Tidak Kuat

Sheila duduk melamun di meja makan para pelayan di dapur dengan makanan yang terhidang di depannya. Gadis itu memilih makan di tempat para pelayan, karena sadar ibu mertua tidak menyukainya. Namun, belum sesendok pun makanan itu masuk ke mulutnya. Sejak tadi gadis itu hanya mengaduk makanannya dengan sendok, akibat kehilangan selera makannya.

"Sheila, makan yang banyak, ya... Kalau Marchel tahu kau makannya sedikit, kami semua bisa kena marah," kata Bibi Yum saat melihat Sheila enggan memakan makanannya.

"Aku tidak lapar, Bibi."

Bibi Yum mendekat pada gadis malang itu, meneliti wajah tirus dan mata sembabnya.

Gadis itupun kembali menangis sedih sampai sesegukan sehingga air matanya jatuh ke makanannya. "Aku mau pulang, Bibi. Aku tidak mau tinggal di sini! Kenapa Kak Marchel tidak mengizinkanku pulang ke rumahku saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Wanita paruh baya itupun memeluk gadis itu, membelai rambut panjang berwarna cokelat itu dengan sayang.

"Sheila....Kau kan sudah menikah dengan Marchel. Tidak mungkin Marchel membiarkanmu tinggal sendiri." Bibi Yum mencoba menghibur Sheila.

"Kak Marchel kan terpaksa menikahiku, Bibi. Kak Marchel mencintai Kak Shanum, bukan aku. Aku tidak mau jadi beban orang lain."

"Sudah, Sheila. Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, makan, ya... Apa bibi buatkan makanan lain?" bujuk Bibi Yum diikuti gelengan kepala dari Sheila. Gadis itu mulai menyendokkan makanan ke mulutnya, namun belum sempat makanan itu masuk ke mulutnya, suara decakan terdengar di dapur itu. Sendok yang berada di tangan Sheila terjatuh ke piring makannya.

Ibu masuk dengan langkah angkuh dan tatapannya yang penuh kebencian. Sheila pun segera mengusap air matanya dan membetulkan posisi kacamatanya.

"Apa Nyonya butuh sesuatu?" tanya Bibi Yum pada majikannya itu.

"Aku ingin jus tomat," jawab ibu dengan matanya yang menatap tajam Sheila.

"Baik, Nyonya! Akan saya buatkan." ucap Bibi Yum.

"Tidak! Aku ingin anak ini yang membuatnya."

"Tapi, Nyonya... Sheila sedang makan siang dan..." Bibi Yum menggantung ucapannya karena langsung dipotong oleh majikannya itu.

"Aku tidak suka dibantah. Suruh dia membuat jus tomat untukku," ucapnya ketus.

Sheila menundukkan kepalanya menahan air mata yang seolah memaksa keluar.

"Ba-baik, Bu!"

Gadis polos itu berdiri dari duduknya, tangannya gemetar menahan rasa takut pada ibu mertuanya yang sangat galak itu. Sheila membuka kulkas dan mengambil beberapa buah tomat segar untuk dijadikan jus.

Sesaat kemudian, wanita paruh baya itu keluar dari dapur menuju ruang keluarga, tempatnya biasa bersantai ria. Bibi Yum langsung mendekati Sheila yang sedang mencuci tomat itu.

"Sheila, makan saja dulu. Biar bibi yang membuat jus itu," ucap Bibi Yum seraya mengusap bahu Sheila.

"Jangan, Bibi. Kalau ibu tahu, nanti Bibi bisa dapat masalah. Biar aku saja."

"Tapi kau sama sekali belum makan sesendok pun."

"Tidak apa-apa, Bibi. Pelan-pelan aku akan terbiasa." Sheila kemudian membuat jus tomat itu dengan perasaan sedih. Bayang-bayang Shanum kembali terngiang. Betapa lembut dan penuh kasih sayang kakaknya itu, bagai seorang ibu. Jangankan membuat jus, menyentuh barang di dapur pun tidak pernah. Shanum memperlakukan Sheila layaknya seorang putri. Ia sangat memanjakan adik kesayangannya itu.

Bibi Yum mengusap bahu gadis belia itu, "Sabar, ya... Suatu saat nyonya pasti bisa menerima kehadiranmu di rumah ini. Ini hanya masalah waktu. Mungkin nyonya masih sedih dengan kepergian Shanum."

Shela menganggukkan kepalanya pelan, "Kemana aku harus membawa jus ini, Bibi?"

"Biasanya Nyonya ada di ruang keluarga. Siang-siang begini biasanya nyonya nonton acara gosip di tv. Bawa ke sana saja."

Sheila kemudian mengambil baki dan meletakkan jus itu di atasnya. Lalu berjalan keluar menuju ruang keluarga. Di kejauhan ia melihat ibu sedang duduk selonjoran di sofa dengan matanya yang tertuju pada layar tv. Sheila menarik napas dalam, melangkahkan kakinya dengan perasaan takut.

"Bu, ini jusnya," ucap Sheila sambil meletakkan jus di atas meja.

Ibu mengalihkan pandangannya dari tv kemudian mengambil jus buatan Sheila. Wanita itu melirik Sheila dengan ekor matanya. "Apa kau yang membuat jus ini?"

"Iya, Bu!" jawabnya sambil mengangguk pelan.

Wanita paruh baya itu pun mencoba jus yang baru saja dibuat Sheila. Wajahnya seketika berubah ketika merasakan cairan berwarna merah itu melewati kerongkongannya.

"Apa ini? Kenapa rasanya seperti ini?" bentak ibu membuat Sheila terlonjak. Saking terkejutnya, nampan di tangannya terjatuh ke lantai dan pecah berhamburan, membuat Ibu semakin naik pitam.

"Ma-maaf, Bu...!" Sekuat tenaga Sheila menahan air matanya agar tidak terjatuh. Gadis itu langsung berjongkok memunguti pecahan-pecahan itu.

"Kau benar-benar tidak bisa apa-apa. Bahkan membuat jus saja kau tidak becus," teriak ibu. "Ya ampun, kesalahan macam apa yang ku perbuat di masa lalu sehingga putraku menikahi gadis sepertimu."

Jantung Sheila seperti di remas tanpa ampun mendengar ucapan menusuk mertuanya itu. Air mata yang sejak tadi di tahan-tahan akhirnya jatuh juga. Bibi Yum yang mendengar keributan itu langsung berlari keluar. Dilihatnya Sheila di bawah sana sedang memunguti pecahan kaca yang berhamburan. Buru-buru, wanita itu segera menghampiri Sheila dan membantunya memunguti pecahan itu.

"Jangan membantunya!" bentak Ibu. "biarkan anak bodoh ini melakukannya sendiri. Membuat jus saja tidak bisa, apalagi yang lain! Bagaimana kau bisa menjadi istri yang baik?"

Dengan wajah kesal wanita itu meninggalkan ruang keluarga dan segera masuk ke kamarnya dengan membanting pintu keras. Sheila kembali terlonjak kaget. Sungguh, gadis polos itu benar-benar ketakutan.

Bibi Yum mengusap rambut panjang gadis itu. "Sudah, biar Bibi saja yang melakukannya. Kembalilah ke kamar."

Sheila masih terisak sambil memungut pecahan kaca itu. "Tidak apa-apa, Bibi. Aku bisa melakukannya. Maafkan aku."

Setelah selesai membersihkan pecahan kaca itu dan membuangnya ke tempat sampah, Sheila bergegas menuju kamarnya.

Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di pembaringannya. Meratapi nasib malangnya.

Kenapa semua ini harus terjadi padaku. Orang tuaku, kakakku, mereka semua pergi meninggalkanku. Dan sekarang, aku harus hidup seperti di neraka. Aku ingin mati saja. batin Sheila.

Sheila terus menangis menumpahkan kesedihannya. Bahkan gadis malang itu belum sempat makan sesuap nasi pun.

Tidak lama, terdengarlah ketukan pintu di kamarnya. Bibi Yum masuk ke kamar itu dengan membawa nampan berisi makanan. Ia duduk di bibir tempat tidur, dengan penuh kelembutan mengusap rambut gadis itu.

"Sheila makan dulu, ya..." ucap Bibi Yum, sambil meletakkan nampan di atas meja nakas.

"Aku tidak lapar, Bibi," jawabnya membuat Bibi Yum tersenyum tipis.

"Bibi suapi saja, ya... Kau kan harus minum obat. Kalau tidak makan bagaimana minum obatnya. Nanti Marchel akan marah kalau tau kau belum minum obat."

"Tapi Kak Marchel tidak akan peduli, Bibi."

Bibi Yum menggeleng pelan, sambil membelai wajah Sheila. "Siapa bilang Marchel tidak peduli padamu? Bibi sangat mengenal Marchel. Bibi yang sudah membesarkannya dan menganggap Marchel seperti anak bibi sendiri. Begitu pun dengan Marchel. Bibi tahu dia sangat peduli padamu. Sekarang, ayo makan!"

Bibi Yum pun mulai menyuapi Sheila. Gadis itu masih merasa beruntung. Setidaknya para pelayan di rumah itu bersikap baik padanya di antara penghuni rumah yang seolah memusuhinya.

Aku mau pulang. Aku tidak kuat tinggal di rumah ini. batin Sheila.

*****

Bersambung

Terpopuler

Comments

Anitha Ramto

Anitha Ramto

Ya Alloh tambah nyesek banya mengandung bawang😭😭😭

2025-02-25

0

Ina Karlina

Ina Karlina

kabur aja sheila

2024-12-14

1

Rina astuti Gulo

Rina astuti Gulo

huhuhu, novelnya mengandung bawang

2024-11-15

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Pernikahan rahasia
3 Pembullyan Di Sekolah
4 Aroma Permusuhan
5 Tidak Kuat
6 Pewaris Tunggal
7 Di Kurung
8 Aku Ingin Pulang
9 Qiandra...
10 Bagai Langit dan Bumi
11 Ibu dan Audry Yang Jahat
12 Pulang Ke Rumah Lama
13 Kemarahan Marchel Part 1
14 Kemarahan Marchel Part 2
15 Belajar Saling Menerima
16 Menunjukkan Perhatian
17 Kelakuan Jahat Maya
18 Perkenalan Dengan Pak Arman
19 Kedapatan
20 Jebakan part 1
21 Jebakan part 2
22 Jebakan Part 3
23 Akibat Penjebakan
24 Menyesal
25 Ingin Sendiri!
26 Ingin Pergi
27 Kepergian Marchel
28 Pingsan!
29 POSITIF
30 Diusir!
31 Harus Kemana?
32 Cari Dia!!
33 Pulang
34 Dimana istriku?
35 Seharusnya....
36 Anak Siapa?
37 Tes
38 Bagaimana Hasilnya?
39 Tragedi
40 Bertahanlah.
41 Kembalikan Anakku!
42 Kabur!!!
43 Akan menunggu
44 Tetap Menunggu
45 Titik Awal
46 Latihan
47 Aku datang!!!
48 Penyambutan
49 Hukuman
50 RAHASIA DI BALIK RAHASIA
51 MICHELLA
52 Menangislah!
53 Siapa dirimu?
54 Marchel dan Chella
55 Perasaan apa ini?
56 Jebakan Yang Sama!
57 Qiandra dan Sheila
58 baru permulaan.
59 Hukuman
60 Antara Puas Atau Sedih
61 Makna sebenarnya dari sebuah dendam
62 Ingin Mengadopsi
63 KETIKA RAHASIA TERUNGKAP
64 Om Dokter Menjadi Ayah
65 Dimana Sheila?
66 Penculikan part 1
67 Penculikan Part 2
68 Michella Anakku
69 Kepanikan Ibu
70 TERTEMBAK
71 Ibu...
72 DIA MEMANG ANAKKU!
73 Takdir Yang Menyatukan
74 Dendam masa lalu
75 Memulai Dari Awal
76 Prewed
77 Menikah
78 Hasil Penantian Panjang
79 Pedang Samurai Beraksi
80 Kejahilan Willy
81 Bulan Madu itu berdua, Bukan bertiga!
82 Sentuh dia, dan buat menggantung
83 Kau Yang Minta, Ya...?
84 Sea World
85 Rianna Shanum Anggara
86 Cinta Pertama
87 Maldives
88 Persetan dengan Willy dan Segala Ocehannya!
89 Mana Dede Bayinya???
90 Elsa?
91 PENGUMUMAN
92 Sebuah foto Masa Lalu
93 Willy Sahabatku!
94 Harus Menjaga Emosi
95 Segalanya Telah Kembali Ke Tempatnya
96 EPILOG
97 PENGUMUMAN
98 Pengumuman
99 BUNDA BUKAN WANITA MALAM STORY
100 DOKTER WILLY DAN ELSA RILIS
101 BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU
102 Extra Part 01
103 HIDDEN WIFE
104 MY SEXY LITTLE WIFE
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Prolog
2
Pernikahan rahasia
3
Pembullyan Di Sekolah
4
Aroma Permusuhan
5
Tidak Kuat
6
Pewaris Tunggal
7
Di Kurung
8
Aku Ingin Pulang
9
Qiandra...
10
Bagai Langit dan Bumi
11
Ibu dan Audry Yang Jahat
12
Pulang Ke Rumah Lama
13
Kemarahan Marchel Part 1
14
Kemarahan Marchel Part 2
15
Belajar Saling Menerima
16
Menunjukkan Perhatian
17
Kelakuan Jahat Maya
18
Perkenalan Dengan Pak Arman
19
Kedapatan
20
Jebakan part 1
21
Jebakan part 2
22
Jebakan Part 3
23
Akibat Penjebakan
24
Menyesal
25
Ingin Sendiri!
26
Ingin Pergi
27
Kepergian Marchel
28
Pingsan!
29
POSITIF
30
Diusir!
31
Harus Kemana?
32
Cari Dia!!
33
Pulang
34
Dimana istriku?
35
Seharusnya....
36
Anak Siapa?
37
Tes
38
Bagaimana Hasilnya?
39
Tragedi
40
Bertahanlah.
41
Kembalikan Anakku!
42
Kabur!!!
43
Akan menunggu
44
Tetap Menunggu
45
Titik Awal
46
Latihan
47
Aku datang!!!
48
Penyambutan
49
Hukuman
50
RAHASIA DI BALIK RAHASIA
51
MICHELLA
52
Menangislah!
53
Siapa dirimu?
54
Marchel dan Chella
55
Perasaan apa ini?
56
Jebakan Yang Sama!
57
Qiandra dan Sheila
58
baru permulaan.
59
Hukuman
60
Antara Puas Atau Sedih
61
Makna sebenarnya dari sebuah dendam
62
Ingin Mengadopsi
63
KETIKA RAHASIA TERUNGKAP
64
Om Dokter Menjadi Ayah
65
Dimana Sheila?
66
Penculikan part 1
67
Penculikan Part 2
68
Michella Anakku
69
Kepanikan Ibu
70
TERTEMBAK
71
Ibu...
72
DIA MEMANG ANAKKU!
73
Takdir Yang Menyatukan
74
Dendam masa lalu
75
Memulai Dari Awal
76
Prewed
77
Menikah
78
Hasil Penantian Panjang
79
Pedang Samurai Beraksi
80
Kejahilan Willy
81
Bulan Madu itu berdua, Bukan bertiga!
82
Sentuh dia, dan buat menggantung
83
Kau Yang Minta, Ya...?
84
Sea World
85
Rianna Shanum Anggara
86
Cinta Pertama
87
Maldives
88
Persetan dengan Willy dan Segala Ocehannya!
89
Mana Dede Bayinya???
90
Elsa?
91
PENGUMUMAN
92
Sebuah foto Masa Lalu
93
Willy Sahabatku!
94
Harus Menjaga Emosi
95
Segalanya Telah Kembali Ke Tempatnya
96
EPILOG
97
PENGUMUMAN
98
Pengumuman
99
BUNDA BUKAN WANITA MALAM STORY
100
DOKTER WILLY DAN ELSA RILIS
101
BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU
102
Extra Part 01
103
HIDDEN WIFE
104
MY SEXY LITTLE WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!