...BDJ 17 : Bunga Tidur...
..."Bukannya aku melebihkan atau meragukan, namun hadirnya kamu dalam bunga mimpi itu mempertegas segalanya."--Bukan Dijodohkan...
...✈️✈️✈️...
Ketika kegundahan datang menyambangi hati, jangan lupa akan adanya lantai untuk bersujud. Ada tuhan untuk mengadu dan berkeluh-kesah. Ambilah air wudhu, tunaikanlah salat dan sapa dzat yang maha kuasa. Tumpahkan segala keluh-kesah yang datang menaungi hati, karena hanya dia yang mengetahui segala kunci dari masalah hati.
Hal itu pula yang gadis cantik ini lakukan. Dia menghadap sang maha kuasa saat sepertiga malam sunyi nan sepi. Di atas sejadah sebagai peraduannya, ia menyapa sang maha kuasa. Meminta maaf karena begitu gelisah hanya karena ajakan seorang lawan jenisnya. Ia mencurahkan segalanya sepertiga malam itu. Meminta petunjuk kepada-Nya, berharap petunjuk akan segera di berikan kepadanya.
Pernah ia mendengar hadist sahih dari seorang ulam islam terkemuka, bahwa doa yang dipanjatkan pada salat malam itu seperti anak panah yang melesat tepat pada sasarannya. Pada sepertiga malam itu, dia membuktikannya sendiri. Datang bunga tidur yang ia sendiri coba cerna makna dan artinya. Bunga tidur itu kian membuat hatinya gundah gulana.
Dalam mimpinya, dia tengah duduk di sebuah padang hijau yang lapang. Angin malam membelai khimar panjangnya lembut, sesekali menerbangkan ujung niqab yang ia kenakan. Dia tengah memandangi langit malam di sana.
Lukisan kanvas hitam pekat itu dihiasi oleh berbagai benda bergemerlapan. Mulai dari yang paling terang, hingga yang cahayanya mulai meredup. Bagaikan hujan bintang, benda-benda berkilauan itu tampak cantik dan ada yang bergerak dalam satu arah lurus. Namun, tidak ada sang rembulan di atas sana.
Dia terpukau dengan keindahannya. Ucapan syukur ia panjatkan, karena bersyukur bisa melihat pemandangan tersebut. Dalam duduk penuh ucapan syukurnya, dia melihat bintang jatuh. Bintang tersebut bercahaya terang, gerakannya cepat menerobos berbagai lapisan atmosfir bumi. Jatuh namun tak sampai membentur tanah, karena benda berkilauan itu jatuh pada pangkuannya. Dia terperanjat mendapati benda yang berkilauan diliputi cahaya terang itu jatuh tepat dalam pangkuannya.
"Masya Allah." Ujarnya kecil.
Belum usai soal benda berkilauan cahaya putih yang memukau itu. Dia dikejutkan lagi oleh benda yang sama menghinggapi pangkuannya. Benda itu berkilauan oleh cahaya terang agak kemerahan. Bagaikan bulan yang diselimuti warana merah yang lama-kelamaan menjelma menjadi warna merah darah.
Dia terhenyak. Dia beristigfar dalam peraduannya. Kedua benda berkilauan cahaya itu berada dalam pangkuannya. Tampak kontras dengan perbedaan kedua warnanya, namun keindahan keduanya tak dapat ditepis oleh netra.
Hingga terbagun sekalipun, dia tidak tahu akan apa arti dari mimpi tersebut. Ia bangun ketika baru terlelap satu jam. Masih di sepertiga malam yang sama, bunga tidur itu kembali menghiasi tidurnya. Bukannya sekali, bunga tidur itu sampai tiga kali menyambangi malam dalam tidurnya.
"Ada apa Alea?" Airra--ibu dari gadis tersebut bertanya. Ia bisa melihat jika snag putri kurang focus dalam mengerjakan apapun.
"Tidak ada apa-apa. Ma." Jawab sang putri.
Ibu dan anak itu tengah beraktivitas di rumah kaca yang dihiasi oleh berbagai jenis bunga, terutama anggrek. Rumah kaca tersebut juga dihiasi oleh berbagai jenis sayur-mayur yang tumbuh dengan sehat. Airra memang sengaja minta dibuatkan rumah kaca sebagai alternative untuk menyalurkan hobby bercocok tanamnya. Hasilnya, kini rumah kaca miliknya sudah ditumbuhi oleh rimbunnya sayur-mayur organik, tanaman hias beraneka ragam, hingga tanaman herbal keluarga.
"Alea."
"Iya, Ma. Ada apa?" Tanya gadis yang tengah memotong daun yang mulai mengering tersebut.
"Mama lihat kamu murung terus belakangan ini, ada apa?”
"Alea--" cuma gadis itu menjeda kalimatnya. "--sedikit risau, Ma."
"Apa ini soal keinginan capt Nathan?" Tebak Airra. Alea hanya menganggu kecil sebagai jawaban.
"Coba tanya sama yang di atas, pasti Alea tidak akan gundah-gulana begini."
"Alea sudah bertanya, Ma." Gadis itu bersuara kecil.
"Lantas, kamu masih ragu?" Alea tidak menjawab. Airra tersenyum kecil sambil menatap anggrek bulan di hadapannya yang tengah mekar dengan sempurna.
"Apa yang membuat putri Mama ini ragu? Capt Nathan kurang apa? Sebagai manusia biasa, pemuda itu sudah hampir mendekati kata sempurna, Alea. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik-Nya."
"Mama dan Papa tidak akan memaksa. Kamu bisa menolak jika memang alasan kamu masuk akal dan tidak menyakiti pihak manapun." Lanjut Airra.
"Atau, putri Mama ini sudah memiliki calon pendamping lain?"
Alea menggeleng tegas. "Hati Alea masih milik Papa."
Airra tersenyum kecil mendengarnya. Cinta pertama bagi seorang anak perempuan memanglah sang Ayah. Begitupun dengan Alea yang masih belum bisa mengizinkan siapapun memasuki hatinya.
"Coba buka sedikit untuk capt Nathan." Airra membaca kegundahan sang putri.
“Capt Nathan itu husband material juga husband-able kalau menurut anak zaman sekarang. Insallah, apa yang Papa dan Mama pilihkan ini, sudah melalui berbagai penilaian." Airra menatap sang putri lembut.
"Apalagi Papa, mana mungkin Papa tidak selektif dalam memilih calon pendamping hidup untuk Alea." Alea mengangguk paham.
"Coba Alea renungkan lagi. Apa yang hati Alea mau?"
Setelah berkata demikian, Ibu satu anak itu berlalu pergi meninggalkan sang putri untuk menyambut sang suami yang baru saja pulang kerja. Alea masih mematung di tempatnya. Ia mencoba memahami setiap pesan yang ibunya sampaikan. Semua itu kembali lagi kepadanya. Ia yang akan menjalaninya, menghadapi juga merasakannya, bukan orang lain. Maka, setelah penantian dengan kegundahan yang melanda dirinya selama beberapa malam. Alea telah memutuskan. Ia telah mengambil keputusan, setelah bunga tidur lain menyambangi satu malamnya.
Keputusan itu akan menjadi tolak ukurnya untuk menjalani apa yang ia ambil kedepannya.
Malam itu juga, tepat pada tanggal 14 hitungan kalender hijriyah. Ketika rembulan tengah bersinar begitu terang dengan diameter bulat penuh. Keluarga pria itu datang bertandang. Mereka datang berempat, disambut oleh sapaan hangat sang tuan rumah. Mereka tiba bada salat isya.
"Apa kabar, pilot Al?" Sapa Anzar pada kawan lamanya tersebut.
"Baik, baik sekali malahan." Pria berpakaian batik itu menjawab dengan santai.
Ia duduk bersebelahan dengan sang istri--Geasya Genandra Putri. Putri tunggal dari kerajaan bisnis milik clan Genandra. Di hadapan mereka, dua orang pemuda berpakaian batik rapih duduk saling bersisian.
"Maaf menganggu anda sekalian malam-malam begini. Kedatangan kami ke sini untuk mengantarkan putra sulung kami sekaligus bersilaturahmi." Al berujar to the point. Toh, ia sudah cukup hafal tabiat sang tuan rumah.
“Apakah anda sekalian menerima kedatangan kami sekeluarga?" Lanjutnya.
Anzar tersenyum jumawa. "Tentu saja. Saya dan istri menerima kedatangan anda sekeluarga pilot Al."
"Iya. Silahkan diminum dan dinikmati juga jamuan kecilnya." Imbuh Airra menyelingi.
"Terimakasih. Maaf membuat kamu repot." Jawab Gea sambil tersenyum ramah. Wanita yang mengenakan dres selutut dengan motif batik yang sama dengan sang suami itu, tampak anggun, berkelas juga cerdas dalam waktu bersamaan.
“Om, masih ingat saya tidak?" Si bungsu bersuara. Pria muda berwajah keeropa-eropaan itu tersenyum jenaka.
"Bocah tengil!" Celetuk Anzar refleks. Bukannya tersinggung, Pria muda itu malah tetawa kecil.
"Sama calon keponakan nyapanya kok gitu sih, Om?"
"Gean!" Al memperingati sang putra.
"Tidak apa-apa pilot Al. Lagi pula ucapan putra anda ada benarnya juga." Sela Anzar. Pria itu tersenyum tipis, sambil menatap para tamunya.
"Iya dong. Masa Om lupa." Timpal Gean tak mau kalah.
"Gean?" Lerai sang Ibu.
"Iya, maaf." Gean tersenyum tulus. "Jadi, kita kesini mau apa bang? Silahkan diutarakan maksud dan tujuan abang datang ke sini malam ini bersama kami?" Gean berujar formal.
Pria muda yang berprofesi sebagai pilot itu tersenyum tipis. Ia hanya mengingatkan sang kakak akan tujuan utama mereka datang bertandang ke kediaman Radityan satu ini.
"Bismillahirrahmanirrahim. Om, Tante, seperti ucapan saya terakhir kali. Saya datang membawa kedua orang tua saya untuk mengambil putri om dan tante sebagai pendamping hidup."
Pri rupawan itu berujar dalam satu tarikan nafas. Ia langsung mengutarakan niat dan tujuannya datang bertandang malam ini.
Jantungnya tiba-tiba saja berdebar tak karuan. Dia tidak pernah meminang seorang gadis. Pernahpun dahulu, saat ia tidak memiliki kesiapan yang matang sama sekali. Kali ini dia sudah memantapkan hati dan juga keputusan. Malam ini, ia akan meminang gadis yang dulu pernah ia pinta untuk menjadi mempelainya saat usianya masih begitu belia.
“Hm." Anzar buka suara.
"Jadi, lelaki muda dan naïf yang dulu datang dan mengemis untuk meminang putriku sudah kembali rupanya."
Bukannya malu atau tersinggung, Al dan Gea selaku orang tua Nathan malah tersenyum kecil. Keduanya memang tahu ego dan sepak terjang kedua buah hati mereka yang kadang bisa berbuat diluar nalar jika sudah menginginkan sesuatu. Si sulung yang kukuh, bertekad kaut seperti baja, memang selalu setia jika sudah menginginkan sesuatu.
Sedangkan si bungsu yang lebih cheesyboy, setengah playboy, seperempat absurd boy, juga tak kalah kuat jika soal tekad menginginkan sesuatu. Sejauh ini, keduanya memang tidak memiliki track rekor yang buruk soal asmara. Mereka juga sama-sama memiliki tingkat kesestiaan yang patut diacungi jempol.
"Iya om. Saya datang kembali, saat dirasa semua syarat yang om berikan telah saya penuhi."
"Hm." Anzar berdeham kecil.
"Saya tidak memiliki hak dan wewenang untuk menjawab atau memenuhi keinginanmu. Putriku sudah dewasa. Dia yang akan menjawab juga memilih apa yang memang dia inginkan."
Keluarga yang datang bertamu itu mengangguk paham. "Ra, tolong panggilkan putri kita."
"Iya. Sebentar, mas." Airra berlalu setelahnya.
"Tarik nafas dulu, bang. Takutnya abang kelupaan nafas." Bisik Gean kecil. Namun, masih bisa didengar oleh semua orang.
Anzar tertawa kecil mendengarnya. "Kamu ini ada-ada saja."
"Biar gak tegang om. Harus dinetralin dulu sama humor." Jawab Gean sekenanya. Al dan Gea hanya tersenyum kecil menanggapi celotehan si bunggsu. Pria muda itu memang lahir sebagai happy virus yang selalu punya cara untuk mencairkan suasana.
Tidak lama kemudian, Airra datang bersama sang putri. Gadis dalam balutan gamis berwarna pink cream itu Nampak berdiri sambil menunduk di samping sang Ibu. Khimar panjang dan niqab panjangnya, tak mampu mengurangi pesonanya. Gea langsung berdiri dari duduknya. Ia lantas menyambut calon istri pilihan putranya itu dengan pelukan hangat.
"Alea tidak lupa sama tante 'kan?" Gadis itu menggeleng kecil. "Kita pernah bertemu di New York fashion week. Waktu itu kamu datang bersama Lunar Radityan bukan?"
"Iya, tante." Jawab Alea seadanya. Setelah sapaan hangat itu, mereka kembali duduk di tempat masing-masing. Alea mengambil tempat duduk diantara orang tuanya.
"Jadi Alea, seperti yang kamu ketahui. Kami datang ke sini untuk meminangmu." Al buka suara. Ia mengutarakan niat sang putra datang ke sini.
"Jadi, sayang, apa jawaban kamu soal ajakan capt Nathan?" Tanya Anzar lembut kepada sang putri. Alea mendongrak, menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Bismillah hirohmanirrohim." Alea bergumam lirih sebelum menaikan pandangannya.
"Alea--"
Nathan mendongrak. Ia menatap si pemilik suara lembut tersebut. Jantungnya berdebar tak karuan menanti jawaban gadis tersebut.
"--terima tawaran dari kak Nathan."
Deg!
Semua orang yang ada di sana tersenyum kecil lantas mengucapkan hamdalah. Baik Anzar maupun Al, sama-sama mengucapkan selamat atas jalinan silaturahmi yang kini terikat diantara putra-putrinya dengan nyata. Gea dengan segera mengenakan cincin yang telah putranya siapkan sejak lama kepada calon menantunya. Airra tersenyum bahagia saat melihat Gea memeluk putrinya erat. Anzar juga tidak mau kalah.
Pria itu merangkul bahu calon menantunya santai. "Selamat anak muda. Penantian panjangmu terbayar juga pada akhirnya." Nathan tersenyum tipis mendengarnya.
"Terimakasih, Om." Senyum pria rupawan itu tak padam. Tidak juga lekam ataupun berkurang sedikitpun. Hal itu mewakili rasa bahagia yang ia tengguk detik ini.
"Jadi, kapan kita bisa bicarakan tanggal pernikahannya?" Tanya Anzar memastikan. Jika sudah ikatan yang pasti, kenapa putrinya harus terlalu lama menunggu bukan?
"Secepatnya, Om." Jawab Nathan mantap.
"Kapan?"
"Bulan depan, Om, Tante. Itupun jika Alea setuju." Tutur Nathan mantap.
Menanti puluhan tahun lamanya telah membuat pria berpara rupawan iu telah menyiapkan segalanya. Ia sudah menyiapkan gedung pernikahan, rumah untuknya dan sang istri kelak, paket perjalanan honeymoon, akomodasi, dan antek-antek yang yang dibutuhkan lainnya. Jika diminta untuk menikah hari ini juga, Nathan siap-siap saja. Tapi yang menjadi pertanyaanya adalah, apakah Alea sudah siap untuk ia persunting?
✈️✈️✈️
TBC
Yuhuuu.... BDJ update?!
Absen dulu yuk....mana yang katanya lanjut, kangen, rindu, pengen cepat up?
Yok... absen dulu👋
Huahaha.... gimana buat part ini?
Maaf baru bisa up. Keadaan seminggu belakangan buat aku down. Aku masih gantian pakai hp sampai sekarang karena insiden itu. Jadi maaf belum bisa up teratur atau double up🙏
Semoga readers semua mengerti🙂
Oya... jangan lupa komentarnya, like, vote, follow, dan share cerita ini. Biar makin banyak yang baca 😍
Sukabumi 19 Juni 2021
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
YuWie
ini nih..suami idaman.
2022-07-06
2
arabella humaira
up lagi dong kak😭🤗
2021-06-23
3
Aldiano Ambomasse
lega
2021-06-21
4