Fiona berlari keluar gerbang rumah Bara, dia melepas hills nya agar lebih cepat sampai, yang dikhawatirkan gadis itu adalah mamanya pasti akan berbuat nekad jika penyakit nya kambuh.
"Mama."
Fiona semakin mempercepat langkahnya hingga sampai didepan rumah sakit jiwa setelah berlari tanpa henti selama lima belas menit, untung rumah Bara tidak jauh dari rumah sakit itu.
"Silahkan nona, nyonya Delvina sedang menangis didalam." Ucap suster yang biasa menangani pasien.
Fiona mengangguk lalu melepas seluruh atributnya termasuk tas, gadis itu hanya membawa tubuhnya masuk kedalam.
"Mama."
"Hiks..hiks..hiks"
Nyonya Delvina memeluk tubuhnya diujung ruangan, rambutnya sudah tidak tertata rapi dan tubuhnya sedikit kurus sejak terakhir kali Fiona datang.
"Mama Fiona disini." Ucap gadis itu sembari mendekati mamanya.
"Hiks..hiks kau tega membunuh anak-anak ku." Ujar nyonya Delvina.
"Mama Fiona akan mencari orang itu, mama tenang dan istirahat dengan nyenyak disini."
Fiona meraih tubuh mamanya lalu memeluk wanita paruh baya tersebut. Bertahun tahun hanya Fiona yang bisa menenangkan mamanya seperti ini.
"Sayang orang itu sudah mati kenapa kau terus mencarinya." Gumam nyonya Delvina sembari tersenyum.
"Fiona akan membunuh seluruh keluarganya tanpa tersisa satupun."
"Ahaha suamiku kenapa harus pergi dengan wanita lain aku benci!! Aku benci!!!" Teriak nyonya Delvina sembari mencakar Fiona.
"Ma tenang ma jangan seperti ini."
"Aku benci!! Aku ingin membunuh mu!!"
Nyonya Delvina mendorong Fiona lalu mengangkat meja tempat makannya.
"Aku akan membunuh mu!!"
Braakk!!!
Meja itu menghantam kepala Fiona sangat keras hingga darah mengalir dari atas keningnya.
"Ma!"
"Hahaha dia berdarah aku senang sekali."
Nyonya Delvina tertawa keras sembari mengelilingi Fiona dan bersiap untuk memukulnya kembali.
"Lepaskan!!"
Untung para suster sudah memperhatikan nyonya Delvina dari luar sehingga mereka bisa mengambil tindakan dengan cepat.
"Nona mari ikuti kami."
Fiona dibawa keluar ruangan sedangkan nyonya Delvina kembali diikat dan diberi obat penenang hingga ia tertidur.
Sementara Fiona diperiksa langsung oleh dokter, benturan meja itu membuatnya harus diperban karena lukanya cukup besar.
"Sudah kubilang jangan terlalu nekad, emosi mama mu tidak selamanya akan stabil." Ucap Dicky yang sedang mengobati Fiona.
"Aku baik baik saja."
"Cih!!" Dicky kesal harus menasehati gadis keras kepala ini.
"Dicky kenapa mama ku seperti itu?"
"Aku belum bisa memastikan nya, mama mu terus menerus mencari mendiang papa mu dan dia ingin membunuh mu. Hanya itu yang dia katakan dari kemarin." Jawab Dicky santai.
"Kenapa mama ingin membunuhku?"
"Jangan dimasukkan kedalam hati ucapan orang seperti itu terkadang berasal dari halusinasi nya."
"Dicky mama ku mengucapkan kebenarannya, ada yang sengaja membunuh keluarga ku dan..."
"Dan karena kau masih berusia 4 tahun kau melupakan semua itu. Benar?"
Bahkan Dicky sudah menghafal Kalimat Fiona, mereka teman berteman sejak belasan tahun yang lalu dimana nyonya Delvina dibawa kerumah sakit jiwa untuk pertama kalinya.
"Kau bisa jelaskan padaku sekarang?"
"Apa?"
"Kenapa kau membunuh teman sekelas mu." Ucap Dicky dengan serius.
Fiona memalingkan wajahnya, entah darimana pria ini mendapat informasi yang sudah ia simpan rapat-rapat, Fiona seperti tidak bisa menyembunyikan apapun dari Dicky bahkan pria itu hafal nama nama korban yang telah dibunuh Fiona.
"Setiap orang memiliki kesalahan dan dia berhak memperbaikinya cobalah untuk memaafkan mereka yang menyenggol hati mu."
"Kau tidak tau apapun jadi diamlah!!"
"Aku memang tidak tau apapun Fiona tapi aku hanya bisa menasehati mu sebagai sahabat ku, berhentilah mencari pembunuh keluargamu atau jika kau ingin tetap mencarinya jangan bunuh orang orang yang menyakiti mu." Tutur Dicky dengan lembut.
"Dan untuk tuan Elbara jangan macam-macam padanya, dia bukan orang sembarangan." Imbuh Dicky.
Fiona menepis tangan Dicky lalu turun dari kasur pasien dan keluar, dia tidak ingin mendengar omong kosong Dicky lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Nur Mira
finona sakit mental
2022-11-20
1
lisa kurnia
suatu yang kebetulan
2022-10-24
1
botak
hhmmmmm
2022-10-05
1