Eps 5 Perkenalan

Dua hari berlalu.

Hani beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan apapun. Dia sengaja tidak mau membahas hal – hal berbau supranatural. Dia tidak ingin mamahnya khawatir. Tapi sebenarnya dia sangat penasaran. Mengapa mamanya sangat merahasiakan kelebihan yang Hani miliki.

“Sixth Sense ya?” Gumamnya.

Sekarang Hani sedang bersiap untuk sekolah sambil melamun. Biasanya Hani antusias saat hari pertama perkenalan di sekolah. Dia sangat menyukai sensasinya, berdebar dan bersemangat. Dia sangat menyukai hal baru, termasuk bertemu dengan orang baru. Tetapi sejak kejadian tiga hari yang lalu. Hani tidak antusias seperti biasanya.

“Han, sudah siap?” Tanya mamanya yang tiba – tiba sudah muncul di kamarnya.

Kemunculan mamanya yang tiba – tiba membuyarkan lamunannya.

“Udah mah.” Jawab Hani dengan ceria.

“Ayo, udah di tunggu papa di mobil.”

Hani dan mamanya bergegas turun dan menyusul papanya yang sudah di dalam mobil. Saat Hani hendak menutup pintu kamarnya dia otomatis melihat kaca riasnya. Dia teringat lagi kejadian tiga hari yang lalu, dimana dia melihat kaca riasnya ada tulisan nama. Kemudian, dia terdiam sejenak.

“Ayo Han.” Ajak mamahnya.

“Iya.”

Hani langsung menutup pintu kamarnya. Di pikirannya saat ini sedang bercampur jadi satu, mengenai sixth sense, siapa Nana?, apa tujuan si hantu itu mengganggu Hani.

...***...

Hani sudah sampai di sekolahnya. Dia sedang menunggu di depan ruang guru sambil duduk di kursi keramik yang menyatu dengan tembok ruang guru. Matanya sedang mengamati lingkungan sekolah barunya. Tidak jarang matanya bertatapan dengan siswa lainnya di sana tanpa sengaja. Wajar, untuk saat ini dia menjadi pusat perhatian di sana. Karena saat ini dia masih memakai seragam putih abu. Dia masih belum punya seragam khas sekolah itu.

Kring... Kring... Kring...

Bel masuk sudah berbunyi. Hari baru di mulai. Tidak lama kemudian mamanya keluar dari ruang guru bersama seorang guru perempuan berseragam olahraga. Guru itu menyapa Hani dengan senyumannya.

“Pagi.” Sapa guru perempuan itu.

“Pagi.” Jawab Hani.

Deg...

Tiba – tiba Hani merasa ada sesuatu yang terlihat familiar baginya. Dia mencoba mengingat – ingat apa itu?.

“Hah? Matanya?” Batin Hani.

Hani teringat. Bahwa mata guru itu tampak familiar. Karena kejadian tak nalar tiga hari yang lalu. Posisi Hani saat ini lebih rendah dari guru perempuan itu. Posisi ini sama persis dengan kemarin. Hanya saja kemarin dia ada di semak – semak. Kalau sekarang dia sedang duduk di depan ruang guru.

“Ayo Han.” Ajak mamanya.

Hani sedikit kaget karena suara mamanya.

“I-iya mah.”

Hani, mamanya dan guru perempuan itu berjalan menuju kelasnya. Sampai di depan kelas mama Hani berpamitan.

‘Ya udah ya. Mama antar sampai sini saja.”

“Ah, mama. Kenapa sih gak aku sendiri aja yang masuk. Kenapa mama juga harus masuk ke sekolah.” Gerutu Hani.

“Ck ck ck, kalau gak ada masalah mama juga bakal antar kamu sampai sini Han.” Sanggah mama Hani.

“Masalah?” Gumamnya.

Belum sempat Hani bertanya mamanya sudah menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Hani. Hani pun mencium punggung tanggan mamanya. Setelah itu mamanya pergi.

Ibu guru yang sudah masuk duluan mempersilahkan Hani masuk ke dalam. Hani mulai melangkahkan kakinya.

Saat di ambang pintu. Dia merasakan aura yang tidak enak. Dia merasa seperti badannya menolak untuk masuk ke dalam. Tapi dia mengabaikannya.

“Anak – anak diam!” Seru ibu guru.

“Silahkan memperkenalkan diri.” Lanjutnya.

“Perkenalkan nama saya Hani. Semoga kita bisa berteman dengan baik. Salam kenal.”

Hani memperkenalkan dirinya sangat singkat.

Kemudian dia di sambut tepuk tangan yang tidak meriah dan tidak sepi. Tepukannya sedang.

“Baik, silahkan duduk di kursi depan itu ya.” Ucap Ibu guru.

“Jangan di situ bu. Nanti hantu Nana marah lo bu.” Ucap seorang siswa dengan cengegesan.

“Nana?” Gumamnya.

Seketika kelas jadi gaduh karena ucapnya itu. Kalimat demi kalimat di tujukan ke siswa saling bertimpang tindih. Hanya beberapa yang dapat Hani dengar.

“Hust. Ngomongnya di jaga.”

“Jangan omongin orang yang sudah meninggal.”

“Heh. Pamali.”

Hani mendengar beberapa kalimat itu langsung merasa merinding. Mukanya jadi tegang. Tanggannya mulai dingin dan napasnya mulai tidak teratur.

“Diam anak anak. Diam!!. Sudah cukup. Sekarang semua bersiap untuk olahraga. Ayo keluar semua.” Ucap ibu guru.

“Baik bu Tina.” Jawab mereka serentak.

Melihat Hani yang tegang bu Tina langsung menepuk pelan punggunnya. Dia mencoba menenangkan Hani.

“Udah, udah kalau kamu takut. Kamu bisa duduk di belakang sama Jaelani.”

Jaelani yang mendengar namanya di sebut langsung berlari kecil menghampiri bu Tina.

“Ada apa bu?” Tanya Jae.

“Kamu mau gak duduk sama Hani? Kayaknya Hani takut gara – gara si Galih.”

“Mau banget bu. Sudah menjomblo selama enam bulan. Akhirnya ada teman sebangku juga.”

“Jaelani!!!”. Ucap ibu Tina sambil menjewer telinga Jaelani.

Jaelani kesakitan sambil mencoba melepas tangan ibu Tina dari telinganya. Setelah terlepas dia langsung melarikan diri. Berlari sekencangnya menuju lapangan.

“Ayo Hani. Kamu mau duduk dimana?. Habis itu kita langsung ke lapangan.”

Hani memilih untuk duduk di depan. Meskipun katanya, bangku itu bekas Nana. Siswa yang sudah meninggal. Hani masih belum bisa mengambil kesimpulan atas kejadian kemarin. Namun dugaanya saat ini. Nama “NANA” itu adalah nama arwah yang sedang di kurung oleh paranormal itu.

...***...

Di lapangan sekolah.

Hani hanya duduk di pinggir melihat anak – anak lain berolah raga. Dia juga sekalian mengamati lagi lingkungan sekolahnya. Di mata Hani. Lingkungan ini terlihat tidak bersih, udaranya seperti berkabut. Tapi siswanya terlihat biasa saja tidak terganggu dengan udara yang terlihat tidak bersih ini. Sedang asik mengamati, tiba – tiba bebapa siswa berseru.

“Woah?!.”

“Waw!!!”

“Kok bisa nyangkut sih?"

“Hayolo. Jaelani.”

Mendengar itu Hani mencari sumber kegaduhan itu. Ternyata ada bola basket yang menyangkut di samping ring basket. Terlihat Jaelani sedang mencoba mengeluarkan bola itu dari sana. Dengan cara mendorong dari bawah bola itu dengan bola lain. Itu membutuhkan waktu cukup lama. Tapi tidak di sangka sebelum bola lain menyentuh bola yang menyangkut itu. Bola yang menyangkut itu sudah bisa lepas sendiri.

Tidak semua orang tau tentang kejadian itu. Namun Jaelani yang berada di bawahnya melihat jelas kejadian itu. Hani juga melihat kejadian itu. Meski dari jauh, Hani mengamati itu dengan seksama.

“Hah?” Gumam Hani.

Kring!!!

Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Beberapa siswa dan siswi yang ada di lapangkan membubarkan diri. Beberapa siswi terlihat menghampiri Hani.

“Hai Hani.” Ucap salah satu siswi.

“Hai.”

“Mau ke kelas bareng?”

“Ayuk!!!”

Hani dan beberapa siswi itu berjalan berjajar menuju kelasnya. Mereka berjalan sambil mengobrol ria. Untuk sementara Hani bisa melupakan pemikirannya tentang tiga hari yang lalu.

Sedangkan Jaelani masih memikirkan kejadian tadi. Dia kebingungan apakah matanya salah melihat.

“Ah salah lihat kali ya.” Gumamnya.

...***...

Di dalam kelas setelah semua ganti baju.

“Loh, bangku in masih kosong?” Teriak Jaelani.

Semua siswa dan siswi memandang heran ke arah Jaelani.

“Emang bangku itu kosong Jae. Jangan aneh – aneh.” Ucap Galih.

“Seharusnya ada bidadari menemaniku disini.” Lanjut Jaelani.

“Kelihatan deh mana yang Jones alias Jomblo ngenes.” Ledek Galih.

Kemudian terdengar suara tawa mengelegar karena ucapan Galih. Mereka semua tidak menyangkal. Karena memang sejak kelas satu Jaelani memang selalu duduk sendiri. Dia tidak mau ada orang lain duduk di sampingnya. Alasannya aneh. Dia beralasan jika nanti ada orangnya, dia tidak bisa tidur. Karena dia selalu tidur di atas gabungan tiga bangku.

Hani ikut tertawa kecil bersama teman sekelasnya. Semua tertawa kecuali Della. Teman sebangku Hani.

“Kenapa dia tidak tertawa?.” Gumam Hani.

~ Terima kasih, sudah mampir baca~

Terpopuler

Comments

senja

senja

takut tapi kenapa kekeh disana?

2022-04-02

0

Sari Sari nalurita

Sari Sari nalurita

kok doblel2 ya thor...

2020-12-17

1

Sari Sari nalurita

Sari Sari nalurita

kok doblel2 ya thor...

2020-12-17

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Eps 1 Awal Yang Buruk
3 Eps 2 Teror Nana
4 Eps 3 Interograsi
5 Eps 4 Orang Misterius
6 Eps 5 Perkenalan
7 Eps 6 Della
8 Eps 7 Jaelani.
9 Eps 8 Kabut di siang Hari
10 Eps 9 Kesunyian yang mencekam
11 Eps 10 Kesunyian yang mencekam (2)
12 Eps 11 Mati atau bantu aku
13 Eps 12 Di rumah sakit
14 Eps 13 Pembunuh
15 Eps 14 Asalkan bukan mereka
16 Eps 15 Cincin pengikat
17 Eps 16 Bisikan misterius
18 Eps 17 Cincin itu melonggar
19 Eps 18 Della dan Viola
20 Eps 19 Teka teki rumit
21 Eps 20 Pak Wanto
22 Eps 21 Penjaga Hani
23 Eps 22 Masalah demi masalah
24 Eps 23 Siswi yang di kutuk
25 Eps 24 Siswi yang di kutuk (2)
26 Eps 25 Sehari bersama Jaelani
27 Eps 26 Sehari bersama Jaelani (2)
28 Eps 27 Jaelani kena sial
29 Eps 28 Tidak ada waktu luang
30 Eps 29 Di bengkel motor
31 Eps 30 Lanzo
32 Eps 31 Flashback
33 Eps 32 Flashback (2)
34 Eps 33 Calon pacar
35 Eps 34 Tetes demi tetes
36 Eps 35 Kuteks itu
37 Eps 36 Mengunjungi della
38 Eps 37 Kesurupan
39 Eps 38 Tenggelam dalam pikiran
40 Eps 39 Mimpi della
41 Eps 40 Ternyata itu ada
42 Eps 41 Ketika anak SMA merengek
43 Eps 42 Jaelani mulai ragu
44 Eps 43 Sebenci itukah?
45 Eps 44 Aku mohon
46 Eps 45 Saling menduga
47 Eps 46 Semacam Ilusi
48 Eps 47 Keluarga siapa?
49 Eps 48 Main petak umpet
50 Eps 49 Diary Hani
51 Maaf
52 Eps 50 Sosok hitam
53 Eps 51 Handoko
54 Eps 52 Kejutan untuk mama
55 Eps 53 Mimpi atau nyata?
56 Eps 54 Obat nyamuk
57 Eps 55 Cinta
58 Eps 56 Terjadi lagi
59 Eps 57 Bisikan misterius
60 Eps 58 Sisi lain
61 Eps 59 Anak pak Wanto
62 Eps 60 Di rumah sakit jiwa
63 Eps 61 Pengakuan Hani
64 Eps 62 Secepat mungkin
65 Eps 63 JANGAN
66 Eps 64 Belum berakhir
67 Eps 65 Masa berkabung
68 Eps 66 Lebih dekat
69 Eps 67 Percakapan rahasia
70 Eps 68 Hani dalam bahaya
71 Eps 69 Pengakuan pelaku
72 Eps 70 TIDAK
73 EPILOG
74 Tanya dong.
75 Terima kasih
76 Pengumuman
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Prolog
2
Eps 1 Awal Yang Buruk
3
Eps 2 Teror Nana
4
Eps 3 Interograsi
5
Eps 4 Orang Misterius
6
Eps 5 Perkenalan
7
Eps 6 Della
8
Eps 7 Jaelani.
9
Eps 8 Kabut di siang Hari
10
Eps 9 Kesunyian yang mencekam
11
Eps 10 Kesunyian yang mencekam (2)
12
Eps 11 Mati atau bantu aku
13
Eps 12 Di rumah sakit
14
Eps 13 Pembunuh
15
Eps 14 Asalkan bukan mereka
16
Eps 15 Cincin pengikat
17
Eps 16 Bisikan misterius
18
Eps 17 Cincin itu melonggar
19
Eps 18 Della dan Viola
20
Eps 19 Teka teki rumit
21
Eps 20 Pak Wanto
22
Eps 21 Penjaga Hani
23
Eps 22 Masalah demi masalah
24
Eps 23 Siswi yang di kutuk
25
Eps 24 Siswi yang di kutuk (2)
26
Eps 25 Sehari bersama Jaelani
27
Eps 26 Sehari bersama Jaelani (2)
28
Eps 27 Jaelani kena sial
29
Eps 28 Tidak ada waktu luang
30
Eps 29 Di bengkel motor
31
Eps 30 Lanzo
32
Eps 31 Flashback
33
Eps 32 Flashback (2)
34
Eps 33 Calon pacar
35
Eps 34 Tetes demi tetes
36
Eps 35 Kuteks itu
37
Eps 36 Mengunjungi della
38
Eps 37 Kesurupan
39
Eps 38 Tenggelam dalam pikiran
40
Eps 39 Mimpi della
41
Eps 40 Ternyata itu ada
42
Eps 41 Ketika anak SMA merengek
43
Eps 42 Jaelani mulai ragu
44
Eps 43 Sebenci itukah?
45
Eps 44 Aku mohon
46
Eps 45 Saling menduga
47
Eps 46 Semacam Ilusi
48
Eps 47 Keluarga siapa?
49
Eps 48 Main petak umpet
50
Eps 49 Diary Hani
51
Maaf
52
Eps 50 Sosok hitam
53
Eps 51 Handoko
54
Eps 52 Kejutan untuk mama
55
Eps 53 Mimpi atau nyata?
56
Eps 54 Obat nyamuk
57
Eps 55 Cinta
58
Eps 56 Terjadi lagi
59
Eps 57 Bisikan misterius
60
Eps 58 Sisi lain
61
Eps 59 Anak pak Wanto
62
Eps 60 Di rumah sakit jiwa
63
Eps 61 Pengakuan Hani
64
Eps 62 Secepat mungkin
65
Eps 63 JANGAN
66
Eps 64 Belum berakhir
67
Eps 65 Masa berkabung
68
Eps 66 Lebih dekat
69
Eps 67 Percakapan rahasia
70
Eps 68 Hani dalam bahaya
71
Eps 69 Pengakuan pelaku
72
Eps 70 TIDAK
73
EPILOG
74
Tanya dong.
75
Terima kasih
76
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!