BDJ 10 : SALAHPAHAM
“I will come running when you call my name.” (Aku akan berlari saat kamu memanggil namaku) Q.S Al-Baqarah (2):186
✈️✈️
Tiga orang Laki-laki berseragam pilot tengah berjalan santai sambil mengeret koper berukuran medium. Ketiganya baru saja keluar dari area hanggar pesawat. Sesekali sapaan ramah juga terdengar menyapa mereka sepanjang perjalanan.
“Baby!” panggil seorang perempuan cantik yang baru saja keluar dari mobil operasional milik maskapai. Perempuan itu juga berpakaian sama dengan mereka.
“Miss me?” Tanyanya saat berhasil memeluk laki-laki rupawan yang tubuhnya paling tinggi di antara yang lain.
Alih-alih menjawab, laki-laki itu malah balik melempar pertanyaan. “Baru pulang?”
“Iya. I miss you so bad, baby.”
Dua laki-laki berseragam pilot yang keberadaanya sempat tak kasat mata, hanya tersenyum maklum melihat interaksi mereka berdua. Mereka kemudian pamit pergi terlebih dahulu agar dapat memberikan mereka ruang.
“Ayo pulang. Aku lapar, kita masak di apartemen, ya?” Ajak perempuan cantik itu sambil bergelayut manja di lengan lawan bicaranya.
“Boleh request?” sang lawan bicara buka suara.
“Tentu saja. Kamu memangnya hari ini mau makan apa baby?”
“Ayam rica-rica,” jawab Nathan. Laki-laki tampan itu memang sedang ingin makan makanan bercitarasa pedas-manis tersebut.
“Ok, gampang. Sekarang kita pulang ke apartemen, nanti aku masakin ayam rica-rica buat kamu.”
“Hm.”
Mereka kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut. Tidak ada satu pun yang berani melayangkan protes atau komentar pedas saat melihat kemesraan yang mereka umbar. Toh, mereka yang sudah bekerja lama bersama keduanya sudah tahu betul alasan yang mendasari kedekatan mereka.
Siapa pula yang tidak mengenal perempuan cantik yang sering disapa pilot El itu. El memang sering membuat para penggemar pilot Nathan patah hati. Perempuan cantik itu bahkan tak segan-segan menunjukan kedekatannya dengan Nathan di depan para wanita penggoda yang suka memasang topeng sok suci. Semua itu El lakukan agar ia bisa menjaga keponakan tersayangnya dengan baik.
Nathan itu seperti adiknya sendiri. selisih usia di antara mereka hanya sekitar 5 tahun. El adalah adik Al—Papa Nathan. Al dan El memang terpaut jarak yang cukup jauh. Al saja tidak pernah berpikir akan diberi adik ketika usianya sudah dewasa—saat itu Al sudah duduk di bangku SMA—tapi rahasia Tuhan siapa yang tahu. Oleh karena itu, ketimbang lebih dekat dengan sang kakak, El cenderung lebih dekat pada keponakan pertamanya. Alih-alih menjelma menjadi seorang bibi, El lebih melakoni peran sebagai saudara perempuan, teman dekat, bahkan sebagai sahabat.
Sejak kecil El sangat menyayangi Nathan. Terpaut usia sangat jauh dengan Al, membuat El lebih dekat dengan Nathan dan Gean. Bahkan banyak orang salah paham dengan kedekatan mereka.
“Tunangan kamu ada di sini?”
“Enggaklah. Dia sedang mengurus bisnisnya karena kita akan segera menikah. Saat pernikahan berlangsung, dia pasti akan mengambil cuti. Makanya sekarang dia kerja keras banting tulang, bagaikan kuda.”
Pria rupawan yang tengah menikmati ayam rica-rica itu mengangguk. “Bibi memangnya—“
“Don't call me ‘Bib’ or ‘aunty’, baby!” Lerai El tak suka. Dia memang paling benci disebut bibi. “Call me El. El or honey, baby, darling, dear, apa saja. Asal jangan bibi. Aku berasa tua.”
Nathan tersenyum tipis mendengarnya. “Hm.”
El mendengus melihat respon sang keponakan. “Sudah, ayo habiskan makanan kamu. Oh, iya. Aku juga bawa buah tangan dari Bandung. Ibumu juga membawakan buah tangan untuk calon mantunya.”
“Uhuk-uhuk.” Nathan kontan tersedak saat mendengar ucapan El.
“Ya ampun, kamu kenapa baby? Hati-hati dong makannya.” El dengan segera menyodorkan segelas air putih untuk Nathan minum. Diterima dengan cepat oleh laki-laki rupawan tersebut.
“Maksud kamu apa berkata demikian?” tanya Nathan kemudian
“Ah, itu. Papamu sudah tahu pergerakan kamu, baby. Kamu seharusnya langsung gaspol, bawa dia ke KUA. Perempuan sholihah dan pintar seperti dia itu langka. Kalau tidak cepat-cepat dihalalkan, nanti keburu diambil orang.”
“Untuk apak risau? Lagipula dia sudah aku ikat lewat kedua orang tuanya,” kata Nathan seraya tersenyum misterius.
“Serius?!”
“Hm. Tinggal calonnya saja yang belum tahu.”
“Goodjob baby. Aku gak sabar mau hantaran ke kediaman Radityan. Mereka keluarga Ningrat yang hebat. Aku ngefans sama adik calon Papa mertuamu itu. Calon mertuanya Gean. Salah satu anggota Batalion Raider, anggota KOPASUS juga kalau gak salah. Namanya Keevan’ar Radityan Az-zzioi. Duh, namanya aja keren gitu. Apalagi kalau ketemu secara langsung, tremor kayaknya. Kok bisa si bungsu berani minta restu secara langsung sama dia ya?”
Nathan tersenyum tipis menanggapi keantusiasan sang bibi. El memang selalu antusias jika membahas soal keluarga Radityan. Keluarga yang sangat tersohor di tanah air, karena orang-orang dari keluarga tersebut dikenal memiliki otak jenius, dan memiliki sifat yang baik.
“Semoga Tuhan memberi kamu kemudahan, baby. Aku akan kawal kamu sampai bisa membuat putri Radityan itu kamu miliki secara resmi.”
✈️✈️
Ketukan suara alas kaki menggema ketika menyentuh dengan lantai. Lain halnya dengan dia yang memilih memakai sepatu tanpa hak, langkahnya ramah dan tidak bersuara. Tapi, hampir seluruh mata yang meliriknya tidak berhenti memandanginya. Walaupun ia sudah sebisa mungkin memastikan diri jika tidak mencolok, tetapi tetap saja ia menjadi pusat perhatian.
“Ismi, apa ada yang aneh dengan wajahku?”
“Tidak nona muda.”
“Lalu kenapa mereka menatapku demikian?”
“Nona cantik seperti biasa, jangan risau. Mungkin mereka menatap nona demikian karena penasaran,” ujar perempuan bernama Ismi tersebut.
Alea hanya mengangguk sebagai jawaban. Semenjak memasuki area lobby, ia memang menjadi pusat perhatian beberapa staf yang tengah lalu-lalang. Alea sempat berpikir ada yang salah dengan penampilannya. Namun, Ismi sudah mengatakan jika tidak ada yang salah dengan penampilannya. Ia hari ini menggunakan gamis berwarna coklat sebagai inner. Dipadukan dengan outher berwarna coklat yang lebih muda. Ia juga mengenakan hijab berwarna senada yang dikenakan secara syar’I, sehingga menutupi bagian dada. Tak lupa pula ada kain yang dia gunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.
Tidak ada yang aneh. Penampilan Alea hari ini bisa dibilang seperti hari-hari biasanya. Tak mau ambil pusing, Alea kembali melangkah ditemani oleh sang asisten. Hari ini ia mendatangi kantor client nya karena pagi tadi sekretaris client nya tidak bisa dihubungi. Padahal mereka memiliki janji temu.
“Permisi, apa CEO Arga's Air ada di tempat?” Ismi bertanya kepada resepsionis yang tengah berjaga.
“CEO kami sedang dalam perjalanan. Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?”
“Sudah. Tapi sekretaris beliau tidak bisa dihubungi. Kebetulan atasan saya memiliki janji temu dengan CEO Anda.” Ismi mencoba menjelaskan duduk masalahnya.
“Baik. Kalau begitu Anda bisa menunggu sebentar di ruang tunggu. Saya akan menghubungi sekretaris CEO kami dan menyampaikan kedatangan Anda.”
Mereka berdua kemudian menunggu sesuai arahan resepsionis. Perempuan berhijab syar'i plus dengan niqab itu hari ini tidak ditemani oleh sekretarisnya, karena Annante memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadilah dia pergi bersama Ismi—asisten Annante.
“Berapa lama lagi mereka datang? Kita harus menyelesaikan pertemuan ini sebelum jam makan siang, Ismi.” Cukup lama mereka menunggu, sampai-sampai Ale dibuat lelah sendiri. perempuan itu sesekali melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan.
Hari ini jadwal kerjanya cukup padat, dan dia telah membuang-buang waktu secara cuma-cuma.
“Sebentar lagi. Sekretaris CEO perusahaan ini baru saja membalas surel yang saya kirim, nona.”
“Waktu kita sudah terbuang banyak di sini. Jika tidak memungkinkan untuk ditunggu, kita atur ulang pertemuannya di lain waktu saja,” ujar Alea pada akhirnya.
Alea sudah menunggu cukup lama di sana. Sambil menunggu, Alea juga sudah melantunkan beberapa jenis salawat. Jika tak kunjung datang, Alea sudah memutuskan untuk mengatur ulang jadwal temu di lain waktu.
Namun, lalu lalang di area lobby yang sedang ramai mendadak hening saat dua orang memasuki area tersebut. Para kaum Hawa mulai berbisik-bisik saat melihat keduanya berjalan bersama dengan begitu mesra. Si laki-laki tampak gagah dengan setelah formal bernuansa dark blue. Sedangkan si perempuan tampak cantik dengan dress simple model cut off shoulder dress berwarna coral. Perempuan cantik itu menggamit mesra lengan laki-laki di sampingnya.
“Baby, dasi kamu miring.” Perempuan cantik itu tiba-tiba berhenti melangkah. Ia dengan santai membenarkan dasi si laki-laki yang katanya miring.
“Sudah?”
“Iya. Sekarang baru bagus,” ujar perempuan cantik sambil tersenyum manis. Niat hati ingin membuat para staf perempuan di sana iri dan sadar diri, supaya mereka tidak berani mendekati sang keponakan.
“Ayo,” aja laki-laki rupawan itu. Mereka kemudian melanjutkan langkah, membelah keheningan di lobby tersebut.
Para kaum Hawa malah semakin ricuh. Beberapa orang di antara mereka mulai membicarakan sang CEO kembali datang dengan perempuan yang sama. Perempuan yang selalu berkunjung beberapa kali dalam satu bulan.
“Baby, kenapa mereka melirikku begitu? I don't like it.”
“Abaikan saja,” ujar Nathan acuh. Hanya segelintir orang yang mengetahui status asli mereka. Jadi Nathan tidak mau ambil pusing.
“Sir,” panggil seorang wanita berpakaian rapih yang menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa.
“Ada apa?”
“Ada CEO Radityan Corp's menunggu Anda sejak tadi. Beliau ingin membahas soal kerjasama. Maaf terlambat memberitahu Anda. Semalam email saya mengalami masalah.”
“CEO Radityan Corp’s? Di mana mereka sekarang?” Nathan tampak terkejut mendengar informasi tersebut. Namun, ia pandai menyembunyikan keterkejutan tersebut.
“Di belakang Anda, sir.”
Nathan kontan menoleh ke belakang. Saking acuhnya dengan kondisi sekitar, ia sampai tidak sadar jika ada sang pujaan hati di sekitar sana. Diedarkan pandangannya ke sana dan kemari, mencari di manakah gerangan sosok itu berada. Sosok si pemilik tatapan sendu yang begitu dia rindu. Ketika berhasil menemukan keberadaan sosok itu, tatapan mereka tanpa sengaja bersirobak.
Bola mata jernih nan teduh yang belum bisa Nathan selami kedalamannya. Sorot mata teduh itu kembali berhasil menghipnotis Nathan. Padahal perempuan itu hanya berdiri di sana, tanpa melakukan apapun.
“Baby?” Lirih El.
Nathan terhenyak. Ia baru sadar jika saat ini kondisinya rawan membuat salah paham. Ketika menaikkan pandangan lagi, bola mata teduh itu tidak lagi menatapnya. Melainkan menatap El yang tengah memeluknya lengannya.
“El—“
“Siapa dia? Aneh sekali. Kok lihatin akunya gitu banget?” Protes El, risih dengan tatapan Alea.
“El, dia itu—“
“Udah ah, naik ke atas yuk. Aku capek,” rajuk El manja. “Ayo baby,” ajaknya kemudian.
“Sir,” panggil sang sekretaris. “Itu, CEO Radityan Crop's akan kembali mengatur ulang jadwal pertemuan. Beliau ada kepentingan mendesak untuk saat ini.”
Nathan tampak tidak rela mendengar ‘dia’ hendak pergi. “Secepat ini?”
“Beliau sudah menunggu lebih dari 2 jam, sir.”
Kali ini Nathan tidak dapat menutupi terkejut di wajah tampannya. Dengan segera ia memalingkan wajah, menatap ke arah di mana sang pujaan hati tadi berada. Namun, nihil. Perempuan itu tidak ada di sana lagi.
“El, naiklah terlebih dulu. Aku harus pergi ke suatu tempat.”
“Tapi, Baby?”
Nathan tidak menggubris. Ia buru-buru pergi dari lobby untuk mengejar kepergian sang pujaan hati. Sosok itu pasti belum pergi jauh. Selagi masih bisa dikejar, ia harus mengejar Alea. Nathan harus meluruskan kesalahpahaman yang sudah terjadi.
Sementara itu di parkiran, Ismi tampak terburu-buru mengikuti langkah Alea. Entah ia yang kesulitan berjalan dengan sepatu dengan heels tinggi yang ia gunakan, atau atasannya yang memang berjalan terlalu cepat.
“Nona muda, hati-hati jalannya. Anda bisa saja jatuh.”
“Kamu yang harus berhati-hati Ismi. Aku tidak akan terjatuh dengan sepatu tanpa hak,” jawab Alea. Perempuan berhijab syar’I itu kemudian menoleh ke sana-sini, mencari keberadaan para bodyguard dan supir pribadinya. “Di mana mereka?”
“Di sebelah barat nona. Mobil yang menjemput kita ada di sana.”
Alea mengangguk meng-iyakan. “Tapi, aku tidak menemukan mereka—“ ucapan Alea terhenti begitu saja. Perempuan dengan hijab lebar yang berkibar-kibar saat terkena angin itu menoleh tanpa alasan.
Ismi yang melihatnya ikut menoleh. Di sana, tepat di ujung khimar berkibar yang terkena hembusan angin, seorang laki-laki berdiri dengan tangan menyentuh ujung kain lembut berwarna soft tersebut.
“Tidak baik pergi tanpa mendengarkan penjelasan.”
“Penjelasan apa yang anda maksud, sir?” balas Alea formal.
“Kenapa kamu pergi begitu saja setelah membuang waktumu yang berharga? Bukannya kamu datang untuk bertemu denganku?”
✈️✈️
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sukabumi 20 Mei 2021
Revisi 13/06/22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Pillow My
cembokur ini mah
2024-01-26
1
Zaitun
mapusmu natan di hafus dr keingin lah
2022-07-29
1
Mirna C'Nyantut
huuuhhh aku jg takut alea salah paham
2021-05-25
3