Beginning And End Season 3

Beginning And End Season 3

Bab 1 : Prolog.

Prolog

Hujan abu-abu tidak cuma mengguyur—ia menyerang kota yang telah mati, tetesan tebal seperti peluru kecil yang memukul permukaan reruntuhan gedung, memecah debu menjadi lumpur hitam, dan membuat jalan aspal retak mengkilap seperti cermin gelap. Plak… plak… plak… Suara itu tidak berhenti, membentuk irama kelam yang menyelimuti segalanya, diselingi oleh gerigiran puing-puing baja yang bergeser di angin kedinginan, dan desisan angin yang menembus celah-celah gedung runtuh.

Catalina Rombert berdiri di tengahnya, tubuhnya membungkuk seperti pohon yang hampir patah oleh beban. Kaki kirinya tersangkut di celah antara aspal dan batu puing—dia menariknya dengan tenaga yang tersisa, krsshh… bunyi kain baju tempur yang koyak menyentuh lumpur, dan darah merah segar mengalir dari luka di betisnya, membentuk jejak berliku-liku yang cepat terhapus oleh hujan. Di tangan kanannya, scythe Andras—senjata legenda ibunya—terangkat setengah, bilahnya kusam namun masih menonjol seperti tulang raksasa yang mati. Beratnya membuat lengan kiri dia bergetar, sendi bahunya terasa akan patah, tapi dia tidak melepaskan. Di tangan kirinya, kepala Tenka Mutan tergenggam erat—kulitnya hitam seperti arang, gigi tajam menonjol, mata kosong yang masih terbelalak seolah masih marah bahkan dalam kematian. Gelisah… raut wajah yang terdistorsi itu seolah bergerak sedikit di bawah sentuhan hujan.

Dia melangkah lagi, satu langkah demi satu langkah yang penuh penderitaan. Napasnya keluar hek… hah… hek… kasar dan terengah, dada naik turun tidak beraturan seperti belalai yang lembap. Wajahnya basah oleh hujan dan keringat, rambut putih-abu-nya menutupi sebagian wajah, tapi matanya—satu pink seperti bara yang hampir padam, satu merah seperti darah segar—tetap terbuka lebar, menatap ke sekeliling dengan pandangan yang penuh kesedihan dan kebencian pada dirinya sendiri.

“Ak… aku… berhasil…” suaranya pecah, serak seperti kerikil yang bergeser, nyaris terhapus oleh hujan. Dia mengangkat kepala Tenka Mutan sedikit, mata dia menatap wajah yang hancur itu. “Tapi… apa gunanya… aku… hanya sendirian di sini…” Tubuhnya mengguncang—bukan karena dingin, tapi karena getaran emosional yang terlalu kuat. Dia menundukkan kepala, rahangnya menekuk erat sampai rahangnya sakit. “Semua… semua… salahku… keegoisanku… yang membuat kalian… semua… mati…”

Crack… Suara kecil dari tulang rahangnya yang terlalu kencang. Dia mengangkat tangan kiri—yang masih menggenggam kepala Tenka—dan menekannya ke dada, seolah ingin menusuk dirinya sendiri. Darah dari luka di siku dia menetes ke bajunya, membentuk bintik-bintik gelap yang membesar. “Mami… Papi… Maafkan aku…” Matanya mulai berkaca-kaca, tapi hujan membuatnya sulit membedakan antara air mata dan tetesan hujan. “Paman Kei… Bibi Reina… Yoru… Matsu… Bibi Lynn… Maafkan aku… aku gagal… aku terlalu lemah untuk melindungi kalian…”

Dia menjerit, suara “HAHH!!” yang tercekik dan menyakitkan, bergema di antara reruntuhan sehingga gonggongan nya memantul kembali dari dinding gedung yang tersisa. Dia jatuh terduduk di lumpur, tubuhnya remuk, sendi lututnya menyentuh aspal yang basah. Scythe Andras terjatuh di sampingnya dengan bunyi krraaak… bilahnya menyentuh aspal dan membuat goresan panjang. Dia menggenggam rambutnya dengan kedua tangan, jari-jari memerah, dan menggores wajahnya sehingga darah baru keluar. “Haaa!!! Shinn!! Maafkan aku… aku bodoh!! Aku lemah!! Aku tidak bisa melindungimu… aku gagal menjadi kekasihmu yang layak!!”

Ekspresi wajahnya berubah-ubah sekejap: dari kesedihan yang meluap, menjadi kemarahan pada dirinya sendiri, lalu kembali ke keputusasaan yang mendalam. Matanya menutup sebentar, tubuhnya gemetar hebat, lalu perlahan-lahan dia mencoba bangkit—tangannya menangkap pegangan scythe, menarik badannya naik dengan gerakan yang tergesa-gesa, krsshh… lumpur menempel di bajunya.

Baru saja dia berdiri lurus, sebuah suara menyentuh telinganya—suara nyanyian lembut, samar, tapi terlalu familiar untuk disalahartikan:

“Ninak bobok… oh ninak bobok… kalau Catalina tidak tidur… maka mami berubah jadi ratu es…”

Zzzzt… Seperti kilat kecil menyambar di dalam kepalanya. Tubuh Catalina mengguncang seketika, matanya membuka lebar sampai terasa sakit, raut wajahnya berubah menjadi kemarahan yang membara. Dia menoleh-oleh dengan cepat, mengayun scythe Andras ke udara sehingga swish… bunyi bilahnya melayang. “HENTIKAN!!! HENTIKAN ITU!!!” suaranya menjerit keras, menyakitkan tenggorokannya. “Mami… maafkan aku… aku… aku tidak sekuatmu… tidak seberani papi… tidak bisa sekuat Paman Kei dan Bibi Reina…” Air mata yang sesungguhnya akhirnya keluar, mengalir di wajahnya yang basah, bercampur dengan darah yang menetes dari luka di pipinya. “Aku… aku gagal….”

Suara nyanyian itu hilang seperti angin. Dia berdiri diam, napasnya terengah, matanya melintasi reruntuhan yang tak berujung. Lalu, di kejauhan, antara dua gedung yang saling bersandar, dia melihatnya: cahaya lembut yang berpendar, seolah bintang yang terjatuh ke bumi, memancarkan cahaya putih yang menembus kegelapan hujan.

“BIBI SORA!!!” teriak dia, suaranya penuh putus asa namun juga ada rasa lega yang menyebar di dada. Dia berlari secepat tenaga terakhirnya memungkinkan—krsshh… krsshh… krsshh… langkahnya tertatih-tatih di lumpur, tapi dia tidak berhenti. Scythe Andras menyeret di tanah, membuat bunyi krrrraaak… yang keras, namun dia tidak peduli.

Di sana, di sudut jalan yang dipenuhi puing, Sora—kunoichi kaca yang telah bertempur bersama dia selama bertahun-tahun—terkapar di tanah. Tubuhnya memancarkan cahaya yang pecah seperti serpihan kristal, retakan-retakan putih muncul di kulitnya seperti es yang mulai patah. Gling… gling… serpihan kaca kecil terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke tanah, berkilau dalam hujan.

Catalina merangkulkan tubuh Sora yang lemah, memeluknya erat sehingga tekanan tubuhnya menyentuh dirinya. “Bibi Sora… jangan… jangan tinggalkan aku… aku tidak bisa sendirian lagi…” suaranya tersedak, air mata dan darah menetes ke wajah Sora.

Sora membuka matanya perlahan-lahan—matanya yang biasanya cerah kini redup, tapi masih penuh kelembutan. Dia menyenggol pipi Catalina dengan jari yang lemah, dan senyum tipis tersungging di bibirnya yang penuh luka. “Nak… Catalina… kita berhasil… akhirnya… kita berhasil mengalahkan Tenka…” suaranya lemah seperti angin, tapi tetap jelas.

Tubuh Sora bergetar, dan lebih banyak serpihan kaca terlepas, berhamburan seperti bunga salju yang menyala. Catalina menggenggamnya lebih erat, menekannya ke dada. “Tidak… Bibi Sora… jangan pergi… aku mohon!! Kamu adalah satu-satunya yang tersisa!!” Ekspresi wajahnya berubah lagi—dari ketakutan kehilangan, menjadi kesedihan yang meluap, lalu ke rasa bersalah yang mendalam. “Aku seharusnya yang jatuh… bukan kamu… kamu sudah berjuang terlalu lama…”

Sora menggoncang kepalanya perlahan, jari-jari dia menyentuh rambut putih Catalina. “Catalina… kamu… kuat… seperti ibumu, Andras… mata-mata mu… masih menyala seperti cahaya… yang tidak pernah padam…” Suaranya terdengar samar, tapi penuh keyakinan. “Maafkan bibi karena tidak bisa… tetap bersamamu… Bibi sudah lelah… Lena sudah tiada… Bibi sudah lelah melihat kehancuran dari pertempuran Khaou puluhan tahun lalu… aku pikir kejahatan akan hilang setelah dikalahkan… tapi dunia ini… tidak memberikannya… semua teman, pilar lama… mereka… sudah tiada… Paman Kei dan Bibi Reina… mereka… telah pergi… meninggalkan kita berdua di sini…”

Catalina mengguncang tubuh Sora, tangannya bergetar hebat, matanya terbuka lebar dan penuh air mata darah yang menetes. “HAHHH!!!” dia menjerit di tengah hujan deras—suaranya bergema dengan gonggongan yang kental, bercampur dengan gemuruh air dan desisan angin yang semakin kencang. Retakan di tubuh Sora semakin banyak, membentuk pola seperti jaring yang menjepit dirinya.

“Catalina… kamu… adalah cahaya… di tengah kehancuran ini… jangan terus menangis di depan bibi…” suara Sora masih terdengar, menembus hati seperti nada musik yang lembut. “Maafkan bibi… dan seluruh pilar lama… yang membuatmu menanggung semua dosa… dosa mereka… bukan milikmu, Catalina…”

Pada saat itu, tubuh Sora pecah perlahan-lahan—bling… bling… bling… serpihan kaca putih yang bersinar redup berhamburan ke segala arah, menyatu dengan hujan yang mengguyur Catalina. Dia menunduk, tubuhnya bergetar hebat, suara tangisnya tersedak-sedak—haaah… haaah… haaah…—seolah napasnya akan habis.

Hujan terus turun, membasahi rambutnya, wajahnya, darahnya, membaur menjadi satu warna gelap. Tapi matanya—pink dan merah yang menyala redup—tetap terbuka, menatap ke tanah di mana Sora pernah terkapar. Ekspresi wajahnya berubah satu lagi: dari kehancuran total, menjadi secercah keberanian yang samar, lalu kembali ke keputusasaan yang luas. Dia meraih scythe Andras dari tanah, mengangkatnya dengan gerakan yang lambat tapi tegas, bilahnya menyinar sedikit di tengah hujan.

Catalina Rombert berdiri di tengah reruntuhan, sendirian. Angin berhembus melewati rambutnya yang panjang, membuatnya berkibar seperti bendera yang mati. Di sekelilingnya, hanya ada reruntuhan, hujan, dan kesunyian yang begitu dalam seolah akan memakan dia. Dia adalah satu-satunya cahaya di tengah kehancuran yang tak bertepi—saksi dari apa yang pernah ada, dan tanda dari apa yang masih bisa terjadi.

Swish… Dia mengayun scythe Andras ke udara sekali lagi, bunyi bilahnya melayang di antara reruntuhan. Dan di kejauhan, di balik kabut hujan yang tebal, sebuah cahaya lembut muncul—seolah bayangan anak kecil yang menunggu.

Episodes
1 Bab 1 : Prolog.
2 Bab 2 : Bayangan Kecil Catalina.
3 Bab 3 : Balik Ke Masalalu.
4 Bab 4 : Yoru dan Matsu.
5 Bab 5 : Misi Pertama dan CIP Haniel.
6 Bab 6 : Pesta Ulang Tahun Yoru Dan Matsu.
7 Bab 7 : Kasemi dan Mayuri.
8 Bab 8 : Shinn dan Catalina.
9 Bab 9 : Prime CIP Catalina.
10 Bab 10 : Kekuatan Prime CIP Catalina.
11 Bab 11 : Mata Kutukan.
12 Bab 12 : Rencana Pergi Ke Sekolah Baru.
13 Bab 13 : Tk Kyoko.
14 Bab 14 : Pemilihan Tempat Duduk.
15 Bab 15 : Catalina si jenius.
16 Bab 16 : Menangis Di Depan Shinn.
17 Bab 17 : Analisis miss Ayu.
18 Bab 18 : Keheranan kedua orang tua Catalina.
19 Bab 19 : Misi Ke Dua.
20 Bab 20 : Menginap di Rumah Kurumi.
21 Bab 21 : CSP Kurumi.
22 Bab 22 : Sifat Aslinya Catalina Muncul.
23 Bab 23 : Kurumi akan melihat masa depan.
24 Bab 24 : Masa Depan Yang Sedikit Berubah Tapi Tetap Sama.
25 Bab 25 : Anak dan mama mereka berdua.
26 Bab 26 : Distrik Shibuya.
27 Bab 27 : Kebersamaan keluarga Miyamoto.
28 Bab 28 : Mayuri masuk.
29 Bab 29 : Keterkejutan Mayuri.
30 Bab 30 : Mayuri ikut menginap.
31 Bab 31 : Mayuri bergabung.
32 Bab 32 : Belum ada flashback.
33 Bab 33 : Latihan Mayuri.
34 Bab 34 : Potensi Mayuri.
35 Bab 35 : Izinkan aku sebentar saja.
36 Bab 36 : Romance Kecil.
37 Bab 37 : Rapat walikota.
38 Bab 38 : Maxwen.
39 Bab 39 : Berkembang pesat.
40 Bab 40 : Hari Baru Di SD Kyoko.
41 Bab 41 : Catalina dan Shinn lebih dekat.
42 Bab 42 : Tertidur di pundak Shinn.
43 Bab 43 : Belum ada potongan memori.
44 Bab 44 : Estafet.
45 Bab 45 : Kemarahan lembut Catalina.
46 Bab 46 : Catalina mengetahui kebenaran penting.
47 Bab 47 : End Chapter Prolog.
48 Bab 48 : Membangun kan Shinn yang ke 2555 hari.
49 Bab 49 : Mall Hanna.
50 Bab 50 : Selalu ada di setiap pertempuran.
51 Bab 51 : Hari pertama masuk SMA Kyoko.
52 Bab 52 : Pidato Ratu Iblish Es Yang Agung.
53 Bab 53 : Pidato si jenius masa depan.
54 Bab 54 : Ryu Sensei.
55 Bab 55 : Latihan CIP.
56 Bab 56 : Via dan analisis.
57 Bab 57 : Keegoisan Catalina.
58 Bab 58 : Via keluar dari kelompok Catalina.
59 Bab 59 : Kekalahan teman Catalina.
60 Bab 60 : Dua pelindung Catalina kecil.
61 Bab 61 : Catalina lepas kendali.
62 Bab 62 : Rumah Ke Dua.
63 Bab 63 : Lima anak.
64 Bab 64 : Calon Kandidat OSIS Baru.
65 Bab 65 : Chitose dan Luna.
66 Bab 66 : Ke eleganan yang terancam.
67 Bab 67 : Instance Domination.
68 Bab 66 : Sampai ajal menjemput.
69 Bab 69 : Keberhasilan New Generation.
70 Bab 70 : Penyambutan Pilar Tokyo New Generation.
71 Bab 71 : End Chapter New Generation SMA Kyoko.
72 Bab 72 : Membatu Kasemi.
73 Bab 73 : Gadis Pertama.
74 Bab 74 : Salah paham yang menjauhi mereka.
75 Bab 75 : Rencana untuk mengungkapkan Cinta gadis Tsundere.
76 Bab 76 : Gadis itu adalah Kamu.
77 Bab 77 : Suprise!
78 Bab 78 : Festival Sekolah.
79 Bab 79 : Malak di Acara Cosplay
80 Bab 80 : Duet Matsu Dan Haken.
81 Bab 81 : Gue Yang bilang Lanjut.
82 Bab 82 : Kenapa Ada Dua Kenzi Di Dunia Ini!
83 Bab 83 : Konsekuensi Chi.
84 Bab 84 : Nyanyian merdu Matsu.
85 Bab 85 : Matsu Viral.
86 Bab 86 : Rencana untuk menyelamatkan suara Matsu.
87 Bab 87 : Kembali nya suara Matsu.
88 Bab 88 : Idol Matsu.
89 Bab 89 : Pengakuan.
90 Bab 90 : Sawa hadir dengan Kecemburuan.
91 Bab 91 : Memory Remi.
92 Bab 92 : Remi di Culik.
93 Bab 93 : Kebangkitan Remi.
94 Bab 94 : Api Jiwa Remi.
95 Bab 95 : Hehehe.
96 Bab 96 : Via dan Mitsunari.
97 Bab 97 : Kau adalah kau.
98 Bab 98 : Via berubah.
99 Bab 99 : Kursi kosong.
100 Bab 100 : Anak anak Pilar Moskow.
101 Bab 101 : Kita Ketemu Kembali... Catalina.
102 Bab 102 : Bibi Sora Ada Di sini.
103 Bab 103 : Kehilangan di dalam hati Via.
104 Bab 104 : Via dan Mental.
105 Bab 105 : Mitsunari dan santapan.
106 Bab 106 : Mental yang hancur apakah bisa pulih?
107 Bab 107 : Via sadar.
108 Bab 108 : Rambut panjang.
109 Bab 109 : Kurumi dan Rintaro.
110 Bab 110 : Duel macam apa ini?
111 Bab 111 : Masih lama.
112 Bab 112 : Malam yang Beda di kamar Rintaro.
113 Bab 113 : Kelemahan Kurumi.
114 Bab 114 : Ulang tahun Kurumi.
115 Bab 115 : Kenapa Alur nya berubah.
116 Bab 116 : Miko dan Ming.
117 Bab 117 : Miko dan Takina.
118 Bab 118 : Takina dan Catalina
119 Bab 119 : Musuh di masa depan sepuluh tahun kemudian.
120 Bab 120 : Kane.
121 Bab 121 : Mystic Sage Miko.
122 Bab 122 : Pertarungan di Desa Kunoichi.
123 Bab 123 : Miko dan sejarah.
124 Bab 124 : Asuna Ketakutan.
125 Bab 125 : Fanesa.
126 Bab 126 : Invasi Rumah Andras.
127 Bab 127 : Anak Kecil.
128 128 : Anak kecil di SMA Kyoko.
129 Bab 129 : Mereka terbang.
130 Bab 130 : Konfes di langit Tokyo.
131 Bab 131 : Dansa Ulang Tahun.
132 Bab 132 : O Kawaii Kotto.
133 Bab 133 : Ajakan.
134 Bab 134 : Valencia dan Gaun.
135 Bab 135 : Ulang Tahun Nomori.
136 Bab 136 : Darah matahari dan bulan.
137 Bab 137 : Mengganggu Shinn di hari terakhir libur semester.
138 Bab 138 : Rapat besar akan di mulai.
139 Bab 139 : Kedatangan Sisa Pilar Moskow.
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Bab 1 : Prolog.
2
Bab 2 : Bayangan Kecil Catalina.
3
Bab 3 : Balik Ke Masalalu.
4
Bab 4 : Yoru dan Matsu.
5
Bab 5 : Misi Pertama dan CIP Haniel.
6
Bab 6 : Pesta Ulang Tahun Yoru Dan Matsu.
7
Bab 7 : Kasemi dan Mayuri.
8
Bab 8 : Shinn dan Catalina.
9
Bab 9 : Prime CIP Catalina.
10
Bab 10 : Kekuatan Prime CIP Catalina.
11
Bab 11 : Mata Kutukan.
12
Bab 12 : Rencana Pergi Ke Sekolah Baru.
13
Bab 13 : Tk Kyoko.
14
Bab 14 : Pemilihan Tempat Duduk.
15
Bab 15 : Catalina si jenius.
16
Bab 16 : Menangis Di Depan Shinn.
17
Bab 17 : Analisis miss Ayu.
18
Bab 18 : Keheranan kedua orang tua Catalina.
19
Bab 19 : Misi Ke Dua.
20
Bab 20 : Menginap di Rumah Kurumi.
21
Bab 21 : CSP Kurumi.
22
Bab 22 : Sifat Aslinya Catalina Muncul.
23
Bab 23 : Kurumi akan melihat masa depan.
24
Bab 24 : Masa Depan Yang Sedikit Berubah Tapi Tetap Sama.
25
Bab 25 : Anak dan mama mereka berdua.
26
Bab 26 : Distrik Shibuya.
27
Bab 27 : Kebersamaan keluarga Miyamoto.
28
Bab 28 : Mayuri masuk.
29
Bab 29 : Keterkejutan Mayuri.
30
Bab 30 : Mayuri ikut menginap.
31
Bab 31 : Mayuri bergabung.
32
Bab 32 : Belum ada flashback.
33
Bab 33 : Latihan Mayuri.
34
Bab 34 : Potensi Mayuri.
35
Bab 35 : Izinkan aku sebentar saja.
36
Bab 36 : Romance Kecil.
37
Bab 37 : Rapat walikota.
38
Bab 38 : Maxwen.
39
Bab 39 : Berkembang pesat.
40
Bab 40 : Hari Baru Di SD Kyoko.
41
Bab 41 : Catalina dan Shinn lebih dekat.
42
Bab 42 : Tertidur di pundak Shinn.
43
Bab 43 : Belum ada potongan memori.
44
Bab 44 : Estafet.
45
Bab 45 : Kemarahan lembut Catalina.
46
Bab 46 : Catalina mengetahui kebenaran penting.
47
Bab 47 : End Chapter Prolog.
48
Bab 48 : Membangun kan Shinn yang ke 2555 hari.
49
Bab 49 : Mall Hanna.
50
Bab 50 : Selalu ada di setiap pertempuran.
51
Bab 51 : Hari pertama masuk SMA Kyoko.
52
Bab 52 : Pidato Ratu Iblish Es Yang Agung.
53
Bab 53 : Pidato si jenius masa depan.
54
Bab 54 : Ryu Sensei.
55
Bab 55 : Latihan CIP.
56
Bab 56 : Via dan analisis.
57
Bab 57 : Keegoisan Catalina.
58
Bab 58 : Via keluar dari kelompok Catalina.
59
Bab 59 : Kekalahan teman Catalina.
60
Bab 60 : Dua pelindung Catalina kecil.
61
Bab 61 : Catalina lepas kendali.
62
Bab 62 : Rumah Ke Dua.
63
Bab 63 : Lima anak.
64
Bab 64 : Calon Kandidat OSIS Baru.
65
Bab 65 : Chitose dan Luna.
66
Bab 66 : Ke eleganan yang terancam.
67
Bab 67 : Instance Domination.
68
Bab 66 : Sampai ajal menjemput.
69
Bab 69 : Keberhasilan New Generation.
70
Bab 70 : Penyambutan Pilar Tokyo New Generation.
71
Bab 71 : End Chapter New Generation SMA Kyoko.
72
Bab 72 : Membatu Kasemi.
73
Bab 73 : Gadis Pertama.
74
Bab 74 : Salah paham yang menjauhi mereka.
75
Bab 75 : Rencana untuk mengungkapkan Cinta gadis Tsundere.
76
Bab 76 : Gadis itu adalah Kamu.
77
Bab 77 : Suprise!
78
Bab 78 : Festival Sekolah.
79
Bab 79 : Malak di Acara Cosplay
80
Bab 80 : Duet Matsu Dan Haken.
81
Bab 81 : Gue Yang bilang Lanjut.
82
Bab 82 : Kenapa Ada Dua Kenzi Di Dunia Ini!
83
Bab 83 : Konsekuensi Chi.
84
Bab 84 : Nyanyian merdu Matsu.
85
Bab 85 : Matsu Viral.
86
Bab 86 : Rencana untuk menyelamatkan suara Matsu.
87
Bab 87 : Kembali nya suara Matsu.
88
Bab 88 : Idol Matsu.
89
Bab 89 : Pengakuan.
90
Bab 90 : Sawa hadir dengan Kecemburuan.
91
Bab 91 : Memory Remi.
92
Bab 92 : Remi di Culik.
93
Bab 93 : Kebangkitan Remi.
94
Bab 94 : Api Jiwa Remi.
95
Bab 95 : Hehehe.
96
Bab 96 : Via dan Mitsunari.
97
Bab 97 : Kau adalah kau.
98
Bab 98 : Via berubah.
99
Bab 99 : Kursi kosong.
100
Bab 100 : Anak anak Pilar Moskow.
101
Bab 101 : Kita Ketemu Kembali... Catalina.
102
Bab 102 : Bibi Sora Ada Di sini.
103
Bab 103 : Kehilangan di dalam hati Via.
104
Bab 104 : Via dan Mental.
105
Bab 105 : Mitsunari dan santapan.
106
Bab 106 : Mental yang hancur apakah bisa pulih?
107
Bab 107 : Via sadar.
108
Bab 108 : Rambut panjang.
109
Bab 109 : Kurumi dan Rintaro.
110
Bab 110 : Duel macam apa ini?
111
Bab 111 : Masih lama.
112
Bab 112 : Malam yang Beda di kamar Rintaro.
113
Bab 113 : Kelemahan Kurumi.
114
Bab 114 : Ulang tahun Kurumi.
115
Bab 115 : Kenapa Alur nya berubah.
116
Bab 116 : Miko dan Ming.
117
Bab 117 : Miko dan Takina.
118
Bab 118 : Takina dan Catalina
119
Bab 119 : Musuh di masa depan sepuluh tahun kemudian.
120
Bab 120 : Kane.
121
Bab 121 : Mystic Sage Miko.
122
Bab 122 : Pertarungan di Desa Kunoichi.
123
Bab 123 : Miko dan sejarah.
124
Bab 124 : Asuna Ketakutan.
125
Bab 125 : Fanesa.
126
Bab 126 : Invasi Rumah Andras.
127
Bab 127 : Anak Kecil.
128
128 : Anak kecil di SMA Kyoko.
129
Bab 129 : Mereka terbang.
130
Bab 130 : Konfes di langit Tokyo.
131
Bab 131 : Dansa Ulang Tahun.
132
Bab 132 : O Kawaii Kotto.
133
Bab 133 : Ajakan.
134
Bab 134 : Valencia dan Gaun.
135
Bab 135 : Ulang Tahun Nomori.
136
Bab 136 : Darah matahari dan bulan.
137
Bab 137 : Mengganggu Shinn di hari terakhir libur semester.
138
Bab 138 : Rapat besar akan di mulai.
139
Bab 139 : Kedatangan Sisa Pilar Moskow.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!