Langit kota Colorado begitu cerah hari ini, Ivy tampak sedang membaca naskah yang sedang dipegangnya.
Tentu saja dia akan kembali memperlihatkan kemampuannya didepan kamera dan dia akan melakukan yang terbaik.
Saat Ivy sedang serius membaca naskah, George berjalan kearahnya dan duduk disampingnya.
"Ivy."
Ivy hanya menatap George sejenak tapi kemudian dia kembali membaca naskah yang dipegangnya dan mengabaikan George.
"Ivy, kenapa sikapmu begitu terhadapku?" George mulai kesal karena Ivy mengabaikannya.
"George, aku sedang membaca naskah ini, bisakah nanti saja kita berbicara?!" Ivy memalingkan matanya dari naskahnya dan menatap George dengan tajam.
"Maaf Ivy, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu jadi bisa minta waktumu sebentar saja?" pinta George.
"Katakan." jawab Ivy dengan malas.
"Ivy." George mulai memegangi tangan Ivy sedangkan Ivy menatap George dengan penuh tanda tanya, mau apa?
"Lepaskan George, ini lokasi syuting, jangan sampai ada yang melihat dan jadi salah paham!" Ivy menarik tangannya dari genggaman George.
George tampak kecewa dan kesal tapi memang disana sedang banyak orang dan mungkin Ivy jadi tidak nyaman.
"Baiklah Ivy, setelah syuting, bisakah kita berbicara berdua? Aku sungguh ingin membicarakan hal serius denganmu." pinta George.
"Baiklah." jawab Ivy dengan senyum diwajahnya.
"Jika begitu aku akan menunggumu diparkiran."
Ivy mengangguk sedangkan George tampak begitu senang, setidaknya Ivy menyetujui permintaannya dan mau berbicara dengannya.
Pada saat itu, sutradara memanggil mereka karena mereka harus melakukan akting mereka dimana Ivy harus berperan sebagai Ana kembali dimana dia harus terbaring dirumah sakit dengan kondisi mengenaskan dimana dia Selamat dan jatuh keatas sungai Arkansas sewaktu dia melompat dari atas jembatan Royal Gorge Bridge and Park.
Ivy mulai bersiap-siap untuk memulai akting mereka begitu juga dengan George, dia merasa sudah tidak sabar agar pekerjaan mereka cepat selesai karena dia sudah tidak sabar ingin berbicara dengan Ivy.
Saat memulai aktingnya, Ivy bersikap profesional bahkan dia tidak perlu banyak mengulang adegan yang dia mainkan, jika dia sedang berakting maka dia akan masuk kedalam peran yang dia mainkan bahkan saat dia sedang menjadi Ana yang terbaring tidak berdaya, dia bisa memerankannya dengan baik.
Dia melakukan aktingnya dengan baik dan tanpa merasa lelah karena dia sangat mencintai pekerjaannya.
Syuting yang dijalankannya berakhir saat jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ivy berada diruang ganti saat managernya masuk kedalam ruangannya.
"Ivy, dua hari lagi kau harus menghadiri sebuah acara pesta jam tujuh malam." ucap managernya.
"Apakah aku harus datang kesana?" tanyanya sambil membersihkan make up yang ada diwajahnya.
"Tentu Ivy, ini undangan langsung dari seseorang dan kau harus datang! Disana banyak pengusaha dan ini akan jadi kesempatan bagus untukmu." jawab managernya.
"Hmm." Ivy hanya menjawab dengan malas.
Banyak pengusaha? Jujur saja dia tidak perduli dengan para pengusaha itu karena dia bukan seorang penjilat. Tapi dia akan menghadiri acara itu demi reputasinya.
"Nanti kita akan pergi bersama."
"Tentu, apa pekerjaanku setelah ini?"
"Satu jam lagi kau harus menghadiri sebuah Reality Show disebuah stasiun televisi."
Ivy tampak berpikir sejenak, satu jam lagi? Dia masih punya waktu dan sepertinya dia harus menemui George dan mungkin saja pria itu sudah menunggunya.
"Aku mau keluar sebentar." Ivy bangkit berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya managernya.
"Aku ingin bertemu dengan George sebentar Chloe."
"Segeralah kembali Ivy karena kita tidak boleh terlambat." Chloe mengingatkan.
"Pasti, aku tidak akan lama."
Chloe mengangguk sedangkan Ivy keluar dari ruangannya, saat dia keluar seseorang melihatnya dari kejauhan dan mata orang itu memandangnya dengan penuh kebencian.
Bahkan orang itu mengikuti langkahnya secara diam-diam menuju parkiran yang ada ditempat itu dan Ivy tidak tahu sama sekali.
Diparkiran, tampak George bersandar dibadan mobilnya dan menghisap rokoknya, dia sudah menunggu Ivy sedari tadi.
Ivy melihat sekelilingnya, dia khawatir ada paparazi yang mengikutinya, jangan sampai pertemuan ini menjadi skandal nantinya.
Begitu melihatnya George tampak senang, dia membuang puntung rokoknya kebawah dan menginjaknya dan setelah itu, dia tersenyum dengan menawan kearah Ivy.
"Maaf George membuatmu menunggu." ucap Ivy basa basi.
"Tidak apa-apa Ivy, aku juga baru tiba." jawab George sedikit berdusta.
"Ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan George?"
"Ivy, bagaimana jika kita bicarakan ditempat lain?"
"Maaf George, aku tidak punya banyak waktu karena setelah ini aku ada pekerjaan jadi katakan padaku, hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ivy tanpa basa basi.
"Oke baiklah, Ivy?" George mendekati Ivy yang berdiri tidak jauh darinya dan memegangi tangannya.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu sejak dulu." ucap George.
Ivy terbelalak kaget tapi kemudian, dia menarik tangannya dari pegangan tangan George.
"Maaf George, aku?"
"Kenapa?" George menyela ucapan Ivy karena dia tidak mau ada penolakan.
"George, aku belum mau menjalani hubungan dengan siapapun karena aku masih ingin fokus dengan karirku saat ini."
"Tapi kita bisa menjalin hubungan tanpa mempengaruhi karir kita!" George tidak terima ditolak oleh Ivy.
"George, bukan itu masalahnya."
"Lalu?"
"Aku benar-benar ingin fokus dengan karirku dan belum mau menjalin hubungan dengan siapapun karena aku tidak mau ada skandal diantara kita nanti yang membuat adikku terlibat."
"Memangnya apa hubungannya dengan adikmu?" George menatap Ivy dengan penuh tanda tanya.
"Kau tahu? Jika kita berpacaran dan tiba-tiba membuat skandal, maka para paparazi akan melakukan apapun untuk mendapatkan berita tentang kita dan bisa saja mereka mendatangi adikku untuk mendapatkan berita yang mereka mau jadi aku tidak ingin adikku terganggu dengan skandal yang kita buat nanti karena dia sedang fokus dengan studynya." jelas Ivy panjang lebar.
"Kita bisa pacaran diam-diam." tanpa Ivy duga, George menariknya dan memeluknya. Ivy sangat kaget dan segera mendorong tubuh George dengan cepat.
"George, bagaimana jika ada paparazi!" Ivy langsung melihat sekitarnya.
"Jangan khawatir Ivy, disini sepi." George kembali memegangi tangan Ivy tapi Ivy langsung menepis pegangan tangan George.
"Maaf George, aku tidak bisa membalas perasaanmu." ucap Ivy sambil memundurkan langkahnya.
George tampak kecewa, padahal dia berharap Ivy menerima pernyataan cintanya tapi ternyata? Dia tidak terima!
"Kenapa Ivy? Apa kekuranganku sampai kau menolakku?"
"Tidak ada George, kau tidak kurang apa-apa! Kau tampan, kau juga seorang aktor terkenal dan juga banyak uang tapi?" Ivy memeluk lengannya dan memalingkan wajahnya.
"Apa?" George mulai tidak sabar.
"Maaf George, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku saja tidak lebih. Aku tidak punya perasaan denganmu jadi maaf." jawab Ivy dengan jujur.
Dia tidak mau membuat George berharap padanya tapi dia tidak tahu, penolakannya telah membuat perasaan George terluka dan saat itu George sedang mengepalkan kedua tangannya.
"Ivy apa aku begitu buruk dimatamu?" George benar-benar tidak terima, apa kekurangan yang ada pada dirinya sampai Ivy menolak cintanya?
"Tidak George, kau begitu sempurna tapi maaf." Ivy masih membuang pandangannya dan tidak mau menatap George.
"Ivy, beri aku kesempatan." George memegangi kedua bahu Ivy.
"Maaf George, aku tidak mau membuatmu berharap padaku jadi maaf." Ivy masih menolak karena dia memang tidak punya perasaan dengan George.
George benar-benar kesal, dia memegangi dagu Ivy hendak mencium bibirnya tapi pada saat itu, Ivy mendorong tubuh George dengan sekuat tenaga dan tampak marah.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Jadilah milikku Ivy!"
"Kau sudah gila George! Lebih baik aku pergi karena aku ada pekerjaan!"
Ivy melangkah pergi sedangkan George berusaha mencegah Ivy tapi Ivy tidak perduli dan pergi meninggalkan tempat itu.
George tampak marah dan frustasi, tak henti-hentinya dia memaki bahkan dia menendang ban mobilnya untuk menenangkan emosinya.
Tapi ini adalah hal yang sangat menguntungkan bagi seseorang yang mendengar pembicaraan mereka dari jauh. Seringgai jahat menghiasi wajah orang itu karena ini adalah keuntungan besar baginya untuk menyingkirkan Ivy Brown.
Orang itu masih disana sambil menggenggam ponselnya dan pada saat George membawa mobilnya pergi, orang itu juga masuk kedalam mobilnya dan mengikuti George karena kesempatan bagus seperti ini tidak boleh dilewatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 193 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
WAHHH, SIAPA TUH YG MNGINTAI DN INGIN SINGKIRKN IVY
2024-05-24
0
Sulaiman Efendy
CURIGA TU PESTA BUAT PRANGKAP IVY DRI LKI2 YG MAU DIJODOHKN DGNNYA
2024-05-24
1
💕febhy ajah💕
tambah penasaran,,,, apakah di part ini dan yg sebelumnya adalah orang yg sama🤔🤔🤔🤔
2023-01-28
1