Merasa dipandangi, Lan Xuan melirik Jin Lien.
"Ada apa?"
"Tidak, aku hanya merasa hatiku sedikit kosong, seolah aku melupakan sesuatu yang penting."
"Sudah, jangan dipikirkan. Ayo kita naik ke pesawat! Sudah saatnya kita berangkat ke kota F."
"Uhm."
Jin Lien tidak mempermasalahkan lagi, dan mengikuti Lan Xuan memasuki pesawat.
Membuat ponselnya menjadi mode terbang, Jin Lien dengan tenang mencari kursi miliknya. Melirik nomor kursinya, Jin Lien mengerucutkan bibirnya, pasalnya kursi miliknya tidak berdekatan dengan kursi Lan Xuan.
Dia melirik seseorang yang berada di samping kursinya, tidak berbicara dan duduk dengan tenang. Baik Jin Lien dan Lan Xuan tidak membawa tas pakaian atau apapun. Itu pergi dengan pakaian di tubuh mereka.
Menunggu beberapa menit, pesawat mulai lepas landas, dan Jin Lien memandang keluar jendela. Dia sedikit lega, karena posisi kursi miliknya tepat berada di samping jendela.
Dia datang ke kediaman Lan tepat jam 9 pagi, menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Old Lan dan yang lainnya, menghabiskan waktu di perjalanan menuju bandara dan ruang tunggu. Menghitung dengan jelas, Jin Lien sedikit menghela napas. Kemungkinan dia akan mencapai kota F tepat jam 1 siang waktu setempat.
Itu masih cukup waktu untuk berbelanja dan melihat apartemen yang dibeli oleh Lan Xuan. Untuk urusan pendaftaran sekolah dan wali, dia tidak mengambil pusing, memilih menyerahkan semua pada Lan Xuan yang awalnya agak Tsundere.
Setelah satu jam pesawat terbang, tiba-tiba Jin Lien menjadi waspada. Dia melirik seorang yang duduk di sampingnya, awalnya dia tidak memperhatikan. Pria di sebelahnya tampak biasa, tapi suasana pembunuhan tipis dapat dia rasakan.
Mata pria itu tampak galak dan serakah, melirik ke beberapa sudut seolah memberi kode pada rekannya.
Jin Lien menunduk, matanya terkulai dan menampakkan cahaya dingin. Dia tidak tahu mengapa dia seolah sangat sensitif dengan perasaan pembunuhan seperti itu.
Tidak memikirkan lebih lama lagi, dia mengangkat kepalanya dengan senyum aneh di bibirnya. Mengangkat kedua tangannya seolah dia sedang merenggangkan tubuh.
Namun, tidak ada yang memperhatikan jika Jin Lien sedang melakukan komunikasi yang hanya dimengerti oleh pasukan khusus.
Dia tahu, jika kakaknya duduk di belakangnya. Dia tidak peduli apakah Lan Xuan mengerti atau tidak, setidaknya dia sudah berusaha menyampaikan maksudnya.
Lan Xuan yang berada di kursi belakang melihat tangan Jin Lien dan beberapa kode khusus terbentuk, dia membatu seolah tidak bisa bergerak.
Dia tidak sempat memikirkan dari mana Jin Lien mempelajari cara berkomunikasi seperti itu, tapi dalam sekejap tubuhnya menjadi waspada dan memandang sekitar.
Dor
Benar saja, suara tembakan terdengar, dan asal suara tersebut berasal dari bagian kemudi.
"Aaarrgggg."
"Kyaaaaa."
Dalam sekejap suara tembakan membuat para penumpang panik. Lan Xuan tidak seperti biasa, udara di seluruh tubuhnya menjadi sangat dingin.
"Jangan berteriak dan jangan bergerak!" Suara dingin dan kejam seketika membungkam mulut para penumpang.
Mereka sangat ketakutan dan hanya bisa menangis. Lan Xuan sendiri telah menekan tombol darurat di arloji yang dia kenakan.
...
Kamp pasukan khusus
Ketika menerima sinyal bahaya dari Lan Xuan, seluruh anggota dalam sekejap menjadi waspada.
Di dalam ruang monitor, beberapa orang sedang mencari tahu posisi Lan Xuan, dan mereka segera mengetahui posisi tepat itu.
Lan Xuan dalam perjalanan udara menuju kota F, kemungkinan pesawat yang dia tumpangi mengalami pembajakan.
Dengan sangat cepat, mereka mengirimkan informasi ke bandara kota F. Setelah mengirim informasi, beberapa pasukan khusus bergerak cepat. Pasukan ini tidak lain adalah kelompok api penyucian, di mana Lan Xuan berada.
Pasukan khusus yang merupakan Tim Api Penyucian merupakan pasukan anti t*roris
Tim api penyucian bergerak cepat menuju bandara kota F, beberapa juga langsung menuju pesawat yang ditumpangi Lan Xuan menggunakan hellycopter.
"Brengsek, beberapa bin*tang itu berani memprovokasi bos. Mereka benar-benar sudah bosan hidup."
"Wolf tenanglah, siapapun yang memprovokasi bos, mereka tidak akan bisa lolos dari tangannya."
Sedangkan beberapa orang sedang mengutuk dan menertawai kesialan para pembajak. Jin Lien yang sedang berada di pesawat tampak sangat tenang. Mata hitamnya menjelajahi seluruh situasi, pria yang berada di sampingnya entah dari kapan mengeluarkan belati dan menodongkannya pada dirinya.
Tidak hanya pria itu, ada 3 pria lainnya yang juga sedang memegang sandera. Itu tidak termasuk dengan pria yang berada di kemudi pesawat.
Dia tidak tahu, apakah pilot dan co-pilot itu selamat atau sudah mati. Dia hanya bisa menebak dalam hatinya jika jumlah pembajak ada 6 orang.
"Alex kelompok macam apa yang sedang membajak pesawat sekarang?"
Tidak menunggu lama, serangkaian informasi memasuki otak Jin Lien.
Matanya terkulai dengan bulu mata yang agak bergetar. Mencerna informasi di kepalanya, Jin Lien menjadi sangat dingin.
Kelompok t*roris yang sedang membajak adalah kelompok Elang Pembunuh, kelompok ini tidak memandang siapapun. Siapapun bisa menjadi targetnya, dan targetnya tidak akan bisa keluar hidup-hidup.
Lan Xuan menjadi kaku ketika melihat Jin Lien menjadi sandera, tangannya terkepal kuat. Dia menatap Jin Lien yang juga sedang menatapnya.
Tidak ada jejak ketakutan di mata hitam itu, mata itu sangat jernih dan tenang. Dia sedikit menggerakkan mulutnya tanpa suara untuk mengirim isyarat pada Lan Xuan.
Lan Xuan juga tidak pernah berpikir jika adik perempuannya yang berasal dari desa tidak akan panik dan itu sangat tenang. Seolah kejadian tersebut bukan apa-apa di matanya.
Mendapat isyarat dari Jin Lien, Lan Xuan tidak lagi cemas dan tetap fokus.
Mengeluarkan pistol dan mulai bersiap.
Penumpang di sampingnya tampak sangat ketakutan, tapi Lan Xuan membisikkan beberapa kata dan membuatnya tenang.
Jin Lien sendiri yang di sandera dengan belati di tempelkan pada lehernya tampak sangat tenang. Semakin tenang dirinya, semakin jernih pikirannya.
Dor
Begitu Lan Xuan menembak, Jin Lien juga bergerak cepat memutar pergelangan tangan pria yang sedang menempelkan belati di lehernya.
Dia membanting pria tersebut, dan menikam belati tepat di jantung pria itu, dan dengan cepat melempar belati ke pembajak lain.
Stab
Belati itu tertancap tepat di kepala pria yang sedang menyandera seorang nenek tua.
Karena terkejut, nenek tua itu seketika pingsan.
Para pembajak tidak lagi mengawasi sandera mereka dan segera mengarahkan senjata mereka pada Jin Lien.
Melihat Jin Lien dalam bahaya, Lan Xuan bergerak cepat dan menendang pria tersebut hingga tersungkur.
"Kakak, serahkan sisanya di sini padaku, kau pergilah ke arah kemudi!"
Lan Xuan mengangguk dan pergi. Namun, ketika dia akan mencapai ruang kemudi, seorang ingin menyerangnya dengan diam-diam, tapi hal tersebut tidak berhasil, karena ada seorang gadis yang kira-kira berusia 19 atau 20 tahun langsung memukul orang itu menggunakan hak sepatunya yang runcing tepat di kepalanya.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Anonymous
Kl
2023-12-12
0
Shinta Dewiana
yeee....kereeennnn....ada juga cewek yg membantu...kira2 siapa ya...
2023-07-15
1
Sri Aisyah
dimana mana sepatu haktinggi menjadi penyelamat apalagi buat gebukin pelakor auto bocor tuh kepalanya 😂😂😂😂😂😂
2021-12-31
0