Kehilangan Pedang

**

"Akhirnya, sketsa kapal ini selesai juga, aku simpan saja dulu sketsa ini, besok akan aku beritahukan ke Centa dan Sagitt, aku perlu saran mereka" ucap Draco.

Draco kemudian menyimpan sketsa kapal itu dan beristirahat.

"Sekarang sebaiknya aku istirahat dulu, aku sungguh lelah".

Draco kemudian pergi ke ruang tidur dan beristirahat disana.

..."Ahh... akhirnya, aku bisa membaringkan diri"....

**

Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat, panasnya sudah mulai berkurang tidak seperti tadi.

Di rumah, Centa sedang bersantai, setelah bekerja memotong papan beberapa hari lalu.

"Panas juga ya... hari ini".

**

Taklama kemudian,

...Sagitt?...

(Centa yang melihat Sagitt dikejauhan, bertanya tanya).

"Salam!" ucap Sagitt dari kejauhan.

"Sagitt?, salam juga" jawab Centa.

"Ada apa kau siang-siang begini kemari?" (heran).

"Tidak mengapa, aku hanya ingin bermain saja, aku bosan berlatih pedang terus" (ungkapnya).

"Oh begitu, mari...!" Centa mengajak Sagitt duduk di tikar depan rumah.

"Centa, apa yang kau lakukan bersama guru Draco beberapa hari lalu? ".

"Oh, aku bersama guru memotong kayu di hutan, membuat papan, menjahit kain layar, dan kegiatan lainnya, sama seperti yang guru Draco bilang saat itu" jelas Centa.

"Ohh".

"Aku buatkan minuman ya? " tawar Centa.

"Baiklah terserah kau saja".

Centa kemudian membuatkan minuman (yang mungkin sekarang dikenal dengan nama kopi) untuk disajikan pada Sagitt.

"Semoga Sagitt menyukainya" ucap Centa ketika membuat kopi.

Setelah itu..."Ini...(menyodorkan) " Centa memberikan secangkir kopi pada Sagitt.

"Terima kasih" menerima pemberian Centa.

"Mari diminum!".

"Mari...!"

...Sruppp......

...suara Centa meminum kopi itu....

"Enak ya kopi buatanmu Centa (memuji), kau beli dimana?"

"Oh, aku membelinya di toko warga langgananku untuk persediaan".

"Kalau begitu, aku juga ingin membelinya deh nanti".

"Boleh, nanti akan kuantarkan kau ke tokonya" ucap Centa.

"Terima kasih, Oh ya Centa!, setelah kita minum, mau tidak kita berenang di sungai dekat sini?".

"Boleh juga, kira-kira untuk melepas lelah". jawab Centa.

"Kalo begitu, mari segera kita habiskan minumannya" lanjut Centa.

"Baiklah".

...Sruppp......

...Sruppp......

...suara mereka minum menghabiskan kopi itu....

"Sudah habis?"

"Sudah" jawab Sagitt.

"Baiklah berikan cangkirnya padaku !, aku bereskan dulu".

"Ini (memberikan cangkir pada Centa)".

Centa kemudian menaruh cangkir kopi tadi di dapur.

"Ayo... kita berangkat! "

ajak Centa.

"Ayo...!"

**

Mereka kemudian berangkat menuju sungai. Sekitar lima belas menit berjalan kaki.

"Yeah, kita sampai juga Sagitt" ucap Centa.

"Benar, ayo langsung kita nyebur !".

"Ayo...! ".

...Byurrrrr......

...Suara air ketika mereka berdua menceburkan diri....

"Asyik... sudah lama aku tidak berenang seperti ini" ucap Centa.

"Rasanya segar sekali".

"Benar ini menyejukkan, hilanglah sudah rasa lelahku" ucap Centa bahagia.

Mereka berdua berenang lumayan lama melepaskan penat dan rasa bosan mereka.

...Byurrrrr...Byurrrrr...Byurrrrr......

**

Hari sudah sore, mereka pun mengakhiri keasyikan berenang mereka, dan beres-beres, untuk beranjak pulang.

"Ayo Centa !, matahari sudah mau tenggelam" ajak Sagitt.

"Mari kita pulang!" lanjutnya.

"Benar (melihat ke arah matahari) mari kita pulang".

"Oh ya katanya kau mau membeli kopi ?"

"Iya".

"Baiklah, nanti kita mampir dulu di tokonya sebelum pulang ke rumah".

**

Centa dan Sagitt mampir di toko penjual kopi.

"Salam bu!" ucap Centa pada ibu-ibu penjual toko"

"Salam...nak Centa, ada yang bisa ibu bantu?".

"Ini bu teman saya mau membeli kopi yang biasa saya beli".

"Oh begitu ya, baiklah nak Centa, tunggu sebentar ya !"

"Iya bu" (Menunggu).

"Ini nak kopinya" (menyodorkan).

"Berapa ya bu harganya? " tanya Sagitt.

"Biasa nak tiga koin emas".

"Ini bu... " Centa memberikan tiga koin emas pada ibu itu, dan mengambil sebungkus kopi yang disodorkan ibu penjual.

"Lah Centa?" ucap Sagitt.

"Sudah... aku traktir kamunya, sekali kali" (tersenyum).

"Makasih ya bu" ucap Centa pada ibu itu.

"Iya, sama-sama nak".

"Kami pamit dulu ya bu, salam".

"Salam kembali nak".

**

Centa dan Sagitt kemudian beranjak pulang.

"Kau ini, sini biar aku yang bawa!" ucap Sagitt.

"Baiklah".

**

Sesampai di rumah,

"Syukurlah sudah sampai di rumah" ucap Centa.

"Centa, bolehkah aku bermalam di rumahmu?" tanya Sagitt.

"Tentu, jarang-jarang kau bermalam disini, mari kita masuk" ajak Centa.

**

Matahari akhirnya tenggelam.

Hari sudah mulai gelap. Sebelum mereka tidur mereka berbincang bincang panjang lebar, sambil menyantap beberapa potong roti dan secangkir kopi yang Centa hidangkan, mereka membahas tentang apa yang sedang dilakukan guru Draco sekarang, apakah ia telah selesai membuat sketsanya ataukah belum?

Setelah cukup lama berbincang akhirnya mereka pun tertidur.

**

Tengah malam,

Dengan langkah yang sangat pelan seseorang memasuki rumah Centa, ia mengendap-endap, merusak pintu dengan sangat hati-hati, tanpa disadari, ia mengambil pedang Centa yang diletakkan tergantung di dinding ruang tamu, tempat biasa Centa menaruh pedangnya.

Pencuri itu berhasil lolos dan membawa pedang Centa tersebut, namun ia meninggalkan jejak, ia lupa menutup kembali pintu yang telah ia rusak.

**

Pagi. Burung burung sudah berkicau ria, mentari muncul seperti biasa, menyinari bumi, silau cahayanya membangunkan mereka yang tertidur.

"Uaahh (menguap) , sudah pagi rupanya" ucap Centa yang bangun lebih awal dari Sagitt.

"Lebih baik aku mencuci muka dahulu" gumam Centa.

(Berjalan menuju kamar mandi)

"Ah... segarnya" ucap Centa (membasuh mukanya dengan air).

Setelah mencuci muka, ia mendatangi Sagitt yang masih tertidur.

"Sagitt !,Sagitt !, ayo bangun ! sudah pagi" (membangunkan Sagitt).

Uaahhh...(menguap sambil merentangkan kedua tangan ke atas) .

"Sudah pagi ya...?".

"Benar, ayo...cepat bangun! kita latihan pedang bersama pagi ini".

"Baik...aku cuci muka dulu ya" ucap Sagitt dengan muka yang masih mengantuk.

"Iya, cepatlah! akan aku tunggu".

"Aku sangat ingin latihan pedang hari ini" gumam Centa.

Kemudian Centa berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil pedangnya. Dan..

"Lah kemana pedangku ? biasanya kan aku letakkan disini".

Centa melihat dinding tempat biasa ia menaruh pedang.

"Kok tidak ada ?" Centa bertanya dalam hatinya.

Sagitt kembali dari mencuci mukanya.

"Ada apa Centa? " tanya Sagitt melihat Centa yang kebingungan.

"Pedangku hilang, padahal aku selalu meletakkannya disini (menunjuk ke arah dinding) ".

"Hah, bagaimana bisa? " tanya Sagitt.

"Aku tidak tau, aku rasa ada yang mencurinya saat kita tidur malam tadi.

Hmmm...

"Hei Sagitt, coba lihat…(menunjuk ke arah pintu) pintu depan rumah terbuka, siapa yang membukanya?"

"Lihat Centa pintu ini ada yang merusaknya (menunjuk pintu yang tidak normal lagi) ucap Sagitt.

"Benar katamu Centa, sepertinya ada yang mencuri pedangmu. Centa, sebaiknya kita laporkan saja hal ini ke kantor keamanan desa, supaya nanti bisa diurus disana"

"Benar juga, ayolah kita segera pergi kesana!".

Mereka kemudian pergi untuk melaporkan perihal kehilangan itu di kantor keamanan desa.

**

Terpopuler

Comments

Rosa_Lin128

Rosa_Lin128

Semangat🔛🔥

2020-12-14

2

Rosa_Lin128

Rosa_Lin128

semangat🔛🔥

2020-12-14

2

@todays_dreamer_

@todays_dreamer_

ternyata Centa kehilangan pedangnya

2020-12-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!