Kultivator Pengembara

Kultivator Pengembara

Bab 1- Penderitaan yang tak terucap

𝙍𝙀𝙆𝙊𝙈𝙀𝙉𝘿𝘼𝙎𝙄 𝙉𝙊𝙑𝙀𝙇 𝘽𝘼𝙍𝙐

1.𝗣𝗘𝗡𝗗𝗘𝗞𝗔𝗥 𝗟𝗘𝗚𝗘𝗡𝗗𝗔 𝗡𝗔𝗚𝗔

𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝘆𝗮 🙏

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​“Ini semua salahmu! Dasar suami pengecut dan tak berguna!” Suara seorang wanita cantik terdengar melengking tajam, memecah paksa keheningan pagi yang dingin di dalam rumah kumuh itu.

​“Apa katamu?! Justru ini salahmu! Seharusnya aku tidak pernah menikah denganmu. Dulu, antrean wanita yang menginginkanku membentang sampai ke ujung kota!” balas sang suami, suaranya menggeram tak kalah garang.

​Paras Ayah dan Ibu Jian Feng memang rupawan. Sang ayah tampan dengan rahang tegas dan rambut hitam legam, sementara ibunya jelita dengan kulit pualam seputih salju. Namun, kecantikan dan ketampanan itu hanyalah topeng tipis, menutupi watak yang bengis dan jiwa yang busuk seperti bangkai.

​Pertengkaran itu adalah sarapan, makan siang, dan makan malam yang harus ditelan oleh Jian Feng. Ia, buah dari hubungan gelap orang tuanya, hanya bisa meringkuk seperti binatang terpojok.

​Di sudut kamar yang lembap dan gelap, ia memeluk erat lututnya. Pandangannya kosong, terlempar ke dinding kusam yang berjamur. Bukan hanya muak, ia merasa dirinya luruh dan hancur, terlalu kecil dan tak berdaya untuk menghentikan badai verbal yang tak berkesudahan itu. Ia hanya diam, menelan setiap sumpah serapah yang memanas dan membakar di udara.

​Hari berganti menjadi pekan, pekan menjadi bulan, dan tahun demi tahun berlalu penuh penyiksaan.

​Jian Feng kini berusia sepuluh tahun.

​Ayahnya, yang kini tenggelam dalam kebiasaan mabuk-mabukan dan judi murahan, membanting pintu hingga engselnya berderit. Matanya merah dan urat di lehernya menegang, dipenuhi amarah alkohol.

​“Hei, anak haram tak berguna! Cepat, belikan aku alkohol! Jika kau tidak mendapatkannya, akan aku robek mulutmu, dasar sampah masyarakat!” bentaknya.

​Jian Feng tidak menjawab. Wajahnya adalah topeng hampa yang sempurna; ia sudah terlalu kebal dengan ancaman dan kekerasan fisik. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membawa beban hidupnya sendiri.

​Namun, yang lebih memuakkan dan menghancurkan harga dirinya adalah apa yang dilihatnya sesaat sebelum meninggalkan rumah.

​Dari celah kecil pintu kamar lain yang sedikit terbuka, mata Jian Feng yang hampa menangkap pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa kehormatannya. Sang Ibu, tanpa malu dan tertawa terkikik, sedang bercumbu liar dengan seorang pria asing yang bukan suaminya—seorang lelaki bayaran.

​“Sampah!” desis Jian Feng, suaranya tercekat dan penuh kebencian yang sedikit pun tak mengandung kehangatan.

​Jian Feng pergi menuju pusat kota. Untuk bertahan hidup, ia bekerja di Kedai Mi Paman Lau sebagai pelayan tanpa upah yang pantas. Setiap hari, ia akan menerima upah hanya lima koin perak. Seluruh hasil kerja kerasnya itu ia belikan alkohol demi menenangkan kemarahan ayahnya yang haus minuman keras.

​Jika lapar, ia akan memaksa perutnya menahan sakit hingga keesokan hari. Ada kalanya, ia harus mengais dan memakan sisa-sisa dari tempat sampah, bertarung dengan anjing liar demi satu gigitan yang menunda kematian.

​Memasuki usia sebelas tahun, Jian Feng mulai kehilangan makna hidup. “Kenapa aku harus hidup? Untuk apa aku dilahirkan?” Pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu terus berputar, menggerogoti jiwanya yang rapuh bagaikan racun mematikan.

​Saat melamun di tepi kota, ia sering mengamati Sekte Pedang Langit yang berdiri megah di puncak bukit, diselimuti kabut pagi. Ia memerhatikan para murid yang berlatih; melihat bagaimana mereka melompat, menghunus pedang, dan berkultivasi energi internal.

​Yang tidak disadari Jian Feng adalah bahwa di dalam dirinya, tersembunyi bakat luar biasa yang sangat langka dan menakutkan.

​Walau hanya melihat sekali, ia dapat dengan mudah menghafal setiap gerakan, setiap posisi kuda-kuda, dan teknik pernapasan yang dilakukan para murid sekte. Ilmu bela diri yang rumit itu seolah terukir sempurna dalam benaknya.

​Seiring dewasa, Jian Feng tumbuh menjadi pria yang kuat dan gagah, dengan tatapan mata yang tajam namun selalu dipenuhi kegelapan. Fisiknya kokoh, tetapi ia semakin membenci dirinya sendiri—membenci darah yang mengalir dari kedua orang tua sampah itu. Ia merasa bahwa dirinya adalah kesalahan alam semesta.

​Suatu sore yang cerah, saat ia sibuk membersihkan meja di Kedai Mi, kedua orang tuanya tiba-tiba muncul. Mereka tersenyum—senyum yang palsu, menjijikkan, dan sangat tidak wajar. Ini adalah pemandangan yang mustahil terjadi tanpa pamrih.

​“Ayo pulang, Anakku.” ujar Ibunya, tangannya yang halus mencoba menggandeng tangan Jian Feng seolah tak ada dosa dan pengkhianatan yang pernah terjadi.

​Jian Feng menepis tangan itu dengan jijik. Kecurigaan dingin menjalar di tulang punggungnya. “Ada apa? Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin ada hubungan apa pun lagi dengan kalian berdua?”

​“Jangan berbicara begitu, Jian. Kau kan anak kami. Sekarang, ikut kami!” Nada suara Ayahnya tiba-tiba meninggi, matanya melotot tajam, mengingatkan Jian Feng pada teror di masa kecilnya.

​Sejak lama, ide untuk membunuh kedua orang tuanya sudah bersarang dalam pikiran Jian Feng. Namun, setiap kali muncul, ia urungkan, menahan diri dengan prinsip bahwa ia tidak boleh menjadi seburuk mereka—ia tak ingin menjadi monster.

​“Jian Feng! Kalau kau mau menurut, kami tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi! Ini yang terakhir kalinya, kami janji,” ucap Ayahnya, nadanya kini bergetar penuh ancaman terselubung. "Ini tentang nyawa kami."

​Jian Feng akhirnya mengangguk, menyerah pada rasa takut yang mendalam. Trauma masa lalu masih membelenggu dirinya; setiap nada keras dari Ayahnya memicu rasa takut yang sulit ia hilangkan.

​Mereka membawa Jian Feng ke sebuah kediaman mewah dan megah milik salah satu keluarga pedagang terkaya di kota itu, Keluarga Lin. Di sana, ia melihat wanita-wanita bergaun sutra, beberapa pria berjanggut, dan seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa, Tuan Lin, kepala keluarga.

​Setelah mendengarkan percakapan mereka—sebuah kesepakatan bisnis yang menjijikkan—kemarahan membakar urat nadi Jian Feng. Ternyata orang tuanya berutang besar pada Keluarga Lin dan jalan keluar satu-satunya adalah menjualnya.

​“Apa maksud kalian?! Menikahkan aku dengan anak mereka?! Kalian menjualku untuk melunasi utang kotor kalian?!” raungnya, suaranya memantul tajam di ruangan mewah itu.

​Jian Feng berbalik, siap melarikan diri, tetapi Ayahnya mencekal lengannya dengan keras. “Jika kau pergi, aku pastikan aku akan mengganggu hidupmu dengan cara yang paling kau benci! Aku akan memberitahu semua orang tentang masa lalumu dan menghancurkan kedai mi Paman Lau!”

​Terperangkap antara trauma dan ancaman, Jian Feng menurut. Ia tak bisa membiarkan Paman Lau, satu-satunya orang baik dalam hidupnya, ikut hancur.

​Pernikahan itu digelar secara sederhana, jauh dari kemewahan kota, di sebuah rumah tua terpencil di pegunungan, seolah menyembunyikan aib. Ketika tirai dibuka, Jian Feng akhirnya melihat wanita yang ‘dijual’ kepadanya.

​Dia adalah Nona Muda Lin, gadis yang dijuluki ‘Anak Cacat dan Terkutuk Keluarga Pedagang’.

​Nona Lin, calon istrinya, sebenarnya adalah putri kandung dari Keluarga Lin yang paling dicintai. Namun, ia lahir dengan kelainan langka yang menyebabkan tubuhnya sangat lemah dan rentan penyakit. Penyakitnya diperparah saat ia menolak perjodohan lain yang lebih tua, dan berakhir dihajar oleh calon suaminya, merusak tulang punggung dan membuatnya lumpuh.

​Akibatnya, ia dikucilkan dan dianggap aib. Keluarga Lin menikahkannya dengan Jian Feng, seorang anak haram dari keluarga miskin, sebagai cara terakhir untuk menyingkirkannya dari rumah tanpa harus menanggung dosa membunuhnya—sebab semua tabib sudah angkat tangan. Mereka menunggu kematiannya datang, dan Jian Feng hanyalah penjaga terakhirnya.

​Wanita itu sangat pucat, tatapannya kosong seperti patung porselen, dan tubuhnya sangat kurus, hampir hanya tinggal tulang, dibalut gaun pengantin putih yang terlihat kebesaran.

​Saat matanya bertemu dengan mata istrinya, sebuah perasaan aneh muncul di hati Jian Feng: bukan benci, bukan marah, melainkan sebuah penyesalan mendalam yang baru pertama kali ia rasakan. Ia melihat refleksi dirinya sendiri dalam mata kosong itu—jiwa yang telah menyerah pada penderitaan.

​Gadis itu, sang Istri, hanya menatapnya sejenak, lalu batuk keras—batuk yang terdengar seperti suara kertas robek, diikuti oleh setetes darah merah pekat yang membasahi sudut bibirnya.

​Jian Feng tahu.

​Ia tidak hanya menikahi seorang wanita cacat, tetapi juga menikahi kematian itu sendiri, sebuah takdir tragis yang dipercepat oleh kekejaman keluarga Lin.

Terpopuler

Comments

Jungkook

Jungkook

hai agen one/Doge/ done mampir

2026-02-24

0

bob

bob

baca juga novel " zaman para dewa" bagi yang suka novel fantasi timur 👍👍

2026-01-27

0

Halloo semuanya, mohon dukungannya ke karya saya yaaa😍🙏 mampir klik aja profil terimakasih 🤗

2026-01-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1- Penderitaan yang tak terucap
2 Bab 2- Memulai kultivasi
3 Bab 3- Dasar wanita bodoh!
4 Bab 4- Kebahagiaan sebelum tragedi
5 Bab 5- Memohon demi sang istri
6 Bab 6- Kabar buruk
7 Bab 7: Warisan tujuh hari
8 Bab 8- Memulainya mengembara
9 Bab 9- Bandit aneh
10 Bab 10- Perhatian yang tidak di sadari
11 Bab 11- Perburuan dan batuk keras
12 Bab 12- Monster yang terkurung
13 Bab 13- Amarah pembawa petaka
14 Bab 14- Duel petir dan api
15 Bab 15-Senyum Maniak dan Cerewet yang Disyukuri
16 Bab 16- Daun Mekar dan Surat dari Neraka
17 Bab 17- Penghinaan di Gerbang Sekte Api Merah
18 Bab 18- Pengorbanan
19 ​Bab 19- Murka Petir Emas
20 Bab 20- Badai Sepuluh Ribu Api
21 Bab 21- Pelarian Berdarah dan Dendam Sejati(Arc 1 End)
22 Bab 22- Pengakuan di ambang kematian
23 ​Bab 23- Suara dari Kejauhan
24 Bab 24- Kehangatan di Tengah Dingin
25 Bab 25- Menghadapi gadis cerewet
26 Bab 26- Bersembunyi dari pengejaran
27 Bab 27- Makhluk petir
28 ​ Bab 28- Empat Hari Pemulihan dan Pengikut Tak Terduga
29 Bab 29- tanghulu untuk Lin Xue
30 Bab 30- Penginapan murah
31 Bab 31- Pekerjaan mencurigakan
32 Bab 32- Kebrutalan Feng
33 Bab 33- Feng kau gila?
34 Bab 34: Ancaman besar
35 Bab 35: Pelarian
36 Bab 36- Pengorbanan sang penjaga petir
37 Bab 37- Dendam Wou Cho
38 Bab 38: Tiga bulan berlalu
39 Bab 39: Kehangatan keluarga baru
40 ​Bab 40: Deteksi Tanda Pelacak
41 Bab 41- Terbentuknya duo maut
42 Bab 42- Kekalahan telak
43 Bab 43- Terkena tipuan
44 Bab 44- Potensi sejati yang terkurung
45 Bab 45: kembali bersama
46 Bab 46: Janji di bawah lampion(Arc 2 End)
47 Bab 47- Niat jahat yang tersembunyi
48 Bab 48: Petir kecil
49 Bab 49: Pertempuan kembali dengan Petir kecil
50 Bab 50: Bahaya yang akan datang
51 Bab 51: Akar dari trauma
52 Bab 52: Tragedi berdarah
53 ​Bab 53: Kelahiran Dewa Pembantaian
54 Bab 54: Kengerian Iblis Petir
55 Bab 55: Hon Dai dan Wou Cho
56 Bab 56: Hampir kehilangan jati diri
57 Bab 57: Drama keluarga
58 Bab 58: Perpisahan(Arc 3 end)
59 Bab 59: Hamparan hijau
60 Bab 60: Realita alam atas
61 Bab 61: Merindukan omelanmu
62 Bab 62: Kota Paviliun Langit dan Hukum Rimba
63 Bab 63: Pembantaian di Depan Penginapan
64 Bab 64: Penipu
65 Bab 65: Balai informasi
66 Bab 66: Badai di Lembah Bunga Abadi
67 Bab 67: Altar Darah dan Kebangkitan Sang Penjaga
68 Bab 68: Benturan kekuatan
69 Bab 69: Menuju cakrawala(Arc 4 End)
70 Bab 70: Interupsi Sang Villain Terkeren
71 Bab 71: Memulai karier sebagai pencuri artefak
72 Bab 72: Rayuan maut
73 Bab 73: Wanita misterius
74 ​ Bab 74: Salju yang Tak Pernah Mencair
75 Bab 75: Harmoni Es dan Plasma
76 Bab 76: Ujian istana
77 Bab 77: Penjara Kesunyian Abadi
78 Bab 78: Ketenangan jiwa
79 Bab 79: Keserakahan Mu Han
80 Bab 80: Kabar dari Langit yang Runtuh
81 Bab 81: Pertemuan Dua Sisi dan Pelukan Maut
82 Bab 82: Akting Sang Iblis dan Air Mata Obsesi
83 Bab 83: Pencuri Licik dan Cinta yang Tak Masuk Akal
84 Bab 84: Duel Saudara di Jantung Vulkanik
85 Bab 85: Bangkitnya Sang Penguasa Bara
86 Bab 86: Simfoni Kehancuran: Api, Plasma, dan Petir Hitam
87 Bab 87: Napas Terakhir di Jantung Api
88 Bab 88: Kemenangan yang Retak
89 Bab 89: Kegilaan yang Selaras
90 Bab 90: Pertarungan akhir(Arc 5 End)
91 Bab 91: Kencan di Bawah Langit Astral
92 Bab 92: Puncak Penarik Sukma
93 Bab 93: Arus Pelupa di Lautan Jiwa Tenggelam
94 Bab 94: Strategi di Balik Kehampaan
95 Bab 95: Sisa-Sisa Badai di Lautan Perisai
96 Bab 96: Kesunyian yang Menjerit
97 Bab 97: Pengepungan Gerhana Matahari
98 Bab 98: Darah di Cakrawala dan Tidur Panjang Sepuluh Tahun
99 Bab 99: Retaknya Topeng Sang Iblis
100 Bab 100: Janji di Singgasana Kegelapan
101 Bab 101: Aku pergi para pembaca
102 Bab 102: Alam naga
103 ​Bab 103: Perjamuan Teh di Bawah Pohon Naga
104 Bab 104: Gema di Lorong Tak Berujung
105 Bab 105: Inti yang Hilang (1)
106 Bab 106: Inti yang Hilang (2)
107 Bab 107: Sidang di Balik Tirai Perak
108 Bab 108: Gema Sang Antagonis
109 Bab 109: Benturan Dua Ideologi
110 Bab 110: Kartu As Sang Penjaga Bayangan
111 Bab 111: Keheningan di Lembah dan Janji yang Terbayar
112 Bab 112: Puncak Langit Terlarang (Bagian 1)
113 Bab 113: Puncak Langit Terlarang (Bagian 2)
114 Bab 114: Puncak Langit Terlarang (Bagian 3)
115 Bab 115: Hutan Pohon Kristal dan Desah Sang Penggoda
116 Bab 116: Tarian Tujuh Tabir dan Kabut Gairah
117 Bab 117: Istana Kenikmatan Abadi
118 Bab 118: Kematian Iblis Mara
119 Bab 119: Kuil Cermin Es dan Bayangan Diam
120 Bab 120: Paradoks Kekuatan
121 Bab 121: Penyatuan Jiwa dan Pecahan Kelima
122 Bab 122: Cakrawala Biru Alam Samudra
123 Bab 123: Pergolakan di Kota Jing Shui
124 Bab 124: Medan
125 Bab 125: Segel Hitam
126 Bab 126: Zona Keheningan
127 Bab 127: Manifestasi Kun Peng
128 Bab 128: Di Dalam Rongga Sang Legenda
129 Bab 129: Tekanan
130 Bab 130: Membelah Cakrawala Biru
131 Bab 131: Perpisahan
132 Bab 132: Gurun Tanpa Akhir dan Badai Pasir
133 Bab 133: Lembah kerangka
134 Bab 134: Tersedot pasir
135 Bab 135: Batas Kehidupan
136 Bab 136: Bayangan di Balik Layar
137 Bab 137: Kota Terlarang Sunyi
138 Bab 138: Teror Wajah Konyol di Menara Jam
139 Bab 139: Bahaya di Balik Tawa
140 Bab 140: Tipuan
141 Bab 141: Wajah yang sama
142 Bab 142: Puncak abadi
143 Bab 143: Badai Pedang di Langit Gurun
144 Bab 144: Makhluk kuno
145 Bab 145: Benih Penghancur
146 Bab 146: Ambang Kematian
147 Bab 147: Dialog di Ujung Kehampaan
148 Bab 148: Tragedi di Altar Keabadian
149 Bab 149: Kehidupan dan Kematian
150 Bab 150: Ilusi Kemenangan
151 Bab 151: Amarah
152 Bab 152: Pengganggu
153 Bab 153: Masih kalah kuat
154 Bab 154: Kita akan bertemu karakterku
155 Season 1 - Epilog: Puing-Puing Sang Pion
156 Lanjutan Season 2
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Bab 1- Penderitaan yang tak terucap
2
Bab 2- Memulai kultivasi
3
Bab 3- Dasar wanita bodoh!
4
Bab 4- Kebahagiaan sebelum tragedi
5
Bab 5- Memohon demi sang istri
6
Bab 6- Kabar buruk
7
Bab 7: Warisan tujuh hari
8
Bab 8- Memulainya mengembara
9
Bab 9- Bandit aneh
10
Bab 10- Perhatian yang tidak di sadari
11
Bab 11- Perburuan dan batuk keras
12
Bab 12- Monster yang terkurung
13
Bab 13- Amarah pembawa petaka
14
Bab 14- Duel petir dan api
15
Bab 15-Senyum Maniak dan Cerewet yang Disyukuri
16
Bab 16- Daun Mekar dan Surat dari Neraka
17
Bab 17- Penghinaan di Gerbang Sekte Api Merah
18
Bab 18- Pengorbanan
19
​Bab 19- Murka Petir Emas
20
Bab 20- Badai Sepuluh Ribu Api
21
Bab 21- Pelarian Berdarah dan Dendam Sejati(Arc 1 End)
22
Bab 22- Pengakuan di ambang kematian
23
​Bab 23- Suara dari Kejauhan
24
Bab 24- Kehangatan di Tengah Dingin
25
Bab 25- Menghadapi gadis cerewet
26
Bab 26- Bersembunyi dari pengejaran
27
Bab 27- Makhluk petir
28
​ Bab 28- Empat Hari Pemulihan dan Pengikut Tak Terduga
29
Bab 29- tanghulu untuk Lin Xue
30
Bab 30- Penginapan murah
31
Bab 31- Pekerjaan mencurigakan
32
Bab 32- Kebrutalan Feng
33
Bab 33- Feng kau gila?
34
Bab 34: Ancaman besar
35
Bab 35: Pelarian
36
Bab 36- Pengorbanan sang penjaga petir
37
Bab 37- Dendam Wou Cho
38
Bab 38: Tiga bulan berlalu
39
Bab 39: Kehangatan keluarga baru
40
​Bab 40: Deteksi Tanda Pelacak
41
Bab 41- Terbentuknya duo maut
42
Bab 42- Kekalahan telak
43
Bab 43- Terkena tipuan
44
Bab 44- Potensi sejati yang terkurung
45
Bab 45: kembali bersama
46
Bab 46: Janji di bawah lampion(Arc 2 End)
47
Bab 47- Niat jahat yang tersembunyi
48
Bab 48: Petir kecil
49
Bab 49: Pertempuan kembali dengan Petir kecil
50
Bab 50: Bahaya yang akan datang
51
Bab 51: Akar dari trauma
52
Bab 52: Tragedi berdarah
53
​Bab 53: Kelahiran Dewa Pembantaian
54
Bab 54: Kengerian Iblis Petir
55
Bab 55: Hon Dai dan Wou Cho
56
Bab 56: Hampir kehilangan jati diri
57
Bab 57: Drama keluarga
58
Bab 58: Perpisahan(Arc 3 end)
59
Bab 59: Hamparan hijau
60
Bab 60: Realita alam atas
61
Bab 61: Merindukan omelanmu
62
Bab 62: Kota Paviliun Langit dan Hukum Rimba
63
Bab 63: Pembantaian di Depan Penginapan
64
Bab 64: Penipu
65
Bab 65: Balai informasi
66
Bab 66: Badai di Lembah Bunga Abadi
67
Bab 67: Altar Darah dan Kebangkitan Sang Penjaga
68
Bab 68: Benturan kekuatan
69
Bab 69: Menuju cakrawala(Arc 4 End)
70
Bab 70: Interupsi Sang Villain Terkeren
71
Bab 71: Memulai karier sebagai pencuri artefak
72
Bab 72: Rayuan maut
73
Bab 73: Wanita misterius
74
​ Bab 74: Salju yang Tak Pernah Mencair
75
Bab 75: Harmoni Es dan Plasma
76
Bab 76: Ujian istana
77
Bab 77: Penjara Kesunyian Abadi
78
Bab 78: Ketenangan jiwa
79
Bab 79: Keserakahan Mu Han
80
Bab 80: Kabar dari Langit yang Runtuh
81
Bab 81: Pertemuan Dua Sisi dan Pelukan Maut
82
Bab 82: Akting Sang Iblis dan Air Mata Obsesi
83
Bab 83: Pencuri Licik dan Cinta yang Tak Masuk Akal
84
Bab 84: Duel Saudara di Jantung Vulkanik
85
Bab 85: Bangkitnya Sang Penguasa Bara
86
Bab 86: Simfoni Kehancuran: Api, Plasma, dan Petir Hitam
87
Bab 87: Napas Terakhir di Jantung Api
88
Bab 88: Kemenangan yang Retak
89
Bab 89: Kegilaan yang Selaras
90
Bab 90: Pertarungan akhir(Arc 5 End)
91
Bab 91: Kencan di Bawah Langit Astral
92
Bab 92: Puncak Penarik Sukma
93
Bab 93: Arus Pelupa di Lautan Jiwa Tenggelam
94
Bab 94: Strategi di Balik Kehampaan
95
Bab 95: Sisa-Sisa Badai di Lautan Perisai
96
Bab 96: Kesunyian yang Menjerit
97
Bab 97: Pengepungan Gerhana Matahari
98
Bab 98: Darah di Cakrawala dan Tidur Panjang Sepuluh Tahun
99
Bab 99: Retaknya Topeng Sang Iblis
100
Bab 100: Janji di Singgasana Kegelapan
101
Bab 101: Aku pergi para pembaca
102
Bab 102: Alam naga
103
​Bab 103: Perjamuan Teh di Bawah Pohon Naga
104
Bab 104: Gema di Lorong Tak Berujung
105
Bab 105: Inti yang Hilang (1)
106
Bab 106: Inti yang Hilang (2)
107
Bab 107: Sidang di Balik Tirai Perak
108
Bab 108: Gema Sang Antagonis
109
Bab 109: Benturan Dua Ideologi
110
Bab 110: Kartu As Sang Penjaga Bayangan
111
Bab 111: Keheningan di Lembah dan Janji yang Terbayar
112
Bab 112: Puncak Langit Terlarang (Bagian 1)
113
Bab 113: Puncak Langit Terlarang (Bagian 2)
114
Bab 114: Puncak Langit Terlarang (Bagian 3)
115
Bab 115: Hutan Pohon Kristal dan Desah Sang Penggoda
116
Bab 116: Tarian Tujuh Tabir dan Kabut Gairah
117
Bab 117: Istana Kenikmatan Abadi
118
Bab 118: Kematian Iblis Mara
119
Bab 119: Kuil Cermin Es dan Bayangan Diam
120
Bab 120: Paradoks Kekuatan
121
Bab 121: Penyatuan Jiwa dan Pecahan Kelima
122
Bab 122: Cakrawala Biru Alam Samudra
123
Bab 123: Pergolakan di Kota Jing Shui
124
Bab 124: Medan
125
Bab 125: Segel Hitam
126
Bab 126: Zona Keheningan
127
Bab 127: Manifestasi Kun Peng
128
Bab 128: Di Dalam Rongga Sang Legenda
129
Bab 129: Tekanan
130
Bab 130: Membelah Cakrawala Biru
131
Bab 131: Perpisahan
132
Bab 132: Gurun Tanpa Akhir dan Badai Pasir
133
Bab 133: Lembah kerangka
134
Bab 134: Tersedot pasir
135
Bab 135: Batas Kehidupan
136
Bab 136: Bayangan di Balik Layar
137
Bab 137: Kota Terlarang Sunyi
138
Bab 138: Teror Wajah Konyol di Menara Jam
139
Bab 139: Bahaya di Balik Tawa
140
Bab 140: Tipuan
141
Bab 141: Wajah yang sama
142
Bab 142: Puncak abadi
143
Bab 143: Badai Pedang di Langit Gurun
144
Bab 144: Makhluk kuno
145
Bab 145: Benih Penghancur
146
Bab 146: Ambang Kematian
147
Bab 147: Dialog di Ujung Kehampaan
148
Bab 148: Tragedi di Altar Keabadian
149
Bab 149: Kehidupan dan Kematian
150
Bab 150: Ilusi Kemenangan
151
Bab 151: Amarah
152
Bab 152: Pengganggu
153
Bab 153: Masih kalah kuat
154
Bab 154: Kita akan bertemu karakterku
155
Season 1 - Epilog: Puing-Puing Sang Pion
156
Lanjutan Season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!