Memberitahu Ibu

Melati pulang ke rumahnya dengan perasaan yang bingung. Bagaimana cara memberitahu Ibu dan adiknya jika dia akan menikah, tapi hanya sebagai istri bayaran. Ares mengatakan jika besok dia akan bertemu dengan Tuan Zaidan itu dan menjelaskan semuanya.

"Ya Tuhan, bagaimana cara aku memberitahu Ibu dan Adek?"

Melati selesai mandi, dia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Pikirannya masih melayang, bagaimana caranya menjelaskan pada Ibunya. Melati meraih map yang berada di atas nakas. Masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami.

"Tapi, dengan begini aku benar-benar bisa memberikan ketenangan pada Ibu dan Adek. Tidak perlu lagi takut dengan orang yang menagih hutang Ayah"

Baiklah, dia adalah anak perempuan pertama yang harus menerima kenyataan jika beberapa bulan lalu Ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan. Hingga, sekarang dia harus menanggung hutang yang Ayahnya punya saat membuka sebuah bisnis kecil dan malah terkena tipu. Jadi, Melati harus mengambil langkah ini untuk memberikan ketenangan bagi Ibu dan adiknya. Karena ini adalah solusi yang paling bisa dia lakukan untuk saat ini. Tidak ada solusi lain.

Akhirnya meski kakinya terasa berat melangkah, dia tetap pergi keluar kamar. Melihat Ibu dan adiknya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

"Kak, kirain sudah istirahat. Tadi pergi sama Ares? Kenapa gak mampir?"

"Sudah malam Bu, Kak Ares juga harus bekerja besok" Melati duduk di kursi tunggal disana. Menatap Ibu dan adiknya secara bergantian. "Em, Bu, Adek, ada yang perlu Kakak bicarakan"

"Apa Kak?" tanya Ibu, sementara Fattah hanya menatapnya saja.

Melati meremat celana piyama yang dia gunakan. Rasanya dia berada dalam situasi sulit sekarang. Tapi akan lebih sulit jika dia tidak berbicara dan segera jujur pada Ibu dan adiknya.

"Ada apa Kak?" tanya Fattah, mulai tidak sabar karena Kakaknya hanya diam saja.

"Bu, Dek, tadi Kak Ares bilang sama aku, kalau ada seorang pria yang menyukai aku sejak lama. Nah, dia itu tidak berani mengungkapkannya, dan sekarang saja baru berani bicara juga lewat Kak Ares, karena dia tahu jika Kak Ares dekat denganku"

Baiklah, hanya bisa mengarang cerita. Karena jika Melati mengatakan yang sejujurnya, sudah pasti Ibu ataupun Fattah akan menolak keras. Sekarang sudah terlihat Ibu yang tersenyum, sudah sejak lama Ibu selalu menanyakan tentang kapan menikah pada Melati yang usianya sudah lebih dari kepala dua.

"Jadi bagaimana? Dia ingin mengajak kamu menikah?" tanya Ibu penuh semangat.

Melati merasa berhasil menciptakan drama dalam hidupnya. Meski dalam hati begitu merasa bersalah karena sudah berbohong. "I-iya Bu, dia ingin mengajak aku menikah. Aku juga cukup kaget, tapi dia berjanji akan menjamin keluarga kita dan juga melunasi hutang Ayah"

Senyuman di wajah Ibu langsung lenyap. Dia mulai paham kemana arah tujuan pembicaraan ini.

"Kak, maksudnya Kakak menikah karena uang?" tanya Fattah dengan tatapan tajam pada Melati.

Melati langsung menggeleng cepat, dia tahu jika ini tidak akan mudah. Tapi untuk masalah ini, dia tidak bisa berbohong juga. "Bukan begitu Dek, jadi dia tahu masalah kita tentang keuangan. Dan dia dengan sukarela akan membantu. Bahkan dia berkata, dia akan tetap membantu keluarga kita, meski aku menolak ajakannya menikah. Percayalah, Kakak melihat ketulusan dari tatapan matanya"

Ya Tuhan, mudah sekali bibir ini berbohong. Ketulusan apanya jika pernikahan ini saja akan terjadi di atas selembar kontrak.

Ibu terlihat menghela nafas pelan, lalu dia memegang tangan Melati. "Ibu tidak akan memaksa atau membebani kamu. Tapi jika kamu yakin dengan orang ini, maka lakukan. Tapi, jika kamu menikahinya hanya tergiur uangnya, maka jangan. Ibu tidak  mau batin kamu tersiksa, Kak"

Melati menghela nafas pelan, sedikit lega karena dia berhasil mengatakan yang sebenarnya pada Ibu dan adiknya. Meski banyak kebohongan yang dia lakukan. Setidaknya Ibu tahu jika pria itu akan membantu hutang peninggalan Ayah.

"Iya Bu, awalnya aku juga merasa kaget. Tapi saat bertemu denganya langsung dan menatap matanya, aku benar-benar melihat ketulusan"

"Jadi, siapa dia?" tanya Fattah, nada bicaranya terdengar dingin dan menyelidik.

"Em, Bosnya Kak Ares. Ternyata dia adalah senior Kakak saat di Kampus"

Melati menundukan wajahnya, saat melihat tatapan Fattah yang begitu tajam padanya. Seolah dia sedang menyelidiki apa ada kebohongan atau tidak.

"Besok aku akan pergi dengan Kak Ares ke Kantornya, kami akan membicarakan pernikahan ini. Tapi mungkin tidak akan ada sesi lamaran atau apapun ya, Bu. Kita akan langsung menikah"

"Tidak papa Kak, asal kamu yakin dengan keputusan kamu ini. Dan sekali lagi Ibu ingatkan, jangan mengambil keputusan ini hanya karena uang. Jangan buat batin kamu tersiksa nantinya"

Melati mengangguk mengiyakan ucapan Ibu. Lalu suara dingin Fattah terdengar. "Ingat ya Kak, jika dia ternyata tidak sebiak yang Kakak bilang. Maka langsung beritahu aku, maka aku akan datang untuk mengambil Kakak darinya!"

Melati tersenyum tipis, adiknya yang sekarang sudah terlihat semakin dewasa dan bahkan selalu ingin melindungi Kakaknya dan juga Ibu. "Iya Dek, lagian siapa yang berani dengan adik Kakak ini. Didekati perempuan saja malah cuek. Padahal usia kamu sudah 20 tahun loh"

"Bukan urusan aku mereka mau dekati aku atau tidak. Yang jelas aku hanya peduli dengan kuliah, pekerjaan dan kalian"

Ibu dan Melati tersenyum mendengar itu. Sejak Ayah mereka terkena tipu dan hidup mereka benar-benar berubah, maka Fattah berubah menjadi lebih dewasa. Bahkan terlihat seperti dia adalah anak pertama di Rumah ini.

*

Ketika Ares mengirim pesan jika dia sudah berada di depan rumanya. Melati kira dia yang datang menjemput, tapi ternyata hanya seorang pria asing berpakaian serba hitam yang membuat Melati sedikit ketakutan.

Ketika sudah sampai di depan Gedung tinggi ini, Melati sedikit takjub. Berdiri di depan Gedung itu dengan menatap ke atas, dimana terdiri dari beberapa lantai Gedung ini. Dan ini adalah satu Perusahaan. Betapa besarnya bukan?

"Mel"

Melati menoleh saat dia baru saja masuk ke Lobby. Ares segera berlari ke arahnya. Menarik tangannya untuk naik ke lantai dimana Ruangan Bosnya berada. Melati menatap tangannya yang digenggam oleh Ares. Wajahnya terasa memanas, pasti sudah sangat merah sekarang.

"Kak Ares hebat bisa bekerja di Perusahaan yang besar ini" ucap Melati penuh rasa bangga.

"Kamu lebih hebat, setelah ini kamu akan menjadi istri pemimpin Perusahaan besar ini"

Mereka berada di dalam lift sekarang. Melati hanya tersenyum tipis  mendengar ucapan Ares barusan. Apanya yang harus dibanggakan, hanya jadi istri bayaran saja. Gumamnya dalam hati.

"Oh ya Mel, kamu bisa mengajukan dua persyaratan yang ingin kamu tambahkan pada kontrak. Selain, dari bayar hutang Ayah kamu"

Melati hanya mengangguk saja.

"Nah, nanti kamu hanya perlu tidak membantah dan menuruti semua perintah dia. Maaf, kalau mungkin sikapnya akan sedikit arogan dan tidak membuat kamu nyaman. Dia memang seperti itu sejak istrinya meninggal. Pokoknya, kamu jangan sampai membuat kesalahan, karena kemarahan dia tidak akan tertahankan"

Aduh apasih yang aku ucapkan, aku malah menakuti Melati sekarang. Dasar mulut sialan.

Ares jelas melihat tangan Melati yang saling bertaut dengan gemetar. Pastinya dia sudah takut duluan dengan ucapan Ares barusan.

"Em, kamu juga tidak perlu begitu takut Mel. Dia itu baik jika hatinya sudah tersentuh. Dan mungkin saja kamu bisa menyentuh hatinya yang terkunci itu. Pokoknya kamu hanya perlu mengiyakan apa yang dia ucapkan, dan jangan membuatnya marah"

Ah sial, aku malah semakin berbelit kesana-kemari.

"Kak, tapi jika aku mengajukan padanya jika dalam satu tahun ini, jangan sampai dia meminta aku untuk melayaninya sebagai istri yang sesungguhnya. Ehmm, Kakak tentu paham maksud aku"

Ares mengangguk mengerti. "Kamu boleh mengajukan itu. Bicarakan padanya secara langsung"

"Baik Kak"

Setidaknya jika aku dibuang setelah satu tahun menikah. Aku masih bisa mengejar cintaku dengan percaya diri, karena aku masih utuh.

Bersambung

Jangan pernah nabung bab, benera berpengaruh sama novel on going.. Tolong kerjasamanya.

Terpopuler

Comments

dika edsel

dika edsel

mel..kamu kayak siswa baru yg lagi menjalankan mpls aja..dan si ares yg jd kakak pembimbingnya wkwkkk...!!! hei bos demen banget dipanggil sayang...jgn2 situ sebenarnya udah ada rasa yah tp gengsi sok2 bilang gk butuh..!!!

2025-07-24

0

ken darsihk

ken darsihk

Rumit rumittt kamu kawin sama kulkas 4 pintu Mel 😂😂😂
Tetap 💪🏼💪🏼 Melll

2025-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Carikan Istri Bayaran Untukku!
2 Tawaran Kontrak Pernikahan
3 Pertemuan Pertama
4 Memberitahu Ibu
5 Bertemu Calon Mertua
6 Ternyata Guru Anaknya
7 Mengantar Pulang
8 Calon Mertua Dan Calon Menantu
9 Pernikahan
10 Poin Terakhir Dalam Kontrak
11 Jangan Berharap Lebih!
12 Pengantin Baru?!
13 Panik
14 Ketiduran
15 Apa Dia Cemburu?
16 Kesal
17 Terima Kasih Sudah Memberi Ibu Untuk Zen
18 Tiba-tiba Datang
19 Larangan Memikirkan Pria Lain
20 Juga Terluka Di Masa Lalu
21 Pelukan Mengejutkan
22 Hanya Istri Bayaran
23 Belum Mengerti Perasaannya Sendiri
24 Sebuah Cinta Atau Perpisahan?
25 Mama Mertua Menginap
26 Tidur Satu Kamar
27 Menemani Suamiku
28 Potongan Kue Pertama Untuk Ibu
29 Milikku Tidak Boleh Disentuh Siapapun!
30 Tidur Di Kamarku!
31 Arti Sebuah Mimpi
32 Zenia Juga Anakku
33 Marah
34 Apartemen Ares
35 Tidak Akan Menceraikannya!
36 Tentang Zaidan Di Masa Lalu
37 Tidak Ada Yang Bisa Dipertahankan
38 Benar-benar Terjadi
39 Kamar Kita?
40 Cara Tuhan Mempersatukan
41 Kau Berhak Cemburu
42 Panggilan Sayang Yang Seharusnya
43 Menunjukan Kepemilikan
44 Kau Hanya Milikku!
45 Pembicaraan di Kolam
46 Datang Bulan
47 Mencoba Masakanku
48 Aku Tidak Cemburu
49 Mengakhiri Semuanya
50 Sudah Pergi
51 Karena Aku Mencintainya
52 Saudara
53 Harus Meninggalkan Rumah
54 Kapan Ibu Pulang?
55 Bertemu Zenia
56 Tidak Bisa Lepas Dari Perasaannya
57 Hanya Ingin Mengakhiri Kontrak
58 Memulai Lagi
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Carikan Istri Bayaran Untukku!
2
Tawaran Kontrak Pernikahan
3
Pertemuan Pertama
4
Memberitahu Ibu
5
Bertemu Calon Mertua
6
Ternyata Guru Anaknya
7
Mengantar Pulang
8
Calon Mertua Dan Calon Menantu
9
Pernikahan
10
Poin Terakhir Dalam Kontrak
11
Jangan Berharap Lebih!
12
Pengantin Baru?!
13
Panik
14
Ketiduran
15
Apa Dia Cemburu?
16
Kesal
17
Terima Kasih Sudah Memberi Ibu Untuk Zen
18
Tiba-tiba Datang
19
Larangan Memikirkan Pria Lain
20
Juga Terluka Di Masa Lalu
21
Pelukan Mengejutkan
22
Hanya Istri Bayaran
23
Belum Mengerti Perasaannya Sendiri
24
Sebuah Cinta Atau Perpisahan?
25
Mama Mertua Menginap
26
Tidur Satu Kamar
27
Menemani Suamiku
28
Potongan Kue Pertama Untuk Ibu
29
Milikku Tidak Boleh Disentuh Siapapun!
30
Tidur Di Kamarku!
31
Arti Sebuah Mimpi
32
Zenia Juga Anakku
33
Marah
34
Apartemen Ares
35
Tidak Akan Menceraikannya!
36
Tentang Zaidan Di Masa Lalu
37
Tidak Ada Yang Bisa Dipertahankan
38
Benar-benar Terjadi
39
Kamar Kita?
40
Cara Tuhan Mempersatukan
41
Kau Berhak Cemburu
42
Panggilan Sayang Yang Seharusnya
43
Menunjukan Kepemilikan
44
Kau Hanya Milikku!
45
Pembicaraan di Kolam
46
Datang Bulan
47
Mencoba Masakanku
48
Aku Tidak Cemburu
49
Mengakhiri Semuanya
50
Sudah Pergi
51
Karena Aku Mencintainya
52
Saudara
53
Harus Meninggalkan Rumah
54
Kapan Ibu Pulang?
55
Bertemu Zenia
56
Tidak Bisa Lepas Dari Perasaannya
57
Hanya Ingin Mengakhiri Kontrak
58
Memulai Lagi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!