‘Seberapa pantas kita hidup di dunia?’
Rasanya aneh sekali, sekarang Sejun sering menaiki kendaraan umum. Dia berada di dalam bus, tak henti-hentinya mengulum senyum sambil memperhatikan penumpang lain. Sejun menggumamkan tentang ia juga sudah menjadi bagian dari mereka. Setelah turun dari bus ia memasuki perumahan, berjalan sembari mengingat apa saja yang dilaluinya.
Sekitar sepuluh meter di persimpangan jalan, Chanyong tengah berlari mengikuti petunjuk dari alat pendeteksinya yang berkedip memperlihatkan posisi HMD07, tepat sepuluh meter di depannya. Dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah berhadapan, seperti inikah rupa robot yang dicarinya.
Sejun menajamkan penglihatannya, menebak apa yang membuat laki-laki berpakaian serba hitam itu terburu-buru dan menghentikan langkah kaki di hadapan. Tanpa mengatakan apa pun Chanyong mendekati Sejun, langkahnya terkesan mantap. Begitu meyakinkan diri, ia melangkah lebih cepat dan menghantam Sejun hingga terjatuh.
Apa dia mengenalku? Sejun berucap dalam hati sambil mengingat perkataan Jaewon agar tidak menggunakan kekuatannya bila tak begitu mendesak.
“Kenapa kau memukulku? Apa kita saling kenal, aku rasa tidak,” kata Sejun seraya mengusap sudut bibirnya dan mendapati sedikit cairan merah berada di sana. “Apa ini?” tanyanya mengeryit.
Robot humanoid yang ditemui Chanyong kali ini juga memiliki darah, ia memastikan alat pendeteksinya lagi, posisinya dengan HMD07 sama dengan yang terlihat di layar. Dia menjadi kalut dan memukuli Sejun, tak ingin mempercayai, meski benar yang dilihatnya itu adalah darah. Pasti ini bukan seperti yang dilihatnya, dia butuh sesuatu untuk meyakinkan kecurigaannya.
Sementara itu Sejun hanya menangkis, berkelit mencoba menghindari setiap pukulan dari Chanyong. Dia sudah babak belur ketika Chanyong kembali melayangkan tinju, mengenai rahangnya. Pemburu humanoid ini mengabaikan suntikan, mengambil pisau lipat di balik jaket hitamnya.
Hyung apa ini situasi yang mendesak? Sejun membatin beringsut mundur, menghindari ujung tajam pisau yang bisa melukainya.
Saat itu Serin sedang berolah raga, ia bisa lari dengan leluasa di malam hari tentunya masih dengan mengenakan penyamaran. Mengenakan hoodie bertudung, seperti usulan Sejun beberapa hari lalu. Tak lama ia mendapati sosok laki-laki mengangkat tangan, seakan menyuruhnya untuk mendekat.
“Oh Sejun? Ayolah, apa dia benar-benar mengenaliku dengan penampilan seperti ini!” Serin bahkan mengenakan masker, tetapi laki-laki di bawah lampu jalan yang berkelip itu terus melambaikan tangan padanya.
Serin menurunkan masker dengan kasar. “YA! OH SEJUN! BERHENTI SOK AKRAB DENGANKU?!” teriak Serin berlari secepat mungkin menghampiri Sejun, bagaimana kalau yang lain mengenalinya juga.
Mengetahui ada seseorang yang datang, Chanyong memasukkan kembali pisau lipatnya. “HMD07 bersikap baiklah sebelum aku menghabisimu,” kata Chanyong dengan suara pelan, ia lalu bergegas pergi.
Sejun tertohok, menatap lekat punggung yang menjauh. “Bagaimana dia tahu nomor seriku?”
“Siapa dia?!” Tiba-tiba pertanyaan yang ingin Sejun ketahui juga jawabannya terlontar dari mulut Serin. “Ohh, jadi kau memanggilku hanya untuk pamer pada temanmu itu, kalau tetanggamu adalah seorang selebriti!”
“Kim Serin, ternyata kau … terima kasih!” kata Sejun mengucapkan syukur karena kedatangan Serin telah menyelamatkannya dari bahaya. Saking leganya Sejun sampai memeluk Serin.
“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!” Serin mencoba melepaskan pelukan Sejun, tidak sampai lima detik, ia sudah menyerah. “Aku lelah, dia kuat sekali, menyebalkan.”
“Terima kasih kau telah menyelamatkanku.”
“Lepas atau aku akan berteriak?!” ancam Serin tidak mengerti kenapa ia diberi ucapan terima kasih.
Serin hendak berteriak, kalau saja Sejun tidak melepaskan pelukannya dan berkata terima kasih sekali lagi dengan suara ringan, terdengar sangat tulus seraya menarik kedua sudut bibir ke atas. Untuk pertama kali, Serin menyadari belum pernah ada yang mengucapkan terima kasih setulus itu padanya. Tiba-tiba saja ia merasa tersentuh.
Lampu jalan berhenti berkedip, mempertahankan sinar yang memperjelas raut penuh syukur laki-laki di depannya. Seperti tersihir, Serin pun balas tersenyum tipis sebelum penglihatannya dikejutkan dengan beberapa luka di wajah Sejun.
“Siapa yang memukulimu? Jangan-jangan tadi itu temanmu … woah, dia pasti sangat marah padamu, lihatlah kau babak belur!” Serin berspekulasi sembari memegangi dagu Sejun yang digerakan ke kiri lalu ke kanan, memeriksa seberapa parah luka di wajah Sejun.
“Dia bukan temanku,” tukas Sejun.
“Lalu dia pencopet, dan dompetmu telah diambil! Kalau begitu kita harus menelepon polisi!”
“Dia tidak mengambil dompetku,” balas Sejun sambil memperhatikan setiap ekspresi Serin.
“Lalu kenapa dia memukulimu?” Sejun menggeleng, dan dengan kesal Serin meneruskan, “Sepertinya lingkungan ini sudah tidak aman, satu minggu terakhir, aku juga merasa ada yang mengikutiku.”
“Kalau begitu biar aku mengawalmu, sebagai balas budi karena kau telah menyelamatkanku dua kali,” kata Sejun manggut-manggut, berharap usulannya diterima.
Serin tertawa, lalu menunjuk asal wajah Sejun. “Coba lihat dirimu sekarang, kau bahkan tidak bisa berkelahi, masih berani menawarkan bantuan untuk melindungiku.”
Saat itu juga Sejun merasa terhina. Kalau saja ia tidak ingat perkataan Jaewon, maka sudah dapat dipastikan laki-laki yang menghajarnya akan dilarikan ke rumah sakit.
“Lebih baik kita obati dulu lukamu,” kata Serin memimpin jalan sambil berdecak mengatai Sejun ‘payah’.
ΘΘΘ
Kantor kepolisian di Busan sedang disibukkan dengan kasus baru, namun Detektif Seo belum menyerah menyelidiki ledakan lumbung padi yang diyakini telah memakan lima korban. Penampilannya acak-acakkan, wajahnya seperti sudah tidak tidur selama beberapa hari. Detektif lain menyuruhnya untuk memeriksakan dokumen dari kasus pencurian yang terjadi di rumah anggota parlemen.
“Itu tidak lebih penting dari meninggalnya lima nyawa ...,” tolak Detektif Seo.
“Yang tidak diketahui identitasnya, ayolah Seo Youngho tidak ada kasus yang tidak penting. Semuanya harus kita kerjakan.”
Detektif Seo tidak mengerti kenapa semua orang seperti sengaja melupakan kasus yang belum terselesaikan. Dering telepon di mejanya memecah keheningan dari suasana canggung, semuanya menatap ke arah Youngho yang segera mengangkat gagang telepon.
“Di sini Kantor Polisi Busan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Youngho berharap ia yang dapat lebih terbantu akan kasus lumbung padi. “APA?!” pekiknya sampai berdiri dari tempat duduk, membuat yang lain ingin tahu siapa yang menelepon.
Tak ada yang bersuara selain Youngho, ia menarik buku catatannya dan meminta rekannya meminjamkan pulpen. Setelah itu dia mencatat dengan cepat sembari bertanya, “Kau yakin? Ya baiklah ... terima kasih atas kerja samamu.”
Panggilan terputus. Youngho menaruh kembali gagang telepon lalu mengedarkan penglihatannya ke sekeliling, rekan satu timnya menunjukan minat. Saat Youngho membuka mulut semua mata melebar, dan bersorak mendengar bahwa seorang saksi akan memberitahu identitas ke lima korban dalam ledakan yang terjadi di lumbung padi.
“Di mana saksi itu? Kita harus segera menginterogasinya, agar kasus ini dapat diajukan ke kejaksaan!”
“Dia berada di Seoul,” kata Youngho menghela sebelum melanjutkan perkataannya, “Masalahnya dia menolak untuk hadir sebagai saksi.” Seketika semua raut wajah berubah kecewa.
ΘΘΘ
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments