"Iyyeeeeaaayyyy Alhamduyiyaah, naik payentino ke lumah Biyya.. Yeay..Yeay..kitimu Biyya dan Imma celta A'a," celoteh kegirangan Afsha.
"Tukyon, Abba," ucap Afsha sembari mengecupi wajah Pak Kyai dengan gemas nya.
"Afwan sayang, walah! wajah Abba banjir ini," ujar pak Kyai sembari mengekeh.
"Bial caja, hehe," ucap Afsha.
"Baiklah, sekarang Dedek berganti pakaian dulu ya cantik. Minta tolong Ambu untuk mengantar mengambil pakaian di rumah kayu, pakai celana yang panjang, bawa jaket, jangan lupa helm dan hijab nya, yah," ucap Pak Kyai kepada Afsha.
"Asiiipp! beles Abba!" ucap Afsha sembari berdiri di hadapan Pak Kyai dan memberi hormat dengan mengangkat tangan dan meletakkannya di kening.
"Astagfirullah, siapa yang mengajari Dedek seperti tentara begitu?" tanya Abi Kyai sembari mengekeh.
"O'om Ubay Abba! telen kan?" ucap Afsha.
"Ouh..O'om," ucap Pak Kyai.
"Ya Allah Bi. Kelakukan Utun tuh, pada generasi nya," ucap Umi.
"Hehe, bagus Mi!" balas Pak Kyai malah mengekeh geli, lalu ia memanggil Ambu agar mengantarkan Afsha, berganti pakaian ke rumah kayu.
"Mbu..tolong antarkan Dedek Sha, ke rumah kayu untuk bertukar pakaian, pakaikan celana panjang, jaket, hijab dan bawa juga, helm nya yah," pinta Pak kyai setelah Ambu menghampiri mereka.
"Bik Ramma, permisi Umi Nyai, mari Dek!" ucap Ambu.
"Baik Ambu!" ucap Umi. "Tafadhdholiy," ucap Pak kyai.
Setelah Ambu dan Afsha pergi ke rumah kayu, ternyata masih ada yang mengganjal di hati Umi.
"Menangi saja terus, tuh Utun nya," ucap Umi sedikit merajuk dengan memajukan bibir bawahnya.
"Hehe..jangan suka merajuk di hadapan Abi. Nanti Abi, nambah jatuh cinta! Umi tuh kalau merajuk gemesin." rayu Pak Kyai sembari mecuil dagu Umi.
"Uumm Abi..paling bisa deh kalau merayu! Umi kan malu, sudah sepuh Bi," ucap Umi lembut dengan malu-malu.
"Aduh.. malu-malu, makin gemes nih, ngamar yuk!" ajak Pak kyai.
"Ikh, Abi genit! mau apa? koq ngajak Umi ke kamar?" tanya Umi dengan polosnya.
"Lho...tukar pakaian Mi! Umi lupa kalau kita akan Pergi menaiki Vallentino!" ucap Abi dengan tersenyum.
"Abiiii...iiiikkhhh, Umi malu!" pekik Umi. Ia sudah salah paham dengan konotasi 'ngamar' yang di maksud Pak Kyai.
"Hihi Umi. Koq malu...hayo pikiran nya mengudara yah?" goda Pak kyai membuat Umi menelusupkan wajahnya pada lengan atas Pak Kyai.
Pak Kyai mengekeh geli. Ia merasa lucu dengan kelakuan Istrinya, yang katanya sudah sepuh. Namun kelakuan nya mirip ABG kalau sedang berduaan dengan nya. Umi masih suka maluan dengan Pak Kyai.
-----
"Sudah siap?" tanya Pak Kyai, setelah ia duduk di atas Vallentino. Pak kyai sudah berpakaian lengkap, jaket kulit hitam, ia memasukan sorban nya ke balik jaket, celana joger yang agak longgar, sarung tangan, tidak lupa peci dan helm nya ia kenakan bersamaan, sepatu sport warna hitam. Tampilan nya keceh badai.
"Cudah Abba! let goo," celoteh Afsha yang sudah mengenakan jaket, celana kulot plisket, sepatu boots beludru, tak lupa kerudung instan dan helm ukuran nya.
"Abii..Biiii..," panggil Umi mengayun, pelan.
"Iya Umi sayang!" jawab Pak Kyai.
"Umi isin (malu) Abi!" seru Umi pelan. yang sedang menundukkan wajahnya dan berdiri di samping Pak Kyai.
Beberapa santri putra dan putri, melewati mereka menoleh heran sembari mengucapkan salam dan bersalaman, mereka merasa aneh melihat Kyai mereka mau menaiki motor sport.
"Ama Pergi dulu yah, Anak-anak," pamit Pak Kyai pada santri putra dan putri yang berada di tempat itu.
"Na'am, Mama Ajeungan!" jawab salah satu santri Putra.
"Punten(maaf) Mama, Umi Nyai! Mama Ajeungan serta Umi Nyai hendak kemana, koq menaiki motor nya Ustadzah Hasna?" tanya santri Wati.
"Ama dan Umi hendak mengantarkan Dek Afsha, ke rumah A'a kalian," jawab Pak Kyia. Pak Kyai selalu menyebut Afnan 'A'a kalian' bila di hadapan santri putra dan putri. maka dari itu mereka pun sudah mengerti.
"Oh, hati-hati Mama Ajeungan," ucap santri lain nya.
"Na'am, Syukron," ucap Pak Kyai.
"Afwan Mama Ajeungan, kami permisi," pamit para santri putra dan putri.
تفضل
"Tafadhdhol," silahkan (untuk laki-laki) atau
تفضلي
"Tafadhdholiy," silahkan (untuk perempuan).
ucap Pak Kyai mempersilahkan.
"Mari naik Umi dan Dedek, nanti kesorean di jalan," ajak Abi Kyai..
"Dedek, duduk di depan yah Abba!" pinta Afsha.
Tidak boleh sayang, bahaya! duduk dengan Umma di tengah, dan Umma di belakang, mengapit Dedek," ucap Pak Kyai.
"Ini aman tidak Bi?" tanya Umi, terlihat ragu-ragu, saat ia membantu Afsha, untuk naik ke atas Valentino.
"Insha Allah, aman Mi. Nas-alullaha assalamah wal afiah (kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan). Memang Umi lupa yah! waktu kita baru nikah, kan kita sering pacaran naik Si kumbang (nama motor Abi pada zamannya, yaitu jenis motor RX-King)," ujar Abi Kyai.
"Oh iya, Umi lupa! tapi kan si kumbang dengan Vallentino berbeda. Naik si kumbang datar saja, naik Vallentino jungkit Bi," ucap Umi.
"Sudah, coba saja dulu! pasti seru Mi," rayu Pak Kyai.
"Iya Umma, Ayuk!" ajak Afsha.
"Baiklah, Bismillah," ucap Umi sembari menaiki Vallentino. "Jangan ngebut Bi!" Seru Umi lirih, saat sudah dalam posisi duduk di atas Vallentino.
Umi mengenakan stelan celana longgar di padukan jaket Levi's.
"Tidak Umi, tenang saja! percayakan pada Abi," tukas Pak Kyai. "Mari berdoa," ajak Pak Kyai.
Setelah berdoa, Abi Kyai mulai berjalan mengendarai Vallentino. Afsha begitu kegirangan. Umi pasrah sembari tak henti berdoa.
****
Di di sebuah Jalan raya Ubaydillah serta Lintang dan Arsya, sedang melakukan perjalanan pulang dari Villa Granny menuju pondok pesantren Hubbul Wathan.
"Yank, pesanan barang-barang kita, kemarin sudah sampai semua kan?" tanya Ubaydillah.
Menurut Umi sih sudah Yank! sudah di rapi kan, oleh Umi dan di bantu Ambu," jawab Lintang.
"Baik! berarti kita hanya tinggal mengurus tasyakuran nya saja besok malam. Lalu tinggal membawa pakaian, kan Yank?" tanya Ubaydillah.
"Iya Ayank!" jawab Lintang yang sedang sibuk menidurkan Arsya.
"Yank, ke rumah kecil, sebentar yah!" pinta Lintang.
"Lho, memang mau apa ke sana?" tanya Ubaydillah dengan tetap fokus menyetir. Sesekali tangannya ikut mengelus kepala Arsya.
"Kemarin kan, ada tugas revisi makalah, yang Lilin titipkan di Nana, harus selesai di revisi malam ini. Karena tugas itu harus diserahkan pada Asdos, besok siang." Jawab Lintang.
"Baiklah, memang waktunya Masih sempat sayang? kalau dikerjakan malam ini?" tanya Ubaydillah kembali, kini tangan nya beralih mengelus lembut Pipi Lintang.
"Insya Allah sempat Yank, tinggal sedikit Koq. karena sudah di Revisi sebagian," jawab Lintang.
"Ouh, gampang lah nanti A'a Dav bantu untuk merevisinya," ucap Ubaydillah.
"Uuuum.. Terimakasih Yank!" ucap Lintang manja, dengan sumringah.
"Sama-sama Yank. Tapi tidak gratis ya!" ucap Ubaydillah Kembali.
"Astagfirullah. Punya suami pebisnis, jadi tersiksa begini sih? apapun kelakuan nya selalu di hitung untung. Dasar tidak mau rugi!" ucap Lintang memajukan bibir nya.
"Hehe, setidaknya kita kan saling menguntungkan, Mom's," balas Ubaydillah dengan mencuil gemas pipi Lintang.
"Dad's!" tiba-tiba Arsya bersuara.
"Iya sayang, lho Dedek Acha koq tidak Bobo?" tanya Ubaydillah.
"Hehe tidak! Dedek tidak menantuk Dad's, Mam's. Ada yang mendandu pitiyan Dedek," ucap Arsya dengan nada serius.
Ubaydillah dan Lintang saling pandang untuk sejenak, mereka mengulum senyum, mendengar nada lucu dari celoteh Anak mereka.
"Ya sudah. Coba ceritakan pada Dad's, apa yang mengganggu pikiran Dedek?" tanya Ubaydillah.
Lalu Arsya pun menegakkan tubuhnya, duduk diantar pangkuan Lintang.
"Itu yoh Dad's! tadi ketika Dedek dengan A'a Kha endak ma'em ec kim, Biyya Nan beykata, ma'em ec Kim nya tidak boyeh beyebih- yebian, tayena Ayoh (Allah) tidak cuka," ujar Arsya.
"Hu'uh..lalu?" tanya Ubaydillah dengan lembut nya.
"Yayu, Dad's hayus menjeyaskan nya pada Dedek," jawab Arsya.
"Ayolah Dad's, berilah penjelasan pada Dek Acha," ucap Lintang dengan tersenyum dan memiringkan wajahnya pada pada Ubaydillah.
"Baiklah, dengan senang hati!" ucap Ubaydillah, lalu dengan senyuman pada Lintang ia menepikan mobilnya.
"Lho koq menepi?" tanya Lintang merasa bingung, karena Ubaydillah malah menepikan mobilnya, bukan menjawab pertanyaan Arsya.
"Mimom, harus jadi sopir kita! Didad kan harus bertausiyah, hehe," Jawab Ubaydillah.
"Hemmm... baikalah, Mom's yang menjadi sopir kalian." Lintang dan Ubaydillah pun bertukar tempat.
Lintang yang mengemudikan mobil, Ubaydillah memangku Arsya dan mulai menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Arsya.
Bersambung.....
Silahkan di Vote seikhlasnya🙏😍, jika ada Rezeky lebih dengan poin. kalau Like sih, Thor makasa yah🤭 gak koq, guyon 😜✌️. komentar boleh lah! Krisan apalagi di tunggu loh! terimakasih banyak sudah bersedia membaca. Baik yang nyata atau yang goib.😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ida Widyawati
wittt wiiiww haha nin2 ama engki2 naik motor sport mumtaaaaz abis , pantasan afnan romantis n pernah jadi raja jalanan, ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya ya !!🤭
2021-07-05
1
🔅🔆🌹NANAMI🌹🔆🔅
Si Valentino dinaikin pak yayi 😅
2021-05-24
0
mama Titis
next
2021-02-08
0