BDJ 9 : RASA YANG SALAH
“I swear i’ll love you in a different way (Aku bersumpah akan mencintaimu dengan cara yang berbeda).”—Q.S Al-Ahzab (33):43
✈️✈️
“Kenapa tidak nambah lagi nasi dan lauknya, Louis?”
“Aku sudah kenyang Eomma.”
Perempuan paruh baya itu mengangguk. Ia lantas menoleh, menatap ke teman kecil sang putra. “Lea juga kenapa tidak tambah lagi?”
“Ini sudah cukup, bibi. Lea tidak bisa makan lebih dari ini.”
Nata mengangguk paham. Teman kecil putranya itu memang berprofesi sebagai model papan atas. Ia tahu betul jika bekerja sebagai model harus pandai-pandai menjaga pola makan. Karena jika tidak begitu, tubuh yang menjadi asset utama dalam pekerjaan tersebut akan mengalami masalah krusial, misalnya berat badan yang naik tidak terkontrol.
“Eomma.”
“Ya, kenapa Louis?” Nata menatap sang putra, menunggu jawaban dari pertanyaannya. Entah kenapa laki-laki itu tiba-tiba memanggil saat Nata bicara dengan Lea.
“Kenapa dia ada di sini?” Tanya Louis to the point.
“Maksud kamu Alea?”
Louis mengangguk tanpa suara.
“Lucas yang mengundang Alea. Eonni Lucas yang eomma ceritakan tadi adalah dia, Alea.”
“Eonni barunya Lucas?” Dahi pria laki-laki itu mengernyit dalam. Ia baru tahu jika sang adik bis semudah itu menerima orang baru. Padahal, biasanya sang adik sulit akrab dengan orang baru. Apalagi Lucas itu tipikal anak yang ‘ahil’, tapi lihatlah sekarang. Anak laki-laki itu asik berbicara panjang kali lebar bersama orang asing di ruang tamu.
“Eomma juga awalnya terkejut karena Lucas membuat onar di pertemuan pertamanya dengan Alea. Karena ulah Lucas, Alea hampir terkena masalah. Namun, Alea ternyata baik hati dan pandai membawa diri.” Nata menoleh sebentar, guna menatap sang putra yang tengah mengobrol dengan Alea. “Lihatlah sekarang, Lucas jadi dekat sekali dengan Alea. Padahal mereka baru dua kali bertemu.”
“Jadi nama perempuan itu Alea?” Lean yang sejak tadi menyimak obrolan tersebut, tiba-tiba buka suara. “Namanya lucu.”
Nata tersenyum tipis. “Iya, namanya Alea. Dia berasal dari Indonesia, tetapi sudah lama menetap di sini.”
“Indonesia? Aku pikir dia berasal dari Timur Tengah, misalnya Arab Saudi, Mesir, Turki, atau Palestina?” komentar Lea. Ia sempat berpikir bahwa Alea berasal dari Negara di Timur Tengah karena penampilannya yang sangat tertutup.
“Alea gadis yang baik dan terpelajar. Dia juga sopan dan lemah lembut saat berbicara,” puji Nata tidak ada habisnya. “Eomma dengar dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan asal Indonesia.”
Iris abu-abu milik Louis tampak berkilat. Ia sedari tadi memang sudah tertarik dengan topik pembahasan yang diambil oleh sang ibu. Ternyata banyak yang sudah perempuan itu bagi pada ibunya. Jujurly, Louis agak iri kepada ibunya sendiri.
“Eomma kebelakang dulu, habiskan makananmu Louis.”
“Hm.”
Sepeninggalan Nata laki-laki rupawan itu tak kunjung menandaskan makannya. Ia masih menatap ke arah di mana sang adik tengah asik berceloteh bersama seorang perempuan.
“Ada apa Lou? Kamu tidak biasanya mengacuhkan aku saat kita bersama. Tapi kali ini?” Lea buka suara dengan nada tak suka. Perempuan cantik itu beralih, ikut menatap ke arah yang sama dengan Louis.
“Why? Kamu tertarik sama dia?”
Louis tidak memberikan jawaban apapun atas pertanyaan objektif tersebut. Membuat Lea menghela napas gusar sembari berkata. “Dia jauh dari type kamu, Lou.”
Lea tahu betul type ideal Luois seperti apa. Sedangkan perempuan saat ini menarik perhatian laki-laki itu tidak masuk type idealnya sama sekali.
“Dia terlihat sangat alim. Beda dengan type ideal kamu yang—“
“Stop it, Lea. Itu bukan urusanmu!”
Perempuan cantik itu mencebikkan bibirnya sebal. Luois tak kunjung sadar jika Lea sebenarnya tengah cemburu, karena laki-laki itu memperlihatkan ketertarikan pada perempuan lain secara terang-terangan.
“Aku cuma ingin memperingati kamu. Jangan sampai kamu salah mencari mangsa, takutnya kamu sendiri yang repot.” Lea berbisik sensual di telinga Louis. Dia tahu sulit membuat Louis sadar jika memang tengah tertarik untuk mendapatkan sesuatu. “Aku harus pergi sekarang. Titip salam untuk Bibi Nata.”
Setelah berkata demikian, Lea menandaskan setengah air putih di dalam gelas, kemudian beranjak guna meraih tas mungil keluaran Chanel sebelum mengambil langkah meninggalkan rumah tersebut.
Louis tidak memberikan merespon apapun atas kepergian Lea. Laki-laki rupawan itu memilih menyelesaikan acara makannya, kemudian menghampiri anabul—anak berbulu—miliknya yang sudah bersuara sejak tadi. Suara nyalak hewan pelolong malam itu membuat senyum di sudut-sudut bibirnya kian mengembang. Ia kemudian membuka pintu kandang sang anabul, agar anabul berjenis Siberian Husky berumur 5 tahun itu segera berlari ke arahnya.
“Apa kabar kawan?”
Louis membelai hewan berbulu itu sayang. Dibalas senang oleh si anabul sambil mengendudus-endus sang majikan.
“Miss me hm?” Tanya Luois seraya menuntun hewan dengan bulu lebat berwarna putih dengan perpaduan warna hitam itu.
Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan nyalak yang cukup nyaring, sampai-sampai mengejutkan Lucas dan Alea yang tengah berada tak jauh dari mereka. Si kecil Lucas yang melihat sang kakak tengah asik berinteraksi dengan hewan peliharaannya, langsung berlari menghampiri sang kakak.
“Bloody, c'mon.”
Lucas memanggil hewan berbulu itu agar mendekat. Luois yang melihat keantusiasan sang adik terkekeh kecil. Ia mengalihkan pandangan untuk sejenak, guna menatap perempuan yang tengah berdiri di dekat sofa.
“Why?” Ia bertanya dengan alis bertaut. Heran akan sorot cemas yang tampak di bola mata teduh milik perempuan itu.
“Jauhkan hewan itu, karena saya—“ belum sempat Alea menandaskan ucapannya, hewan berbulu itu kembali menyalak dengan galak. Suaranya terdengar lebih keras saat mendekati Alea. Mungkin hewañ itu merasa asing akan kehadiran Alea.
“Hyeong, Eomma bilang Blossem dan Boody tidak boleh dekat-dekat Eonni,” kata Lucas memberitahu.
“Benarkah?”
Luois tampak terkejut mendengar informasi tersebut.
Alea sendiri hanya bisa mematung di tempat. Ia terpojok di antara dinding dan sofa yang menghimpit tubuh mungilnya. Ia sudah berdiri di atas sofa, saking takut melihat hewan berbulu yang terus menyalak ke arahnya.
“Astaga, Luois, Lucas, apa yang kalian lakukan?!”
Nata yang baru datang berseru dengan risau. Perempuan paruh baya itu kaget melihat Alea yang terpojok dan sangat tertekan.
“Boody, go away!” Nata kemudian memberikan isyarat agar Siberian Husky itu menjauh dari Alea. “Kamu tidak apa-apa Alea?” tanya Nata cemas saat Siberian Husky itu berhasil dijauhkan dari Alea.
Gadis itu mengangguk kecil. “Saya tidak apa-apa, tante.”
“Kamu yakin? Tante lihat kamu sangat shok tadi. Maaf atas ketidaknyamanannya, ya,” ujar Nata merasa sangat bersalah. Ia kemudian menatap putranya bergantian. “Karena putraku kamu jadi merasakan ketidaknyamanan ini.”
“Tidak apa-apa, tante. Saya juga baik-baik saja.” Kata Alea meyakinkan.
Setelah insiden kurang menyenangkan itu, Alea pamit undur diri. Hal tersebut tentu membuat Lucas sedih karena anak laki-laki itu mengira Alea pergi karena marah. Dengan susah payah Nata membujuk sang putra, dibantu oleh Alea yang juga ikut meyakinkan. Lagi pula sudah waktunya Alea kembali ke kantor.
“Masuk. Biar aku antar.”
Laki-laki bermata abu-abu itu bersuara dari balik kaca pintu mobil sport yang terbuka. Kendaraan mewah itu berhenti tepat di samping tubuh Alea yang baru saja hendak melewati gerbang rumah Nata.
“Terima kasih untuk tawarannya.” Alea menangkupkan kedua tangan di dada setelah berkata demikian. “Tapi maaf, saya bisa pergi sendiri,” lanjut Alea, menolak secara halus. Namun, ucapan Alea tak lantas membuat Louis mau menyerah dengan mudah.
“Dalam agama saya dilarang hukumnya jika laki-laki dan perempuan tanpa ikatan berdua dalam satu ruangan. Termasuk satu kendaraan.”
“Begitu, ya?” Luois bertanya sambil terkekeh kecil. “Jangan naif. Bukannya hal seperti ini masih sangat lumrah? Lagipula aku hanya ingin mengantar, bukan ingin melakukan sesuatu yang melanggar agama.”
“Lumrah bagi orang lain, tetapi tidak untuk saya,” jawab Alea lugas. “Sekali lagi, terima kasih atas tawarannya. Anda bisa lihat di sebelah sana, itu jemputan saya. Kalau begitu saya permisi,” tandas Alea.
Perempuan kemudian itu buru-buru pergi. Dua orang pria dan seorang wanita berpakaian serba hitam menyambutnya. Jemputannya tentu akan bertambah ketat saat Ayahnya menerima informasi jika putrinya berada di luar kantor atau di luar rumah. Anzar tentu tak main-main soal keamanan putrinya.
“Menarik. Dia semakin membuatku tertarik.” Kekeh Luois sambil menatap kepergiaan Alea.
✈️✈️
“Ann, kamu sudah kembali?” Alea bertanya saat melewati meja sekretaris yang sudah tidak kosong lagi.
“I-ya.”
“Kamu terlihat agak pucat,” komentar Alea saat wajah sang sekretaris tampak pucat.
“Ah, mungkin karena aku belum touch up setelah lunch tadi,” sangkalnya.
Alea mengangguk sambil berbalik badan. “Setelah ini meeting dengan CEO ITQ Art bukan?”
“I-ya. Apa ada yang kamu perlukan lagi Alea?”
“Tidak. Mungkin kamu yang lebih butuh.”
“A—ku?”
“Pergilah ke unit kesehatan, Ann. Cek apakah ruam-ruam di lehermu disebabkan oleh alergi atau gigitan serangga. Sebelum jadi lebih parah.”
“Ah, i—Ini.” Annante menyentuh leher jenjangnya sembari tersenyum kikuk. Ia sepertinya lupa memoles foundation atau conceller di permukaan tersebut.
“Jika kamu sakit istirahat saja. Biar Ismi yang menggantikan posisi kamu untuk sementara waktu,” tandas Alea sebelum hilang di balik pintu ruangannya.
Annante menjatuhkan dirinya di atas tempat duduk dengan napas yang terasa sangat berat. Ia menggigit bibir bagian dalam, saat ingatannya berputar pada peristiwa yang menjadi awal mula munculnya ruam-rumah kemerahan yang tersebar di beberapa bagian tubuhnya itu.
“Sorry Alea. Aku sepertinya sudah bukan Annante yang kamu kenal lagi.”
✈️✈️
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sukabumi 17 Mei 2021
Revisi 13/06/22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Zaitun
anante gak cocok jd sjretaris alea
2022-07-29
2
Andini Putri
kangen uwwu nya Nathan..
kangen Author jugaa❤❤
2021-05-20
3
Happyy
😘😘
2021-05-18
3