Josep dan Marlyn terpaksa meninggalkan putri mereka kepada Henry Jackson, mereka tidak bisa berlama-lama berada disana karena pekerjaan mereka sudah menunggu.
Memang selama ini, mereka tidak mengeluarkan sepeserpun biaya rumah sakit selama Ivy dirawat karena Henry yang menanggung semuanya. Walaupun mereka ingin membayar tapi Henry selalu menolaknya dan tidak mau uang mereka.
Mereka terpaksa mempercayakan Ivy kepada Henry karena Ivy tidak mau mengikuti mereka dan mereka berharap, Henry benar-benar tulus kepada Ivy.
Sebelum pulang, Marlyn duduk disamping putrinya dan memegangi tangannya, walaupun rasanya berat tapi dia harus meninggalkan putrinya.
"Ivy, kami harus pulang apa kau yakin tidak mau ikut dengan kami?" tanya ibunya.
"Maafkan aku, aku merasa saat ini lebih tenang dekat dengannya." jawab Ivy sambil memandang kearah Henry yang sedang duduk diatas sofa dan memainkan ponselnya.
"Tapi kau harus tau, dia bukan?"
"Mom!" Ivy menyela ucapan ibunya dengan cepat.
"Aku tidak tahu tapi aku percaya dengannya, dia selalu berbicara denganku disaat aku sedang koma. Hanya suaranya saja yang aku dengar jadi aku merasa aman dengannya saat ini dan biarkan aku tinggal disini dengannya."
"Tapi jika kau pulang, ingatanmu bisa cepat pulih karena disana banyak kenangan tentang dirimu sayang." Merlyn mengusap tangan ibunya dengan lembut.
"Aku tahu tapi aku merasa tidak mau ingatan lamaku kembali karena aku merasa takut, takut dengan sesuatu dan aku tidak tahu apa." Ivy memeluk lengannya, jujur saja dia selalu merasa takut, karena itulah dia lebih memilih bersama dengan Henry karena dia merasa pria itu bisa menjaganya.
Marlyn menghembuskan nafasnya dengan berat, mungkin putrinya sudah melihat kejadian yang menakutkan sebelum kecelakaan. Walaupun belum bisa mengingat apapun mungkin firasat Ivy merasa akan ada bahaya.
"Baiklah, mommy tidak akan memaksa. Kami akan sering datang untuk menjengukmu." Marlyn bangkit berdiri dan mencium dahi putrinya.
"Mommy harap kau bisa cepat pulih sayang, mommy juga berharap kau bisa kembali berjalan."
Saat ibunya berkata demikian, Ivy memandangi kakinya yang tidak bisa dia gerakkan. Dia jadi ingin tahu, apa yang telah terjadi dengannya sehingga membuatnya koma dan kakinya lumpuh?
Sejak sadar dari komanya tidak ada yang mengatakan kepadanya apa yang telah dia alami dan sebaiknya dia menanyakan hal ini kepada Henry nanti.
Josep menghampiri putri dan istrinya begitu juga dengan Henry, dia bangkit berdiri dan berjalan menghampiri mereka.
"Ivy, kami sudah harus pergi." ucap ayahnya sedangkan Ivy hanya mengangguk.
"Apa tidak apa-apa kau disini Ivy?" tanya ayahnya karena sesungguhnya sangat berat meninggalkan putrinya.
"Anda tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga Ivy dengan baik." ucap Henry dan dia sudah berada dibelakang mereka.
"Aku harap begitu dan aku minta satu hal, jangan sentuh putriku!" pinta Josep.
Henry hanya menyunggingkan bibirnya, mungkin dia akan menyentuhnya sedikit.
"Jangan khawatir, aku akan menjaganya dengan baik." ucapnya lagi meyakinkan.
"Baiklah, aku percaya padamu."
Walaupun berat, Josep dan Marlyn terpaksa meninggalkan putrinya dan percaya kepada Henry. Mereka berjanji kepada Ivy, setiap minggu mereka akan datang untuk menjenguknya dan mereka berharap keadaan putri mereka cepat pulih.
Setelah kepergian kedua orang tua Ivy, Henry duduk disamping Ivy dan memegangi tangannya sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
"Henry?"
"Hm?"
"Aku? Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja Ivy, apa yang ingin kau tahu?"
"Aku, aku ingin tahu kapan?"
Saat itu seorang perawat masuk kedalam ruangan itu sambil membawa makanan untuk Ivy.
"Saatnya makan." ucap perawat itu.
Henry bangkit berdiri dan menghampiri perawat itu untuk mengambil makanan yang dia bawa.
"Berikan padaku!" pintanya.
"Tapi tuan Jackson?"
"Jangan membuatku mengulangi ucapanku!" ucapnya sedangkan matanya menatap perawat itu dengan tajam.
"Ma..maaf." perawat itu ketakutan dan memberikan makanan yang dia bawa.
Setelah mendapatkan makanan untuk Ivy, Henry kembali mendekati Ivy sedangkan perawat itu segera keluar dari ruangan itu dengan cepat.
Henry duduk disamping Ivy dan mulai meniup bubur yang masih panas.
"Henry, kenapa kau tidak membiarkan perawat itu saja yang melakukannya?"
"Aku ingin melakukannya untukmu." jawab Henry sambil meniup buburnya.
"Tapi?" Ivy menunduk dengan wajah merona.
Henry tersenyum dan meletakkan bubur yang ada ditangannya keatas meja, dia segera menghampiri Ivy dan mengangkat dagunya.
" Ivy, kau istriku jadi biarkan aku yang melakukannya."
Ivy diam saja dan menatap mata Henry yang tajam, entah mengapa dia merasa Henry bagaikan serigala liar yang siap menerkamnya kapan saja.
"Hm." jawabnya sedangkan Henry menunduk dan mencium bibirnya.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Henry duduk kembali dan mengambil mangkuk bubur yang dia letakkan diatas meja.
"Aku ingin tahu, kenapa aku bisa seperti ini? Apa yang telah terjadi denganku? Aku sudah berusaha mengingatnya tapi aku tidak ingat sama sekali."
Henry diam sejenak tapi setelah itu, dia menyuapkan bubur kedalam mulut Ivy.
"Kau kecelakaan, mobil yang kau bawa masuk kedalam jurang." jawabnya.
"Kenapa bisa?" Ivy menatap Henry dengan penuh tanda tanya.
"Ivy, malam itu kau melarikan diri dari seseorang dan mobilmu ditabrak hingga masuk kedalam jurang."
Ivy mencoba mengingat tapi tidak ada satupun yang dapat dia ingat, dia sungguh ingin tahu apa yang terjadi dengannya tapi didalam hatinya, ada sebuah ketakutan dan dia tidak tahu apa.
"Kenapa? Kenapa aku melarikan diri dari seseorang? Bukankah kau suamiku? Lalu kemana kau pada malam itu?" Ivy kembali bertanya sedangkan Henry diam saja.
"Henry?" Ivy menatap Henry dengan serius.
Henry sedang memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan kepada Ivy dan kemudian, dia menghembuskan nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ivy.
"Ivy, sebelum kau mengalami kecelakaan, kita bertengkar." dustanya.
"Kenapa? Kenapa kita bertengkar? Apa kau punya wanita lain hingga aku marah padamu atau ada hal lainnya yang membuat kita bertengkar?" tanya Ivy lagi.
"Hmm!" Henry hanya berdehem saja karena dia sedang memikirkan jawaban apa lagi yang harus dia berikan kepada Ivy agar Ivy percaya dengannya.
"Henry, apa kau punya wanita lain hingga membuat kita bertengkar?" Ivy kembali bertanya dan kali ini dia memegangi tangan Henry.
"Tidak, aku tidak punya wanita lain karena yang sangat aku inginkan hanya dirimu saja!" jawab Henry dengan cepat.
"Lalu, apa yang membuat kita bertengkar dan aku melarikan diri dari siapa? Apa aku lari dari selingkuhanmu?"
"Hahahahahaha!" Henry tertawa mendengar ucapan Ivy.
"Henry, aku serius!"
"Tidak Ivy, bukankahkah sudah aku katakan padamu? Yang aku inginkan hanya dirimu saja dan kau adalah milikku!"
"Lalu? Kenapa kita bertengkar?"
"Ivy."
"Hm?"
"Nanti kita akan membicarakan hal ini jika waktunya sudah tepat."
"Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak, kau baru terbangun dari koma sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu. Pada saatnya nanti, aku akan mengatakan apa yang telah terjadi sampai membuatmu mengalami kecelakaan."
Ivy hanya bisa mengangguk, dia memang sangat ingin tahu tapi didalam hati kecilnya dia juga merasa takut.
Henry tersenyum dan kembali menyuapi Ivy tapi pada saat itu pintu ruangan dibuka dan dua orang pria masuk kedalam sana.
Henry meletakkan makanan diatas meja dan langsung bangkit berdiri, dia mendekati kedua pria itu dan berbicara dengannya sedangkan sesekali mereka melihat kearah Ivy. Hal itu membuat Ivy menjadi takut, siapa kedua orang itu dan apa yang mereka bicarakan? Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
KLO TDK TULUS UNTUK APA HENRY SIBUK KEJAR2 IVY, DRI DIA USIA 18 TH SDH MNYUKAI IVY
2024-05-24
1
ꪶꫝ🥀⃞oktavia ariani🔮S⃟M•
smngat henry kwjar cinta ivy
2023-11-21
1
Dini Hariani
Reni Juli tooopppp
2022-01-11
7