Happy reading...
Sejuknya semilir angin pagi mengusik tidur Maliek. Pria itu mengerjapkan matanya dan menatap pucuk kepala Meydina yang tertidur sambil memeluk tubuhnya.
Sebelah tangannya mengusap lembut surai dan pipi Meydina. Pikirannya mulai menerawang mengingat sikapnya semalam yang tidak menyenangkan.
Usapan Maliek mengganggu tidur istrinya. Meydina yang terusik membenamkan wajahnya di ketiak Maliek sambil menggerak-gerakkannya perlahan.
"Geli, Sayang," kekeh Maliek.
Dengan sengaja Meydina melakukannya. Gerakannya kini bahkan naik sampai ke ceruk leher suaminya.
"Kamu ini seperti anak kucing mau nyusu, Mey," ucap Maliek dengan kekehannya.
Meydina mengangkat wajahnya. Tatapannya beradu dengan tatapan suaminya. Dengan senyum menggoda Meydina mengarahkan bibirnya lalu mendaratkannya di bibir suaminya dan mulai menciumnya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, lengan Maliek menarik tubuh Meydina agar berada di atasnya. Sebelah lengannya kini menekan tengkuk Meydina agar memperdalam ciuman mereka.
Bagai singa jantan yang kelaparan, Maliek mel*umat bibir istrinya tanpa ampun. Ia tak membiarkan tautan bibir mereka terlepas begitu saja. Sampai Meydina menggigit pelan bibir bawahnya karena mulai kehabisan nafasnya.
Tatapan keduanya menyiratkan sesuatu seiring dengan hembusan nafas yang memburu. Seolah mengerti arti tatapan itu keduanyapun memulai pagi mereka dengan olah raga yang menguras tenaga.
Lenguhan Maliek terdengar seksi di telinga Meydina. Ditatapnya wajah Maliek yang berpeluh karena mendapatkan pelepasannya. Senyum puas yang terpancar dari wajah suaminya serta kecupan yang menyertainya memberikan kebahagiaan tersendiri di hati Meydina.
"Sayang, maafkan aku!" ucap Maliek tiba-tiba.
"Maaf kenapa?" tanya Meydina heran.
"Maaf, karena semalam sikapku tidak menyenangkan dan mengacuhkanmu."
"Semalam? Memangnya semalam Kak Maliek kenapa?" Meydina tidak mengerti arah ucapan Maliek.
"Mey, semalam aku cemburu melihat kamu bicara dengan Rendy," ujar Maliek pelan sambil menyembunyikan wajahnya diantara surai Meydina.
"Cemburu sama Rendy? Haha.. Kak Maliek ada-ada saja," sahut Meydina sambil tertawa.
"Aku serius, Sayang. Dia menyukaimu. Jadi aku merasa cemburu melihat cara dia menatapmu," ujar Maliek mencoba menjelaskan.
"Kak Maliek, Rendy itu sahabat Mey. Nggak lebih. Jadi nggak usah cemburu." Meydina mencoba menghentikan tawanya.
"Tapi dia mencintaimu, Sayang."
"Enggak, ah!" kilah Meydina.
"Mey, tatapan dia ke kamu itu berbeda. Masa iya kamu nggak menyadarinya?"
"Memang enggak! Karena Mey hanya bisa melihat tatapan cinta itu dari mata Kak Maliek. Mey tidak perduli seperti apa Rendy menatap Mey, Kak. Meydina hanya mencintai Kakak, hanya Kak Maliek."
Maliek membisu mendengar pengakuan Meydina. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mendengar kata-kata itu terucap dari bibir wanitanya. Maliek merengkuh tubuh Meydina dengan perasaan bahagia yang tidak terkira. Tiba-tiba saja perasaan takut kehilangan menyeruak di hatinya.
"I love you, Sayang," bisik Maliek yang mengeratkan dekapannya.
"I love you too, Papi," sahut Meydina dengan senyum di wajahnya.
***
Wira dan Nura menghadiri acara wisuda Rendy, putra mereka. Mereka merasa sangat bangga karena putranya itu berhasil dengan nilai yang sangat memuaskan. Dengan gelar Magister Teknik yang disandang putranya, mereka optimis masa depan yang cerah sedang menantinya.
"Hai Ren, selamat ya! Kamu hebat. Walaupun sambil bekerja tetap bisa mendapat nilai yang bagus," puji Sophia.
"Thanks," jawab Rendy singkat.
"Hai, Tante. Mamanya Rendy ya? Kenalkan saya Sophia, teman dekat Rendy." Ujarnya.
"Oh, ya? Kok Tante belum tahu," sahut Mama Nura sambil melirik pada putranya.
Rendy yang diliriknya seolah tak ingin menanggapinya. Putranya itu malah berbaur dengan teman-temannya yang lain.
Di tempat lain, Amiera dan Alena sedang asik berbelanja. Dengan di temani Bella, mereka berbelanja sepuasnya. Amiera tetaplah Amiera, pilihan barang-barang yang di belinya haruslah dari brand ternama.
"Untuk siapa, Kak?" tanya Alena saat Amiera memilih-milih jam tangan pria dengan harga fantastis.
"Untuk seseorang. Ini bagus nggak, Len?"
"Bagus, Kak. Semua yang di sini bagus, karena harganya juga sangat bagus," celoteh Alena.
"Yang ini aja deh," ucap Amiera kemudian.
Sesuai rencana, Wira dan Nura ingin merayakan keberhasilan Rendy dengan makan malam sederhana. Sementara keluarganya bersiap di apartemen Amiera, Rendy bersiap di apartemennya sendiri.
"Mey, ini untukmu. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini denganmu, Mey," ucap Rendy yang berbicara dengan foto Meydina seperti biasanya.
Rendy bersikap seolah-olah Meydina ada di hadapannya. Ia dengan bangga memperlihatkan apa yang telah di raihnya pada Meydina. Tak lama senyum bahagianya memudar saat Rendy kembali tersadar, Meydina tidak ada disana. Tidak ikut merasakan kebahagiaannya.
Rendy menatap layar ponselnya. Ingin sekali ia menghubungi Meydina. Kemarin saat ia melihat wajah Meydina di ponsel Alena, luapan kebahagiaannya hampir saja terlihat secara nyata. Sampai ia melihat sosok pria di samping Meydina.
Ya, saat Rendy melihat Maliek ada di samping Meydina, seketika ia meredam perasaannya. Sebisa mungkin ia bersikap sewajarnya ketika Meydina bertanya apakah ia tidak merindukannya. Padahal dalam hati, Rendy ingin meneriakkan pada siapa saja yang ada bahwa ia sangat merindukan Meydina.
"Kak Rendy!" Suara Alena mengambalikan kesadarannya.
"Hai, Len. Kamu nggak nyasar?"
"Nggak laah. Kok belum siap? Ayo cepetan dong, Kak. Sebentar lagi mereka kesini lho," ujar Alena.
"Iya, sebentar lagi. Masih ada waktu," sahut Rendy malas.
"Eh, ini foto Kak Mey? Waah, jadi ingat waktu Lena masih SMP," ujar Alena.
"Kak, waktu itu Kak Rendy sama Kak Mey pacaran nggak sih?"
"Enggak."
"Lena kira kalian pacaran. Kalian dekat banget, seperti orang pacaran. Padahal Kakak sama Kak Mey serasi lho."
"Terus sama Maliek nggak serasi, gitu?"
"Serasi banget, hehe."
Rendy hanya bisa tersenyum kecut. Ia kemudian bergegas untuk bersiap sebelum Mamanya datang dengan omelannya.
Amiera dan keluarga Atmadja tiba di sebuah restoran yang cukup ternama. Amiera terlihat cantik dan elegan seperti biasanya. Ia ingin terlihat sempurna di mata pria yang disukainya.
Mereka menempati meja dengan enam kursi yang sudah di pesan sebelumnya. Alena yang melihat ada satu kursi kosong seolah tak bisa meredam keingintahuannya. Karena yang ia dengar, restoran itu tidak menyediakan kursi lebih untuk tamunya.
"Tan, untuk siapa satu kursi lagi?"
"Untuk teman Rendy. Tadi siang Tante kenalan sama dia, sekalian aja tante ajak dia ngumpul sama kita. Kasihan, katanya dia sendirian disini. Orang tuanya sudah berpisah dan tidak ada yang menghadiri acara wisudanya," tutur Nura.
Rendy terlihat jengah mendengar penuturan Mamanya tentang Sophia. Padahal ia berharap tidak melihat wanita itu di acara keluarganya.
"Selamat malam semuanya!" sapa Sophia yang baru saja datang menghampiri mereka. Gaun merah seksi yang di kenakannya terlihat kontras dengan kulit putihnya.
"Selamat malam. Kenalkan, ini Alena dan ini Amiera. Sayang, ini Sophia teman Rendy," ujar Nura dengan cepat mengenalkan mereka.
"Selamat malam juga, Kak Sophia!" sahut Alena tersenyum ramah.
Sementara Amiera hanya menyunggingkan senyum tipis di wajahnya tanpa berkata apa-apa. Sophia yang melihat sikap Amiera langsung merasa tak suka dan membalasnya dengan senyuman sinis.
Mereka mulai berbincang sambil menikmati hidangan. Berbeda dengan ketiga wanita yang sedang berceloteh riang, Amiera lebih banyak diam.
"Amiera, mungkin kalian bisa mulai berteman?" saran Nura.
"Boleh saja," sahut Amiera pelan.
"Nah bagus kan. Amiera jadi nambah teman sekarang," ucap Nura riang.
Wira dan Rendy sedari tadi hanya jadi pendengar. Sesekali ia tersenyum melihat antusias istrinya diantara tiga wanita muda yang ada disana.
"Ren, maaf ya Papa nggak bisa ngasih sesuatu yang berkesan sebagai hadiah kelulusan," ucap Wira.
"Nggak apa-apa, Pa. Kehadiran Papa dan Mama ada disini merupakan hadiah terindah untuk Rendy," sahut Rendy.
"Duuh, so sweet. Kak, ini ada hadiah kecil dari Papa," ujar Alena.
"Terima kasih, kenapa Om Evan repot-repot?"
"Aku juga punya hadiah untukmu, Ren. Ini," ujar Sophia.
"Waah, terima kasih lho Sophia," sahut Mama Nura.
"Bukan apa-apa kok, Tan," jawab Sophia yang kemudian mendelik pada Amiera.
"Ada titipan dari Kak Mey untukmu, Ren," ucap Amiera.
"Benarkah?" tanya Rendy dengan raut wajah bahagia.
"Iya, Ini. Dan yang ini dariku," ucap Amiera menyodorkan dua kado yang di keluarkan dari dalam tasnya.
"Terima kasih." Rendy terlebih dahulu mengambil kado yang didapatnya dari Meydina, kemudian kado dari Amiera.
"Buka dong, Kak. Lena ingin tahu apa isinya," celetuk Alena.
"Iya, Sayang. Buka disini aja ya, Mama juga ingin tahu," timpal Nura.
Walau awalnya ragu, Rendy akhirnya membuka satu persatu hadian yang didapatnya. Dari Evan ia mendapatkan meteran laser kualitas terbaik yang memang selalu ia butuhkan dalam pekerjaannya.
Dari Sophia, ia mendapat dasi motif garis yang berkesan maskulin. Dari Meydina, Rendy mendapat personalized pen dengan desain fashionable yang mewah. Dan dari Amiera, ia mendapat jam tangan mewah.
"Kok jadi Tante yang senang sekaligus terharu ya? Kalian memberikan hadiah yang luar biasa untuk Rendy. Terima kasih Sophia! Terima kasih, Amiera! Sama Mas Evan dan Meydina nanti aja ya, Ren." Ucapnya.
"Biasa aja kali, Tante. Kalo dibandingkan sama hadiah dari Kak Mey dan Kak Amie, hadiah dari Papa nggak ada apa-apanya," sahut Alena.
"Jangan melihat hadiah dari harganya, Alena," ujar Wira sambil mengacak pelan rambut keponakannya.
"Benar tuh yang Om kamu katakan," timpal Nura.
Alena hanya tersenyum menanggapinya. Sementara Sophia, mendelik tidak suka mendengar Alena memuji pemberian Amiera.
"Heh, jam tangan palsu aja dibanggakan," batin Sophia berdecih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Ria dardiri
blm tau amira ya anak sultan cuy😋😋
2023-01-17
0
Fika
Helloooww oey shopia..belum tau kan dirimu siapa Ameera...Ameera al-azmi sultan dri timur tengah yg kekayaannya tdk akan habis 7 turunan 7 tanjakan...enak sj bilangin jam pemberian Ameera jam tangan palsu🤣🤣🤣🤣🤣
2022-12-05
0
Aya Vivemyangel
Aroma,, aroma, badgirl ya sofia 😁
Blm tau dia siapa klrg amie , apalagi meydina ,, 😍😍💖💖
2021-01-20
0