Marlyn dan Josep sangat senang putri mereka sudah terbangun dari komanya, walaupun Ivy sudah koma satu tahun lebih, tapi keadaannya baik-baik saja.
Walaupun mereka sempat shock saat mengetahui jika Ivy mengalami amnesia tapi yang terpenting, putri mereka sudah bangun dari tidur panjangnya dan terlihat baik-baik saja.
Ivy masih terbaring diatas ranjang dan dia belum bisa menggerakkan kakinya, itu dikarenakan sudah lama tidak dia gerakkan dan lagi pula, kakinya pernah patah akibat kecelakaan dan dia butuh proses untuk menggerakkan anggota tubuhnya.
Marlyn memegangi tangan putrinya dan terkadang senyum menghiasi wajahnya sedangkan Ivy masih menatap mereka dengan penuh tanda tanya.
Sungguh dia tidak bisa mengingat siapa kedua orang yang mengaku sebagai orang tuanya dan siapa pria yang selalu berbicara dengannya dan memintanya untuk sadar.
Ibunya berbicara dengannya tapi mata Ivy sedang tertuju kearah Henry yang sedang berbicara dengan ayahnya, dia sungguh ingin tahu siapa pria itu dan ada hubungan apa diantara mereka berdua.
"Ivy, apa kau mendengarkan ucapan mommy?" tanya ibunya karena Ivy diam saja saat dia bertanya.
Marlyn mengusap wajah putrinya sedangkan wajahnya tampak khawatir, apa putrinya baik-baik saja?
"Ada apa denganmu sayang?"
"Ti..tidak apa-apa." jawab Ivy dan dia berusaha tersenyum.
"Ivy, apa kau benar-benar tidak ingat apapun?"
"Ti, tidak!"
"Apa kau tidak ingat apa yang telah terjadi padamu dan adikmu?"
"Maaf." jawab Ivy dan entah mengapa dia merasa takut, takut dengan sesuatu tapi dia tidak tahu apa.
Marlyn menghembuskan nafasnya dengan berat, sudah satu setengah tahun berlalu, pelaku yang memperkosa dan membunuh putri bungsunya belum juga ketemu. Para polisi dan detektif sudah berusaha dan mereka belum menemukan titik terangnya, Ivy adalah saksi satu-satunya dan walaupun dia sudah sadar tapi dia tidak bisa mengingat apapun. Hal ini membuat kasus yang menimpa kedua putrinya masih bagaikan benang kusut.
Sementara itu Henry sedang berbicara dengan Josep, karena putrinya sudah sadar dari komanya, Josep berniat membawa Ivy kembali ke Canada dan dirawat disana.
Tentu saja Henry tidak menyetujui keputusan Josep Brown, satu setengah tahun dia menunggu Ivy untuk sadar dan sekarang, setelah Ivy sadar, Josep ingin mengambil Ivy darinya? Tidak akan dia biarkan!
Suasana diantara begitu menegangkan, Henry menatap Josep dengan tatapan tajamnya sedangkan Josep tampak serba salah.
"Tolong tuan Jackson, biarkan kami membawa putri kami pulang ke Canada." pinta Josep.
"Tidak tuan Brown, aku tidak akan melepaskan Ivy jadi aku tidak akan mengijinkan kalian membawanya pergi."
"Tapi dia putri kami dan kami ingin membawanya pulang, kami akan merawatnya untuk menebus kesalahan kami. Lagi pula jika dia pulang, ingatannya akan segera pulih apalagi dirumah kami begitu banyak kenangan akan dirinya!" ucap Josep.
"Aku tidak perduli karena Ivy adalah milikku dan lagi pula, bukankah kalian tidak perduli dengannya selama ini?"
Henry masih menatap Josep Brown dengan tatapan tajamnya sedangkan Josep menunduk karena memang selama ini, dia dan istrinya kurang memperhatikan kedua putri mereka dan tidak pernah punya waktu untuk mereka.
"Tapi kami ingin menebus kesalahan kami dan merawatnya jadi aku tetap akan membawanya pulang!" Josep masih tetap dengan pendiriannya.
"Tuan Brown, Ivy mengalami patah tangan dan kaki dan kemungkinan dia tidak akan bisa menggerakkan kakinya dan duduk diatas kursi roda untuk waktu yang lama, apa kau punya waktu untuk menjaganya sepanjang hari? Apa kau akan pergi menemaninya untuk latihan berjalan jika dia sudah bisa menggerakkan kakinya?!"
"Ka..kami akan membayar seorang perawat untuk menjaganya dan ibunya akan selalu menemaninya sepanjang hari." jawab Josep Brown.
Henry menyunggingkan bibirnya, perawat? Jika Ivy dirawat oleh seorang perawat sebaiknya dia yang merawat Ivy.
"Lihatlah, kau ingin membawanya pulang tapi kau hanya bisa menyerahkannya kepada seorang perawat. Sekalipun istrimu menemaninya dua puluh empat jam dirumah tapi itu tidak menjamin dia akan bahagia jadi serahkan Ivy padaku, aku akan selalu menemaninya dan aku akan memberikan yang terbaik untuknya agar dia cepat pulih."
Josep diam saja dan menatap Henry dengan tanda tanya dihati, Kenapa Henry Jackson begitu menginginkan putrinya? Apa mereka saling mengenal sebelumnya?
"Tapi tuan Jackson."
"Percayalah padaku, aku akan menjaganya dengan baik dan aku tidak akan melukainya."
"Tidak!" Josep melangkah mendekati putri dan istrinya, dia tidak akan membiarkan putrinya diambil dari mereka.
"Kenapa tuan Brown, katakan padaku?" Henry mengikuti langkah Josep dari belakang.
"Karena kau tidak memiliki hubungan apapun dengan putriku!"
"Heh? Hubungan?" sebuah seringgai menghiasi wajah Henry, jika hanya karena masalah itu bisa dia atasi.
Josep berdiri disamping istrinya dan mengusap punggung istrinya sambil berkata, " Aku sudah memutuskan, kita akan membawa Ivy kembali ke Canada dan kita akan merawatnya disana." ucapnya dan istrinya mengangguk setuju.
Henry berdiri disamping Ivy dan pada saat itu, Ivy melihatnya sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajah Henry.
"Ivy ayo ikut kami pulang." ajak Josep dan dia memegangi tangan putrinya.
"Kau?" Ivy berusaha mengangkat tangannya dan menunjuk kearah Henry.
"Ya?" Henry mendekati Ivy untuk mendengar ucapannya.
"Kau selalu memintaku untuk sadar, ada hubungan apa diantara kita berdua?" tanya Ivy sedangkan matanya masih setia menatap Henri.
"Ivy, dia bukan siapa-siapa!" Josep menjawab dengan cepat sedangkan sebuah seringgai kembali menghiasi wajah Henry.
Pria itu menunduk dan berkata ditelinga Ivy, "Aku suamimu, Ivy." setelah berkata demikian Henry mencium pipi Ivy sampai membuat wajah Ivy merona.
Josep dan Marlyn sangat kaget karena mereka dapat mendengarnya, apa maksud Henry Jackson berkata demikian?
"Tuan Jackson, jangan menipu putriku!" Josep tampak tidak terima.
"Jadi kau suamiku?" Ivy kembali bertanya.
"Benar, aku suamimu dan kau adalah istriku." jawab Henry.
"Ivy, jangan percaya dengannya! Ayo kita pulang! Daddy akan segera membawamu pulang ke Canada." Josep masih memegang tangan putrinya tapi siapa sangka, Ivy berusaha menarik tangannya dari pegangan ayahnya dan hal itu membuat Josep dan Marlyn tercengang.
Ivy kembali berusaha mengangkat tangannya dan pada saat itu, Henry memegangi tangannya dan mengusapnya.
"Jika begitu, jangan tinggalkan aku karena aku takut." pinta Ivy. Entah mengapa dia merasa aman jika ada pria itu, dia tidak tahu apa yang dikatakan oleh pria itu benar atau tidak tapi dia ingin dekat dengannya karena berkat pria itu, dia bisa sadar dari tidur panjangnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Ivy, tidak akan." Henry menunduk dan mencium dahi Ivy sedangkan Josep dan Marlyn diam saja menyaksikan semuanya, bahkan saat hilang ingatanpun Ivy lebih memilih orang lain dibandingkan mereka yang adalah orang tua kandungnya. Apa Ivy begitu benci dengan mereka?
Sepertinya kesalahan yang telah mereka perbuat sudah begitu membuat putrinya kecewa. Marlyn hanya bisa menangis karena Ivy lebih memilih orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SALAH KALIAN SENDIRI YG TDK PRNH DEKAT, DN TDK PRNH BRIKAN PRHATIAN KE ANAK2 KALIAN..
2024-05-24
1
ꪶꫝ🥀⃞oktavia ariani🔮S⃟M•
itu karma buat kalian yg lbih mmntingkan karier dripada anak2 nya
2023-11-21
1
Ida Lailamajenun
siapa yg nyaman dan merasa aman itu lah yg dipilih Ivy wlpn ada kedua ortu nya Krn selama ini kedua ortunya gk perduli sama kedua anaknya.
mumpung amnesia ya Henry jadi ngaku suami aja la daripada Ivy kabur lagi😀😀😀
2022-08-24
0