Lima belas menit berlalu makanan yang dipesan Rezza datang, dia tidak bisa mengantar nya sendiri karena besok pagi ada meeting jadi hanya petugas pengantar makanan yang membawa makanan tersebut.
Ting..tong
Bara berdiri dan bersiap membuka pintu namun Fiona tidak membiarkan nya.
"Aku saja."
Bara mengernyitkan dahi melihat pergerakan cepat Fiona.
"Bisa saja kau meletakkan racun kedalam makanan ku jika kau yang mengambilnya."
"Cih!!"
Bara kembali duduk dan tidak peduli lagi soal makanan, menghadapi Fiona sama saja menghadapi batu.
Fiona pergi membuka pintu dan berjalan menuju gerbang lalu mengambil makanan tersebut, Fiona kembali dengan wajah sumringah setelah mendapat makanan.
Siapa yang tau bahwa gadis ini pembunuh berdarah dingin jika melihat ekspresinya yang sekarang.
"Fiona berhenti." Cegah Bara lagi.
"Mau kemana?"
"Mengambil piring apalagi." Jawab Fiona kesal.
"Itu gunanya kau dipesankan menggunakan wadah sekali pakai kenapa membutuhkan piring lagi."
"Apa salahnya aku akan mencuci piring nanti."
"Jangan bantah aku makan dengan wadah itu atau aku akan membuang makanan mu."
Haahh
Pasti ada yang mengganjal lagi disini, Bara selalu melarang Fiona menggunakan barang barang didapur.
"Apa seluruh peralatan dapur kau gunakan untuk meletakkan tubuh tubuh korban mu?" Tanya Fiona kesal.
"Ya" jawab Bara datar.
"Sialan!" Gumam Fiona.
Terpaksa ia makan menggunakan wadah yang ada, Fiona makan dengan cepat setelah selesai ia membuang sampahnya didekat dapur.
"Ehem aku sudah selesai, sekarang jawab pertanyaan ku, bagaimana caramu membantuku mencari pembunuh keluargaku." Ujar Fiona sembari meletakkan botol minuman nya.
"Aku belum memikirkannya." Jawab Bara santai.
"Brengsek lalu untuk apa aku tinggal disini hahh!!" Teriak Fiona.
"Entah mungkin untuk menambah koleksi didalam lemari es."
Fiona membeku mendengar Bara, dia langsung pergi ke kamarnya, gadis itu ingin pergi dari rumah Bara percuma dia ada disana sekarang.
Bara juga menyusul Fiona kedalam kamar, dia sedang mengambil kopernya dan membuang pakaian yang sudah ia rapikan kedalam koper.
Setiap pakaian yang dimasukkan oleh Fiona dikembalikan Bara kedalam lemari.
"Apa yang kau lakukan pergi dari sini." Ucap Fiona.
"Hentikan sebelum kesabaran ku habis menghadapi mu." Kata Bara.
"Apa peduliku." Fiona tetap membuang pakaiannya sembarangan.
Bara sudah malas meladeni Fiona, dia menarik gadis itu dan melemparnya ke atas kasur, Fiona berdiri namun kembali didorong oleh Bara.
"Kenapa kau selalu mengambil tindakan gegabah Fiona." Ucap Bara sembari menindih Fiona.
"Aku tidak memiliki dendam padamu dan sebaliknya, bisakah kita tidak bertengkar terus menerus?"
"Kau yang mencari masalah dengan ku terlebih dahulu."
"Aku tidak mencari masalah..."
"Mengikuti ku, mencari seluruh informasi tentang ku, menjebak ku dengan surat sialan bukan mencari masalah namanya?"
"Aku hanya ingin membantu mu." Jawab Bara sembari mengelus wajah Fiona.
"Membantu apa kau malah membuat ku ingin menghabisi mu." Kata Fiona menepis tangan Bara.
"Baiklah kita buat perjanjian sekarang, aku akan menelusuri kasus keluarga mu secepat mungkin dan kau bantu aku mengintrogasi setiap orang yang masuk kedalam ruang rahasia ku, bagaimana?"
"Aku setuju sekarang pergilah dari hadapan ku."
"Aku belum selesai, setiap bertemu dengan ku topeng ini harus terbuka aku tidak ingin melihat wajah datar dan penuh dendam, keluarkan sifat asli mu didepan ku."
"Bisa kau pergi sekarang?"
"Tidak karena dalam surat perjanjian aku bisa saja menikmati tubuh ini kapanpun." Jawab Bara dengan seringai liciknya.
"Benarkah? Aku tidak pernah membacanya."
"Aku menambahkan nya."
Fiona dan Bara saling memberikan tatapan walau wajah keduanya sangat dekat.
"Baiklah lakukan sesukamu." Ucap Fiona akhirnya mengalah.
"Aku anggap kita tidak memiliki masalah lagi."
"Iya sekarang pergilah aku tidak bisa bernafas dengan bebas." Ujar Fiona.
Bara tersenyum menatap wajah gadis itu, mereka seperti satu jiwa dua raga yang terpisah, tidak ada yang berbeda dari segi sifat dan kelakuan mereka.
"Senyum, aku belum pernah melihat mu tersenyum."
"Bara aku..."
Tanpa ragu ragu Bara tidur diatas tubuh Fiona, dia sudah tau gadis itu pasti akan menolak.
"Ya ya baiklah."
Bara kembali dengan posisi nya dan melihat senyum Fiona, sebenarnya gadis ini sangat cantik jika dilihat dari senyumnya tapi sayang waktu membenci senyuman manisnya.
Bara berdiri setelah Fiona mengikuti keinginannya, pria itu meninggalkan Fiona keluar, gara gara Fiona Bara tidur sangat larut malam ini
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Juwita Herman
keren juga psycho ketemu psycho apa jadinya yaa 🙄😁😁
2023-06-27
0
Joice Jeane Wuner
hahaha....., semoga saja viona dapat mengikuti kemauan dari bara yg rada2nya.menyebalkan😀😀😀
2023-06-14
0
Nur Mira
hahahaha gila ,sinting mental sakit bara dan fiona
2022-11-20
0