Melati dan Lani berlari memasuki gerbang sekolah. Mereka agak terlambat karena tadi memang bangun kesiangan. Melati menginap di rumah Lani. Jika mereka sudah tidur bersama, bisa dipastikan akan begadang.
Banyak mata memperhatikan mereka. Bukannya Melati sombong, dia dan Lani termasuk siswi populer di sekolah karena wajah mereka yang cantik. Sebenarnya lebih banyak yang suka pada Melati. Mungkin karena gadis itu juga salah satu siswi yang pintar.
"Untung nggak telat. Lu, sih ngajak begadang terus kalau gue nginap," ucap Melati begitu sampai di kelas.
"Sesekali telat nggak apalah. Guru tak akan marah."
"Kalau lu, sih nggak apa-apa. Gue masa murid yang hanya bisa di sekolah ini karena beasiswa harus datang telat, bisa dicabut beasiswa gue nanti."
"Kalau beasiswa lu dicabut, bokap gue bisa, kok biayai sekolah lu."
"Bokap dan nyokap lu sudah terlalu banyak membantu gue selama ini. Mana mungkin gue mau merepotkan mereka lagi."
"Uang jajan gue juga masih cukup buat bayar sekolah lu."
"Lani, lu juga sudah terlalu banyak membantu gue. Gue malu harus terus minta bantuan."
"Lu kayak sama orang lain saja. Kan gue kembaran lu," canda Lani.
Begitulah Lani. Dia terlalu baik sebagai sahabat. Melati terkadang merasa iri dengannya. Ia anak yang cantik, baik, dan juga berasal dari keluarga mampu.
"Sudah diam! Guru sudah masuk tuh," tegurnya ketika melihat Lani masih ingin mengobrol.
Ketika jam istirahat, mereka berdua berjalan di lorong sekolah menuju kantin dengan mata yang banyak memandangi mereka. Lelaki mengagumi mereka, tetapi wanita lebih banyak memandang iri.
Baru memasuki kantin, Lani berbisik ke telinga Melati..
"Mel, lu lihat tuh di sudut kantin ada Bagas. Kita duduk dekat dia, ya."
"Malu, dong, Lan. Masa kita cewek yang nyamperin cowok?"
"Mengapa malu, Mel. Kan kita bukan mencuri," ucap Lani sambil berjalan menuju meja tempat di mana ada Bagas dan Bintang duduk.
Bagas dan Bintang juga termasuk cowok populer di sekolah itu. Bagas sang ketua Osis, sedangkan Bintang sang ketua basket.
"Hei, bolehkah kami duduk disini?" tanya Lani.
Bagas dan Bintang langsung memandang ke arah asal suara. Melihat ada dua orang cewek cantik, mereka langsung tersenyum.
"Boleh banget," jawab Bintang antusias.
Bagas memang menyukai Melati, sedangkan Bintang menyukai Lani.
"Duduklah, La!" ajak Bagas.
"Terima kasih," ucap Lani yang mengira Bagas menyapanya, sedangkan Melati hanya membalas dengan senyuman.
"Kamu sudah pesan makanannya La?" tanya Bagas.
"Belum. Emang kamu mau pesankan buatku?" tanya Lani senang.
"Maaf, Lan. Maksudku Mela," ucap Bagas.
"Jadi, ku dari tadi menyapa Mela bukan gue?" tanya Lani dengan ketus.
"Biar gue yang pesankan buat kamu, Lan," ujar Bintang coba menengahi keduanya.
"Boleh juga," jawab Lani, lalu menyebutkan pesanannya.
"Kamu mau makan apa, La? Biar aku yang beliin. Ramai banget tuh."
"Maaf, Bagas. Biar aku pesan sendiri. Nggak apa-apa, kok," ucap Melati.
"Biar aku saja. Kamu nggak usah sungkan begitu. Kalau cowok, akan lebih cepat dapat makanannya."
Melati akhirnya menyebutkan makanan yang ingin ia santap. Kantin memang sedang ramai sekali. Jadi, mungkin lebih baik Bagas yang pesan makanannya. Mereka berempat menyantap makanan masing masing. Setelah bel masuk kelas berbunyi, mereka menuju kelas masing masing.
"Gila! Bagas makin lama makin tampan saja. Jamu nggak naksir Bagas, 'kan Mel? Karena gue nggak mau bersaing dengan sahabat sendiri."
"Nggak, kok, Lan."
"Syukurlah. Gue harus dapat tuh cowok. Sekarang bisa saja ia jual mahal karena belum kenal siapa Lani. Nggak ada yang tak bisa gue dapatkan," ucapnya.
Setelah pelajaran usai, mereka berdua menunggu supir Lani yang akan menjemput. Bagas yang pulang dengan mengendarai motor, berhenti di depan mereka.
"Belum pulang, ya," sapa Bagas, "nunggu siapa?"
"Nunggu kamu. Gue bisa bareng, 'kan boncengan denganmu? Melati sudah ada yang jemput. Gue takut pulang sendiri," ucap Lani sambil mengedipkan matanya .
Lani berbisik pada Melati
"Lu pulang dengan pak Anto sendiri saja ya. Gue bareng sama Bagas." Lani langsung naik ke boncengan tanpa menunggu jawaban Bagas.
"Sudah Bagas. Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Lani.
"Apa nggak nunggu jemputan Melati datang dulu?"
"Nggak usah! Melati bisa sendiri, kok."
"La, aku jalan dulu, ya. Kamu nggak apa-apa nunggu sendirian?"
"Nggak apa-apa, Bagas. Kalian jalan saja duluan."
"Kamu hati hati, ya, La!"
"Iya, terima kasih," jawab Melati.
Melati melihat kepergian Bagas sampai mereka menghilang. Sebenarnya Melati juga menyukai Bagas, tetapi ia tak berani mendekati lelaki itu lebih dahulu. Ia merasa tak pantas seorang wanita yang terlebih dahulu menyatakan suka.
Melati juga selalu merasa kurang percaya diri jika menjalin hubungan dengan lelaki karena ia hanyalah seorang anak janda miskin. Pak Anto datang setelah Lani menghilang. Ia berhenti tepat di depan Melati.
"Non Melati, mana non Lani? Kok, sendirian saja?"
"Lani sudah pulang duluan bareng teman, Pak."
"Jadi, Non sendirian saja? Ayo, Non! Masuklah!"
"Aku naik angkot saja, Pak. Nggak enak sendirian saja."
"Nggak apa-apa, Non. Kan rumahnya berdekatan, dari pada Non naik angkot."
"Baiklah, Pak."
Sesampai dirumah, Melati turun. "Terima kasih, Pak," ucap Melati.
"Sama-sama, Non.. "
Melati masuk ke rumahnya, melihat ibunya sedang membuat kue.
"Selamat siang, Bunda. Lagi buat kue pesanan siapa nih?" tanya Melati sambil memeluk pinggang ibunya.
"Ini ada pesanan dari ibu Joko yang akan ada acara nanti malam."
"Melati ganti pakaian dulu, ya, Bunda baru Mela bantu."
"Kamu makan dulu baru bantu bunda."
"Bisa sambil makan, kok, Bun bantunya,"ucap Melati. Dia lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah mengganti pakaiannya, Melati membantu ibunya. Begitulah keseharian Melati yang waktunya hanya dihabiskan buat belajar dan membantu sang ibu. Ibunya yang hanya seorang janda dengan tamatan ijazah SMP. Dia tidak bisa bekerja di kantor, hanya bisa berjualan kue dan membantu pekerjaan di rumah Lani.
Perkenalan Lani dan Melati berawal dari ibunya yang bekerja di rumah Lani sebagai tukang cuci dan menyetrika baju keluarganya.
Ketika itu mereka sama-sama ingin masuk ke SMP. Sejak saat itulah Melati dan Lani menjadi sahabat. Di mana ada Melati, pasti ada Lani. Orang tua Lani yang kasihan melihat ibunya harus bekerja keras untuk biaya hidup dan sekolah Melati sering membantu mereka dengan memberi uang lebih dari gaji yang dijanjikan.
****************************
Terima kasih buat yang telah membaca novel ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀Angel❤️⃟Wᵃf
duhhh yg tertib dunkk bebb ...
2024-09-24
0
Nuryanti 94
mampir k
2023-07-21
0
Jasmine
seharusnya sahabat itu tdk saling tikung
2023-01-06
0