BDJ 3 🌼 : INTERESTING
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah sesuatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”—Q.S Al-Isra (ayat : 32)
✈️✈️
Sebuah mobil sport terbaru keluaran Eropa tampak terparkir manis di parkiran khusus staf dan collega. Dari luar kendaraan roda empat berwarna serba hitam itu tampak mencolok dan elok. Warna hitamnya tampak eksotis dan elegan. Sedangkan di balik body mencolok dan elok itu dipenuhi oleh hawa panas yang tidak mampu lagi dipadamkan oleh udara yang keluar dari Air conditioner. Suara seseorang yang meng*rang dan mend*sah kian memperkeruh suasana di dalam kendaraan dengan harga fantastis tersebut.
"Kenapa berhenti, Lou?" tanya si perempuan dengan nada penuh kecewa. Padahal mereka baru hendak meraih puncak kenikmatan dunia bersama. “Kita benar-benar berhenti?” lagi, perempuan itu bertanya seraya menyunggingkan senyum kecut.
“Yes, honey. Ini perkara meeting yang penting,” jawab si lelaki sambil membenahi penampilannya. Mengancingkan kemeja, dan membenahi zipper celana yang sempat terbuka.
“Tapi kita hampir saja mencapai puncak,” lirih perempuan berambut blonde itu seraya membaringkan punggungnya di sandaran kursi dengan lesu. Tangannya juga bergerak merapihkan penampilan sendiri. Mengambil sesuatu dari dalam slim bag, lantas memulas lipstick merah untuk touch up. Pasalnya perona bibir itu sudah tidak bersisa lagi di bibir ranumnya.
“Sh*t! Aku sudah terlambat 30 menit,” umpat lelaki berwajah kaukasia tersebut.
“Padahal kita baru setengah main, Lou,” sahut perempuan di sampingnya.
“Jangan bahas itu sekarang. Cepat benahi penampilanmu dan susul aku!” Titah lelaki itu seraya sambil membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer.
Tanpa menunggu lagi pria berkemeja maroon itu meninggalkan wanita yang tadi berbagi kesenangan dengannya. Dia berjalan santai menuju lobby perusahaan raksasa yang berasal dari Negara maritim tersebut. Sesekali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan.
Dia berdecak sebal saat sadar berapa lama dia terlambat. “Ck. Ternyata aku terlambat lebih dari 50 menit.”
Seketika dia merasa menyesal telah menghabiskan waktunya yang terlalu berharga. Apalagi waktu yang berharga itu dia habiskan bersama sekretarisnya. Gara-gara insiden itu pula dia melupakan tujuannya datang ke tempat ini.
“Lamban!” serunya datar, menyambut kedatangan perempuan dengan rambut blonde tersebut.
“Sorry, Luo. Tadi—“
“Hanya karena aku menyentuhmu, bukan berarti kau bisa seenaknya terhadap diriku. Aku tetap atasanmu, jaga formalitas mu!” Koreksinya dingin.
“I—ya.”
“Bekerja dengan profesional. Lupakan peristiwa tadi. Itu bukan peristiwa istimewa yang harus diingat.”
Perempuan itu mengangguk dengan kepala kian menunduk. Rumor itu benar adanya. Rumor yang mengatakan jika CEO mereka memang gila bercinta. Keturunan Lucifer yang memiliki pesona kuat bak magnet. Pesona yang mampu menjerat semua kaum Hawa tanpa harus mengeluarkan effort berlebihan. Namun apa yang mereka dapatkan setelahnya? Kepuasan? Ya. Mereka mendapatkan kepuasaan dan kebanggan tersendiri karena dapat menghabiskan kegiatan menyenangkan bersama lelaki rupawan tersebut. Akan tetapi, selain kepuasan mereka juga mendapatkan penghinaan. Terkadang juga caci, maki dan cercaan jika sang putra Lucifer tidak merasakan kepuasan.
“Cepat hubungi sekretaris CEO Perusahaan ini. Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan kerjasama ini!” titahnya murka.
“B—aik. Akan saya lakukan, sir.” Wanita berambut blonde yang baru bekerja selama 2 minggu itu mengangguk patuh. Mungkin beberapa saat lalu dia dibuat melayang hingga langit ke-7. Sekarang, dia telah dihempaskan ke daratan paling rendah di bumi.
“Berapa lama lagi?” Desak pria rupawan tersebut.
Keduanya kini tertahan di lobby karena resepsionis mengatakan jika meeting yang dimaksud akan segera berakhir. Sungguh keterlambatan yang fatal bagi seorang pembisnis.
Waktu adalah uang. Setiap detiknya sangat berharga. Tidak lama kemudian, segerombolan pria berjas rapih tampak keluar dari dalam lift eksklusif. Mereka berbincang sejenak dengan seorang wanita cantik berambut pirang. Kemudian wanita cantik itu membungkuk hormat saat gerombolan itu pamit undur diri.
“Itu nona Annante, sekretaris CEO di perusahaan ini,” beritahu perempuan berambut blonde tadi. Telunjuknya bergerak ragu ke arah perempuan yang tengah tersenyum simpul di dekat pintu keluar.
“Tunggu apa lagi? Panggil dia!” titah sang atasan.
“Y-es, sir,” jawab wanita bernama Ciara itu.
Ciara kemudian menghampiri Annante. Mereka berbicara untu sejenak. Dari manik abu-abunya, lelaki rupawan itu tidak dapat menutupi rasa kamu. Dibanding menjadi sekretaris, pesona perempuan berkulit putih pucat itu lebih cocok menjadi seorang CEO. Atau jika mau, dia bisa menjadi salah satu pemuas nafsunya di atas ranjang.
“Ah, bagaimana rasanya jika dia mengerang di bawahku,” monolog lelaki bermata abu-abu itu. Pikirannya tiba-tiba menerawang jauh.
“Sir, miss. Anna ingin berbicara dengan Anda.”
“....”
“Sir?” Panggil Ciara lagi seraya melambai-lambaikan tangan di depan sang atasan.
“Hm. Why?” lelaki rupawan itu menutupi tindakannya dengan gaya cool. Tatapannya kemudian beralih pada sosok yang membuatnya berfantasi liar barusan.
“Hallo, mr. Anderson. Maaf terlambat menyadari kehadiran anda." Annante mengulurkan guna menyambut salah satu client penting bagi perusahaan. Disambut dengan senang hati oleh lawan bicaranya.
“Ini kesalahan kami yang tidak datang tepat waktu.” Lelaki dengan luaran jas hitam itu menjawab dengan suara deep bass dan tegas miliknya. “Apa sekarang masih ada kesempatan untuk saya? Mengenai kerjasama yang telah perusahaan Anda tawarkan.”
"Sayang sekali Mr. Anderson. Meeting-nya baru saja selesai,” ujar Annante, penuh rasa sesal.
“Sayang sekali. Saya pikir kerjasama ini akan sukses jika bekerja sama dengan perusahaan kami.” Seulas senyum tipisnya tercipta di bibir. CEO muda itu tampak menatap lawan bicaranya lekat. “Bukan kah, begitu?”
“Ah, iya.”
“Jadi bagaimana? Masih ada kesempatan untuk perusahaan kami?”
“Untuk masalah itu saya akan berkoordinasi dulu dengan atasan saya.” Annante menjawab dengan tenang. Padahal jantungnya sudah tremor. Berbicara dengan lelaki bermata abu-abu satu ini, ternyata mampu membuat sendi-sendi di kaki menjadi jeli. “CEO kami yang akan memutuskan ada atau tidaknya kesempatan untuk perusahaan Anda.”
“Kami tunggu kabar baik dari pihak Anda, young lady,” kata pria rupawan itu dengan seringai tipis di ujung-ujung bibir.
✈️✈️
"Alea! Oh ….Alea!” suara melengking Annante menggema dengan keras di ruangan yang kebetulan didesain kedap suara. Membuat si pemilik ruangan kebingungan.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang menarik terjadi?” perempuan yang tengah duduk di depan MacBook menyala itu bertanya. Sepasang manik teduhnya beralih pada sang sekretaris.
“Oh my God. Aku baru saja bertemu titisan Dewa Zeus,” heboh Annante.
Alea terperangah mendengarnya. “Apa?”
“Pria tampan bak dewa-dewa Yunani itu benar adanya. Bukan cuma mitos belaka. Dia tampan, mapan, rupawan, dan memiliki pesona yang memikat mata,” cerita Annante. Perempuan itu tampak senang sekali, tergambar jelas dari raut wajahnya.
“Tunggu, tunggu. Maksud kamu apa, Ann?”
“CEO Anderson Cooperation. Louis Gallion Anderson Kim, dia ada di lobby. Dia datang ke perusahaan ini, Alea!”
“Client yang datang terlambat?”
Annante mengangguk dengan polos. “Of course, yes. Dia terlambat datang karena ada hambatan, jadi sekarang dia meminta kesempatan kedua.”
“Kesempatan kedua?” bingung Alea. “Bukannya sudah jelas-jelas pihak mereka yang tidak menaruh minat. Kenapa sekarang mereka meminta kesempatan kedua?”
"Tidak. Kita bisa mencari investor lain. Banyak client kita yang bisa menjadi investor di bidang akomodasi."
“Tapi, perusahaan mereka adalah perusahaan paling kompeten. Kandidat terbaik untuk investor utama proyek kita.”
Alea mengangguk mahfum. “Iya, Ann. Tapi aku tidak suka rekan kerja yang tidak bisa memegang janji dan datang tepat waktu. Baru di awal saja mereka sudah seperti ini. Bagaimana kedepannya?”
“Akan tapi, presentase keberhasilan proyek ini lebih besar jika kita bekerjasama dengan Anderson Cooperation dan Arga's Air,” sahut Annante. “Coba pikirkan sekali lagi, Alea. Proyek ini sangat penting untuk kita.”
Perempuan yang mengenakan pakaian syar'i itu menghela napasnya lemah. Sang panutan—ayahnya—selalu berkata jika waktu itu penting. Sejak kecil Alea sudah dididik untuk disiplin waktu. Disiplin terhadap waktu itu penting. Tujuan dari disiplin waktu sendiri agar waktu yang kita miliki tidak terbuang sia-sia.
Namun, tidak ada salahnya juga memberi seseorang kesempatan kedua. Selama orang itu mampu menunjukkan keseriusannya. “Ok. Aku tunggu mereka di ruangan meeting 15 menit lagì.”
Annante tersenyum sumringah mendengarnya. Annante kemudian pamit undur diri untuk memberitahukan kabar baik tersebut. Alea sampai dibuat bingung sendiri akan tingkah sang sekretaris yang kelewat excited.
✈️✈️
“Bagaimana?” tanya suara deep bass itu saat Annante tiba di hadapannya.
“CEO kami menyetujui. Anda ditunggu di ruangan meeting sekarang,” kata Annante memberitahu.
Pria rupawan bermanik abu-abu itu tersenyum tipis, kemudian beranjak dari duduknya.
“Mari, saya tunjukan jalannya.” Annante tersenyum tipis. Dengan sopan dia berjalan lebih dulu.
Pria rupawan bermanik abu itu mengangguk samar. Dia dan sekretarisnya lantas mengikuti Annante. Dia sendiri sudah bosan menjadi pusat perhatian. Mood-nya sedang tidak baik, apalagi sedari tadi banyak kaum Hawa melirik ke arahnya. Satu-satunya yang dapat membuat mood-nya lebih baik adalah kehadiran sekretaris CEO Radityan Corp’s. sebab fantasi liarnya sudah berkelana kesana-kemari hanya karena melihat siluet wanita berambut pirang itu dari belakang.
“****!” umpatnya kecil saat merasakan bagian bawah tubuhnya bereaksi dengan cepat.
“Ada apa Sir?” tanya Annante dan Ciara bersamaan.
“Nothing,” dalihnya.
Kedua wanita itu mengangguk. Lantas mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tiba di tempat tujuan, Annante langsung mempersilahkan mereka masuk ke ruang meeting.
Dengan ekspresi datar dan flat andalan, lelaki bermanik abu-abu itu memasuki ruangan. Mengambil posisi duduk di kursi paling ujung yang langsung menghadap ke arah podium. Hanya ada mereka bertiga di sana. Membuat lelaki itu menautkan kening—mencoba mencari seseorang yang seharusnya datang lebih awal. Siapa lagi jika bukan si tuan rumah—CEO Radityan Corp’s.
Pertanyaan itu baru terjawab ketika suara ketukan alas kaki berhak beradu dengan lantai terdengar. Pria rupawan bermanik abu-abu itu lalu memalingkan wajah, menatap ke arah pintu masuk. Menanti hadirnya penghasil suara-suara tersebut. Seperkian detik berikutnya, manik abu-abu miliknya tanpa sengaja bersirobak dengan sepasang manik hitam bening yang teduh. Pandangnya terkunci. Tidak lepas dari siluet berpakaian syar'i yang hanya memperlihatkan bagian punggung tangan dan mata cantiknya.
Dalam 26 tahun dia hidup di dunia, tidak terhitung berapa banyak dia bertemu kaum Hawa berwajah jelita. Dengan beraneka warna mata pula. Namun, baru kali ini ia tampak jatuh dalam buaian pesona sepasang manik bening. Sepasang manik bening yang berhasil membuat semua sistem dalam tubuhnya tidak bergeming.
“God. Terbuat dari apa mahluk jelita satu ini!”
✈️✈️
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, komentar, share dan follow Author. IG Karisma022. Ok, kita jumpa lagi nanti ya 👐
Sukabumi 27 April 2021
Revisi 07/05/22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Zaitun
gak cock pria yg tukang celup di lubang tak halal bg wanita soleh
2022-07-29
2
Fitria Fitri
Pokoknya lea sama natahan aja, titik!! Awas ya thor klo di jodohkan sama Louis. Ya x sih mantan menjadi besan kan wagu
2021-08-07
4
azkia azkayra
aku gak rela ya klo sampe otor jodoh kn alea sama louis yg notabene nya seorang maniak wanita
2021-04-27
7