Keesokan harinya Fiona membuka mata dan dia tidak melihat apapun kecuali dinding yang berwarna hitam pekat, dia sudah menduga bahwa Bara akan melakukan sesuatu diluar dugaan.
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka Fiona kembali menutup mata namun Bara tetap duduk depannya.
"Jangan berpura pura bangun atau aku akan menyiram wajah mu!!" Ucap Bara.
Fiona langsung membuka matanya, pantas saja Bara tau jika gadis itu sudah sadar ternyata ada cctv di ujung ruangan tersebut.
"Kenapa kau ingin membunuhnya,"
"Sudah berapa kali ku katakan bukan urusan mu!!"
Plakk!!!
Bara tidak segan menampar wajah Fiona hingga memerah.
"Aku ingin sekali membunuh mu Fiona, aku ingin sekali mengambil jantung dan hati mu untuk dijadikan santapan hewan liar," ucap Bara.
"Aku menunggu itu, bunuh aku Bara sudah sangat lama aku mencari orang yang akan membunuh ku dan sekarang aku menemukannya jadi ayo bunuh aku!!" Tantang Fiona.
Plakk!!
Dua kali tamparan mendarat di pipi Fiona, Bara murka mendengar jawaban Fiona seperti itu.
"Kau ingin mati? Aku bisa membunuhmu sekarang!!"
Bara tidak segan mencekik Fiona dengan satu tangannya, Fiona tidak melawan ataupun menjerit kesakitan.
Sudah lama ia menunggu seseorang menghabisinya dan mungkin ini saatnya Fiona datang pada adik, kakak, dan papanya.
"Sampai jumpa mama," ucap Fiona dengan suara pelan.
Bara terus mencekik Fiona sampai nafasnya sudah tercekat.
"Fiona bersiaplah bertemu keluarga mu,"
"A-aku sudah si-siap," kata Fiona dengan suara tercekat.
Bara langsung melepas cekikan nya mendengar perkataan Fiona yang tidak ada harapan sama sekali untuk hidup.
Bara mengira gadis itu akan memohon untuk tetap hidup tapi ternyata dia sendiri memutuskan mati.
Uhuk.. uhuk
Bara memberikan Fiona minuman untuk meredakan sakit dilehernya namun Fiona menolak.
Haahh!!!
Walaupun Bara sedang kesal ia melepas ikatan rantai ditangan dan kaki Fiona.
"Kenapa kau berhenti ayo bunuh aku Bara!!" Teriak Fiona sembari memegang lehernya.
"Gadis bodoh!!"
"Ya aku memang bodoh dan sekarang aku ingin mati cepat bunuh aku sekarang!"
Bara tidak mau menuruti perkataan Fiona.
"Kenapa aku bingung, kenapa aku tidak membunuh diriku saja," ucap Fiona pada dirinya sendiri.
Dengan senyum tipisnya Fiona mengambil pisau kecil diatas meja, salah besar jika Bara mengurung Fiona diruangan itu karena bisa saja Fiona akan berpikir pendek.
"Lepaskan pisau itu!!" Titah Bara.
Fiona malah tersenyum melihat pisau itu, dia tidak takut sedikitpun menggoreskan pisau tersebut ke tangannya.
"Fiona jangan main main lepaskan pisau itu!!"
"Hahaha darah keluar Bara aku sangat senang melihatnya," ucap Fiona dengan tawa yang mengelilingi seluruh ruangan.
"Fiona..."
"Kau maju satu langkah lagi pisau ini sudah menancap didada ku!!" Ancam Fiona.
Bara langsung menghentikan langkahnya dengan ancaman Fiona.
"Kita bisa bicarakan baik-baik,"
"Aku tidak ingin bicara baik baik dengan mu," bantah Fiona sembari meletakkan pisau.
"Fiona kenapa kau sangat gila melukai dirimu sendiri,"
"Ya aku gila dan inilah aku, aku sudah lelah dengan dunia yang selalu menipu ku, aku lelah dengan orang orang yang menindas ku, semua orang hanya melihat ku sebagai orang rendah tanpa mereka tau bagaimana perjuangan ku untuk hidup. Liliana dan Siera dua gadis sialan itu ingin ku bantai,"
"Kau ingin membunuh ku? Ayo aku tidak takut gunakan sarung tangan agar sidik jarimu tidak terdeteksi,"
Bara memegang lengan Fiona dan menyeretnya keluar dari ruang rahasia, Bara membawa Fiona ke dapur lalu mengambil kotak obat.
"Tangan mu,"
Fiona mengacuhkan ucapan Bara, dia tidak ingin melihat wajah pria itu saat ini namun Bara menarik paksa tangannya.
"Lepas!!"
"Jangan membantah atau.."
"Jika ancaman mu hanya membunuh itu tidak berlaku bagi ku Bara jadi jangan gunakan ancaman bodoh itu lagi,"
Bara mengobati luka ditangan Fiona tanpa peduli perkataannya lagi, luka ditangan dan leher yang memerah membuat Fiona juga tidak ingin berbicara.
"Kenapa kau ingin membunuh teman mu?" Tanya Bara baik baik.
"Dia bukan teman ku," jawab Fiona datar.
"Ya siapapun dia aku hanya butuh alasan,"
"Dia melarang ku masuk kelas," jawab Fiona.
Bara tidak habis pikir alasan konyol Fiona ingin membunuh orang hanya karena dilarang masuk kelas.
"Pindah kampus mau?" Tanya Bara.
"Kenapa harus aku kenapa tidak dia,"
Hahh!!
"Baiklah dia yang akan pindah kampus,"
Fiona mengalihkan pandangan sembari melepas tangannya namun Bara mencegah.
"Ck!!" Bara melanjutkan pengobatannya.
"Aku ingin pergi dari rumah mu aku sudah tidak peduli kau ingin membantu ku atau tidak," ucap Fiona.
Bara mencengkeram lengan Fiona yang terluka.
"Aww!!!"
"Berhenti membunuh dan jangan berpikir untuk pergi, kebiasaan mu membunuh orang hanya karena perkara kecil sudah terlalu berlebih Fiona,"
"Kenapa kau peduli padaku,"
"Kau bertanya padaku? Aku saja tidak tau jawabannya,"
Keduanya sama sama terdiam hingga luka Fiona selesai diobati.
"Hukuman mu dimulai hari ini pertama jangan pergi ke kampus satu minggu penuh kedua jangan keluar rumah ketiga kau tidak boleh melukai ataupun membunuh orang keempat seluruh kegiatan mu berdasarkan persetujuan ku,"
"Aku ingin bertemu mama ku bagaimana,"
"Aku harus ikut,"
"Tidak kau siapa?"
"Baiklah jangan bertemu orang tua mu mudah kan,"
"Kau.."
"Bantah lagi bantah lagi,"
"Terserah kau saja,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Juwita Herman
penasaran sama si bara
2023-06-27
0
Aisyah Wachs
Aku suka karakter mereka
2023-05-29
0
paty
fiona pergi sj diam2
2022-11-16
0