Menjahit Luka Dengan Benang Khianat

Menjahit Luka Dengan Benang Khianat

BAB 1: Gunting di Atas Sutra

Dunia mengenal Arini sebagai wanita bertangan dingin. Di balik kemegahan butik L’Atelier Arini yang berdiri kokoh di jantung Jakarta, ia adalah ratu yang memegang kendali atas setiap helai benang dan lekuk kain. Baginya, hidup adalah tentang presisi. Satu milimeter kesalahan dalam memotong pola berarti kegagalan sebuah mahakarya. Namun malam ini, di tengah keheningan rumah mewahnya yang berlantai marmer dingin, Arini merasa seperti selembar kain sutra yang baru saja digunting paksa secara kasar. Hancur, koyak, dan tak lagi utuh.

Arini berdiri tegak di depan cermin besar di kamarnya. Gaun malam berwarna emerald yang ia kenakan masih melekat sempurna, membungkus tubuhnya yang ramping namun tampak kaku. Ia baru saja kembali dari malam penganugerahan Designer of the Year. Di atas meja rias, sebuah piala kristal berkilauan terkena lampu temaram. Seharusnya, malam ini adalah puncak kebahagiaannya. Namun, sebuah notifikasi yang tak sengaja terbaca di ponsel suaminya, Adrian, saat pria itu sedang mandi beberapa jam lalu, telah mengubah segalanya.

“Aku masih mencium aroma tubuhmu di bantal ini. Apartemen jam 10?”

Pesan itu datang dari Maya. Sahabat yang Arini angkat dari kemiskinan, asisten pribadi yang ia beri kepercayaan penuh untuk mengatur jadwal hidupnya, dan kini, wanita yang diam-diam menjahit lubang kehancuran di dalam rumah tangganya.

Arini tidak berteriak. Ia tidak membanting piala kristal yang baru saja dimenangkannya. Jarinya yang lentik justru menyentuh permukaan meja rias dengan ketenangan yang mematikan. Sebagai wanita yang terbiasa membangun kerajaan bisnis dari nol, Arini tahu bahwa kemarahan yang meledak-ledak hanya akan merusak polanya sendiri. Ia adalah seorang perancang; ia tahu kapan harus memotong, dan kapan harus menyatukan kembali. Luka ini sangat dalam, namun ia menolak untuk berdarah di depan musuhnya.

"Adrian," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin. Suaranya tidak bergetar, namun dingin seperti mata pisau yang baru diasah.

Terdengar suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki Adrian yang mantap di lorong. Arini memejamkan mata sejenak, menghirup napas panjang, membiarkan rasa sakit itu mengalir ke setiap sel tubuhnya, menjadikannya bahan bakar. Saat ia membuka mata, kesedihan itu sudah ia lipat rapi dan ia simpan di laci paling gelap dalam hatinya.

"Sayang? Kamu sudah pulang?" suara Adrian terdengar dari ambang pintu. Pria itu masuk dengan senyum yang selama ini Arini anggap sebagai pelabuhan. Adrian tampak sangat tampan dengan setelan jas buatan Arini yang pas menempel di bahunya yang lebar.

Adrian menghampiri Arini, hendak mengecup pundaknya yang terbuka, namun Arini sedikit bergeser dengan gerakan yang terlihat natural, seolah ia hanya ingin mengambil antingnya. Ia menolak sentuhan yang kini terasa menjijikkan itu.

"Acara tadi sangat sukses, Ian," ujar Arini tenang, matanya menatap Adrian melalui pantulan cermin. "Banyak orang yang memuji desainku. Mereka bilang, aku punya insting yang sangat tajam untuk melihat detail yang salah dalam sebuah karya. Sekecil apa pun itu."

Adrian terkekeh, sama sekali tidak menyadari sindiran tajam di balik kalimat itu. "Tentu saja. Istriku adalah yang terbaik. Tidak ada yang bisa luput dari matamu."

Arini tersenyum tipis. Sangat tipis hingga tidak mencapai matanya. Benar, Ian. Tidak ada yang luput dari mataku. Termasuk pengkhianatanmu.

"Aku butuh kain baru untuk koleksi musim depan," lanjut Arini sambil mulai melepas perhiasannya. "Kain yang sangat kuat, yang tidak mudah robek meskipun ditarik dari dua sisi. Karena menurutku, sesuatu yang sudah rusak, tidak akan pernah sama lagi meski dijahit sesempurna apa pun. Benangnya akan selalu meninggalkan bekas."

Adrian mengernyitkan dahi sejenak, merasa ada yang aneh dengan nada bicara istrinya yang biasanya hangat. Namun, egonya sebagai pria yang merasa berkuasa membuatnya abai. "Kamu terlalu lelah, Arini. Istirahatlah. Jangan terlalu banyak filosofi malam ini."

Saat Adrian berjalan menuju ruang kerja, Arini menatap ponsel suaminya yang kembali bergetar di atas nakas. Sebuah pesan baru masuk. Arini tidak menghapusnya. Ia membiarkannya tetap di sana, menjadi bukti yang akan ia kumpulkan satu per satu.

Ia tidak akan meninggalkan Adrian sekarang. Keluar dari rumah ini dengan tangisan adalah kekalahan, dan Arini tidak pernah diajarkan untuk kalah. Ia akan tetap di sini, memegang jarum dan benangnya sendiri. Ia akan menjahit kembali hidupnya yang robek, namun ia akan memastikan bahwa benang yang ia gunakan—benang khianat dari Adrian dan Maya—akan menjadi jerat yang mencekik mereka berdua di akhir cerita nanti.

Arini adalah wanita kuat. Dan bagi wanita sepertinya, pembalasan dendam terbaik bukanlah caci maki, melainkan sebuah rencana yang disusun dengan rapi, seindah gaun haute couture yang mematikan.

Episodes
1 BAB 1: Gunting di Atas Sutra
2 BAB 2: Sarapan di Atas Bara
3 BAB 3: Pola yang Tersembunyi
4 BAB 4: Racun di Dalam Madu
5 Bab 5: Umpan Di ujung Kail
6 BAB 6: Jarum yang Menusuk Perlahan
7 BAB 7: Retakan di Balik Bingkai
8 BAB 8: Robeknya Topeng Kesetiaan
9 BAB 9: Membersihkan Sisa Benang
10 BAB 10: Perang di Balik Sorot Lampu
11 BAB 11: Peragaan Busana Patah Hati
12 BAB 12: Gema di Lorong Studio
13 BAB 13: Jarum Patah dalam Lipatan
14 BAB 14: Simpul Mati di Pelabuhan
15 BAB 15: Benang Merah di Tengah Salju
16 BAB 16: Kancing Emas dan Rahasia di Baliknya
17 BAB 17: Memutus Simpul Terakhir
18 BAB 18: Menenun Kepercayaan Baru
19 BAB 19: Keraguan yang Menyusup
20 BAB 20: Pola yang Beradu
21 BAB 21: Jarum Perak di Ruang Sidang
22 BAB 22: Benang Hitam di Kota Mode
23 BAB 23: Pilihan di Atas Meja Potong
24 BAB 24: Taruhan di Atas Kain Putih
25 BAB 25: Dinginnya Trocedaro
26 BAB 26: Mahakarya di Palais de Tokyo
27 BAB 27: Sisa Benang di Kota Cahaya
28 BAB 28: Kepulangan Sang Pemenang
29 BAB 29: Garis Akhir di Atas Pola
30 BAB 30: Mahakarya yang Abadi
31 Bab 31: Takhta di Atas Puing
32 Bab 32: Jejak Benang Merah
33 Bab 33: Pertemuan di Ambang Gelap
34 Bab 34: Badai di Atas Kertas
35 Bab 35: Strategi Senyap
36 Bab 36: Duri dalam Lipatan
37 Bab 37: Menenun Jebakan
38 Bab 38: Skakmat
39 Bab 39: Ratu di Singgasana Sendiri
40 Bab 40: Cahaya di Atas Singgasana
41 Bab 41: Menenun Langit
42 Bab 42: Warisan Cahaya
43 Bab 43: Simpul Terakhir
44 Bab 44: Melampaui Garis Batas
45 Bab 45: Melukis Angin
46 Bab 46: Cahaya di Ujung Benang
47 Bab 47: Menjadi Samudra
48 Bab 48: Menenun Keheningan
49 Bab 49: Menjadi Cahaya Abadi
50 Bab 50: Gema di Balik Tenunan
51 Bab 51: Simpul Keabadian
52 Bab 52: Gema di Ruang Kosong
53 Bab 53: Singgasana Berduri
54 Bab 54: Gema dari Masa Lalu
55 Bab 55: Penenun di Atas Bara
56 Bab 56: Menenun Badai
57 Bab 57: Perjamuan Benang Merah
58 Bab 58: Garis Putih di Ujung Jalan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
BAB 1: Gunting di Atas Sutra
2
BAB 2: Sarapan di Atas Bara
3
BAB 3: Pola yang Tersembunyi
4
BAB 4: Racun di Dalam Madu
5
Bab 5: Umpan Di ujung Kail
6
BAB 6: Jarum yang Menusuk Perlahan
7
BAB 7: Retakan di Balik Bingkai
8
BAB 8: Robeknya Topeng Kesetiaan
9
BAB 9: Membersihkan Sisa Benang
10
BAB 10: Perang di Balik Sorot Lampu
11
BAB 11: Peragaan Busana Patah Hati
12
BAB 12: Gema di Lorong Studio
13
BAB 13: Jarum Patah dalam Lipatan
14
BAB 14: Simpul Mati di Pelabuhan
15
BAB 15: Benang Merah di Tengah Salju
16
BAB 16: Kancing Emas dan Rahasia di Baliknya
17
BAB 17: Memutus Simpul Terakhir
18
BAB 18: Menenun Kepercayaan Baru
19
BAB 19: Keraguan yang Menyusup
20
BAB 20: Pola yang Beradu
21
BAB 21: Jarum Perak di Ruang Sidang
22
BAB 22: Benang Hitam di Kota Mode
23
BAB 23: Pilihan di Atas Meja Potong
24
BAB 24: Taruhan di Atas Kain Putih
25
BAB 25: Dinginnya Trocedaro
26
BAB 26: Mahakarya di Palais de Tokyo
27
BAB 27: Sisa Benang di Kota Cahaya
28
BAB 28: Kepulangan Sang Pemenang
29
BAB 29: Garis Akhir di Atas Pola
30
BAB 30: Mahakarya yang Abadi
31
Bab 31: Takhta di Atas Puing
32
Bab 32: Jejak Benang Merah
33
Bab 33: Pertemuan di Ambang Gelap
34
Bab 34: Badai di Atas Kertas
35
Bab 35: Strategi Senyap
36
Bab 36: Duri dalam Lipatan
37
Bab 37: Menenun Jebakan
38
Bab 38: Skakmat
39
Bab 39: Ratu di Singgasana Sendiri
40
Bab 40: Cahaya di Atas Singgasana
41
Bab 41: Menenun Langit
42
Bab 42: Warisan Cahaya
43
Bab 43: Simpul Terakhir
44
Bab 44: Melampaui Garis Batas
45
Bab 45: Melukis Angin
46
Bab 46: Cahaya di Ujung Benang
47
Bab 47: Menjadi Samudra
48
Bab 48: Menenun Keheningan
49
Bab 49: Menjadi Cahaya Abadi
50
Bab 50: Gema di Balik Tenunan
51
Bab 51: Simpul Keabadian
52
Bab 52: Gema di Ruang Kosong
53
Bab 53: Singgasana Berduri
54
Bab 54: Gema dari Masa Lalu
55
Bab 55: Penenun di Atas Bara
56
Bab 56: Menenun Badai
57
Bab 57: Perjamuan Benang Merah
58
Bab 58: Garis Putih di Ujung Jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!