Samar-samar Ivy dapat mendengar suara seseorang sedang berbicara dengannya dan memintanya untuk segera bangun dari tidurnya.
Dia sangat ingin membuka matanya untuk melihat orang yang berbicara dengannya karena suara orang itu hampir setiap hari dia dengar.
Siapa? Siapa sebenarnya yang berbicara dengannya? Matanya terasa berat untuk dibuka bahkan dia merasa sulit untuk bergerak.
Tubuhnya bagai terbelenggu dan bagaikan terikat sebuah rantai. Dia benar-benar ingin membuka matanya yang terasa berat untuk melihat orang itu tapi tidak bisa.
Ivy bahkan dapat merasakan sentuhan tangan yang mengusap wajahnya dan orang itu Kembali berkata ditelinganya.
"Ivy Brown, segera bangunlah sayang." ucap orang itu bahkan dia bisa merasakan sentuhan lembut dipipinya karena saat itu Henry kembali mencium pipinya.
Rasanya dia ingin mengeluarkan sepatah kata tapi benar-benar terasa sangat sulit bahkan mulutnya terasa terkunci.
"Ivy, jangan pergi menyusul adikmu karena aku membutuhkanmu." ucap Henry lagi.
"Adik?" tanpa disadari air mata Ivy mengalir begitu saja dan pada saat melihatnya, Henry langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Ivy.
Dialam bawah sadarnya, entah mengapa saat mendengar perkataan 'Adik' membuat Ivy sangat sedih, dia tidak bisa mengingat apapun tapi kenapa saat mendengar kata 'Adik' membuatnya merasa sedih?
Dua orang dokter masuk kedalam ruangan itu dan mulai memeriksa keadaan Ivy, setidaknya ini hal baik karena Ivy sudah mulai bisa merespon ucapan seseorang.
Henry juga senang, Ivy sudah menunjukkan sedikit reaksi yang bagus dan dokter yang memeriksa Ivy meminta Henry untuk terus berkomunikasi dengan Ivy.
Henry bahkan menghubungi kedua orang tua Ivy supaya mereka datang dan tentu saja Josep Brown dan istrinya langsung pergi ke Colorado.
Setelah kepergian dokter yang memeriksa keadaan Ivy, Henry kembali duduk disamping Ivy dan memegangi tangannya.
Dia tidak tahu apa yang harus dia bicarakan karena mereka tidak punya kenangan apa-apa tapi dia akan mencoba berbicara dengan Ivy.
"Ivy, aku tidak tahu kenapa kau lebih memilih tidur begitu lama dan tidak mau segera sadar, apakah kau menyalahkan dirimu atas apa yang menimpa adikmu sehingga kau memilih tidur? Atau kau memang tidak mau bangun lagi dari tidurmu?" Henry mengusap tangan Ivy dan Ivy dapat mendengar ucapannya.
"Satu setengah tahun telah berlalu Ivy, kedua orang tuamu sudah putus asa bahkan ibumu mulai sakit-sakitan." saat mengatakan hal itu lagi-lagi air mata Ivy kembali mengalir.
Dialam bawah sadarnya, dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Henry tapi entah mengapa dia merasa sedih.
"Harus kau tahu, orang yang melakukan hal ini padamu sangat menikmati kehidupannya diluar sana sedangkan kau? Kau menghabiskan waktumu satu tahun lebih dengan terbaring disini dan membiarkan orang itu senang. Apa kau tidak mau membalas kematian adikmu, Ivy? Kau pasti melihat semuanya bukan?! Kau pasti melihat kejadian yang adikmu alami dan kau pasti tahu pelakunya, apa kau tidak mau segera sadar dan menegakkan keadilan untuk adikmu, Ivy?"
Henry mengusap tangan Ivy, mencium punggung tangannya bahkan meletakkan telapak tangan Ivy kewajahnya.
"Segeralah sadar sayang, aku sudah tidak sabar menjadikanmu milikku dan aku sudah tidak sabar melewatkan hari-hariku denganmu walaupun kau menganggapku seperti serigala dan kau memang kelinci buruanku!"
Setelah berkata demikian, Henry diam saja karena tidak ada yang bisa dia katakan lagi dan dia berharap Ivy dapat mendengar ucapannya.
Dia seperti itu cukup lama sampai kedua orang tua Ivy datang karena perjalanan dari Canada menuju Colorado tidaklah jauh.
Setelah orang tua Ivy datang, Henry segera pamit pergi karena dia harus pergi kekantor dan tentunya sebelum dia pergi, dia mencium dahi Ivy dan kembali berbisik ditelinga Ivy, memintanya untuk segera sadar.
Saat Henry pergi waktu menunjukkan pukul setengah satu siang dan kedua orang tua Ivy duduk disamping putrinya dan mulai berbicara dengan Ivy.
Itu mereka lakukan agar Ivy segera Sadar apalagi dokter yang memeriksa keadaan Ivy meminta mereka untuk terus berkomukasi dengan Ivy.
Walaupun Ivy koma, tapi anggota tubuhnya yang lain dapat merespon dan dapat mendengar seseorang berbicara dengannya dan tadi adalah reaksi yang sangat bagus yang ditunjukkan oleh Ivy.
Selama satu setengah tahun Ivy tidak menunjukkan reaksi apapun walaupun seseorang berbicara dengannya dan baru kali ini, dia bisa mengeluarkan air mata saat mendengar ucapan seseorang dan ini kemajuan yang sangat bagus dan kemungkinan Ivy bisa segera sadar.
Josep dan Marlyn terus berbicara dengan putrinya, mereka membicarakan masa-masa yang mereka lewati, masa kecil Ivy dan bagaimana dengan Ivy dulu.
Banyak yang mereka bicarakan dan terkadang mereka berbisik ditelinga Ivy, mereka benar-benar sangat berharap putri mereka bisa segera sadar.
Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Marlyn dan Josep meninggalkan putri mereka untuk mencari makanan dan seorang perawat masuk kedalam untuk mengecek keadaan Ivy.
Setelah selesai perawat itu Keluar dan tanpa ada yang tahu karena saat itu Henry baru keluar dari kantornya dan menuju rumah sakit untuk menjenguk Ivy seperti yang biasa dia lakukan.
Pada saat itu, Ivy membuka matanya perlahan, sunyi yang dia dapat dan hanya terdengar suara monitor yang mendeteksi detak jantungnya saja yang berbunyi.
Ivy diam saja tapi matanya mencari, mencari sosok yang terus berbicara dengannya. Dia bisa mengingat suara berat dan seksi suara seorang pria karena suara itulah yang mulai menyadarkan dirinya.
Perawat tadi kembali lagi dan masuk kedalam karena dia ingin memasang infus baru untuk pasien, perawat itu sangat kaget saat melihat pasien sudah sadarkan diri dan segera kembali berlari keluar untuk memanggil dokter.
Tidak lama kemudian dua orang dokter masuk kedalam ruangan itu dengan tergesa-gesa, mereka mulai memeriksa keadaan Ivy dan mulai mengajak Ivy berbicara.
"Nona, apa nona tahu siapa nama nona?" tanya dokter itu tapi Ivy diam saja tidak menjawab apapun.
"Nona, bisa kau katakan benda apa ini?" dokter itu memberikan sebuah senter untuknya tapi lagi-lagi Ivy hanya melihatnya tanpa menjawab.
Kedua dokter saling pandang karena pasien tidak menjawab mereka, seharusnya pasien bisa berbicara walaupun mengalami koma yang cukup lama apalagi koma yang dialami pasien baru satu setengah tahun.
Pada saat itu, Henry masuk kedalam ruangan itu dan sangat heran melihat dua orang dokter sedang berdiri disisi Ivy.
Henry jadi khawatir, apa terjadi sesuatu dengan Ivy?
"Ada apa dengannya?" tanyanya dan dia melangkah mendekati Ivy.
Saat mendengar suara Henry, Ivy langsung melihat kearah pria itu, dia sungguh tidak mengenalnya tapi suara inilah yang selalu dia dengar.
Henry sangat kaget melihat Ivy yang sudah sadar dan tentunya dia begitu senang.
"Ivy." Henry mendekati Ivy dan memegangi tanyanya.
"Ka...kau?"
"Ya?" Henry melihat Ivy dengan heran.
"Si...siapa? dan aku, siapa?" tanya Ivy.
Kedua dokter yang ada disana kembali memeriksa keadaan Ivy, walaupun sudah ditanya beberapa kali tapi tetap saja Ivy tidak Ingat siapa dirinya bahkan saat kedua orang tuanya kembali, Ivy tidak mengenal mereka sama sekali.
Ivy dinyatakan amnesia dan ini adalah problem baru untuk mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
ꪶꫝ🥀⃞oktavia ariani🔮S⃟M•
haduh, semoga ingatannya sgra baik
2023-11-21
1
Indah Milayati
aku suamimu,,hahah
2023-09-05
1
uti
❤️❤️❤️❤️❤️❤️😍😍👍👍👍👍👍
2021-10-25
7