SELAMAT MEMBACA CERITA RADITYAN SERI 4. JANGAN LUPA TINGGALKAN KRITIK/SARAN, LIKE, VOTE, DAN KOMENTARNYA✌️
...Prolog ✈...
Riuh lalu lalang yang menimbulkan gesekan lantai dengan alas kaki, menjadi suasana yang cukup nyaman untuk sekedar menunggu. Sepasang manik bening milik gadis kecil yang baru saja hendak berusia 9 tahun tersebut, tampak menatap sekeliling. Sudah lebih dari beberapa menit ia menunggu di tempat yang ramai akan mobilitas manusia di dalamnya. Sepasang earphone wireless terpasang di kedua indra pendengaran, melantunkan salawat yang rutin ia dengarkan.
Satu nama yang selalu ia ingatnya ketika mendengar lantunan merdu salawat yang menenangkan jiwa. Aurra Putri Haidan—wanita yang dia panggil bunda—sèlalu terkenang wajahnya ketika mendengarkan salawat. Sang bunda yang selalu mengenalkan dirinya tentang indahnya agama islam ditilik dari berbagai aspek.
"Alea?"
Panggilan ramah dari wanita yang telah melahirkannya, membuat gadis kecil berhijab coklat itu menoleh. "Iya. Kenapa mah?" jawabnya.
"Kamu beneran mau pulang bareng mama, sama Papa? Gak mau nanti aja?"
Gadis kecil itu menggeleng. Waktu libur semesternya memang belum usai. Ia dan kedua orang tuanya berlibur ke Indonesia guna menengok sanak saudara di sana. Rencananya mereka akan berlibur selama satu minggu. Namun sayang, masalah pekerjaan yang mendadak harus membuat jadwal liburan yang telah disusun secara matang itu urung terlaksana. Jadilah kini gadis bermata bening itu akan kembali bertolak ke New York bersama kedua orang tuanya. Kembali ke tempat yang enam tahun ini menjadi tempat tinggal mereka.
"Sayang?"
"Eh, iya. Kenapa mas?" Airra—wanita berhijab itu menoleh ke arah sumber suara. Membuat pandangannya bertemu dengan milik sang suami.
"Kenalkan. Ini pilot Al dan putranya. Dia seniorku saat tinggal di New york dulu."
Anzar—suami wanita itu datang memperkenalkan dua pria beda usia kepada sang istri. Dua pria lintas generasi yang sama-sama mengenakan seragam pilot. Untuk sejenak Alea tak sadar akan kehadiran dua pria tersebut. Kelopak matanya terpejam, menghayati setiap bait salawat yang menggema ditelinga. Hingga sebuah sentuhan kecil mampir dan membuatnya perlahan membuka mata.
Untuk sejenak, gadis itu menatap sang ibu yang baru saja memberinya kode. "Ada apa, mah? Maaf, tadi Alea sedang mendengarkan salawat. Apa sudah waktunya boarding?” tanyanya.
Wanita itu tersenyum maklum sambil mengusap pucuk hijab sang putri. "Kenalin, ini om pilot, temennya papah."
Gadis itu mendongrak, menatap sosok yang dimaksud sang bunda. Di hadapannya ada sosok pria yang tinggi tegap berseragam pilot tengah tersenyum ramah. Jika diperhatikan sekilas, wajah rupawan pilot tersebut sekilas mirip aktor kenamaan asal Korea Selatan, Lee Min Hoo.
"Assalamualaikum. Salam kenal om pilot temannýa papah. Aku Alea," ucapnya ramah sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Waalaikumsalam. Salam kenal Alea. Saya Al, temen papa kamu," jawab pria tersebut. "Kamu sudah besar, ya? Padahal dulu pas pertama bertemu kamu masih balita,” imbuh pria tersebut.
"Tentu saja. Itu sudah enam atau tujuh tahun yang lalu, putriku sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja,” ujar sang Ayah.
Pilot rupawan itu tersenyum maklum. Kemudian berkata, “ya, anak-anak sudah semakin tumbuh dewasa. Sedangkan kita para orang tua akan segera menua dan udzur,” candanya.
"Tentu. Aku juga ingin segera rehat dari kursi panas yang setiap hari aku duduki,” balas Anzar.
Kedua pria yang sudah lama kenal itu kembali larut dalam pembicaraan. Sedangkan Alea—gadis itu tanpa sengaja bersirobak dengan sosok lain yang berdiri di samping om pilot—teman papahnya. Untuk sejenak ia mengamati lelaki muda yang sama-sama mengenakan seragam pilot. Wajahnya tampak datar dan flat. Matanya fokus pada obrolan kedua pria di sampingnya. Sadar ada yang memperhatikan, lelaki muda itu menoleh. Mempertemukan manik coklatnya dengan manik bening milik Alea.
Pria muda yang usianya masih belasan tahun itu untuk sejenak terpaku akan iris bening yang begitu menenangkan, sebelum si empunya memutuskan kontak mata di antara mereka. Alea mengalihkan pandangan. Memutuskan jalinan kontak mata di antara mereka.
"Pa?" panggilnya.
"Eh, iya. Kenapa bang?"
Lelaki muda itu menunjukkan jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan.
Pilot Al mengangguk mahfum. "Ah, iya. Sebentar lagi boarding, maaf tidak bisa ngobrol lebih lama lagi, Anzar." Ditepuknya bahu sang teman pelan. Menyayangkan pertemuan mereka yang terlalu singkat.
"Lain kali bisalah kongkow di rumahku yang ada di NY?" tawar Anzar.
"Insyaallah, deh. Bulan ini sampai dua bulan mendatang jadwal flight cukup padat. Nanti aku usahakan mampir ke Radityan Crop's di NY."
"Aku tunggu pìlot Al."
Pilot Al mengangguk seraya mengulas senyum kecil.
"Pa?" lelaki muda itu kembali menginterupsi dengan sopan. “Boarding-nya?” lanjut lelaki muda itu.
"Kalau begitu kita duluan, Anzar," pamit pilot Al.
"Iya. Save flight pilot Al."
"Kalian juga. Take care. Semoga selamat sampai tujuan," pamit pria berseragam pilot tersebut, sebelum berlalu bersama sang putra.
Lelaki muda yang minim ekspresi tersebut adalah putra sulung pilot Algafriel Hazka Dwiarga atau pilot Al. Sang penerus pertama. Nathaniel Allugard Hazka Dwiarga namanya.
Sedari kecil putra sulungnya itu sudah digembleng untuk tumbuh menjadi anak yang mandiri. Ketika cukup dewasa, Al membebaskan putranya untuk memilih apapun cita-cita yang ingin dia raih. Akan tetapi pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ ternyata benar adanya. Tanpa dipaksa sekali pun, putranya sudah memutuskan untuk bergabung di dunia penerbangan guna melanjutkan jejak sang ayah.
"Kenapa, Nathan?" tanya pilot Al saat melihat gerak-gerik sang putra.
"Enggak ada apa-apa, pa."
Al menatap putranya bingung. Ada apa dengan mimik wajah remaja satu ini? ayah dua anak itu bisa melihat secuil ekspresi yang baru terlihat di wajah si sulung.
Tanpa sepengetahuan sang ayah, lelaki muda itu mengalihkan pandangan guna menatap si pemilik sepasang manik bening pemikat jiwa. Sosok yang ternyata berhasil membuatnya sulit bergeming hanya karena sepasàng iris bening.
"Kenapa lagi?" Tanya sang ayah, semakin penasaran. Pasalnya sang putra kedapatan beberapa kali melirik ke belakang.
"Gak ada," jawab sang putra singkat. "Ayo pa, kita harus segera boarding," tambahnya dengan raut wajah yang dua kali lipat lebih flat dari biasanya.
Tanpa sadar, putra sulung dari keluarga Dwiarga itu menemukan sebuah ketertarikan. Ketertarikan berlebih pada pemilik sepasang manik bening yang membuatnya sulit bergeming.
✈️✈️
"Apa mau ditukar saja tempat duduknya, sayang?" tanya Anzar.
"Gak usah pah, lagi pula papa sama mama duduk di situ, kan?" Gadis itu menunjuk dua deret kursi di belakang tempat duduknya. Tempat duduk kedua orang tuanya.
"Kamu yakin sayang?"
Anggaplah Anzar berlebihan. Posisi putrinya yang duduk dua deret di depannya, namun pria itu sudah kelimpungan bak induk ayam kehilangan anaknya. Anzar memang tidak pernah membiarkan sang putri jauh dari sisinya.
"Mas, udah. Alea, kan, duduknya gak jauh juga,” lerai sang istri.
"Tapi sayang, Alea kita—“
"Alea sudah besar, dia bisa menjaga diri. Lagi pula tempat duduk kita dua deret di belakang Alea."
Anzar mengangguk lemas. Pria itu memang sosok yang sangat protektif jika menyangkut istri dan putrinya. Pernah merasakan kehilangan calon buah hati membuatnya over protektif menjaga orang-orang terkasihnya itu.
"Kamu gak papa di sini, kan, Alea?" tanyanya lagi pada sang putri, memastikan.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Udah mas. Kamu terlalu berlebihan deh," ujar sang istri sambil mengajak sang suami berlalu. Kembali ke kursi mereka masing-masing.
Gadis kecil itu menghembuskan napas lega. Padahal ia merasa nyaman dan aman-aman saja. Ini memang pertama kalinya Alea duduk di kabin pesawat komersial tanpa didampingi oleh salah satu orang tuanya. Biasanya, sang ayah tidak pernah menggunakan pesawat komersial untuk pulang ke Indonesia. Paling-paling jika kepepet, Anzar akan memesan kursi di kelas 1 atau kelas bisnis. Namun, berhubung sekarang pesawat keluarga besar Radityan tengah berada di California, jadilah mereka menggunakan pesawat komersial. Sialnya lagi, mereka tidak mendapatkan kursi di kelas 1 atau kela bisnis. Hanya kelas ekonomi yang tersisa.
“Allahumma salim salatan, kamilatan wasalim salam….”
Asik melantunkan salawat seraya membaca buku yang ia bawa sendiri, seseorang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya. Gadis itu lantas menoleh. Menatap sejenak teman duduknya selama penerbangan ini.
"Hello,” sapanya kikuk.
Si penghuni kursi samping itu menoleh, lantas menatap Alea. Manik abu-abu miliknya tampak menatap wajah ayu Alea intens. Tanpa bicara sekalipun, lelaki yang Alea yakini usianya empat atau lima tahun lebih tua itu memilih memutuskan kontak di antara mereka. Tak lama kemudian sebuah suara lembut lelaki muda berwajah rupawan tersebut.
"Gwaenchanh-a, Lou?"
"Ne, eomma," jawab anak lelaki tersebut seraya memejamkan mata.
"Syukurlah."
Wanita itu kemudian tersenyum ramah kepada Alea. Wanita itu memiliki wajah cantik khas aktris atau idol k-pop. Tapi berikutnya, gadis kecil itu juga membalas senyumannya. Wanita cantik itu mengingatkan Alea kepada foto usang yang pernah ditemukannya di dompet lama sang ayah. Dompet kulit sang ayah yang tersimpan di dalam almari gudang selama bertahun-tahun.
Akan tapi, siapa wanita cantik tersebut?
Kenapa wajahnya mirip dengan wanita di foto itu?
"Kondisikan penglihatan mu." Interupsi suara di samping, membuat gadis itu tersentak.
Dia—si pemilik mata abu-abu dan suara deep bass yang menonjolkan aura intimidasi—yang duduk di sampingnya. Matanya terpejam, tapi raut wajah datar miliknya seakan-akan tahu jika Alea tengah memperhatikan wanita cantik yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandungnya.
Sosok rupawan berwajah dominan Eropa itu tampak tidak suka Alea memperhatikan ibunya. Tapi, kenapa? Toh Alea tidak bermaksud lancang. Ia hanya terpesona pada kecantikan mahluk ciptaan Tuhan. Apa salahnya?
Tidak mau larut dalam rasa kesal, Alea memilih memalingkan wajah sambil beristigfar kecil. Tanpa ia ketahui, saat itulah si empunya mata abu-abu itu membuka mata guna menatap wajah Alea dari samping. Merekam wajah ayu yang terbingkai oleh penutup kepala syar'i’ dan niqab—satu hal yang awam ia temukan di negaranya.
...✈✈✈...
...TBC...
...Tencu sudah baca, jangan lupa jejaknya. Vote, komentarrrrrr, like, share dan follow jika sempat😘😘...
^^^Sukabumi 06 Januari 2021^^^
^^^Revisi 03/05/22^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Pillow My
takdir yg mbulet ini mah
2024-01-25
1
Amelia_Ling
apa mgkn yg duduk di sblh alea it anak nya natalia kim, mantannya anzar,
pasti masa lalu nya bermunculan,
2021-10-19
4
trisya
oihhhh jadi ini kisah anak Anzar dan kim sang mantan juga nathan si pilot abang nya Gean.
2021-05-17
4