oleh Siska yang sudah mengetahui pernikahan Richard dengan Morista dari mata matanya

"hey dimana kamu Richard" teriaknya dikantor lalu menerobos masuk kedalam ruangan kantornya yang didalam ada Richard.

"sayang kenapa kamu menikah tidak memberitahuku"tanya Siska genit

Sekretaris Rey melihat hanya menatap jijik.

" sayang itu hanya perjodohan lagian aku tidak menyayangi dia"

"benarkah jadi kapan kita tunangan" tanya Siska

"kamu sabar dulu , tunggu kita menerima restu orang-tua ku " meyakinkan Siska kekasihnya.

sekretaris Rey geleng geleng kepala di meja kerjanya "*dasar bodoh kau tuan baru semalam menikah sudah mau memikirkan tunangan padahal kemarin dari tatapan tuan muda sangat mendambakan cinta anda dan menerima tuan dengan tulus , tapi terserah tuan saja tapi semoga tuan tidak menyesal" batinnya kesal melihat tuannya yang bodoh akan percintaan.

sekian dulu

writers:awas saja kamu menikahi dia ku hanshot nanti kamu

Siska:terserah kamu yang penting aku akan jadi nona Dawnkis

Rey. :aku dukung kau thor biar kapok dia

Siska :kaliannnn🤬🤬🤬🤬😡😡😡😡😡

Rey:uluh uluh

writers:sungguh menakutkaannnn

Rey:buahhhhahahaha dasar nenek Lampir

siska:🤕😭😭😭😭

writers dan Rey ;😅😅😅😂😂😂

jangan lupa like, komen, vote

dan follow IG ku rohani

Terima kasih

HORAS

MEDAN

gak butuh teman TOXIC*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!