BDJ 4. AJAKAN MAKAN SIANG
“Dan ketika dia telah cukup dewasa kani berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”—Q.S Yusuf (ayat : 22)
✈️✈️
“So, deal?”
“Of course, deal.”
Senyum tipis mengembang di bibir kedua sekretaris saat melihat pemimpin mereka akhirnya mencapai kata sepakat untuk bekerja sama. Setelah mediasi kurang lebih 30 menit, mereka baru mendapatkan hasil yang memuaskan.
“Nanti kami akan kirim kontrak kerjasamanya. Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan anda,” ujar Annante saat menjabat tangan lawan bicaranya. Seberkas senyum mempesona tak lekang di bibir ranum miliknya. Sebuah kehormatan bagi Annante bisa berjabat tangan dengan CEO Anderson Cooperation yang terkenal luar biasa tampan.
"Hm. Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan kalian juga,” jawab si lawan bicara. “Bagaimana jika kita lunch bersama untuk merayakan kerjasama ini?” tawarnya kemudian.
“Sir—“ Ciara yang hendak menyela—tiba-tiba mengingat schedule sang CEO yang sangat padat hari ini—dipotong lagi oleh suara sang atasan.
“Apa Anda memiliki waktu luang?” tanya lelaki bermanik abu-abu itu tanpa tujuan.
Annante tersipu malu seraya menjawab, “hari ini saya—“
“Bukan. Maksud saya nona CEO,” koreksi CEO Anderson itu. Annante tersenyum kikuk mendengarnya. Ternyata bukan dia yang diajak lunch bersama.
“Bagaimana? Bisa?”
Manik teduh milik perempuan yang dimaksud bergulir cepat, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. “Ann, tolong bacakan acara setelah ini?”
Annante mengangguk. Perempuan itu kemudian membuka handphone, dan membaca susunan acara sang atasan setelah ini. “Lima belas menit lagi waktu Anda makan siang. Biasanya Anda akan melaksanakan ibadah terlebih dahulu, dilanjutkan makan siang dengan bekal yang dikirim oleh miss. Airra. Setelah istirahat ada jadwal meeting dengan bagian General Manager pukul 13.30 siang. Pukul 15.00 Anda memiliki janji temu dengan direktur utama hingga pukul 16.00 sore.”
Perempuan berniqab itu menatap lelaki di hadapannya sekilas. “Sebelumnya saya minta maaf, tapi Anda bisa mendengar sendiri jadwal saya cukup padat hari ini.”
Louis—lelaki rupawan bertubuh profesional itu tersenyum tipis mendengarnya. “Saya mengerti. Lain kali saya pastikan kita akan makan siang bersama.”
“InsyaAllah. Jika Tuhan menghendaki,” jawab Alea mantap. “Kalau begitu saya permisi. Annante, sekretaris saya akan mengantar Anda sekalian."
Setelah berkata demikian Alea berbalik untuk berbicara sebentar dengan Annante. Setelahnya dia benar-benar pamit meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan mereka bertiga.
“Menarik.” Kekeh Louis. Pria itu seperti menemukan perairan hening yang nampak tenang namun menantang. Kesederhanaanya adalah keindahan. Keindahan itu terletak pada setiap kesederhanaan yang tercipta.
Louis suka menyelam. Dan ya, dia tertantang untuk menyelami kedalaman satu ini. Manik bening nan teduh yang menghanyutkan itu membuatnya tertantang untuk menyelaminya lebih dalam.
“Akan aku mendapatkan dirimu, little girls.”
✈️✈️
“Jadi kamu putra pilot Al?” Tanya laki-laki yang tengah berdiri sambil menatap lawan bicaranya, raut terkejut tidak dapat disembunyikan oleh mimik wajahnya.
“Iya.”
“Pemuda yang dulu kami temui di bandara?”
“Iya, itu saya Om.”
“Woah, sudah lama sekali ya.” Laki-laki rupawan berjas rapih yang masih tampak tampan di usia yang tidak muda itu tersenyum sumringah. “Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu baik?”
“Alhamdulillah, baik, Om. Papah sedang menjalankan tugas di tanah air, sesekali juga mampir kemari."
“Oh, begitu kah? Saya dengar kamu juga memiliki seorang adik. Apa benar? Jika iya, dia juga sudah besar, kan, sekarang?”
“Iya. Nama adik saya AlGean.”
“Ya, ya. Saya mengenal pemilik nama itu karena dia pernah membuat sejarah dalam garis keturunan Radityan. Adikmu itu pemuda yang pemberani dan agak .....crazy.”
Laki-laki yang menjadi lawan bicaranya tampak tersenyum tipis. Ya, adiknya memang dapat dikatakan pemberani dan agak crazy. Saking beraninya, adiknya itu bahkan berani melamar putri anggota KOPASSUS dengan tangan kosong, pasca lulus sekolah menengah atas.
“Nathan.”
“Ya, Om?”
“Masih ingat dengan keinginanmu bertahun-tahun lalu?”
“Tentu saja Om. Saya tidak pernah melupakan keinginan tersebut. Kali ini aya kembali menjumpai Om untuk menagih janji itu.”
Anzar—laki-laki paruh baya itu tersenyum tipis mendapati keterangan lawan bicaranya. Untuk anak muda seumurannya, dia sangat to the point dalam menyampaikan maksud dan tujuannya datang kembali.
“Haha... saya pikir kamu sudah menyerah.”
“Tidak Om. Saya tidak akan menyerah soal ini.”
Anzar kian tertawa jumawa. Semakin tertarik bertanya lebih lanjut pada ‘future’ putri sematawayangnya itu. “Begitu kah?”
“Iya, Om.”
Anzar mengakhiri ekspresi jumawa nya. Dia kemudian menatap lawan bicaranya tajam. Membuat sang lawan bicara kesulitan menelan ludah sendiri.
“Jadi apa yang telah kamu persiapkan untuk menjamin kebahagiaan putri semata wayang saya?”
Nathan menatap lawan bicaranya tak gentar. “Saya sudah mempersiapkan segalanya, Om.”
“Segalanya?”
Nathan mengangguk sebagai jawaban. “Semua yang Om ajukan insyaallah sudah saya penuhi. Saya rasa sudah cukup pantas untuk mengambil putri Om sebagai istri.”
Anzar mengangguk kecil. Dia tidak menyangka tamu yang di maksud oleh sekretarisnya adalah putra dari senior lamanya saat mengenyam pendidikan di New York dulu. Setelah sekian purnama, Anzar kembali berhadapan dengan laki-laki yang dulu sempat dia buat babak-belur karena satu permintaan yang Azar anggap terlalu konyol.
“Kalau begitu kita lihat saja nanti.”
Kening Nathan bertaut mendengarnya. “Maksud om?”
“Besok luangkan waktumu Capt Nathan. saya mengundang kamu untuk makan siang di kediaman Radityan.” Anzar berujar sambil menjulurkan tangan. Seberkas senyum tipis tampak menghiasi labium pria yang terkenal sangat protektif terhadap sesuatu yang menjadi kesayangannya itu.
Nathan—laki-laki rupawan itu mengangguk sambil tersenyum sopan. Dia pun dengan senang hati menerima undangan tersebut seraya menerima uluran tangan Anzar. “Terima kasih atas undangannya. Saya pasti akan datang.”
✈️✈️
“Saya sudah mendapatkan informasi yang tuan inginkan.”
Laki-laki yang tengah berdiri sambil membelakangi lawan bicaranya itu berbalik. Seulas seringai tampak terbit, menghiasi sudut-sudut bibirnya. “Good job,” pujinya.”
Tangan kanan laki-laki itu mengangguk santun sebagai tanda terima kasih. Dia kemudian menyodorkan sebuah berkas berisi informasi yang tuannya inginkan.
“Alea? Nama yang manis,” komentarnya saat membaca nama yang tertera pada biodata someone tersebut. “Putri tunggal CEO Radityan Crop's. Salah satu mahasiswi termuda dan terbaik lulusan Harvard University,” lanjutnya, dia membaca secara acak.
“Good. sekarang kirimkan undangan makan siang kepada sekretaris CEO Radityan Corp's,” titahnya mutlak. Dijawab dengan anggukan kepala oleh lawan bicaranya.
“Aku ingin makan siang bersama dia, dan dia tidak boleh menolak karena tidak pernah ada yang berani menolak permintaanku.” Seringai kembali menghiasi ujung-ujung bibir laki-laki yang baru saja berucap tersebut.
✈️✈️
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, masuk,” kata si pemilik ruangan seraya mengangkat pandangan. Tatapannya langsung bersirobak dengan wajah familiar milik sang ibu.
“Alea sedang apa sayang?”
“Baru selesai salat Isya. Ada apa memangnya, ma?”
“Nyariin putri sendiri memangnya harus pakai alasan ya?” jawab wanita paruh baya yang mengenakan gamis berwarna choco tersebut.
Perempuan muda itu tersenyum dibalik niqab nya seraya menggelengkan kepala. “Enggak juga sih.”
Sang ibu ikut geleng-geleng kepala mendapati respon sang putri. “Alea enggak capek kerja terus?” tanyanya kemudian. Tatapannya beralih pada MacBook yang tampak menyala di atas meja belajar.
“Enggak Mah, Alea suka kerja.” Si pemilik nama menjawab dengan mantap. “Alea cuma duduk di balik ruangan CEO. Gak ngapa-ngapain kok, Mah. Para staf yang lebih banyak bekerja keras.”
Airra tersenyum kecil mendengar jawaban dari sang putri. “Kamu ini putri Mamah atau Bunda Aurra hm? Cara bicaranya mirip Aurra sekali.”
“Dua-duanya.”
Perempuan paruh baya itu tersenyum tipis sambil menyentuh ujung hidung sang putri yang tertutup oleh niqab. Terkadang putrinya ini lebih mirip Aurra—adik iparnya—ketimbang dirinya sendiri. Pekerja keras, pemberani, bertekad kuat dan tidak kenal takut.
“Besok weekend, Alea stay di rumah, ‘kan?”
“InsyaAllah. Memangnya kenapa Mah?”
Airra menatap sang putri lembut. Dengan lembut dia menggiring sang putri untuk duduk di pinggiran tempat tidur. “Besok siang rumah kita kedatangan tamu. Teman lamanya Papa. Mereka mau bersilaturahmi. Alea bisa meluangkan waktu untuk besok?”
Jantung Alea seketika berdegup kencang tanpa sebab. Entah mengapa tiba-tiba intuisinya bekerja dengan cepat menerjemahkan makna dari kalimat tersebut. Kalimat sang ibu barusan mengandung banyak sekali clue yang membuat isi kepalanya bekerja keras untuk menerjemahkan.
“Besok kita makan siang bersama mereka. Mereka mau bertemu sama Alea. Alea mau kan menyambut mereka, ‘kan?”
Ternyata dugaan Alea benar, ada udang dibalik batu. Maksudnya ada something yang tersimpan di balik kedok ajakan makan siang esok.
✈️✈️
TBC
Yuhuuu.... selamat pagi All Readers👐
BDJ UPDATE⚠
Maaf ya baru bisa update lagi, karena banyak kesibukan di dunia nyata. Aku juga harus bolak-balik ke sekolah yang ada wifi. Jaringan disini sedang buruk, entah Hp Author yang khentang😅
Wokeee.... absen dulu ya readers. Absenya pakai bulan kelahiran ya👍
Ok, gimana buat part ini? Nungguin ya? atau masih ngikuti alurnya? cerita BDJ ini gak bakal aku buat banyak. Mungkin partnya pendek kayak BSK. Jadi, jangan kaget ya nantinya. Ok, seperti biasa, jangan lupa like, vote, komentarrrrrrr, share dan follow Author. IG Karisma022 dan IG, follow ya 💙
Kita jumpa lagi besok di part berikutnya. Bye All readers👐
ILYSM❤
Sukabumi 02 Mei 2021
Revisi 25/05/22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Pillow My
ada udang dibalik bakwan ... yummyyy 😍😍😍
2024-01-26
1
Fitria Fitri
Napa jadi gua yg cengar cengir yak😄
2021-08-07
4
Decy zifara fatul
😍😍😍❤️❤️❤️
2021-05-03
4