Hari itu terjadi sebuah kehebohan dimana sebuah mobil Sedan berwarna merah diangkat dari dasar jurang.
Mobil berwarna merah itu hancur tak berbentuk sedangkan pengemudi yang ada didalam mobil sangat mengenaskan.
Yang lebih mengejutkan ternyata yang ada didalam mobil itu adalah Ivy Brown dan dalam sekejap mata saja para reporter mulai berdatangan untuk meliput kejadian itu.
Tidak hanya itu saja, rumah Ivy sudah dipenuhi oleh polisi untuk mengevakuasi mayat yang ada disana.
Para detektif yang memeriksa kejadian itu mengambil kesimpulan jika rumah Ivy Brown dimasuki oleh sekelompok penjahat tapi sayangnya tidak ada bukti dan saksi karena semua yang ada didalam rumah mati dan Cctv yang ada sudah dirusak. Sekarang saksi satu-satunya hanya Ivy Brown saja, tapi kondisinya?
Dengan pengawalan ketat, Ivy dibawa kerumah sakit dan para wartawan dilarang untuk mengikuti mobil Ambulan yang membawa tubuh Ivy.
Agensi tempat Ivy bekerja membawa Ivy kerumah sakit yang ada dikota itu dan merahasiakan identitas Ivy bahkan Chloe sangat kaget mendapat kabar, jika Ivy mengalami hal seperti itu.
Polisi segera menghubungi keluarga Ivy Brown dan pada saat mendapat kabar tersebut, Marlyn dan Josep Brown sangat shock dan terpukul karena mendapat kabar jika putri bungsu mereka telah dibunuh sedangkan putri sulung mereka mengalami kecelakaan hebat.
Mereka begitu sibuk sampai tidak bisa menjawab panggilan dari Ivy dan mereka tidak menyangka, jika Ivy menghubungi mereka karena sedang menghadapi situasi yang sulit.
Hal itu benar-benar membuat Marlyn dan Josep sangat menyesal dan mereka langsung menuju Colorado.
Kabar itu juga sangat mengejutkan Henry karena sejak pagi, berita artis terkenal Ivy Brown mengalami kecelakaan hebat dan rumahnya di masuki oleh beberapa penjahat.
Henry setia duduk didepan televisi mencari tahu Ivy dibawa kemana tapi tidak ada satu reporterpun yang mengatakan dimana tubuh Ivy dibawa.
Dia mulai gusar dan mulai bosan, lebih baik dia mencari Ivy Brown sendiri dari pada melihat berita yang tidak akan memberi jawaban untuknya.
Sementara dirumah sakit, Ivy ditangani oleh beberapa tenaga medis. Banyak tulangnya yang retak bahkan tangan dan kaki kanannya juga patah, tidak hanya itu, benturan yang dia dapat mengakibatkan kepalanya mengalami pendarahan dan ada gumpalan darah diotaknya.
Tubuhnya dipenuhi dengan pecahan kaca dan dia tidak sadarkan diri, beberapa alat terpasang ditubuhnya dan perban tampak melilit hampir disemua anggota tubuhnya.
Saat Marlyn dan Josep Brown tiba dirumah sakit dan melihat kondisi putri mereka, Merlyn berteriak histeris dan segera menghampiri putrinya yang tidak berdaya.
"I..Ivy, Ivy." Marlyn memanggil putrinya dengan suara bergetar.
Tangannya mengusap wajah putrinya yang tampak lebam dan sebuah selang untuk membantu bernafas terpasang dimulut putrinya.
"Ivy, maafkan mommy, maafkan." pinta Marlyn sambil berderai air mata.
Hal itu juga tidak jauh berbeda dengan Joseph, dia melihat putrinya yang terbaring diatas ranjang dengan perasaan hancur.
Air matanya mengalir dan dia segera mendekati istrinya dan memegangi tangannya.
"Ke..Kely? Dad, dimana Kely?" tanya Marlyn saat dia teringat dengan putri bungsunya.
Saat itu seorang detektif masuk kedalam ruangan dimana Ivy dirawat, detektif itu segera menghampiri Josep Brown Karena ingin berbicara dengannya.
"Josep Brown?" tanya detektif itu.
"Benar, aku Josep." Josep segera menghampiri detektif itu.
"Apa? Apa yang terjadi dengan kedua putriku?" Marlyn bertanya dengan suara bergetar.
"Nyonya, ini baru perkiraan. Rumah putri anda dimasuki oleh beberapa penjahat. Para penjaga dan pelayan ditembak mati dan putri bungsu anda?" detektif itu menghentikan ucapannya.
"Apa yang terjadi dengannya, apa?" Merlyn tampak frustasi.
"Menurut penyelidikan, sebelum dibunuh, putri bungsu anda diperkosa terlebih dahulu tapi kami masih menunggu hasil visum dari rumah sakit untuk memastikan kebenarannya." jelas detektif itu.
Tubuh Marlyn langsung terduduk diatas lantai, Kely diperkosa?
"Siapa? Siapa yang begitu tega melakukan hal ini kepada putri kami?" Marlyn menekuk kedua kakinya dan menggigiti kuku jarinya.
Ini kejadian yang tidak pernah diduga sama sekali, seandainya dia lebih perhatiin kepada kedua putrinya?
"Marlyn." Josep berusaha menenangkan istrinya yang mulai bergumam tidak jelas.
"Tuan, siapa yang melakukan hal ini kepada putri kami?" Josep bertanya kepada detektif itu.
"Maaf tuan Brown, kami masih menyelidikinya. Kejahatan ini dilakukan dengan bersih, tidak ada bukti dan semua yang ada didalam rumah mati sehingga tidak ada saksi tapi?" detektif itu melihat kearah Ivy Brown yang tampak tidak berdaya diatas ranjang.
"Putri anda satu-satunya saksi yang ada dan jika dia sadar nanti kemungkinan pelakunya akan terungkap."
"Tidak! Kely tidak boleh mati!" tiba-tiba saja Marlyn Brown bangkit berdiri dan berteriak demikian.
"Marlyn!" Josep berusaha memeluk istrinya dan menenangkannya.
"Tidak, Kely, aku ingin bertemu dengannya." pinta Marlyn sambil berderai air mata.
"Putri anda ada dikamar mayat, ayo ikut denganku." ajak detektif itu.
Josep dan Marlyn mengikuti langkah detektif itu menuju kesebuah ruang mayat, perasaan mereka tidak menentu saat mereka masuk kedalam.
Seorang petugas yang berjaga disana membawa mereka mendekati sebuah ranjang, dimana disana tampak sesosok tubuh ditutupi dengan kain putih.
Marlyn mendekati ranjang dengan air mata berderai dan dengan perlahan, dia mulai membuka kain putih yang menutupi tubuh Kely.
Marlyn berteriak histeris saat melihat putrinya yang sudah kaku tidak bernyawa.
"Ke..Kely, tidak, tidak! Bangun sayang, ini mommy. Bangunlah dan kita pulang, mommy berjanji akan menjaga kalian dan tidak mengabaikan kalian lagi." ucap Marlyn dan dia terus menangis tapi Kely diam saja karena sudah tidak bisa menjawab ucapan ibunya.
"Kely kenapa kau diam saja? Ayo bangunlah dan kita pulang. Mommy akan mengendongmu pulang jadi ayo." Marlyn berusaha mengangkat tubuh putrinya yang tidak bernyawa.
"Marly, apa yang kau lakukan?" Josep menahan keinginan istrinya.
"Jangan menghalangiku Josep, aku akan membawa Kely pulang dan kau gendong Ivy pulang. Mulai sekarang aku akan memberikan seluruh waktuku untuk mereka dan aku tidak perduli lagi dengan perusahaan. Aku akan mendukung karir Ivy supaya dia tidak pergi lagi dan aku akan selalu ada buat Kely." ucapnya.
Seandainya mereka mendukung impian putri sulung mereka, Ivy pasti tidak akan pergi dari rumah dan seandainya dia selalu meluangkan waktu untuk putrinya, Kely pasti tidak akan pergi mengikuti kakaknya. Semua ini terjadi karena mereka selalu tidak punya waktu untuk kedua putri mereka.
"Ayo Josep, kita bawa anak-anak kita pulang. Aku yang akan mengendong Kely dan kau akan menggendong Ivy." ucap Marlyn.
"Marlyn, kau gila! Kely sudah tidak bisa pulang lagi bersama dengan kita!"
"Diam!" teriak Marlyn dan dia memandangi wajah Kely bahkan mengusap Wajah putrinya yang dingin.
"Kely sayang, ikut mommy pulang ya. Mommy berjanji akan selalu menemanimu." ucapnya sambil mencium pipi putrinya.
Josep menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Marlyn, jangan seperti ini! Putri kita sudah tiada."
"Diam kau Josep, diam! Kely dan Ivy hanya tidur saja! Mereka hanya sedang tidur!" Marlyn berusaha mendorong tubuh suaminya bahkan dia berusaha menggendong tubuh Kely karena dia akan membawa kedua putrinya pulang.
Para penjaga kamar mayat mulai menahan keinginan Marlyn, mereka menangkap Marlyn karena Marlyn benar-benar akan menggendong jenazah putri bungsunya.
Marlyn memberontak dan berteriak histeris, apalagi saat tubuh Kely dimasukkan kedalam ruangan pendingin, dia semakin berteriak histeris.
Josep hanya bisa menenangkan istrinya dan memeluknya sedangkan Marlyn hanya bisa menangis didalam pelukannya. Seandainya sewaktu Ivy mengutarakan niatnya untuk menjadi artis dan mereka tidak mencegah tapi mendukung keinginan Ivy, maka Ivy tidak akan pergi dan kejadian ini tidak akan pernah terjadi dan seandainya mereka tidak sibuk sepanjang hari dengan perusahaan yang mereka bangun dan lebih memperhatikan kedua putri mereka, mungkin semua ini tidak akan terjadi tapi, apa waktu bisa diulang kembali?
Sekarang mereka sangat menyesal, disaat mereka sibuk mengejar materi tapi mereka mengabaikan orang yang paling berarti yaitu anak-anak mereka. Seandainya mereka diberi kesempatan satu kali lagi? Tapi kesempatan itu sudah tidak ada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SDH MATI BARU DITANGISI, WAKTU HIDUP GK PRNH PERHATIAN, HNY SIBUK DGN URUSAN DUNIA & BISNIS,, INGAT, WAKTU YG PLING BRHARGA ITU ADALAH SAAT KITA TENGAH BRSAMA KLUARGA KITA, .. KRN MOMENT2 ITU TKKN PRNH TRULANG KMBALI..
2024-05-24
1
nita123
telat
2023-11-08
1
Indah Milayati
ah pembelajaran hidup
2023-09-05
0