MBM — BAB 05

PERNIKAHAN SINGKAT DAN KILAT

Suara benturan keras menggema di ruang bawah tanah.

Bugh!

Tubuh seorang pria terhempas ke lantai beton, darah mengalir dari sudut bibirnya. Napasnya tersengal, matanya memohon, namun tidak ada belas kasihan di ruangan itu.

Lorenzo berdiri tegak, tongkat besi di tangannya masih meneteskan darah.

Tatapannya dingin dan kosong.

“Kesempatan sudah kuberikan,” ucapnya rendah, nyaris tanpa emosi. “Kau yang memilih mengkhianati.”

Pria itu berusaha merangkak mundur. “Akkh-aku bisa jelaskan—”

Bugh! bugh! bugh!

Pukulan berikutnya menghentikan kata-katanya. Sunyi kembali menguasai ruangan.

Lorenzo menghela napas pelan saat dirasa pria itu sudah tewas, lalu menyerahkan tongkat itu pada anak buahnya tanpa menoleh.

“Bersihkan.”

“Baik, Tuan.”

Langkahnya tenang saat keluar dari basecamp—bangunan gelap yang berdiri terpisah, namun masih berada dalam kawasan mansion keluarga. Sebuah wilayah yang ia miliki sendiri.

Wilayah Santis.

Berbeda dengan mansion utama milik ayahnya—de Santos.

Langit mulai meredup saat Lorenzo duduk di kursi luar, sebotol vodka sudah terbuka di tangannya.

Ia menuang tanpa gelas.

Langsung meneguknya.

Cairan panas itu mengalir di tenggorokannya, namun tidak cukup untuk meredam pikirannya. Matanya terus terbuka menatap ke arah keheningan Dindin mansion.

Namun seketika, wajah Aria muncul begitu saja. Tatapan berani dari wanita itu serta nada suara yang menantang.

(“Nikahi aku.”)

Lorenzo tersenyum tipis. Sinis. “Gila,” gumamnya pelan.

Namun justru itu yang membuatnya tidak bisa mengabaikan wanita itu.

Langkah kaki terdengar mendekat. Tanpa menoleh, Lorenzo sudah tahu siapa itu. Sementara Emilio dengan tubuh yang masih gagah, dia mendekat lalu duduk di kursi samping Loren.

“Masih dengan kebiasaan buruk mu.” sembari mengambil gelas kosong dan menuangkan vodka untuk dirinya sendiri.

“Kau juga tidak berubah, Ayah.”

Mereka diam sejenak, hanya suara angin malam yang menemani. Dan keduanya sama-sama menatap lurus.

“Aku sudah dengar masalah itu.” ujar Emilio akhirnya.

Lorenzo tertawa pelan. “Masalah selalu ada. Kau hanya baru mendengarnya.”

Emilio menatapnya sekilas, ada rasa bersalah namun apalah dayanya. “Bagaimana tentang wanita nya? Apa dia hamil?”

Lorenzo tidak langsung menjawab, dia bahkan tidak menoleh dan malah mengeluarkan sebatang rokok untuk dia nyalakan dan dihisap.

Ia kembali meneguk vodkanya, lalu berkata datar— “Ya. Dan aku akan menikahinya.”

Sunyi.

Emilio menoleh penuh keheranan. “Apa?”

“Wanita itu, wanitanya Matteo,” ulang Lorenzo santai. “Dia yang menginginkannya.” ucapnya seraya menyeringai seolah mengejek takdir.

“Lorenzo,” suara Emilio menegang. “Kau tahu apa artinya itu? Kau tidak boleh—”

“Tidak boleh menikah?” potong Lorenzo ringan.

Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Seharusnya ini tidak terjadi jika putramu yang lain tidak bermasalah. Dan seperti biasa aku yang harus bertanggungjawab atas sesuatu yang terjadi di rumah ini.”

Emilio menghela napas tajam, ia terdiam beberapa detik. “Ini bukan soal aturan biasa. Ini soal keselamatan. Musuh kita tidak akan diam. Wanita itu—dan anak itu—akan jadi target.”

Lorenzo terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum samar.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau tetap melakukannya?”

“Karena dia memintanya.”

Jawaban itu terlalu sederhana. Terlalu tenang. Emilio menatap putranya, mencoba membaca sesuatu di balik sikap dinginnya.

“Hanya itu alasannya?”

Lorenzo akhirnya menoleh. Matanya tajam, namun ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan kelembutan—melainkan ketertarikan yang berbahaya.

“Jangan khawatir, Ayah. Dia lebih liar dari Monica.”

Emilio terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban. Ucapan dan tatapan dingin Lorenzo selalu berhasil membuatnya bungkam. Toh dia juga yang menyetujui ucapan Monica untuk mengurus wanita yang dihamili oleh Matteo.

Dan sekarang, Loren akan menikahinya— dan tidak ada alasan lain lagi untuk menolak pilihan Lorenzo sendiri.

“Aku harus pergi, pamanmu Vitorio akan tiba sebentar lagi.” kata Emilio yang enggan ditoleh oleh Loren.

Cukup lama pria tua itu menatap putranya, lalu dia pergi begitu saja. Sementara Lorenzo sendiri tak peduli dan masih menikmati minuman, rokok dan kesendirian nya.

...***...

Italia, Milan

Meja makan panjang itu telah dipenuhi hidangan mewah. Setelah satu hari berlalu cepat, keadaan di mansion de Santos cukup ramai akan beberapa para tamu yang hadir malam ini.

Namun semuanya berjalan tak lama, setelah usai memperkenalkan putranya Matteo sebagai pemimpin perusahaan de Santos yang baru, kini keluarga tersebut tengah duduk di satu meja panjang yang terletak di ruang makan mewah.

“Suatu kehormatan, karena kau mengundang ku, Bibi Monica!” ucap seorang wanita cantik, rambut pirang bernama, Bianca Varela. Keponakan jauh Monica yang usianya sama seperti Lorenzo.

Monica tersenyum, duduk anggun di ujung meja, secangkir teh di tangannya. Adriana berada tak jauh darinya, sementara Matteo tampak santai, meski luka di wajahnya belum sepenuhnya hilang.

Jangan lupakan juga Emilio dan Vitorio yang juga hadir di sana.

“Ini bukan apa-apa, sayang. Lagipula kau masih keponakan ku.” tanya Monica dengan lembut dan anggun.

Bianca si cantik itu memperhatikan sekitar, lalu kembali menatap Monica dan mereka yang ada di sana. “Aku... tidak melihat Lorenzo sejak tadi, dia sangat sibuk?”

Monica hanya menarik nafas dalam-dalam dan malas mendengar itu.

“Tidak biasanya dia terlambat,” tambah Adriana pelan dan tersenyum pada Bianca. Mereka semua tahu, kalau Bianca mengincar Lorenzo.

Matteo menyeringai kecil. “Mungkin sedang sibuk dengan urusannya.”

Monica menatapnya sekilas, tak tertarik memperpanjang.

“Urusan yang seharusnya bukan menjadi urusannya, Matteo.” tegas Emilio menatap tajam ke putra bungsunya itu. “Fokus saja ke hidangan mu.”

Hening membuat keadaan di sana lebih dingin. Bianca hanya menatap heran seraya mengangkat kedua alisnya dan diam.

Namun tepat saat itu— langkah kaki terdengar.

“Kami datang lebih telat. Aku harap pestanya masih belum berakhir.” ucap seorang Lorenzo de Santis yang pastinya sudah dikenal oleh keluarganya.

Semua mata mengarah ke pintu. Terkejut, namun bukan ke Lorenzo, melainkan ke sosok wanita yang datang bersamanya.

Meski berjalan sejajar, namun Loren dan Aria sama sekali tidak bergandengan tangan.

Disaat pria itu mengenakan kemeja hitamnya, disaat itulah Aria juga mengenakan sebuah gaun pengantin warna putih yang sederhana dan hampir pres di tubuhnya, namun... Keadaan gaun tersebut sudah compang-camping di area bawahnya, seolah baru saja digunting dengan sengaja.

“Siapa yang kau bawa, Loren?” tanya Monica yang masih duduk dan menatap jijik ke Aria.

Meski jujur saja, wanita itu terlihat cantik dan bersih, namun pakaiannya tidak mendukung.

“Dia istriku.” jawab singkat Lorenzo yang tentunya membuat mereka di sana terkejut, kecuali Emilio yang memang sudah tahu kalau putranya itu akan menikahi seorang wanita yang tidak seharusnya dipertanggung jawabkan olehnya.

Ada yang heran, ada juga yang senang, serta ada yang marah.

“Astaga... Keterlaluan.” umpat kesal Bianca yang tak suka melihat itu.

“Kau sudah menikah, dan kami baru tahu.” Monica berdiri serta tersenyum heran ke Lorenzo.

“Ya.” balas Lorenzo. “Dan aku ingin kalian memperlakukan istriku seperti keluarga sendiri.”

Aria menatap tanpa senyuman, hanya angkuh dan amarah yang terpendam saat dia akhirnya melihat sendiri bagaimana kekuasaan dan kekayaan de Santos yang membuatnya sulit melaporkan mereka ke polisi.

Terpopuler

Comments

sleepyhead

sleepyhead

Ini sebenarnya skenario Lorenz bukan sii tor, dia membuat skema seolah accident adiknya, tp sebenarnya ini dialah plat makernya 🤭 iya bukan tor, karena gua perhatiin dr oart pertama, Lorenz tu always jd secret admirer nya Aria

2026-04-09

1

vnablu

vnablu

bagusss Aria kamu harus angkuh di saat bersama keluarganya Lorenzo karena jika tidak kamu akan ditindas oleh mereka 😌😌

2026-04-09

1

Tiara Bella

Tiara Bella

Aria tw gk sh yg merkosa dia Matteo bukan Lorenzo.....

2026-04-09

2

lihat semua
Episodes
1 MBM — BAB 01
2 MBM — BAB 02
3 MBM — BAB 03
4 MBM — BAB 04
5 MBM — BAB 05
6 MBM — BAB 06
7 MBM — BAB 07
8 MBM — BAB 08
9 MBM — BAB 09
10 MBM — BAB 10
11 MBM — BAB 11
12 MBM — BAB 12
13 MBM — BAB 13
14 MBM — BAB 14
15 MBM — BAB 15
16 MBM — BAB 16
17 MBM — BAB 17
18 MBM — BAB 18
19 MBM — BAB 19
20 MBM — BAB 20
21 MBM — BAB 21
22 MBM — BAB 22
23 MBM — BAB 23
24 MBM — BAB 24
25 MBM — BAB 25
26 MBM — BAB 26
27 MBM — BAB 27
28 MBM — BAB 28
29 MBM — BAB 29
30 MBM — BAB 30
31 MBM — BAB 31
32 MBM — BAB 32
33 MBM — BAB 33
34 MBM — BAB 34
35 MBM — BAB 35
36 MBM — BAB 36
37 MBM — BAB 37
38 MBM — BAB 38
39 MBM — BAB 39
40 MBM — BAB 40
41 MBM — BAB 41
42 MBM — BAB 42
43 MBM — BAB 43
44 MBM — BAB 44
45 MBM — BAB 45
46 MBM — BAB 46
47 MBM — BAB 47
48 MBM — BAB 48
49 MBM — BAB 49
50 MBM — BAB 50
51 MBM — BAB 51
52 MBM — BAB 52
53 MBM — BAB 53
54 MBM — BAB 54
55 MBM — BAB 55
56 MBM — BAB 56
57 MBM — BAB 57
58 MBM — BAB 58
59 MBM — BAB 59
60 MBM — BAB 60
61 MBM — BAB 61
62 MBM — BAB 62
63 MBM — BAB 63
64 MBM — BAB 64
65 MBM — BAB 65
66 MBM — BAB 66
67 MBM — BAB 67
68 MBM — BAB 68
69 MBM — BAB 69
70 MBM — BAB 70
71 MBM — BAB 71
72 MBM — BAB 72
73 MBM — BAB 73
74 MBM — BAB 74
75 MBM — BAB 75
76 MBM — BAB 76
77 MBM — BAB 77
78 MBM — BAB 78
79 MBM — BAB 79
80 MBM — BAB 80
81 MBM — BAB 81
82 MBM — BAB 82
83 MBM — BAB 83
84 MBM — BAB 84
85 MBM — BAB 85
86 MBM — BAB 86
87 MBM — BAB 87
88 MBM — BAB 88
89 MBM — BAB 89
90 MBM — BAB 90
91 MBM — BAB 91
92 MBM — BAB 92
93 MBM — BAB 93
94 MBM — BAB 94
95 MBM — BAB 95
96 MBM — BAB 96
97 MBM — BAB 97
98 MBM — BAB 98
99 MBM — BAB 99
100 MBM — BAB 100
101 MBM — BAB 101
102 MBM — BAB 102
103 MBM — BAB 103
104 MBM — BAB 104
105 MBM — BAB 105
106 MBM — BAB 106
107 MBM — BAB 107
108 MBM — BAB 108
109 MBM — BAB 109
Episodes

Updated 109 Episodes

1
MBM — BAB 01
2
MBM — BAB 02
3
MBM — BAB 03
4
MBM — BAB 04
5
MBM — BAB 05
6
MBM — BAB 06
7
MBM — BAB 07
8
MBM — BAB 08
9
MBM — BAB 09
10
MBM — BAB 10
11
MBM — BAB 11
12
MBM — BAB 12
13
MBM — BAB 13
14
MBM — BAB 14
15
MBM — BAB 15
16
MBM — BAB 16
17
MBM — BAB 17
18
MBM — BAB 18
19
MBM — BAB 19
20
MBM — BAB 20
21
MBM — BAB 21
22
MBM — BAB 22
23
MBM — BAB 23
24
MBM — BAB 24
25
MBM — BAB 25
26
MBM — BAB 26
27
MBM — BAB 27
28
MBM — BAB 28
29
MBM — BAB 29
30
MBM — BAB 30
31
MBM — BAB 31
32
MBM — BAB 32
33
MBM — BAB 33
34
MBM — BAB 34
35
MBM — BAB 35
36
MBM — BAB 36
37
MBM — BAB 37
38
MBM — BAB 38
39
MBM — BAB 39
40
MBM — BAB 40
41
MBM — BAB 41
42
MBM — BAB 42
43
MBM — BAB 43
44
MBM — BAB 44
45
MBM — BAB 45
46
MBM — BAB 46
47
MBM — BAB 47
48
MBM — BAB 48
49
MBM — BAB 49
50
MBM — BAB 50
51
MBM — BAB 51
52
MBM — BAB 52
53
MBM — BAB 53
54
MBM — BAB 54
55
MBM — BAB 55
56
MBM — BAB 56
57
MBM — BAB 57
58
MBM — BAB 58
59
MBM — BAB 59
60
MBM — BAB 60
61
MBM — BAB 61
62
MBM — BAB 62
63
MBM — BAB 63
64
MBM — BAB 64
65
MBM — BAB 65
66
MBM — BAB 66
67
MBM — BAB 67
68
MBM — BAB 68
69
MBM — BAB 69
70
MBM — BAB 70
71
MBM — BAB 71
72
MBM — BAB 72
73
MBM — BAB 73
74
MBM — BAB 74
75
MBM — BAB 75
76
MBM — BAB 76
77
MBM — BAB 77
78
MBM — BAB 78
79
MBM — BAB 79
80
MBM — BAB 80
81
MBM — BAB 81
82
MBM — BAB 82
83
MBM — BAB 83
84
MBM — BAB 84
85
MBM — BAB 85
86
MBM — BAB 86
87
MBM — BAB 87
88
MBM — BAB 88
89
MBM — BAB 89
90
MBM — BAB 90
91
MBM — BAB 91
92
MBM — BAB 92
93
MBM — BAB 93
94
MBM — BAB 94
95
MBM — BAB 95
96
MBM — BAB 96
97
MBM — BAB 97
98
MBM — BAB 98
99
MBM — BAB 99
100
MBM — BAB 100
101
MBM — BAB 101
102
MBM — BAB 102
103
MBM — BAB 103
104
MBM — BAB 104
105
MBM — BAB 105
106
MBM — BAB 106
107
MBM — BAB 107
108
MBM — BAB 108
109
MBM — BAB 109

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!