**
Esok hari.
Sang ayah sedang sibuk dengan alat berburunya. Lalu datanglah Axijim dan bertanya,
"Ayah! sedang buat apa?," tanya Axijim.
"Oh, menyiapkan alat berburu, ayok bantu ayah sini," ucap ayah.
"Lah Yah katanya mau melatih Axijim."
"Sudahlah, nanti Ayah akan melatihmu, sekarang kau bantu ayah dulu!."
"Ayah ini gimana, kemarin bukannya melatih Axijim, malah menyuruh Axijim menimba air, sudah wadah pengangkutnya bocor lagi," (Dengan raut wajah sedikit kesal).
Hehehe
"Kok ayah malah tertawa?," (Tambah merasa kesal).
"Sudahlah nak, bantu ayah saja sini!." ucap Ayah halus.
"Huh, Ya sudah, baiklah," (dengan nada kesal).
"Tuh ambil anak anak panah itu, bawa kesini!." ucap Ayah sambil menunjuk ke arah wadah berisi anak panah.
Axijim mengambil wadah berisi anak panah itu. Lalu membawanya menuju sang ayah.
"Ini Yah," ucap Axijim sambil memberikannya pada sang Ayah.
"Terimakasih nak" jawab Ayah menerimanya "Sekarang perhatikan ayah oke!." lanjutnya.
Ayah kemudian mempraktekkan mengasah mata panah kepada Axijim. Axijim memperhatikannya denga seksama.
"Bagaimana, kau sudah paham?," tanya ayah.
"Lumayan paham yah."
"Nah, sekarang kau asah anak-anak panah ini seperti yang ayah contohkan!."
"Semuanya yah?."
"Iya semuanya."
"Banyak sekali yah, tidak bisa kurang?" tawar Axijim.
"Sudah lakukan saja perintah ayah, kalau kamu ingin ayah latih."
"Huh, Baiklah Yah."
Demi mendapat pelatihan dari sang Ayah Axijim harus melakukan apa yang diperintahkan oleh sang Ayah.
"aduh banyak lagi anak panah yang harus aku asah, kapan ayah akan melatihku nih" gumam Axijim dalam hati.
Hampir satu jam Axijim mengasah mata-mata panah tersebut. Keringat bercucuran di wajah Axijim, karena memang anak panah yang diasah cukup banyak, dan memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
"Ayah! sudah selesai," teriak Axijim.
"Ya sudah, kemarilah kau! ambil belati ini."
"Lalu bagaimana dengan anak panah ini Yah? " tanya Axijim.
"taruh saja disana" jawab Ayah
"Baiklah yah." Axijim menaruh anak anak panah itu dan berjalan mendekati ayah.
"Nih, belatinya," ayah memberikan belati pada Axijim.
"Asahlah ini juga hingga tajam."
"Hah!? belati ini juga Yah. Aduh, tadi ayah sudah menyuruh aku mengasah anak-anak panah itu, sekarang di tambah belati ini lagi, kapan latihannya Yah?," keluh Axijim.
Tanpa menjawab Ayah ayah beranjak pergi meninggalkan Axijim.
Ih Ayah kok malah pergi begitu saja, ucapnya dihati kesal.
Dengan perasaan sedikit kesal, Axijim kembali mengasah belati itu, setelah sekitar setengah jam, akhirnya Axijim selesai menga asahnya.
...----------------...
"Axijim, sudah selesai belum?," tanya ayah memanggil.
"Sudah Yah."
"Bagus, sekarang ambilah racun ini," ayah menghampiri Axijim.
"Buat apa Yah?," tanya Axij sambil mengambil wadah berisi racun yang disodorkan ayah.
"Buat mata-mata panah tadi. Sekarang, kau celupkan satu persatu mata panah tadi kedalaman wadah berisi racun itu."
"Ini berbahaya tidak Yah? jika terkena kulit," tanya Axij.
"Tidak akan berbahaya, kecuali pada kulit yang terluka."
"Oh begitu ya, Yah."
"Baiklah akan aku laksanakan perintah ayah."
Axijim lalu melakukan perintah ayah, ia mencelupkan mata panah tadi ke dalam wadah berisi racun tersebut satu persatu. Setelah selesai semua lalu sang ayah memanggil.
...----------------...
"Ayo nak, kita berangkat !."
"Ayo!."
Semua alat alat tadi yang telah mereka persiapkan, semuanya mereka bawa menuju hutan untuk berburu. Ayah membawa busur panah dan mengalungkan wadah berisi anak panah di tubuhnya serta membawa belati ditangannya dan juga sebuah tas. Sedangkan Axijim hanya membawa tas saja.
Setelah memakan waktu cukup lama berjalan kaki, akhirnya mereka tiba dilokasi, sesampai disana. Ayah langsung menyiapkan seluruh peralatan yang mereka bawa untuk segera digunakan.
"Mari nak, ikut ayah, kita telusuri hutan ini!."
"Kau bawalah belati ini untuk jaga-jaga," lanjut ayah memberikan belati pada Axijim.
"Baik yah."
Axij dan ayah menelusuri hutan.
Sssttt, " Jangan bergerak sebentar nak."
ucap ayah saat melihat seekor rusa yang tak begitu jauh dihadapan mereka.
"Baik yah."
"Di depan sana ada seekor rusa," ucap Ayah.
Axijim melihat ke depan, dan benar ada seekor rusa yang tak begitu jauh dihadapan mereka. Mereka sedikit bersembunyi dibalik pohon supaya tidak diketahui oleh rusa itu.
...----------------...
Ayah bersiap membidik, ayah menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkonsentrasi, akan membidik sasaran. Setelah yakin bahwa anak panahnya akan mengenai rusa itu.
Slettt, anak panah ayah melesat.
Dan, Ceep, bunyi anak panah ayah menancap mengenai tubuh rusa.
Rusa itu pun berlari merasa kesakitan.
"Ayo Axij kita ikuti jejak rusa itu!."
"Baik Yah." Ayah dan Axij mengikuti jejak rusa itu. "Tenang saja rusa itu pasti akan mati, karena mata panah tadi telah dilumuri racun."
"Jauh sekali rusa itu lari ya Yah?."
"Sabar nak, kita ikuti saja terus."
Mereka mengikuti jejak rusa itu, yang juga meninggalkan bercak darah di rerumputan.
Beberapa menit kemudian, "Itu dia nak," ayah menunjuk rusa yang telah mati tergeletak.
"Nak berikan belatimu" ucap ayah
"ini yah" Axijim memberikan belati itu pada ayah.
Tidak menunggu lama ayah kemudian memotong tubuh rusa itu menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
Dan memasukkannya kedalaman tas yang dibawanya.
Namun, saking besarnya tubuh rusa itu, seluruh bagiannya tidak muat ditas ayah.
Untungnya Axijim juga membawa tas, dan sisa bagian yang tidak muat tadi dimasukkan ke dalam tas Axijim.
"Ayo nak kita pulang!."
"Syukurlah kita sudah mendapatkan buruan kita," lanjut ayah.
"Ayo yah!."
Ayah dan Axij beranjak pulang kerumah, matahari saat itu tepat berada di atas kepala.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Srikandi Hayaka
omah.mampir.lagi nih kak..
2021-03-01
3
Rosa_Lin128
Semangat🔛🔥
2020-12-14
2
R_armylove ❤❤❤❤
like lagi
2020-12-13
2