...BDJ 13 : BERDEBAR...
..."Salahkah hati jika berdebar pada dua orang yang berbeda? Padahal hati tahu, perbedaan antara keduanya."-Bukan Dijodohkan....
...✈✈✈...
Seorang pria rupawan, baru saja turun dari super car berwarna merah metalic miliknya. Sunglass hitam juga nampak bertengger apik di hidung banginya. Tidak lupa, seorang wanita cantik juga ikut keluar dari mobil tersebut. Wanita tersebut mengenakan pakaian casual, namun nampak jomplang dengan penampilannya.
Riasan wajahñya berantakan, liptis coco merahnya pudar, bajunya juga nampak acak-acakan. Namun, senyum wanita tersebut tak pudar barang sedikitpun. Tak peduli jika penampilannya begitu berbeda 180° dengan pria yang barusan keluar dari kendaraan yang sama.
Pria rupawan itu mengenakan setelan casual. Celana pendek selutut, dipadukan dengan kaos polos berwarna hitam. Kakinya terbalut sepatu sport mahal, keluaran brand ternama. Dari ujung rambut hingga kaki, penampilannya luarbiasa sempurna.
"Pergilah, aku sudah tranfer sejumlah uang ke rekeningmu." Ujarnya, setengah berbisik pada wanita tadi.
"Ok. Next time, kamu bisa menghubungiku jika butuh." Ujar wanita tersebut, sambil berlalu pergi, membawa tas selempang keluaran brand prada miliknya.
Pria rupawan itu berdecih sepeninggalan wanita tadi. "Mahluk penjilat." Komentarnya sambil berlalu.
Di pagi yang cerah ini, suatu keajaiban baginya. Ia pergi ke tempat wisata seorang diri selama hidupnya. Bukan untuk libur weekend, melainkan untuk memenuhi permintaan sorang wanita, teman kecil, juga patner ranjang langgananya. Dia tipikial yang tidak suka menggunakan orang yang sama dua kali. Namun, itu pengecualian bagi wanita satu ini.
Tiba di tempat wisata tersebut, ia disambut oleh kerumunan wisatawan. Banyak yang meliriknya, ia juga sadar akan hal tersebut. Keberadaanya bak mutiara dalam tumpukan batu. Begitu mencolok. Apalagi jika mereka orang-orang yang suka berkecimpung di dunia bisnis. Mereka pastil mengenalnya.
"Lou, baby." Panggil suara yang familiar di telinganya.
Seorang wanita cantik berwajah Asia, datang menghampirinya. Wanita itu terbalut dress berbahan latex dengan warna yang cukup mencolok. Bentuk dress tersebut nampak aneh di matanya.
"Kain apa yang melilit tubuhmu ini?"
"Eh?"
"Tunggu, ini bukan kain. Ini bahan untuk membuat pengam-"
Wanit cantik itu membekap mulut pria dihadapannya cepat. "Stop it, Luo. Jangan mengacaukan moodku."
Pria rupawan itu menyerngitkan alisnya bingung. "Yeah, kupikir manajermu telah membuatmu menjadi model pakaian berbahan dasar kond-"
"Sstt, Luo. Please don't say it." Kesal wanita tersebut.
"Oh my god, sir Luois handsome." Seorang pria bertubuh gemulai menghampiri keduanya.
"Shit."
"Kenapa kau mengumpat saat melihatku?" Bingung pria berbulu mata cetar tersebut.
"Ah, mungkin kamu salah dengar Jeff." Elak si wanita.
"Don't call me Jeef, Lea, my dear. Panggil saja Lucy. Masa kamu lupa?"
Luois memutar bola matanya jengah. Sedangkan Lea tersenyum tipis. "Ok, Lucy, ada apa?"
"My dear, Lea, pemotretan akan dilanjutkan di area theme parks. Ayo bersiap."
"Ok." Jawab wanita itu sebelum menoleh. "Aku pergi dulu. Tunggu sebentar lagi."
"Aku benci menunggu."
"Hanya sebentar, setelah itu kita langsung ke bandara. Ok?"
"Hm. Terserah padamu."
Wanita cantik itu tersenyum tipis, seraya mengecup bibir prianya singkat. Tanpa malu dan peduli akan sekitarnya.
"Oh my my, jantungku." Kekeh Jeff atau Lucy.
"Ayo Luc." Ajak Lea.
Luois memutar bola matanya jengah. Jika saja bukan karena orang tua gadis itu yang akan datang, dia tidak akan repot datang ke tempat ini. Berada diantara lautan manusia yang tengah berlibur ria. Ini bukan fashion-nya sekali.
Saat ini, Lea tengah ada pemotretan di Coney Islands. Wanita yang berprofesi sebagai model busana itu harus mengambil pemotretan di area outdoor, sesuai arahan, dengan tema summer. Padahal menurut Luois, tema yang diusum dengan pakaian yang dipotret berbeda jauh.
Luois benci tempat ramai, oleh karena itu ia memilih kembali ke parkiran untuk menunggu di mobilnya. Tempat wisata tersebut cukup ramai dan padat pagi ini. Mungkin karena weekend juga.
Ketika tengah berjalan menuju tempat parkir, maniknya tanpa sengaja menangkap siluet yang familiar di matanya. Sosok tersebut nampak berjalan pelan di antara kerumunan òrang. Tanpa sadar, Luois berputar haluan. Ia mengikuti sosok berkhimar tersebut.
Sosoknya nampak mencolok, diantara kerumunan orang yang berpakaian lebih terbuka darinya. Tidak salah lagi, itu dia. Tanpa diperintah, kedua kakinya berjalan cepat mengikuti langkah sosok tersebut. Ia bahkan tak peduli jika dikritik seseorang, karena langkahnya yang terburu-buru dan sering menabrak orang lain.
Grep!
Berhasil. Luois berhasil menangkap lengan sosok tersebut, saat mereka sudah melalui jalan yang cukup lenggang.
"Kau-"
PLAK!
Luois terhenyak saat rahangnya menerima tamparan keras dari lawan bicaranya. "Berani sekali menyentuh tanganku." Wanita itu berbicara dalam bahasa arab.
"?" Luois tidak bersuara. Ia mengangkat pandangannya. Ternyata dia bukan sosok yang tengah dicarinya.
"Lancang sekali kau menyentuh istriku!" Seorang pria berkumis tebal yang menggandeng tangan wanita itu ikut bersuara marah. Ok, Luois salah sasaran.
Luois memutar bola matanya jengah. Lantas ia mengambil dompet kulit miliknya, mengeluarkan sebuah kartu dari sana.
"Kupikir kau wanita yang kukenali." Ia berujar sambil menatap lawan bicaranya dingin. "Ini, kartu namaku. Datang dan ambilah uang sebagai bayaran untuk sentuhanku barusan." Ujarnya. "Sebutkan saja namaku."
Setelah menyodorkan karta nama itu, ia berlalu pergi tanpa menunggu ocehan sepasang suami istri tersebut. Mereka tentu menyumpah-serapahi tingkahnya.
Luois menggaruk tengkuknya sejenak. "Sial. Bisa-bisanya aku mengira itu adalah dia." Batinnya berkecamuk.
Ia memang ingin menemui gadis pemilik manik teduh tersebut. Akan tetapi, ia tidak bisa menemukannya di tempat kerja sekalipun. Ia sudah sering bertandang, namun hasilnya nihil. Gadis pemilik manik teduh itu selalu memiliki 1001 alasan guna menolak kehadirannya.
Ia sudah melakukan segala cara, termasuk menggauli sekretaris pribadinya, guna mengorek berbagai informasi. Namun hasilnya tetap nihil.
"Sial. Kenapa dia semakin membuatku penasaran?!"
Luois pantang ditolak. Ia akan terus berhasrat jika keinginannya tidak terpenuhi.
Ketika hendak menuju parkiran. Sepasang manusia mengambil alih perhatiannya. Keduanya terlihat tengah berjalan bersama sambil bergandengan. Dari samping, setidaknya itu yang Luois lihat. Ia panasaran akan pasangan tersebut. Pasalnya, radar dalam tubuhnya begitu percaya jika itu adalah sang pemilik manik indah nan teduh, pencuri perhatiannya. Pencuri hatinya.
Kepenasarannya terjawab, saat sosok itu menoleh ke arahnya. Manik teduh itu menatap tepat ke mata abu-abunya.
Deg!
Hatinya tanpa sadar berdebar. Debar yang aneh. Luois pikir ia terkena Arimia dadakan saat maniknya dan manik teduh tersebut bertemu. Ketertarikannya kembali berlipat. Seulas seringai nampak tersungging di bibirnya.
"Aku menemukanmu."
✈✈✈
"Apa kamu keberatan kalau kita pergi ke sana?" Tunjuk pria rupawan tersebut. Menunjuk sebuah tempat duduk di bawah pohon yang cukup teduh. "Kita bisa menunggu orang tuamu di sana."
"Hm." Jawab lawan bicaranya. Ia tengah beristigfar kecil di dalam hatinya, guna mengontrol irama jantungnya.
"Tunggu," Alea refleks berhenti.
"Ada apa?" Bingung Alea.
"Jangan bergerak."
Alea menautkan alisnya bingung. "Ada serangga." Jawab pria rupawan tersebut, sambil menyentuh khimar di bagian pelipisnya.
Deg...... Deg.....
"Sudah terbang." Jawab lelaki tersebut, sambil tersenyum tipis namun efek damage-nya luar biasa. Tipis, namun manisnya mampu membuat diabetes.
"Ayo, jalan lagi." Ujarnya, sambil menggerak-ģerakan sapu tangan yang menjadi perantara di antara mereka.
"I-ya." Jawab Alea gugup sambìl menunduk. Ia berulang kali beristigfar, karena tiba-tiba jantungnya terkena arimia dadakan.
Nathan tersenyum tipis, sambil melanjutkan langkahnya. Keduanya berjalam bersisian, namun masih dengan jarak yang menjadi pemisah. Alea senantia berjalan di sampingnya, perlahan, dengan sebelah tangan mengenggam sapu tangan yang ujung lainnya di pegang Nathan.
Grep!
Alea refleks menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Siapa yang berani menyentuh tangannya. Tangan yang lain miliknya, terasa di genggam erat oleh orang lain. Astagfirullah, Alea beristigfar berulang kali. Ada yang menyentuhnya.
"Kenapa berhenti?" Nathan bertanya.
Alea tak menjawab. Ia menoleh, menatap ke arah tangannya yang lain. Benar saja, ada yang mengenggam tangannya. Saat pandangannya naik, wajah seorang pria rupawan yang tengah menuñjukan smirknya terpangpang jelas di matanya.
"Aku menemukanmu."
✈✈✈
TBC
ALOHA..... Capt Nath dan mbaknya comeback🔥
Gimana nih.... lanjut?? makin gereget? kira-kira kalo Anzar ketemu Luois, bakal ngeh gak kalau itu anak mantan tercintanya? yuhu.... jawab sesuai imajinasi readers ya.
Uya... jangan lupa like, vote, komentar, share cerita ini biar banyak yang baca. Follow author, IG Karisma022 juga boleh. Tencu banget buat all readers yang mau setia nunggu up😙😙
Komen yang banyak ya... karena itu memengaruhi mood nulisku🤓
Sukabumi 29 Mei 2021
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Zaitun
ada predator
2022-07-29
1
Mirna C'Nyantut
semoga saja ya louis cepet ketemu sma anzar, semoga jg anzar cepet tahu kalau louis anak mantannya, atau bisa jadi lou jg anaknya anzar😆🙏akh klo ingat kelakuan anzar dulu, MENYEBALKAN sekali dia ya
2021-05-31
3
Iloel
makin greget bgt...g sabar ketika anzar tau louis adalah ank dr sang mantan...
2021-05-30
3