Dua Akad Satu Cinta

Dua Akad Satu Cinta

Bab Satu

Amanda terbangun saat merasakan pelukan hangat di pinggangnya. Sebuah kecupan mendarat lembut di pipinya, membuat bulu kuduknya meremang, bukan karena takut, tapi karena rasa nyaman yang sulit dijelaskan.

Ia membuka mata perlahan. Di hadapannya, wajah Azka tampak begitu dekat. Mata pria itu menatapnya dengan sorot penuh cinta, bibirnya tersenyum lembut seperti biasa, senyum yang selalu berhasil menenangkan hati Amanda, bahkan ketika dunia terasa berat.

“Selamat malam, Sayang,” bisik Azka pelan, suaranya serak tapi menenangkan. “Maaf aku pulang telat lagi.”

Amanda menatapnya sejenak sebelum tersenyum kecil. “Aku udah biasa, kok. Lagipula, aku tahu kamu kerja keras buat kita,” jawabnya dengan suara lembut.

Azka terkekeh kecil. Ia membelai pipi istrinya dengan ibu jarinya, menghapus sisa kantuk dari wajah itu. “Aku nggak mau kamu nunggu sampai begadang tiap malam. Aku tahu kamu sering pura-pura belum tidur, padahal matamu udah berat banget.”

Amanda tertawa pelan. “Kalau aku tidur duluan, nanti kamu pulang sendirian, kan? Aku cuma pengin nyambut kamu pulang. Itu aja.”

Azka menatapnya lama. Tatapannya seperti berkata banyak hal yang tidak diucapkan. Lalu tanpa kata, ia mencium kening Amanda dengan penuh kasih. “Kamu selalu bikin aku merasa punya rumah, Manda.”

Amanda tersenyum. “Memang kamu punya rumah. Aku, kan?”

Azka mengangguk pelan, lalu menarik Amanda lebih dekat ke dalam pelukannya. Aroma tubuhnya yang khas, perpaduan parfum dan sabun mandi, membuat Amanda merasa hangat. Ia memejamkan mata lagi, menikmati detik-detik hening di antara mereka.

Hanya ada napas yang berpadu, jantung yang berdetak beriringan, dan rasa cinta yang tak perlu banyak kata.

Keesokan paginya, sinar matahari masuk dari celah gorden kamar. Amanda terbangun lebih dulu dari Azka. Ia menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Ada sesuatu yang menenangkan setiap kali ia melihat pria itu tidur, seolah dunia berhenti berputar hanya untuk momen itu.

Azka tampak damai, garis wajahnya tegas, rahangnya kuat, tapi bibirnya lembut. Amanda masih ingat betul bagaimana mereka pertama kali bertemu, di sebuah acara perusahaan tempatnya bekerja dulu. Azka datang sebagai pembicara tamu, dan sejak pertemuan itu, semuanya berubah.

Dia jatuh cinta pada caranya berbicara, pada cara Azka menatap orang lain dengan percaya diri tapi tetap sopan. Dan ketika akhirnya pria itu menyatakan cinta, Amanda tak ragu sedikit pun.

“Sudah bangun?” suara berat Azka memecah lamunan Amanda. Ia membuka mata perlahan, menatap istrinya yang sedang memandangi dirinya.

Amanda tersipu. “Kamu sadar aku perhatiin ya, Mas?”

Azka mengulum senyum. “Dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Gimana aku nggak sadar?”

Amanda menunduk, pura-pura merapikan selimut. “Aku cuma ... bersyukur, Mas.”

“Bersyukur kenapa?” tanya Azka, menarik tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang.

“Bersyukur karena aku punya kamu, Mas.”

Azka menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba menarik Amanda ke dalam pelukannya. “Dan aku bersyukur karena Tuhan memberiku seseorang seperti kamu. Serius, Manda, hidupku sebelumnya berantakan. Tapi sejak kamu datang, semuanya terasa lebih tenang.”

Amanda menatap suaminya dengan mata berbinar. “Aku nggak tahu harus jawab apa. Aku cuma tahu aku cinta kamu, Mas”

Azka tersenyum, mencium dahinya lama. “Itu udah cukup.”

Pagi itu mereka sarapan bersama. Amanda menyiapkan menu sederhana, nasi goreng, telur mata sapi, dan teh hangat kesukaan Azka. Di meja makan, suasana begitu tenang. Hanya suara sendok bertemu piring dan percakapan ringan yang membuat rumah terasa hidup.

“Kamu tahu nggak, Manda,” ucap Azka tiba-tiba, menatap istrinya dengan mata berbinar. “Besok aku harus berangkat ke luar kota. Ada proyek baru yang harus aku tangani langsung.”

Amanda berhenti mengaduk tehnya. “Berapa lama, Mas?”

“Mungkin seminggu, atau dua minggu,” jawab Azka sambil menyesap minumannya. “Tapi kalau kamu mau, kamu bisa ikut. Aku nggak keberatan.”

Amanda menatapnya kaget. Biasanya, kalau Azka pergi kerja, dia lebih sering berangkat sendiri. Tapi kali ini, ajakan itu membuat hatinya berdebar.

“Serius aku boleh ikut, Mas?” tanyanya pelan, seolah takut harapan itu hanya candaan.

Azka tertawa kecil. “Tentu aja boleh. Malah aku pengin kamu ikut. Biar kamu lihat dunia kerja aku. Dan biar aku nggak kangen terus.”

Amanda menunduk, pipinya memerah. “Kalau gitu aku ikut, deh. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu.”

Azka mengangkat alisnya, pura-pura terkejut. “Wah, jadi kamu udah kecanduan aku, ya?”

Amanda mencubit lengannya pelan. “Ih, narsis banget sih!”

Azka tertawa keras, lalu berdiri dan menghampiri istrinya. Ia berdiri di belakang Amanda, menunduk, dan berbisik lembut di telinganya. “Tapi aku suka kamu begini, pengin selalu sama aku.”

Suara itu membuat jantung Amanda berdebar cepat. Ia menoleh sedikit dan menemukan wajah Azka yang begitu dekat. Sekali lagi, pria itu mencium pipinya, membuatnya tersenyum tanpa sadar.

Hari itu mereka menghabiskan waktu berdua di rumah. Amanda menemani Azka beres-beres dokumen untuk perjalanannya. Di sela-sela kesibukan itu, mereka bercanda, saling menggoda, seperti dua anak remaja yang baru jatuh cinta.

“Mas, kamu yakin aku nggak ganggu kerjaan kamu kalau ikut?” tanya Amanda sambil melipat kemeja suaminya.

“Ganggu? Kamu malah penyemangatku,” jawab Azka tanpa menoleh dari laptopnya. “Coba aja bayangin, aku kerja keras di sana, terus setiap pulang ke hotel, aku lihat wajah kamu. Semua capek langsung hilang.”

Amanda tertawa kecil. “Manis banget, ya. Aku sampai lupa kalau kamu ini bos yang galak, Mas.”

Azka menoleh cepat, pura-pura tersinggung. “Hei, siapa bilang aku galak?”

“Karyawanmu kali yang bilang,” jawab Amanda cepat.

Azka mendengus. “Kalau sama kamu, aku nggak bakal bisa galak. Kamu tuh kelemahanku, Manda.”

Ucapan itu membuat Amanda berhenti melipat. Ia menatap suaminya lama, lalu tersenyum lembut. “Aku cuma pengin jadi alasan kamu pulang setiap hari, Mas.”

Azka berdiri, menghampiri, lalu menarik Amanda ke dalam pelukannya. “Dan kamu memang alasanku pulang.”

Menjelang sore, mereka duduk di teras belakang rumah, menikmati teh dan senja yang mulai turun. Langit berwarna oranye keemasan, dan angin sore membawa aroma bunga melati dari taman kecil yang ditanam Amanda sendiri.

“Kalau kamu udah ikut aku nanti,” kata Azka pelan, “Aku pengin kita sempat jalan-jalan juga. Nggak cuma kerja. Aku janji bakal sempatin waktu buat kita.”

Amanda mengangguk sambil tersenyum. “Aku nggak minta banyak, Mas. Asal bisa bareng kamu, itu udah cukup.”

Azka menatapnya dalam, seolah ingin mengingat setiap detail dari wajah itu. “Kamu tahu nggak, Manda ... kadang aku takut kehilangan kamu.”

Amanda menoleh, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba ngomong gitu, Mas?”

Azka tersenyum tipis. “Karena kamu terlalu baik buat aku. Aku cuma takut suatu hari kamu sadar kalau kamu pantas dapet yang lebih baik.”

Amanda langsung menggenggam tangannya erat. “Jangan ngomong gitu lagi. Aku cinta kamu, Mas. Dan aku nggak butuh siapa-siapa lagi.”

Azka menarik napas dalam, lalu menunduk mencium tangan istrinya. “Aku juga cinta kamu. Lebih dari apa pun.”

Hening. Hanya suara jangkrik mulai terdengar, pertanda malam datang.

Malamnya, setelah makan malam, Amanda duduk di tempat tidur sambil menatap koper yang hampir penuh. Ia merasa seperti anak kecil yang akan pergi piknik. Dalam hatinya, ia berdoa agar perjalanan besok menjadi kenangan indah bagi mereka berdua.

Azka keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan kaus putih dan celana panjang. Rambutnya masih basah, dan tetesan air menuruni lehernya. Amanda menatapnya diam-diam, menyadari betapa beruntungnya ia bisa mencintai dan dicintai oleh pria seperti Azka.

“Kamu kelihatan bahagia banget, Sayang,” kata Azka sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Ya iyalah,” jawab Amanda sambil tersenyum. “Kapan lagi bisa ikut kamu kerja dan liburan bareng, Mas.”

Azka menaruh handuk di kursi, lalu duduk di tepi ranjang. “Aku senang kamu mau ikut. Aku janji, bakal jadi perjalanan yang menyenangkan.”

Amanda mengangguk, lalu berbaring. “Aku nggak sabar, Mas.”

Azka mematikan lampu, lalu ikut berbaring di sebelahnya. Dalam gelap, ia menarik tubuh Amanda ke dalam pelukannya. “Tidurlah, Sayang. Besok kita mulai petualangan baru.”

Amanda tersenyum, memejamkan mata. “Iya, Mas. Aku bahagia banget punya kamu.”

Azka membisikkan kata yang selalu membuatnya tenang. “Dan aku bahagia karena kamu percaya sama aku.”

Terpopuler

Comments

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

cerita baru tentang perselingkuhan ya thor

2025-10-20

1

Agnescerlly Cerlly

Agnescerlly Cerlly

kenapa suami tidak bisa setia....dan mau dia alim atau gak kenapa dia bisa mudah menikah lagi.Jika dia bosan mengapa tak memilih menceraikan saja jadi kan perempuan bisa bersama yang lain ....yang benar mencintai dia.Lak enak bisa ngomong kah 4 kali kalau perempuan kalau gak ditalak gak bisa nikah sama orang lain lagi .. kaya status kakak ku digantung ifarku .

2025-10-21

1

faridah ida

faridah ida

maaf baru hadir thorr ..🙏🙏😘

2025-10-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Promo Novel
72 Bab Tujuh Puluh Satu
73 Bab Tujuh Puluh Dua
74 Bab Tujuh Puluh Tiga
75 Bab Tujuh Puluh Empat
76 Bab Tujuh Puluh Lima
77 Bab Tujuh Puluh Enam
78 Bab Tujuh Puluh Tujuh
79 Bab Tujuh Puluh Delapan
80 Bab Tujuh Puluh Sembilan
81 Bab Delapan Puluh
82 Bab Delapan Puluh Satu
83 Bab Delapan Puluh Dua
84 Bab Delapan Puluh Tiga
85 Bab Delapan Puluh Empat
86 Bab Delapan Puluh Lima
87 Novel Terbaru
88 Bonchap
89 Promo Novel Terbaru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Promo Novel
72
Bab Tujuh Puluh Satu
73
Bab Tujuh Puluh Dua
74
Bab Tujuh Puluh Tiga
75
Bab Tujuh Puluh Empat
76
Bab Tujuh Puluh Lima
77
Bab Tujuh Puluh Enam
78
Bab Tujuh Puluh Tujuh
79
Bab Tujuh Puluh Delapan
80
Bab Tujuh Puluh Sembilan
81
Bab Delapan Puluh
82
Bab Delapan Puluh Satu
83
Bab Delapan Puluh Dua
84
Bab Delapan Puluh Tiga
85
Bab Delapan Puluh Empat
86
Bab Delapan Puluh Lima
87
Novel Terbaru
88
Bonchap
89
Promo Novel Terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!