Ivy melangkah mundur dan tanpa sengaja, kakinya menyentuh kamera yang ada diatas lantai. Dia melihat kamera itu sejenak dan melihat adiknya yang terus menangis dan tidak berdaya.
Jika dia mengikuti permintaan pria itu, apa ada jaminan adiknya tidak dibunuh? Apa jika dia memainkan satu film panas yang diinginkan oleh pria itu kehormatan adiknya akan kembali lagi?
Jika pun mereka dilepaskan nanti dan tetap hidup, hidup mereka pasti hancur apalagi saat film panas yang mereka mainkan sampai tersebar luas. Sudah dipastikan mereka akan menjadi bahan cemooh dan kedua orang tua mereka malu berat dan yang lebih penting, Kely pasti akan hancur dan trauma.
"Cepat ambil keputusanmu Ivy Brown!" bentak sutradara itu sedangkan orang-orang yang kepalanya dipukul oleh Ivy, mulai bangkit berdiri sambil memegangi kepala mereka.
"Kak, ja..jangan!" pinta Kely sambil menggeleng lemah.
Air mata Ivy kembali mengalir, keputusan sulitpun dia ambil.
"Maafkan kakak, Kely, maafkan kakak." ucapnya sambil berderai air mata dan pada saat itu juga, dia memukul kamera yang ada diatas lantai sampai hancur dan pada saat melihat itu, sang sutradara sangat marah.
"Sialan jangan rusak kameraku!" bentaknya.
Sia-sia sudah adegan yang telah diambil karena kamera itu sudah hancur apalagi dia belum menyimpan adegan yang tadi dia ambil. Sutradara itu sangat marah dan hendak menghampiri Ivy tapi pada saat itu, Kely menangkap tangan sutradara yang memegangi pistol dan berteriak.
"Kak Ivy, lari!"
Ivy menggeleng sambil berderai air mata.
"Kak, cepat selamatkan dirimu!" pinta adiknya.
Ivy kembali melangkah mundur dan memandangi adiknya, sungguh dia sangat hancur melihat keadaan adiknya.
"Sialan jangan biarkan dia lari jika tidak kita akan habis! Gadis ini menggangu saja!" sutradara itu menarik tangannya dari genggaman Kely dan mengarahkan pistolnya.
"Tidak, jangan!" teriak Ivy tapi pada saat itu, peluru sudah melesat keluar karena benda itu telah ditembakkan.
Dua orang mulai menangkap tangan Ivy dan Ivy berteriak histeris saat melihat timah panas mengenai adiknya dan benda itu bersarang dikepala adiknya.
"Kely!!" teriakan Ivy begitu menyayat hati sedangkan tubuh Kely meronta diatas ranjang karena merenggang nyawa.
"La...ri!" itu ucapan terakhir Kely dan setelah itu, dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Ivy kembali memberontak, mencoba memukulkan tongkat yang ada ditangannya seperti orang gila sambil berteriak histeris sedangkan kedua orang yang memeganginya kewalahan dan pegangan mereka terlepas.
Sebelum melarikan diri, Ivy memandangi wajah adiknya yang sudah tidak bernyawa dan setelah itu dia membuang tongkatnya dan berlari keluar dengan air mata berderai.
Senjata api mulai ditembakkan kearahnya tapi meleset dan mengenai pintu.
"Kejar! Jangan sampai dia kabur!" teriak sutradara itu.
Ivy meraih kunci mobil dan ponselnya yang ada diatas meja, dengan bertelanjang kaki dia berlari keluar menuju parkiran.
Dia kira kunci mobil sport yang dia ambil ternyata dia salah. Tapi dia tidak punya waktu lagi jika tidak dia akan tertangkap dan kematian adiknya menjadi sia-sia.
Ivy segera menghampiri mobilnya yang lain, dia masuk kedalam sana dan membawa benda itu menembus derasnya air hujan.
Petir terus menyambar dari atas sana dan suaranya terus menggelegar, Ivy membawa mobilnya dengan air mata yang terus mengalir dan dengan tangan gemetar, Ivy menyalakan ponselnya untuk menghubungi kedua orang tuanya.
Dia mencoba menghubungi ibunya tapi tidak dijawab sama sekali.
"Mom, please. Dimana kalian disaat seperti ini?!" ucapnya dengan suara bergetar.
Ivy menghapus air matanya dengan kasar, hujan yang turun dengan lebat membuat jalanan sepi apalagi ini sudah tengah malam.
Dia kembali mencoba menghubungi ibunya tapi lagi-lagi tidak dijawab, tidak ingin berputus asa, Ivy menghubungi ayahnya tapi ponsel ayahnya juga tidak dijawab.
"Damn!" Ivy melemparkan ponselnya dan menghapus air matanya.
Wajah adiknya kembali terbayang dan dia merasa sangat bersalah.
"Kely..maafkan kakak, maafkan kakak." gumamnya dan lagi-lagi dia menghapus air matanya.
Ivy membawa mobilnya tanpa tujuan dan pada saat itu?
"Bruak!" sebuah mobil menabrak mobilnya dengan keras dari belakang hingga membuat mobil Ivy berputar dijalanan yang basah dan licin.
Ivy berteriak dan mencoba mengendalikan stir mobil agar mobilnya dapat berjalan dengan stabil.
Setelah mobilnya kembali stabil, Ivy menginjak gas mobilnya dengan kencang sedangkan mobil dibelakangnya kembali mengejarnya.
Siapa? Siapa yang tega melakukan hal ini? Dia tahu sutradara film panas itu tapi tidak mungkin pria itu melakukan hal ini tanpa diminta oleh seseorang.
Dia merasa tidak ada musuh selama ini tapi siapa yang membencinya dan menyimpan dendam padanya.
"Bruak!" lagi-lagi mobilnya ditabrak dari belakang.
Ivy semakin memacu kendaraannya sampai maksimal tapi lagi-lagi mobil dibelakang mengejarnya, karena perbedaan mobil membuat mobilnya kalah cepat dari mobil penjahat. Seadainya dia mengambil kunci mobil sportnya tadi?
Aksi kejar mengejar terus terjadi dijalan yang sunyi, air hujan semakin mengguyur dengan deras membuat jarak pandang semakin minim.
Sutradara itu mulai gusar dan jangan sampai Ivy bisa melarikan diri jika tidak, mereka akan mendekam didalam penjara untuk seumur hidup mereka.
"Tembak mobilnya!" perintahnya.
Anak buahnya mengangguk dan mulai menembak mobil Ivy sedangkan Ivy sangat kaget, saat kaca bagian belakang mobilnya pecah akibat terkena tembakan.
Tapi dia terus membawa mobilnya dan dalam kepanikan, Ivy mencoba meraih ponsel yang dia lemparkan tadi.
Dia harus meminta tolong kepada seseorang, harus! Saat hendak mendapatkan ponselnya, lagi-lagi mobilnya ditabrak dari belakang.
Tubuh Ivy sedikit terhuyung kedepan tapi ponsel yang hendak dia raih malah jatuh kebawah.
Ivy mengumpat kesal dan kembali memegangi stir mobilnya dan lagi-lagi mobilnya ditembak.
Tembakkan terus mengenai badan mobilnya dan pada saat itu? Sebuah peluru mengenai ban mobilnya hingga pecah.
Mobil Ivy mulai berjalan tidak karuan dan Ivy berusaha membawa mobilnya yang sudah tidak seimbang. Mata Ivy melotot saat melihat sebuah tikungan tajam yang ada didepannya, Ivy menelan ludahnya dengan kasar dan memutar stir mobilnya dan?
"Bruak!!" badan mobilnya membentur pembatas jalan dan tidak hanya itu, mobil yang mengejarnya semakin mendekat dan akan menabrak mobilnya.
Ivy melihat mobil itu dengan tidak berdaya, kepalanya sakit karena terbentur sedangkan mobilnya sudah hancur. Dia mulai memejamkan matanya saat mobil itu mulai menabrak mobilnya dengan kencang.
"Bruak!" Mobil Ivy langsung terdorong dan terguling kebawah sana karena dibawa sana ada sebuah jurang yang cukup curam.
Mobilnya terus terguling sedangkan Ivy sudah tidak sadarkan diri karena terkena benturan demi benturan. Mobilnya berhenti berguling saat mengenai sebuah pohon besar yang ada dibawah sana.
Orang-orang yang mengejarnya keluar dari mobilnya dan melihat kebawah sana dimana mobil Ivy tidak terlihat karena jurang yang gelap.
"Aku rasa dia sudah mati!" ucap sutradara itu dan dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Ivy telah mati!" ucapnya pada orang yang ada disebrang sana.
"Bagaimana bisa?" orang itu sangat kaget.
"Dia melarikan diri dan jatuh kebawah jurang!"
"Bodoh, kenapa bisa begitu?!"
"Pokoknya aku tidak mau terlibat jika sampai polisi mengusut kasus ini!" ucap sutradara itu.
"Hei kau pikir aku mau jadi tersangka?!" teriak orang itu dari seberag sana.
"Aku jadi rugi kau tahu? Anak buahku terluka, kamera dan mobilku rusak!"
"Sudahlah, segera pergi dari sana dan masalah itu, aku akan membayarmu!"
"Baiklah, kita bicara lagi!" setelah mengakhiri pembicaraan itu, sang sutradara mengajak anak buahnya pergi sebelum ada yang datang dan melihat sedangkan orang yang ingin menghancurkan Ivy tertawa terbahak-bahak dan melompat girang. Akhirnya Ivy Brown mati dan dia sangat puas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
MakBarudakh
Sakit hati bacanya...
samai ga terasa Mak pun 😭😭😭
2023-11-22
1
🌈Yulianti🌈
kasian key duh bacanya maraton bisa" begadang sama entun ini MH mljum nya
2023-10-05
0
Ida Lailamajenun
duuuh jadi sport jantung..
2022-08-24
0