Dia kemudian memandang Jin Lien dengan serius.
"Lien, dari mana kamu mengetahui cara komunikasi menggunakan kode yang hanya pasukan khusus yang mengetahuinya?"
Jin Lien kaku, dia terdiam cukup lama. Namun, dia tetap menatap lurus pada mata hitam Lan Xuan, tidak berniat untuk menghindar.
Mata hitamnya yang menatap Lan Xuan memiliki jejak kebingungan, dan banyak pertanyaan di manik hitam se-kelam malam itu.
Ya, bahkan dirinya kebingungan dan tak mengerti. Dia hanya merasa akrab dan itu berdasarkan reaksi tubuhnya.
"Aku tidak tahu. Kakak, aku hanya merasa akrab, seolah aku telah mengetahui hal tersebut jauh sebelumnya."
Lan Xuan juga tahu, jika Jin Lien tidak berbohong. Dia tahu jika orang itu berbohong atau tidak. Namun, dari reaksi Jin Lien dan jejak kebingungan di mata hitamnya, dia jelas tentang Jin Lien.
Dia berpikir, mungkin saja Jin Lien kehilangan sebagian ingatannya saat dia menemui Jin Lien dalam keadaan penuh luka. Apalagi saat itu, dia melihat luka yang paling parah ada di kepala.
Namun, dia telah menyelidiki kehidupan Jin Lien saat berada di desa Nan, tempat Jin Lien lahir dan tumbuh.
Tidak ada yang istimewa, dia dibesarkan oleh ibunya sampai dua tahun lalu, ibunya seolah menghilang entah kemana. Saat itu, Jin Lien tumbuh seorang diri dan tidak ada warga yang ingin berinteraksi dengannya, sehingga membuat Jin Lien menjadi mandiri dan menanam umbi-umbian, memancing dan berburu hewan kecil untuk makan.
Untuk beberapa saat, mobil militer itu sangat hening tanpa pembicaraan adik dan kakak yang berbeda ibu itu. Setidaknya begitulah kondisi yang mereka ketahui.
Saking heningnya suasana di dalam mobil, mereka tidak sadar jika telah sampai di markas militer.
"Bos, kita sudah sampai."
Begitu suara itu terdengar, Jin Lien dan Lan Xuan tersadar. Melihat sekeliling, Lan Xuan tersenyum dan mengajak Jin Lien turun.
"Ayo!"
Begitu turun dari mobil, Jin Lien mengamati suasana markas militer tersebut, dia merasa sedikit perasaan nostalgia di hatinya.
Jantungnya berdebar kencang dan sangat bersemangat, lagi-lagi dia mengernyit saat merasakan perasaan akrab.
"Dengan membawamu ke sini, kakak bersedia memberitahu dirimu tentang identitas khusus milikku yang tidak diketahui oleh keluarga dan kakak Jia. Jadi, jangan beritahu mereka tentang ku."
Jin Lien menatap aneh pada Lan Xuan, kemudian di terkekeh pelan.
"Kakak, keluargaku hanya kau dan kak Jia. Untuk keluarga Lan yang lainnya, aku tidak menganggap mereka keluarga. Jadi, tidak ada alasan untuk memberitahu mereka tentang identitas khususmu."
Lan Xuan tersenyum lembut dan mengacak rambut hitam Jin Lien. Senyum lembut yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapapun selain Lan Jia.
Melihat senyum lembut Lan Xuan, banyak prajurit muda tertegun, bahkan prajurit wanita ada yang memerah.
"Bos, Letnan Kolonel telah menunggu."
Lan Xuan memandang tajam pada anak buahnya dan mengangguk.
"Aku akan ke sana, kau kembali dan tidak perlu menemaniku."
Dia kemudian melirik Jin Lien penuh arti.
"Ayo, kita temui walimu!"
Jin Lien menatap penuh tanya pada Lan Xuan dan tidak bergerak dari tempatnya.
"Apakah ingin digendong lagi?"
"Bolehkah?"
Namun, kali ini Lan Xuan hanya sedikit berjongkok di depan Jin Lien menunjukan punggungnya pada Jin Lien. Jin Lien sendiri tersenyum kecil dan melompat di punggung Lan Xuan.
"Hahahaha aku ingin melihat reaksi prajurit muda dan prajurit wanita itu ketika melihat mayor muda yang mendominasi ini menggendong adik perempuannya."
Jin Lien tertawa senang di dalam hatinya dan bersorak dengan gembira.
Lan Xuan berjalan dengan acuh tak acuh dengan Jin Lien di punggungnya yang terus tersenyum lebar menyapa para prajurit muda dan prajurit wanita yang tampak kosong dengan wajah aneh ketika melihatnya berada di punggung Lan Xuan.
Terus berjalan, hingga mereka sampai di ruangan Letnan Kolonel yang kini sedang menunggu mereka.
Lan Xuan mengetuk hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia menurunkan Jin Lien dan menarik Jin Lien memasuki ruangan. Masuk ke ruangan, Lan Xuan berdiri dengan postur standar militer dan memberi hormat.
Merasakan suasana militer berdarah besi di dalam ruangan, Jin Lien tanpa sadar juga berdiri dalam postur standar militer. Dia bahkan ikut memberi hormat pada pria paruh baya di depannya.
Tidak perlu bertanya kenapa Jin Lien seperti ini, dia sendiri di kehidupan pertamanya adalah seorang Mayor Jenderal. Meski pria paruh baya di depannya memiliki pangkat lebih rendah darinya, tapi itu di kehidupan pertama dan dia sendiri tidak mengingat hal tersebut untuk saat ini.
Pria paruh baya yang merupakan Letnan Kolonel dan juga Lan Xuan terkejut ketika melihat Jin Lien dalam postur militer standar tanpa sedikitpun kekurangan.
"Xuan, sudah aku katakan berkali-kali untuk tidak bersikap formal jika hanya ada kita."
Lan Xuan tersenyum kecil dan menggeleng.
"Paman Feng, aku tidak bisa bersikap biasa jika dirimu sendiri terus mengeluarkan penindasan seperti itu ketika berada di sini."
"Hahahaha. Kau selalu bisa membuat ku tertawa. Jadi, apakah dia adikmu yang kau katakan?"
Karena pria paruh baya yang disebut paman Feng tidak mempersilahkan mereka duduk dan Lan Xuan juga masih berdiri sambil berbicara, Jin Lien tidak berkata apa-apa dan terus berdiri diam dalam postur militer standar miliknya dengan tangan dilipat ke belakang.
"Ya paman, dia adikku dan aku akan merepotkan paman untuk menjadi wali dan memasukan namanya dalam buku rumah tanggamu. Tidak akan lama hingga dia menjadi dewasa."
Paman Feng memandang Jin Lien sejenak dan kembali memandang Lan Xuan. Dia kemudian mengangguk.
"Aku sudah menelpon bibi mu dan dia sebentar lagi akan tiba. Biarkan dia membawa adikmu ke kediaman Feng."
"Terima kasih paman."
Namun, Jin Lien tiba-tiba berbicara.
"Kakak, aku lelah. Tidak bisakah aku duduk?"
Keduanya kemudian memandang Jin Lien yang masih berdiri dalam postur militer standar, lalu beberapa saat mereka tertegun dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha."
Ya paman Feng bahkan tidak membiarkan mereka duduk, dalam militer jika atasan tidak berbicara, mereka tidak akan bergerak.
"Ya, paman salah. Pergilah duduk dan istirahat."
"Uhm." Jin Lien dengan cepat membubarkan postur militernya dan berlari ke sofa empuk untuk duduk.
Duduk di sofa dengan malas layaknya ratu tertinggi.
Merasakan aura yang dipancarkan Jin Lien, lagi-lagi kedua orang yang berada di dalam ruangan dibuat tertegun.
Mereka berpikir dalam hati mereka. Apakah ini gadis yang dibesarkan di desa? Kenapa aura dan perilaku yang dia tunjukan sangat jauh dari gadis yang tumbuh di desa?
Jin Lien sendiri tidak peduli dan terus fokus dengan ponselnya.
....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
ARA
kelakuan mamud😀😀😀
2022-01-25
2
밤비(♡ω♡ ) ~♪
1412
2021-11-21
0
eva
terrbaaaiiikkkk
2021-10-22
0