Dua orang yang masuk kedalam ruangan Ivy adalah detektif yang menangani kasus yang dialami oleh Ivy.
Mereka datang kesana setelah mendapat kabar jika Ivy sudah sadar dari komanya, tentu mereka mendapat kabar itu dari Henry.
Walaupun berita tentang kematian Ivy telah tersebar tapi pihak berwajib yang menangani kasus Ivy tahu jika itu hanya berita palsu yang dibuat oleh Henry Jackson untuk menjaga keselamatan Ivy selama Ivy koma.
Mereka datang kesana untuk mengintrogasi Ivy karena Ivy tahu siapa yang memperkosa dan membunuh adiknya tapi sayang, perkataan Henry membuat mereka tidak bisa melakukan apapun.
"Jadi dia sedang Amnesia?" tanya salah seorang detektif yang ada disana dan dia melihat kearah Ivy.
"Benar, Ivy Brown sedang Amnesia dan maaf tidak mengatakan hal ini pada kalian." jawab Henry.
"Tidak apa-apa tuan Jackson, kami sangat berterima kasih kepada anda karena mau mengabari kami. Walaupun saat ini Ivy Brown sedang Amnesia tapi dia sudah sadar dari komanya dan ini Kemajuan yang sangat bagus." ucap salah satu detektif yang ada disana.
"Anda benar, untuk saat ini mungkin kalian tidak mendapatkan apapun tapi aku akan membantu kalian agar kasus ini bisa segera dipecahkan supaya pelaku yang melakukan hal ini dapat segera ditangkap." ucap Henry sambil mengepalkan kedua tangannya.
Untuk saat ini, bekerja sama dengan pihak berwajib untuk mencari tahu siapa yang telah berani membuat Ivy seperti itu adalah yang terbaik. Lagi pula, kasus ini sejak awal sudah ditangani oleh pihak berwajib dan dia hanya perlu berpura-pura membantu para detektif itu tapi pada saat dia sudah tahu, disaat Ivy sudah mengingat pelakunya maka saat itu dia tidak akan tinggal diam dan yang pasti orang yang telah membuat Ivy mengalami hal buruk akan mendapat ganjaran yang lebih buruk lagi.
Mau pelaku itu pria atau wanita, tidak akan dia lepaskan dan akan dia buat mereka menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan dan dia juga akan membuat mereka membayar atas kematian adik Ivy.
Untuk saat ini biarkan para penjahat itu menikmati waktu mereka tapi pada saat waktu mereka sudah habis, maka mereka akan mendapat ganjaran atas apa yang mau mereka lakukan.
"Baiklah Mr Jackson, kami pergi dulu dan terima kasih. Jika Ivy Brown sudah tahu dan mengingat pelakunya tolong beri tahu kami, kami akan segera menangkap pelakunya agar kasus ini cepat selesai."
"Pasti." jawab Henry dengan senyum diwajahnya. Saat Ivy mengatakan siapa pelakunya tentu dia akan bertindak terlebih dahulu dan para detektif itu akan mendapatkan mayat para pelakunya saja itupun jika tidak dia kirim para pelaku itu ke California.
Setelah mereka selesai berbicara, kedua detektif itu pergi sedangkan Henry kembali mendekati Ivy dan duduk disampingnya.
"Henry, siapa mereka?" tanya Ivy.
"Bukan siapa-siapa."
Henry kembali mengambil bubur dan menyuapkan makanan itu kedalam mulut Ivy.
"Apa mereka sahabatmu?"
"Anggap saja begitu."
"Henry."
"Hm?"
"Kita, sudah berapa lama kita menikah?" saat menanyakan itu Ivy tertunduk malu sedangkan Henry melihatnya dengan senyum diwajahnya.
"Belum lama." jawab Henry dan dia memberikan minuman untuk Ivy.
Ivy mengambil minuman yang diberikan Henry dan melihatnya tanpa meminumnya karena dia sangat ingin menanyakan satu hal lagi kepada Henry.
"Hery, apakah kita?" Wajah Ivy langsung merona.
Henry memandangi wajah Ivy yang merona sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Dia tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Ivy dan entah mengapa dia jadi ingin menggodanya.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Ivy?"
"Hm, itu?" wajah Ivy semakin merona.
Entah mengapa dia jadi gugup padahal seharusnya ini pertanyaan wajar apalagi mereka suami istri, sebaiknya dia tidak menanyakan hal ini karena dia malu. Ivy meneguk minumannya dan pada saat itu Henry hangkit berdiri.
Senyum semakin mengembang diwajah Henry dan dia segera mendekatkan majahnya, dengan pelan Henry berbisik ditelinga Ivy, "Aku sudah tidak sabar menunggumu pulih Ivy dan aku sudah tidak sabar membawamu pulang karena pada saat itu aku tidak akan melepaskanmu dan aku akan membuatmu mengerang nikmat dibawah kendaliku."
"Uhuk!" Ivy menutup mulutnya karena tersedak air yang berada didalam mulutnya dan sebagian air yang ada dimulutnya tersembur keluar membasahi bajunya.
"Ap..apa?" ucap Ivy gugup sambil mengelap mulutnya yang basah sedangkan wajahnya merah padam.
Henry hanya terkekeh melihat wajah Ivy, tangannya mulai menyelusuri wajah cantik Ivy dan menciumnya.
"Kenapa kau jadi gugup seperti ini?" godanya.
"Tidak, aku hanya tersedak air." sangkal Ivy dengan cepat.
"Oh ya? Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Henry menatap mata Ivy sedangkan Ivy menelan salivanya dengan kasar.
"Ivy, jangan gugup, jangan gugup! Kalian suami istri bukan?" ucapnya dalam hati.
"Aku..aku hanya ingin tahu, apa kita pernah melakukannya?" tanyanya dengan wajah memerah.
"Apa kau sangat ingin tahu?"
Ivy mengangguk, ini benar-benar memalukan tapi dia sangat ingin tahu.
Henry hanya tersenyum dan melangkah pergi tapi tidak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa piyama bersih.
Henry duduk kembali sedangkan tangannya mulai meraih kancing baju Ivy dan membukanya.
"Hen..Henry, apa yang mau kau lakukan?" Ivy menahan tangan Henry yang sedang membuka kancing bajunya.
"Mengganti bajumu yang basah." jawab Henry dengan santai.
"Aku bisa sendiri." Ivy memalingkan wajahnya yang semakin memerah.
"Tidak perlu malu aku sudah sering melihatnya."
"Apa?" Ivy sangat kaget mendengarnya, apa maksud dari ucapan Henry?
"Ivy, selama kau koma aku yang membersihkan tubuhmu dan aku yang menggantikan pakaianmu. Aku sudah melihat semuanya jadi kau tidak perlu malu." ucapnya.
"Ta..tapi?" Ivy benar-benar malu sedangkan Henry hanya terkekeh.
Mau tidak mau, Ivy membiarkan Henry membuka bajunya dan sungguh dia sangat malu apalagi saat tangan Henry menyentuh kulitnya, wajahnya semakin merah padam.
"Henry." Ivy memandangi Henry dengan serius sedangkan Henry sibuk mengancingkan piyama Ivy yang baru saja diganti.
"Hm?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku!"
Henry menghentikan tanganya dan memandangi wajah Ivy dengan senyum diwajahnya.
"Kita akan melakukannya nanti setelah kita pulang tapi jika kau mau, kita bisa melakukannya disini." godanya.
"Bukan begitu! Aku hanya ingin tahu sejauh mana hubungan kita dan sudah berapa lama kita menikah!"
"Ivy, kau adalah milikku dan aku tidak akan menyerahkan kau pada siapapun!"
Ivy tersenyum, walaupun rasanya ada yang menjanggal dalam hubungan mereka tapi dia bisa melihat jika Henry benar-benar tulus dengannya dan dia percaya jika Henry benar-benar suaminya.
"Terima kasih." Ivy mengangkat tangannya dan mengusap wajah Henry sedangkan Henry sedikit kaget.
Mereka saling pandang sesaat dan pada saat itu, Henry mendekatkan bibir mereka dan berkata, "Kau milikku Ivy!" setelah berkata demikian, Henry mengecup bibir Ivy sejenak.
"Bukankah aku memang sudah jadi milikmu?"
"Kau benar!" Henry kembali mencium bibir Ivy, untuk sementara biarkan seperti ini karena suatu hari nanti, dia akan menjadikan Ivy miliknya tapi sekarang dia harus membuat Ivy jatuh cinta dengannya terlebih dahulu.
Ivy mengangkat kedua tangannya dan memeluk Henry, walaupun dia tidak ingat apa-apa tapi dia merasa aman bersama dengan Henry dan dia berharap Henry memang benar-benar suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SAYANGNYA SETELAH IVY MULAI JATUH CINTA SAMA HENRY, MUSUH IVY MLH MMFITNAH HENRY PELAKU PEMERKOSAAN & PMBUNUHAN KELLY ADIK IVY..
2024-05-25
0
Femmy Femmy
setelah sadar baru Henry jadi milikmu Ivy😄
2024-01-13
1
ꪶꫝ🥀⃞oktavia ariani🔮S⃟M•
cepet sadar ivy
2023-11-21
0