Ashim

Hari demi hari berjalan terasa sangat lambat bagi Farin yang harus beradaptasi dengan kehidupan barunya. Ia tak bisa lagi membedakan antara siang dan malam. Setiap waktu terasa sama baginya, gelap.

Farin benar-benar lemah tak berdaya, seperti bayi yang baru dilahirkan. Ada saat di mana dirinya disuapi makanan, diberi minum, dan sesekali tubuhnya dibersihkan. Namun lebih sering, ia ditinggalkan seorang diri.

Kadang rasa takut begitu menyiksanya. Farin tidak tahu di mana dirinya sekarang berada. Apakah di tengah pemukiman penduduk hingga ia bisa merasa aman? Ataukah di tengah hutan liar yang dipenuhi binatang buas? Atau mungkin di dalam gua gelap, tempat dirinya harus siap jika sewaktu-waktu ada hewan melata yang menyengatnya. Keimanannya benar-benar diuji. Satu-satunya senjata yang ia miliki hanyalah doa.

Dan yang paling sering mengganggunya adalah bisikan-bisikan halus dari sesuatu yang tak kasat mata. Memainkan rasa takut yang perlahan menggerogoti pikirannya.

Emosi Farin benar-benar terkuras untuk melawan semua itu. Rasa was-was, ketakutan pada hal-hal aneh, dan bayangan buruk yang sewaktu-waktu bisa membahayakan dirinya.

Setiap kali penolongnya datang, itulah saat paling menenangkan baginya. Kehadiran lelaki itu selalu membawa rasa aman yang sulit dijelaskan. Lantunan ayat-ayat suci senantiasa terdengar merdu, menyejukkan hati yang gelisah. Tak pernah terlewat, lelaki itu selalu mengingatkannya ketika waktu shalat tiba.

Alif Lam Mim.

Ahasiban naasu ay yutrakuu ay yaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun.

Wa laqad fatannal ladziina min qablihim falaya'lamannallaahul ladziina shadaquu wa laya'lamannal kaadzibiin.

Am hasibal ladziina ya'maluunas sayyi-aati ay yasbiquunaa? Saa-a maa yahkumuun.

Man kaana yarjuu liqaa-allaahi fa inna ajalallaahi la aat, wa Huwas Samii'ul 'Aliim.

“Alif Lam Mim.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Ataukah orang-orang yang berbuat kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari azab Kami? Sangat buruk apa yang mereka tetapkan itu.

Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ruh Farin seakan terbang mengikuti lantunan ayat suci Al-Qur’an itu. Jiwanya seperti disiram air pegunungan yang sejuk dan menenangkan.

Perasaan sedih, cemas, dan putus asa yang sempat menyekapnya perlahan menghilang.

Kini ia sadar, kesalahannya selama ini adalah belum benar-benar ikhlas. Saat keikhlasan mulai tumbuh menjadi keyakinan di hatinya, semua terasa jauh lebih ringan.

Selain diberi makan dan minum, Farin juga rutin diberi ramuan obat-obatan. Rasa sakit yang sebelumnya menyiksa perlahan mulai mereda. Meski belum ada perubahan besar pada tubuhnya, setidaknya ia mulai merasa nyaman dan terbebas dari nyeri yang kemaren menjalar di seluruh tubuhnya.

Lelaki penolong itu bukan hanya merawatnya secara fisik. Ia juga selalu menguatkan Farin dengan nasihat-nasihat sederhana, kadang bercerita tentang perjalanan hidup para nabi dan orang-orang shaleh yang dipenuhi ujian.

Perlahan, Farin mulai merasa nyaman dengan keadaannya. Tak ada lagi genangan air mata di sudut matanya. Bibirnya pun tak sekaku dulu yang hanya mampu menelan makanan lembut tanpa bisa mengecap rasa.

Sudah tiga bulan Farin berada di tempat yang nyaris tak tersentuh manusia. Ia tak pernah merasakan kehadiran orang lain selain lelaki penolongnya itu.

Mereka hanya berdua, rasa nyaman terkadang membuat Farin mulai berandai-andai, menenun khayalan yang perlahan terbang terlalu tinggi.

Andai Allah mengembalikan penglihatannya.. Ia ingin sekali melihat sosok penyelamatnya itu. Lelaki yang telah menjaga dan merawat dirinya tanpa lelah.

Andai Allah mengizinkan bibirnya kembali berbicara dengan jelas, berjuta rasa terima kasih ingin ia ucapkan. Bersama doa-doa terbaik yang akan terus ia langitkan untuk lelaki berhati mulia itu.

Dan andai takdir mengizinkannya sembuh…

Farin rela mengabdikan sisa hidupnya sebagai bentuk syukur kepada Allah, yang telah menyelamatkannya melalui tangan seorang hamba-Nya yang begitu baik.

Aroma harum ikan bakar tiba-tiba menyadarkannya dari lamunan panjang.

Hmm… harum sekali ya Allah…

“Aku tidak tahu harus bersyukur karena telah berhasil ikhlas menjalani ujian-Mu… atau karena Engkau menghadirkan seorang hamba shaleh yang selalu menjaga dan memenuhi kebutuhanku…” gumam Farin dalam hati.

“Kapan dia datang? Aku bahkan tidak merasakan kehadirannya tadi… Ya Allah… aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Tidak tahu bagaimana wajahnya. Aku hanya mengenal kebaikannya…” Farin terus berceloteh sendiri dalam hati.

“Ayo makan…” Suara yang sangat khas itu terdengar. Suara yang begitu dikenalnya. “Alhamdulillah, tadi aku berhasil mendapatkan seekor ikan yang cukup besar. Insya Allah cukup untuk makan kita berdua.”

Deg.

Jantung Farin tiba-tiba berdegup cepat mendengar kalimat kita berdua, pipinya terasa panas menahan malu. Dasar dirinya sedang sibuk mengkhayalkan si dia, tiba-tiba lelaki itu datang dan memberinya perhatian sedemikian hangat.

Perempuan mana yang hatinya tidak akan luluh?

“Bismillah…” ucap lelaki itu pelan, sesaat kemudian, sepotong daging ikan bakar telah menyentuh bibir Farin. “Buka mulutmu. Coba makan pelan-pelan. Aku tidak tega setiap hari hanya memberimu pisang lumat dan makanan lembek. Insya Allah ikan bakar ini juga bisa kamu makan. Teksturnya lembut, tidak perlu dikunyah terlalu keras.”

Tanpa dibujuk pun, Farin sudah ingin mencicipinya, rasanya benar-benar lezat.

Suapan demi suapan ia nikmati hingga habis, menyisakan tulang dan kepala ikan saja.

“Alhamdulillah… atas rezeki yang Engkau berikan kepada kami, ya Allah. Atas izin-Mu kami masih bisa menikmati makanan yang halal dan baik.”

Hampir setiap hari Farin mendengarkan kisah perjuangan para nabi dan orang-orang saleh yang mendapat ujian berat dalam hidup mereka.

Ia selalu diingatkan untuk banyak bersyukur. Karena ujian yang menimpanya belum seberapa dibandingkan ujian para pendahulu.

Kalimat istighfar pun tak pernah lepas dari nasihat lelaki itu. Bahwa terkadang musibah adalah bentuk teguran Allah atas dosa dan kelalaian manusia.

Namun sering kali manusia lupa, bahwa setiap ujian sejatinya adalah penggugur dosa.

Seperti malam itu… Farin mendengarkan dengan saksama kisah seorang sahabat mulia yang mengalami siksaan begitu pedih dari kaum musyrikin Quraisy. Beliau adalah Khubaib bin ‘Adi.

Beberapa tahun setelah Perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sepuluh sahabat untuk menjalankan sebuah tugas. Di antara mereka terdapat Khubaib bin ‘Adi, dengan Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan.

Dalam perjalanan, mereka melewati wilayah Bani Lihyan, sebuah kabilah kafir dari suku Hudhail. Saat mengetahui keberadaan para sahabat Rasulullah, sekitar seratus pemanah segera dikirim untuk mengejar mereka.

Jejak mereka ditemukan dari sisa biji kurma Madinah yang tertinggal di tempat persinggahan. Ashim dan para sahabat akhirnya berlindung di sebuah kebun.

Mereka pun dikepung.

Pemimpin rombongan pemanah Bani Lihyan berseru, “Turunlah dan menyerah! Kami berjanji tidak akan membunuh kalian.”

Namun Ashim bin Tsabit menjawab tegas, “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan diri kepada orang kafir.” Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, sampaikanlah keadaan kami ini kepada Nabi-Mu.”

Mereka menghunus pedang. Tak ada jalan lain selain bertempur. Orang-orang kafir itu berkata, “Kalian tidak akan menang melawan kami. Kami penguasa wilayah ini. Pasukan kami banyak, sedangkan kalian hanya sedikit.”

Para sahabat saling berpandangan. Ashim pun menggenggam pedangnya erat. Ia teringat sumpah seorang wanita Quraisy bernama Sulafah yang ingin meminum khamar dari batok kepalanya karena dendam Perang Uhud.

Maka sebelum bertempur, Ashim berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku membela agama-Mu. Maka jagalah daging dan tulangku agar tidak disentuh musuh-musuh-Mu.”

Di sudut ruang gelap itu, Farin terdiam, dadanya terasa sesak. Betapa kecil ujian yang ia hadapi dibandingkan perjuangan orang-orang saleh terdahulu. Sementara ia… baru kehilangan satu harapan dunia saja sudah hampir menyerah pada hidup.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!