Fema terbangun dari tidur siangnya yang kesorean dan langsung membuka lebar matanya saat mengetahui Juan ada disana. "Kamu sudah datang? Dimana Marsha?" tanya Fema.
"Dia membantu melayani pengunjung." jawab Juan.
Fema seketika tersadar akan beberapa hal, lalu berdiri dari duduknya. "Ayo, berdirilah. Kita mau pulang kan? Tunggulah aku diluar." Fema dengan cepat meraih buku dan kertas yang ada dimeja sofa itu, dengan tergesa pula berjalan menuju ke meja kerja pribadinya untuk mengamankan foto pernikahan yang ada disana.
"Apa itu? Kenapa kau terlihat ingin menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Juan dan mendekat kearah Fema.
"Emmm.. ini bukan apa-apa. Tunggulah diluar. Aku akan menyusul. Fema menyembunyikan bingkai foto itu dibalik tubuhnya.
Juan terkekeh dalam hati melihat aksi Fema yang terlambat. "Apa itu? perlihatkan padaku." Juan semakin mendekati Fema.
"Eit stop... ini privasi aku.. kamu tidak harus tau." ketusnya. Juan hanya menaikkan kedua bahunya "Terserah kau saja." Juan sengaja mengalah.
"Aku bisa malu jika dia melihat ini. Kita tidak tahu apa yang akan dia katakan jika tahu aku memajang foto ini." batin Fema.
Juan pun keluar dari ruangan Fema dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. "Dia pasti sangat gugup." batinnya.
Di dalam mobil.
"Papa.. Marsha pengen makan martabak."
"Shaaaaa!" Kode peringatan dari Fema. Lama kelamaan putrinya ini semakin ngelunjak saja manjanya ke Juan.
"Oke, sebelum pulang kita beli martabak dulu. Soalnya kakak-kakak kamu juga suka tu makan martabak." jelas Juan.
"Oh ya? Wah.. Marsha punya kesukaan yang sama dengan kakak!" seru marsha, senang.
*
Tiba di apartement.
Ferdo dan Jerry berada di ruang keluarga. Keduanya menoleh karena terdengar suara Marsha.
"Tumben, mereka barengan bertiga?" Jerry.
"Lihatlah wajah anak kecil itu. Sok imut banget." Ferdo.
"Anak-anak, dimana bu Sum?" tanya Fema, tidak melihat bi Sum. Kedua anak itu hanya menggidikkan bahu. Sedangkan Juan, langsung naik ke kamarnya untuk mandi, tanpa menyapa kedua jagoannya itu. Jerry terlihat kesal menatap punggung Juan yang menghilang dilantai atas.
"Ma... itu bi Sum.." tunjuk Marsha ke arah bi Sum.
"Selamat malam bu Sum.." sapa Fema. "Ayo bu Sum, kita makan martabak rame-rame. Sini!" Ajak Fema. Bu Sum pun mendekat dan duduk bersama keluarga itu.
Setelah semuanya telah berkumpul, Fema mengeluarkan 3 box martabak versi jumbo. Fema dapat melihat mata kedua anak sambungnya itu tampak berbinar seketika. "Benar katanya. Dua anak ini menyukai martabak seperti Marsha." batin Fema.
*****
Di kamar.
Drrrrt drrrrt drrrr drrrr
Ponsel Fema berdering.
"Halo..."
"Yang bener?"
"Baiklah... aku akan datang."
"Iya.. besok pagi pagi aku akan terbang!"
tut tut tut!
"Aaaah.. yes.. bukan kah ini yang dinamakan pucuk dicinta ulampun tiba? Tadi aku baru saja memikirkan mereka. Tak disangka, mereka yang memanggilku kesana. Iya... saat disana nanti aku akan mengatakan maksudku."
Fema merasa sangat senang. Dimana, salah satu sepupunya yang ada di kota Tarakan, Kalimantan Utara, akan mengadakan pesta pernikahan. Ya... Ayah dari Fema berasal dari kota kecil itu. Namun, keluarganya terbilang cukup berada.
"Sha... kalau mama berangkat besok, kamu bisa tinggal gak sayang!"
"Memangnya... mama mau kemana?"
"Mama mau berkunjung ke Kalimantan sayang. Disana ada sepupu mama yang akan menikah."
"Maaa.. Marsha pengen ikut. Gak mau tinggal."
"Oke, kalau begitu, tidurlah segera. Mama akan urus tiket keberangkatan kita.
**
Fema bolak balik di depan kamar Juan. anita itu hendak berpamitan kepada Juan tentang keberangkatannya besok pagi. Namun, Fema tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu kamar itu. "Ahhh.. besok saja saat sedang sarapan." pikir Fema.
Keesokan harinya.
Fema baru saja selesai menyiapkan sarapan.
"Pagi Fem.." Juan sudah rapi, siap untuk berangkat bekerja.
"Juan? Kenapa pagi sekali? anak-anak bahkan belum bangun!"
"Iya Fem.. aku ada janji dengan seseorang pagi ini. Jadi, aku akan berangkat sepagi ini biar tidak terlambat.
"Oke, tapi sarapanlah dulu." ujar Fema. pasalnya dirinya belum berpamitan hendak berangkat ke Kalimantan.
"Tidak perlu. aku sudah janjian untuk sarapan bersama dengan seseorang!" Juan.
"Ha? begitu? Emmm ya sudahlah.." Fema pasrah.
"Aku jalan dulu ya.."
"i...iya, hati-hati Juan."
"Fem.. kau tidak akan melaksanakan keharusan barumu?"ucap Juan.
"Ha? oh.. ah.. iya.." Fema berjalan ke arah suaminya itu dan mengambil tangan Juan serta mengecupnya, yang tentunya dengan jantung yang berdebar tak karuan.
CUP...
Tak disangka-sangka, Juan memberi kecupan lagi, untuk kedua kalinya. Kali ini bapak dari dua anak itu, eh salah.. bapak dari tiga anak itu memberi ciuman tepat dipipi Fema. Seorang Fema tentu saja terkejut bukan main. Bahkan Fema merasa ada aliran listrik yang lagi-lagi menjalar diseluruh tubuhnya akibat tindakan tiba-tiba dari Juan.
"Ehmmmmm!" Keduanya sama-sama berdehem, salah tingka, dan merasa canggung.
"Aku pergi!" ucap Juan. Membawa perasaannya yang tak menentu, bingung sendiri dengan apa yang dia lakukan.
.
.
Bersambung😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
koq Fema gak jadi bilang mau ke Tarakan ?
2023-03-19
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
deeeuuuuu .... Juan udah berani nyosor2 niiiii ....
kemaren kening .... pagi ini pipi ... yg berikutnya bibir deh ... 🤪🤪😅😅
2023-03-19
0
Alanna Th
stlh fema n marsha k kalimantan, smoga k 3 jagoan angkuh itu mrasa khilangan 👍😂🤣
2023-01-18
0