BDJ 5 : INSIDEN JUMPA
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).’—Q.S Al-Qamar (ayat : 49)
✈️✈️
“Iya, Alea ingat.” Gadis cantik yang tengah berbicara lewat telepon itu mengangguk kecil sambil mendorong troli belanjaan. “Alea sudah beli daging buat rendang nya. Tinggal sayuran hijau yang tadi Mamah list, belum Alea beli."
Dia juga sesekali melihat barang-barang belanjaannya. Kemudian melirik list yang ada di sebelah tangan, mengakurasikan barang-barang belanjaannya dengan list tersebut.
Usai subuh tadi dia sudah memang sudah beraktivitas seperti biasa walaupun hari ini weekend. Dia libur kerja di perusahaan, namun bukan berarti dia jadi bebas leha-leha di rumah. Beberapa undangan zoom meeting, google meet juga undangan pertemuan secara virtual lain sudah memenuhi email nya. Hanya saja untuk kali ini dia harus menolak demi memenuhi keinginan kedua orang tuanya.
Setelah salat subuh, aktivitas pagi di mulai dengan olahraga pagi bersama kedua orang tuanya. Mereka biasa berkeliling di pekarangan mansion sambil bersepeda. Selepas olahraga mereka lantas pulang untuk membersihkan badan, kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama. Hal-hal demikian memanglah kegiatan sepele, namun tidak bagi Alea. Itu sangat berarti bagi Alea, karena disela-sela kegiatan padatnya sebagai seorang perempuan karir, dia tetap bisa menikmati kebersamaan bersama orang tuanya.
Pagi ini Alea mendapatkan tugas untuk belanja beberapa kebutuhan di market terdekat. Awalnya dia akan pergi ditemani sang ibu, namun urung karena Airra harus mengurus sesuatu di rumah. Kini gadis berniqab itu berbelanja sendirian di sebuah market paling lengkap yang buka 24 jam.
Beberapa kali dia memang menyadari jika ada beberapa orang yang menatapnya lekat. Walaupun risih, Alea sudah biasa dengan tatapan penuh intimidasi tersebut. Apalagi belakangan tengah marak isu tentang deskriminasi umat beragama muslim. Apalagi wanita muslim yang berpenampilan syar’i seperti dirinya acak kali mendapatkan tatapan mengintimidasi.
“Aww!”
Etensi fokus gadis cantik berhijab syar'i itu tiba-tiba teralihkan karena suara benturan antara troli belanjaannya dan sesuatu. Pandangannya kemudian menemukan anak laki-laki yang baru saja mengaduh kesakitan karena jatuh setelah menabrak troli miliknya.
“You okay?” Alea dengan sigap berjongkok di dekat anak laki-laki itu, lantas mengulurkan tangannya untuk membantunya.
“Don't touch me!” anak laki-laki itu berseru dengan suara keras. Kakinya yang hendak Alea sentuh juga ditarik dengan cepat. “Penjahat!” imbuh anak laki-laki dengan paras rupawan tersebut.
“Penjahat?” bingung Alea.
“It's you.”
Anak laki-laki yang berusia kisaran 10 tahun itu menimpali. Beberapa pengunjung market yang lain tampak melirik curiga melihat interaksi mereka, sebagian bahkan sudah mendekat guna memastikan.
“Ada apa ini?” Seorang perempuan berkulit gelap bertanya sambil meminggirkan troli belanjaan miliknya.
“Ada apa, nak?” dia kembali bertanya sambil mendekati anak laki-laki yang masih terduduk di lantai tersebut. “Apa wanita ini mengganggumu?”
Anak laki-laki itu mengangguk mantap. Membuat Alea terkejut tentunya.
“Tidak. Saya cuma ingin membantu dia.” Alea buka suara. Tidak mau disalahkan begitu saja. “Dia tadi terjatuh setelah menabrak troli belanjaan saya,” tuturnya meluruskan.
“You lie!” anak laki-laki itu berseru lagi, membuat beberapa orang mulai bersimpati.
“Kamu menganggu anak ini?” perempuan berkulit gelap tadi kembali bertanya seraya menatap Alea tajam.
“Tidak, saya—“
“Dia pasti berdalih. Saat ini banyak penjahat yang bersembunyi dibalik penampilan yang mencerminkan wanita tertutup.” Seorang perempuan bule ikut menyuarakan opini. Membuat situasi semakin tidak terkendali
Alea mulai tersudut. Akan tetapi, dia tetap tenang menghadapi situasi dan kondisi tersebut. “Maaf, tapi Anda bisa mendapat perkara pidana karena menuduh orang sembarangan tanpa bukti. Lagi pula di tempat ini ada CCTV. Kalian bisa melihat rekaman CCTV agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bukan menuduh orang sembarangan.”
Perempuan-perempuan tadi lantas bungkam. Mereka langsung saling lirik, sambil mencari keberadaan CCTV yang dimaksud. Jika benar ada CCTV maka perkataan Alea sepenuhnya dapat dibenarkan. Pasti kejadian yang sebenarnya sudah terekam oleh kamera pengawas tersebut.
“Tch,” decih anak laki-laki tersebut sambil menatap Alea kesal. Dia masih bertahan di posisinya—duduk berselonjor seraya belah tangan memegangi lutut.
“Lucas?”
“Gawat!” tiba-tiba anak itu buru-buru berdiri dari duduknya, membuat mereka yang ada di sana terkejut bukan main.
“Bukannya kakimu sakit, nak?” tanya perempuan berkulit gelap tadi, kaget.
“Hm, itu—“
“Lucas, what are you doing here?!” Seorang perempuan paruh baya yang masih tampa cantik datang dari arah berlawanan dengan tergesa-gesa. Mendekati bocah lelaki yang tengah menggaruk tengkuknya tersebut.
“Em, Eomma. Lucas tadi—“
“Apa kamu berulah lagi?” perempuan berwajah cantik khas wanita negeri Ginseng itu bertanya sambil mencubit pipi sang putra, antara gemas dan kesal.
“Aw, Eomma sakit.”
Perempuan-perempuan yang tadi mengintimidasi Alea, berangsur-angsur pergi satu persatu setelah mengetahui jika tadi hanya kesalahpahaman semata. Perempuan paruh baya yang dipanggil ibu oleh anak laki-laki tadi tersenyum penuh sesal seraya meluruskan kesalahpahaman tersebut.
“Maaf, putra saya telah membuat kesalahpahaman.”
“Jaga putramu dengan baik. Kami hampir menghakimi orang tidak bersalah tadi.”
“Maaf, sekali lagi saya minta maaf.” Ibu dari anak laki-laki yang dipanggil Lucas itu berulang kali mengucapkan kata ‘maaf’ seraya membungkukkan badannya.
“Sorry, Eomma.” anak laki-laki itu berujar lirih sambil memperlihatkan puppy eyes miliknya. Dia merasa bersalah karena telah membuat ibunya meminta maaf seperti itu pada orang-orang.
“Sudah Eomma katakan, jangan pergi jauh-jauh.”
“Maaf, Lucas salah.”
Alea menatap ibu dan anak itu bergantian. Orang-orang yang tadi mengerumuninya, kini mulai berangsur-angsur menjauh. Sekarang dia tinggal bersama ibu dan anak yang masih berbicara di hadapannya.
“Eonni,” panggil anak laki-laki tadi, tiba-tiba.
“Saya?” Alea menunjuk dirinya sendiri. agak terkejut karena tiba-tiba dipanggilan menggunakan bahasa Korea.
“Ne.”
Alea mendekat, lantas menatap Lucas yang berdiri di hadapannya “Ada apa?”
“Ayo.” Desak ibu Lucas.
“I’am sorry, Eonni,” lirihnya.
“Lebih keras!” seru sang ibu.
“I'am sorry, Eonni,” ulang Lucas lebih keras.
Alea yang melihat tingkah bocah tersebut tersenyum tipis di balik kain niqab yang dia gunakan.
“Maaf, ya, putra saya telah membuat kamu kesulitan.” Alea mengangguk kecil sebagai respon. “Lucas memang nakal. Akan tetapi, kenakalan itu adalah caranya untuk menarik perhatian.”
“Oh, caper.” Alea berujar lirih. Ternyata anak laki-laki tadi suka caper dengan cara ekstrim.
“Caper?”
Alea mengangguk kecil, karena sadar ucapannya tanpa sengaja terdengar oleh lawan bicaranya.
“Kependekan dari cari perhatian,” jelasnya menggunakan suara yang terdengar begitu ramah di telinga. Sampai-sampai membuat lawan bicara nya terpesona.
“Kamu orang Indonesia?”
“Iya. Saya berasal dari Indonesia.”
“Woah, Indonesia.” Si kecil Lucas menyahut dengan antusias. “Pulau Dewata, Bali. Eonni tahu?”
Alea mengangguk. Dia tentu sana tahu pulau Dewata yang sangat terkenal itu.
“Apa di sana indah? Hyeong bilang di sana indah sekali. Aku akan berlibur ke sana musim panas ini.”
“Yes. Bali is beautiful place.” Alea menjawab ramah.
“Jadi kamu dari Indonesia? Pantas saja kamu ramah sekali.” Ibu Lucas kembali berbicara. “Senang bisa bertemu denganmu, nona...?”
“Alea. Panggil Alea saja miss.”
Wanita itu mengangguk. “You can call me Nata. My name is Natalia.”
Sekali lagi, Alea mengangguk. “Kalau begitu, apa boleh Alea panggil tante Nata?”
“Tentu saja,” jawab perempuan yang cukup fasih melapalkan bahasa Indonesia itu.
Obrolan mereka kemudian terus berlanjut. Si kecil Lucas juga aktif bertanya pada Alea soal Bali. Satu-satunya tempat yang dia ketahui di Indonesia. Pembawaan Alea yang easy to talk, nyatanya mampu membuat ibu dan anak itu nyaman berlama-lama dengannya.
“Hm, Alea sudah harus pamit, tante.” Alea melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Ibu di rumah menunggu.”
Nata dan Lucas tampak tidak rela saat Alea hendak pergi. Luca bahkan sempat merajuk karena berpikir jika Alea masih belum memaafkannya.
“Apa Eonni masih marah?”
“Tidak. Aku sudah memaafkan kamu,” ujar Alea, jujur.
“Lalu kenapa buru-buru pergi? Lucas masih mau bicara sama Eonni!” rajuk si kecil Lucas.
“Emh, karena Ibuku menunggu di rumah. Aku harus segera pulang agar tidak membuatnya menunggu.”
Lucas mengangguk lesu. Dia paham tidak bisa lagi membuat Alea bertahan di sana. “Eomma?”
“Ada apa?”
“Bisakah kita mengundang Eonni untuk makan siang di rumah?”
Perempuan paruh baya itu agak terkejut dengan permintaan sang putra yang satu ini. Mengingat jika Lucas jarang sekali peduli atau akrab pada orang yang baru dia temui. Ternyata hal itu tidak berlaku bagi Alea. “Coba tanya Eonni nya langsung.”
Anak laki-laki yang memiliki paras rupawan itu mengangguk. “Eonni? Mau tidak makan siang di rumah Lucas?” tanyanya seraya meraih salah satu tangan Alea. Awalnya Alea terkejut, namun dia dapat mengendalikan ekspresinya dengan baik.
“Eonni harus main ke rumah Lucas. Hyeong harus kenalan sama Eonni. Hyeong mau pergi ke Bali lagi, dia belum tahu banyak hal tentang Indonesia. Padahal selain Bali, ada banyak tempat cantik di sana bukan?”
Alea mengangguk, namun kebingungan menjawab. Dia tidak mungkin semudah itu meng-iyakan ajakan orang asing.
Lucas menatap Alea dengan jurus puppy eyes andalannya. “Mau, ya, Eonni?” bola mata hitam milik anak itu tampak menggemaskan, sehingga mampu membuat siapapun luluh. “Mau ya, Eonni?”
Alea menghembuskan nafasnya gusar. Dia menyukai anak kecil. Dia tidak pernah bisa menolah permintaan mahluk menggemaskan bernama anak kecil. “Lucas?”
“Ya, Eonni?”
“Hari apa aku harus datang?”
Lucas mengerjapkan bola mata gelapnya beberapa kali, saat terkejut saja anak laki-laki tampak sangat menggemaskan. “Eonni mau datang?”
Alea mengangguk sebagai jawaban.
“Eonni bisa datang besok!” Lucas berujar dengan antusias. Kedua bola mata anak itu tampak berkilauan saat sudut-sudut bibirnya membentuk senyum yang lebar.
Alea tersenyum di balik kain penutup wajahnya. Nata juga mengucapkan terima kasih banyak atas kesediaan Alea berkunjung ke rumah mereka. Walaupun perjumpaan mereka diawali oleh insiden kurang sedap, setidaknya mereka bisa menjalin tali silaturahmi setelahnya.
"Eomma, Eonni tadi baik sekali ya. Lucas suka.”
Nata tersenyum simpul sambil menyentuh pucuk kepala sang putra. “Cepat ambil snack yang Lucas mau. Kasihan kakak menunggu lama.”
“Iya Eomma. Hyeong pasti kesal.” Luca tampak berdecak kala mengingat sang kakak. Anak laki-laki itu kemudian mengambil dua bungkus snack berbahan dasar jagung dari rak dan dua bungkus stik coklat kesukaannya.
Nata mengangguk, menyetujui ucapan putra bungsunya. “Louis, kakakmu itu benci menunggu.”
“Hm, hyeong, kan, tidak pernah suka menunggu kalau tidak dipaksa.” Lucas berujar sambil tertawa kecil. Bocah itu tengah membayangkan betapa kesalnya sang kakak saat ini. Jika tidak karena dipaksa oleh adik kecilnya, mana mungkin laki-laki dewasa itu mau dibuat menunggu berjam-jam lamanya. “Nanti Lucas mau cerita soal Eonni ke Hyeong. Eonni baik. Eonni yang mau sabar sama kelakuan Lucas, enggak kayak Hyeong Louis.”
✈️✈️
TBC
Hayo.... yang nungguin up, absen dulu👐
Maaf belum bisa update teratur. Banyak yang harus aku kerjakan di dunia nyata. Aku juga belum sempat up BDJ sama Extra part GG, maaf ya🙏 Aku akan usahakan update secepat mungkin ya😊
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, komentar, share dan follow Author. Bagi yang berkenan saja ya, gak maksa kok😄
Ok, kita jumpa lagi nanti👐
Sukabumi 05 Mei 2021
Revisi 25/05/55
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Wiwin Eror
nata mantan pacar anzar....
2021-09-16
3
Fitria Fitri
Wah wah wah.. Nata de coco telah muncul
2021-08-07
3
Mirna C'Nyantut
gawat nih alea ketemu mantan papah anzar😮 gimana ya nanti reaksi anzar kalo ketemu nata😳
2021-05-25
3