Aku Ingin Pulang

Rayhan hanya menatap Marchel tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang dokter kepadanya, membuat Marchel mengepalkan tangannya. Jika saja Rayhan bukan anak di bawah umur, mungkin Marchel sudah menghadiahinya kepalan tangan.

Tanpa permisi, Marchel meninggalkan Rayhan yang masih mematung di sana.

Sedangkan ibu menerbitkan senyum kemenangan. Wanita paruh baya itu bagaikan mendapatkan senjata ampuh untuk membuat putranya membenci Sheila.

Sementara Marchel sudah masuk ke rumah, laki-laki bertubuh tegak itu melangkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga dengan perasaan emosi. Pikirannya melayang kemana-mana, mengingat sang istri pulang dalam keadaan sangat kacau.

Hingga akhirnya, Marchel tiba di depan kamar Sheila yang tertutup rapat. Dia mengetuk pintu kamar itu dengan sedikit keras.

"Sheila... Buka pintunya! Kita harus bicara," ucap Marchel dengan mengeraskan suaranya.

Tidak ada sahutan. Marchel akhirnya memutar gagang pintu kamar itu. Dan, terbuka... Kamar itu tidak dikunci. Marchel pun menyeret langkahnya memasuki kamar sang istri.

Terdengarlah suara isakan memilukan yang berasal dari sudut kamar itu. Marchel mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Hingga matanya menangkap Sheila terduduk di sudut kamar itu dengan posisi telungkup.

Marchel segera mendekat pada istri kecilnya itu dan berjongkok di depannya.

"Sheila, kita harus bicara!" ucap Marchel melembutkan suaranya. Entah mengapa, ada perasaan tidak tega melihat Sheila dalam keadaan seperti itu. Namun, Sheila tidak menjawab. Gadis kecil itu hanya terus terisak.

"Sheila..." panggil Marchel sekali lagi.

Akhirnya, Sheila memberanikan diri mengangkat kepalanya, lalu menatap bola mata suaminya itu dengan deraian air mata yang membanjiri wajah tirusnya.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau pulang dalam keadaan seperti ini? Kau dan temanmu tadi dari mana?"

Selama beberapa menit, Sheila terdiam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, hingga muncullah keberanian yang entah darimana asalnya.

"Kak Marchel, tolong izinkan aku pulang ke rumahku saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku mau tinggal di rumahku... Kak Marcel bisa kan, menceraikan aku..." Sheila berbicara dengan nada yang bergetar.

Marchel mematung, entah mengapa hatinya merasa diremas mendengar ucapan Sheila.

"Kenapa? Kenapa kau ingin aku menceraikanmu? Kau ingin bebas dengan temanmu tadi?"

Mendengar ucapan Marchel yang menusuk ke hatinya itu, Sheila hanya mampu menundukkan kepalanya. Jika bukan karena ditolong Rayhan, mungkin Sheila masih terkurung di dalam gudang penuh debu itu.

"Lambat laun Kak Marchel juga akan menceraikan aku kan? Kenapa bukan sekarang saja?" Sheila menyeka air matanya yang berjatuhan tanpa izin, "dan aku akan pulang ke rumahku. Di sini, aku hanya menjadi beban semua orang."

Marchel memejamkan matanya mendengar ucapan Sheila. Laki-laki itupun menyadari sikap dinginnya selama ini kepada istri kecilnya itu.

"Kau tahu Sheila, pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Tidak asal menikah, lalu bercerai. Aku sudah berjanji pada Shanum akan menjagamu. Jadi aku tidak bisa menceraikanmu," ucap Marchel menekan. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau darimana? Kenapa kau pulang dalam keadaan seperti ini?"

"Tentu saja keluyuran tidak jelas dengan temannya," Ibu datang menyela pembicaraan Marchel dan Sheila.

Seketika, Sheila kembali menundukkan kepalanya, gadis polos itu begitu takut melihat raut wajah sang mertua yang selama ini bersikap sangat kasar padanya.

"Bu, aku mohon, tinggalkan kami berdua. Aku ingin bicara berdua dengan Sheila," ucap Marchel tanpa mengalihkan pandangannya dari Sheila.

"Apalagi yang mau kau bicarakan dengannya, Marchel... Sudah jelas dia anak yang tidak benar. Pulang malam-malam dengan diantar seorang laki-laki. Coba lihat penampilannya yang acak-acakan itu. Entah dia darimana." Ibu menatap tajam pada Sheila seraya berdecih menambah ketakutan di hati Sheila.

"Ibu... Aku mohon! Sheila adalah istriku! Biarkan masalah Sheila aku saja yang mengurusnya."

Wanita paruh baya itupun semakin kesal, menatap Sheila dengan tajam dan penuh kebencian. "Kau sudah mengambil keputusan yang salah karena menikahi anak liar ini, Marchel! Ibu heran, bagaimana Shanum mendidiknya selama ini. Kenapa dia menjadi anak yang sangat liar?"

Marchel menghela napas kasar mendengar ucapan sang ibu, lalu berdiri dari posisi berjongkoknya.

"CUKUP, BU!" Marchel mengeraskan suaranya membuat ibu tersentak kaget. Untuk pertama kalinya, anaknya itu mengeraskan suara di hadapan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.

"Apa?" Ibu tampak sangat terkejut, "Marchel, kau sama sekali tidak pernah membentak ibu sebelumnya. Dan sekarang, kau mengeraskan suaramu di hadapan ibu hanya karena anak itu."

Marchel memejamkan matanya, frustrasi menghadapi keadaan sulit ini. Menyadari ibunya sangat tidak menyukai Sheila.

"Aku minta maaf, Bu! Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan Sheila. Bu, aku mohon... Aku ingin bicara berdua dengan Sheila."

Karena merasa kesal, anaknya lebih memilih Sheila, ibu keluar dari ruangan itu dengan raut wajah penuh kemarahan. Tinggallah Marchel berdua dengan Sheila di kamar itu.

Sheila belum beranjak dari posisi duduknya di lantai dengan memeluk lututnya dan menelungkupkan wajahnya. Laki-laki itu kemudian kembali mendekat pada sang istri dan kembali berjongkok di depannya.

"Sheila..." panggil Marchel.

Sheila tak bergeming dan tak juga menyahut, dia diam mematung. Dan, saat Marchel menyentuh lengannya, tubuh Sheila hendak tersungkur ke lantai. Beruntung, Marchel dengan sigap menangkapnya. Laki-laki itupun menyadari sang istri sedang pingsan.

Dengan paniknya, Marchel menggendong Sheila dan membaringkannya ke tempat tidur. Lalu melepas jaket yang dipakai Sheila. Marchel menepuk wajah Sheila dengan lembut beberapa kali namun gadis itu masih tak bergeming.

Dengan segera dokter itu kembali ke kamarnya mengambil tas kerjanya, lalu kembali ke kamar sang istri. Duduk di bibir tempat tidur, menatap lekat-lekat wajah Sheila, lalu melepaskan kacamata tebal yang melekat di sana. Lalu kemudian, Marchel memeriksa denyut jantung dan tekanan darah sang istri.

Buru-buru, Marchel keluar dari kamar Sheila menuju dapur dimana kotak obat tersedia. Lalu mengambil minyak angin dari dalam kotak itu.

"Bibi, bisa ikut aku ke kamar Sheila? Dia pingsan..." ucap Marchel pada Bibi Yum saat melihatnya melintas.

"Sheila pingsan? Apa yang terjadi?" Wanita paruh baya itu tampak sangat khawatir.

"Entahlah, Bibi! Dia baru pulang." Marchel kemudian segera melangkahkan kakinya diikuti oleh Bibi Yum.

Laki-laki itu mengoleskan minyak angin di pangkal hidung sang istri. Namun, Sheila tidak terbangun juga.

"Ada apa dengannya?" tanya Bibi Yum. Wanita itu menatap iba pada Sheila.

"Dia tidak apa-apa, Bibi. Hanya kelelahan saja, jadi pingsan." jawab marchel. "Bibi, tolong gantikan pakaiannya. Aku akan menunggu di luar."

"Baik..."

Marchel pun keluar dari kamar itu, sementara Bibi Yum mengganti pakaian Sheila yang sangat kotor dan penuh debu. Wanita paruh baya itu menjatuhkan setitik air matanya, melihat Sheila yang selalu diperlakukan tidak adil oleh orang-orang di sekitarnya.

Di luar kamar, Marchel menyandarkan punggungnya di pilar. Pikirannya masih tertuju pada anak laki-laki yang selalu menempel pada sang istri. Ada perasaan tidak suka yang dirasakan Marchel saat melihat Sheila dekat dengan laki-laki lain.

****

BERSAMBUNG.

Terpopuler

Comments

Anitha Ramto

Anitha Ramto

Cari tahu dong Marchel chek cctv di sekolahnya Sheila

2025-02-25

0

Rumah Aman

Rumah Aman

sebel dgn watak utama nya lemah tp tetep pengen mau tau lanjutan gimana yah hahahhh

2024-11-26

1

paty

paty

knp sheila tdk bicara

2024-11-12

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Pernikahan rahasia
3 Pembullyan Di Sekolah
4 Aroma Permusuhan
5 Tidak Kuat
6 Pewaris Tunggal
7 Di Kurung
8 Aku Ingin Pulang
9 Qiandra...
10 Bagai Langit dan Bumi
11 Ibu dan Audry Yang Jahat
12 Pulang Ke Rumah Lama
13 Kemarahan Marchel Part 1
14 Kemarahan Marchel Part 2
15 Belajar Saling Menerima
16 Menunjukkan Perhatian
17 Kelakuan Jahat Maya
18 Perkenalan Dengan Pak Arman
19 Kedapatan
20 Jebakan part 1
21 Jebakan part 2
22 Jebakan Part 3
23 Akibat Penjebakan
24 Menyesal
25 Ingin Sendiri!
26 Ingin Pergi
27 Kepergian Marchel
28 Pingsan!
29 POSITIF
30 Diusir!
31 Harus Kemana?
32 Cari Dia!!
33 Pulang
34 Dimana istriku?
35 Seharusnya....
36 Anak Siapa?
37 Tes
38 Bagaimana Hasilnya?
39 Tragedi
40 Bertahanlah.
41 Kembalikan Anakku!
42 Kabur!!!
43 Akan menunggu
44 Tetap Menunggu
45 Titik Awal
46 Latihan
47 Aku datang!!!
48 Penyambutan
49 Hukuman
50 RAHASIA DI BALIK RAHASIA
51 MICHELLA
52 Menangislah!
53 Siapa dirimu?
54 Marchel dan Chella
55 Perasaan apa ini?
56 Jebakan Yang Sama!
57 Qiandra dan Sheila
58 baru permulaan.
59 Hukuman
60 Antara Puas Atau Sedih
61 Makna sebenarnya dari sebuah dendam
62 Ingin Mengadopsi
63 KETIKA RAHASIA TERUNGKAP
64 Om Dokter Menjadi Ayah
65 Dimana Sheila?
66 Penculikan part 1
67 Penculikan Part 2
68 Michella Anakku
69 Kepanikan Ibu
70 TERTEMBAK
71 Ibu...
72 DIA MEMANG ANAKKU!
73 Takdir Yang Menyatukan
74 Dendam masa lalu
75 Memulai Dari Awal
76 Prewed
77 Menikah
78 Hasil Penantian Panjang
79 Pedang Samurai Beraksi
80 Kejahilan Willy
81 Bulan Madu itu berdua, Bukan bertiga!
82 Sentuh dia, dan buat menggantung
83 Kau Yang Minta, Ya...?
84 Sea World
85 Rianna Shanum Anggara
86 Cinta Pertama
87 Maldives
88 Persetan dengan Willy dan Segala Ocehannya!
89 Mana Dede Bayinya???
90 Elsa?
91 PENGUMUMAN
92 Sebuah foto Masa Lalu
93 Willy Sahabatku!
94 Harus Menjaga Emosi
95 Segalanya Telah Kembali Ke Tempatnya
96 EPILOG
97 PENGUMUMAN
98 Pengumuman
99 BUNDA BUKAN WANITA MALAM STORY
100 DOKTER WILLY DAN ELSA RILIS
101 BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU
102 Extra Part 01
103 HIDDEN WIFE
104 MY SEXY LITTLE WIFE
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Prolog
2
Pernikahan rahasia
3
Pembullyan Di Sekolah
4
Aroma Permusuhan
5
Tidak Kuat
6
Pewaris Tunggal
7
Di Kurung
8
Aku Ingin Pulang
9
Qiandra...
10
Bagai Langit dan Bumi
11
Ibu dan Audry Yang Jahat
12
Pulang Ke Rumah Lama
13
Kemarahan Marchel Part 1
14
Kemarahan Marchel Part 2
15
Belajar Saling Menerima
16
Menunjukkan Perhatian
17
Kelakuan Jahat Maya
18
Perkenalan Dengan Pak Arman
19
Kedapatan
20
Jebakan part 1
21
Jebakan part 2
22
Jebakan Part 3
23
Akibat Penjebakan
24
Menyesal
25
Ingin Sendiri!
26
Ingin Pergi
27
Kepergian Marchel
28
Pingsan!
29
POSITIF
30
Diusir!
31
Harus Kemana?
32
Cari Dia!!
33
Pulang
34
Dimana istriku?
35
Seharusnya....
36
Anak Siapa?
37
Tes
38
Bagaimana Hasilnya?
39
Tragedi
40
Bertahanlah.
41
Kembalikan Anakku!
42
Kabur!!!
43
Akan menunggu
44
Tetap Menunggu
45
Titik Awal
46
Latihan
47
Aku datang!!!
48
Penyambutan
49
Hukuman
50
RAHASIA DI BALIK RAHASIA
51
MICHELLA
52
Menangislah!
53
Siapa dirimu?
54
Marchel dan Chella
55
Perasaan apa ini?
56
Jebakan Yang Sama!
57
Qiandra dan Sheila
58
baru permulaan.
59
Hukuman
60
Antara Puas Atau Sedih
61
Makna sebenarnya dari sebuah dendam
62
Ingin Mengadopsi
63
KETIKA RAHASIA TERUNGKAP
64
Om Dokter Menjadi Ayah
65
Dimana Sheila?
66
Penculikan part 1
67
Penculikan Part 2
68
Michella Anakku
69
Kepanikan Ibu
70
TERTEMBAK
71
Ibu...
72
DIA MEMANG ANAKKU!
73
Takdir Yang Menyatukan
74
Dendam masa lalu
75
Memulai Dari Awal
76
Prewed
77
Menikah
78
Hasil Penantian Panjang
79
Pedang Samurai Beraksi
80
Kejahilan Willy
81
Bulan Madu itu berdua, Bukan bertiga!
82
Sentuh dia, dan buat menggantung
83
Kau Yang Minta, Ya...?
84
Sea World
85
Rianna Shanum Anggara
86
Cinta Pertama
87
Maldives
88
Persetan dengan Willy dan Segala Ocehannya!
89
Mana Dede Bayinya???
90
Elsa?
91
PENGUMUMAN
92
Sebuah foto Masa Lalu
93
Willy Sahabatku!
94
Harus Menjaga Emosi
95
Segalanya Telah Kembali Ke Tempatnya
96
EPILOG
97
PENGUMUMAN
98
Pengumuman
99
BUNDA BUKAN WANITA MALAM STORY
100
DOKTER WILLY DAN ELSA RILIS
101
BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU
102
Extra Part 01
103
HIDDEN WIFE
104
MY SEXY LITTLE WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!