Rendra tampak semakin canggung. Dia melirik Dhea yang kini menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan emosi. Wajahnya sedikit memerah, entah karena malu atau marah, Aleycia tidak tahu.
Aleycia melirik sekilas ke arah Rendra sebelum akhirnya mengikuti langkah Greg menuruni pelaminan. Tapi sebelum benar-benar pergi, suara Dhea menghentikan langkah mereka.
“Aleycia, kau tidak berubah, ya? Masih suka mencari perhatian dengan cara menyedihkan seperti ini.” Suara Dhea terdengar manis, tapi penuh racun.
Greg menghentikan langkahnya. Dia menoleh perlahan ke arah Dhea, ekspresinya tetap datar, tapi sorot matanya tajam.
“Aku tidak perlu mencari perhatian,” kata Aleycia dengan suara tenang. “Perhatianku datang sendiri tanpa perlu aku minta.”
Dhea mendengus pelan, tapi sebelum dia sempat membalas, Greg menambahkan, “Jangan salah paham, Nona Dhea. Kekasihku tidak perlu mencari perhatian orang lain. Aku yang memilih menaruh perhatianku padanya.”
Dhea terdiam. Bahkan Rendra terlihat terkejut dengan ucapan Greg yang terdengar begitu tulus.
Aleycia tidak bisa menahan senyum tipisnya. Entah Greg sungguh-sungguh atau hanya sekadar berbasa-basi, tapi kata-kata itu membuat dadanya terasa lebih hangat.
“Yuk, kita pulang.” Greg menggenggam tangannya erat, membawa Aleycia menjauh dari semua kenangan buruk itu.
Tapi sebelum benar-benar meninggalkan aula pernikahan, Aleycia sempat melirik ke belakang. Rendra masih berdiri di pelaminan, matanya terpaku pada sosoknya.
Tatapan itu tidak bisa Aleycia artikan, tapi satu hal yang dia tahu, dia tidak lagi ingin peduli.
"Sudah puas? Lihat wajah mantan kekasihmu tadi, aku rasa dia tidak peduli denganmu sedikitpun." Ucap Greg.
"Memangnya kau pikir aku peduli?" Sahut Aleycia.
Greg menatap Aleycia sekilas, lalu tertawa kecil. “Benar juga. Kau sudah membuat pilihanmu, bukan?”
Aleycia menghela napas pelan, menggenggam clutch bag di tangannya lebih erat. “Ya. Aku sudah memilih untuk melangkah maju.”
Greg tidak menanggapi lagi. Dia hanya menggandeng tangan Aleycia lebih erat, mengajaknya berjalan melewati kerumunan tamu yang masih sibuk dengan acara pernikahan.
Saat mereka sampai di area parkir, Greg membuka pintu mobil untuk Aleycia. “Kita akan langsung pulang atau kau mau pergi ke tempat lain?” tanyanya.
Aleycia sempat ragu sejenak. Dia merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, tapi dia tidak ingin pulang dan berakhir menangis sendiri di kamar. “Aku ingin minum,” katanya akhirnya.
Greg menaikkan sebelah alisnya. “Minum?”
“Ya. Kau tidak akan keberatan, kan?”
Greg menghela napas, lalu menutup pintu mobil setelah Aleycia masuk. “Baiklah, aku tahu tempat yang bagus.”
---
Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah bar mewah di pusat kota. Suasana di dalam cukup tenang, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu bising. Lampu temaram membuat tempat itu terasa lebih privat.
Greg memesan minuman untuk mereka berdua, sementara Aleycia menatap gelasnya dengan tatapan kosong. Dia tidak benar-benar ingin mabuk, dia hanya ingin merasa lebih ringan.
“Kau benar-benar tidak peduli dengan Rendra?” Greg tiba-tiba bertanya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Aleycia menyesap minumannya sebelum menjawab. “Aku tidak tahu. Aku hanya lelah memikirkan sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.”
Greg mengangguk pelan. “Bagus.”
Aleycia mengernyit. “Bagus?”
“Ya,” Greg menyesap minumannya santai. “Karena aku tidak mau menjadi alat untuk membuat mantan kekasihmu cemburu. Aku punya harga diri, Aleycia.”
Aleycia tertawa keras, ”Kau? Kau yang menculik ku, membuat hidupku menderita, mengambil kesucianku, bahkan menyandera ku. Apa kau lupa? Ini bahkan idemu membawaku ke pesta pernikahan mantanku itu."
Aleycia mengingatkan Greg tentang berapa lelaki itu sangat menghancurkan hidupnya beberapa hari lalu.
Greg menatap Aleycia dengan ekspresi datar, matanya yang tajam tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Dia memutar gelasnya perlahan, membiarkan cairan di dalamnya berputar sebelum akhirnya berbicara.
“Aku memang tidak lupa,” katanya dengan suara rendah. “Dan kau juga seharusnya tidak lupa bahwa hidupmu sekarang adalah milikku.”
Aleycia menggertakkan giginya. Tangannya mengepal di atas meja, emosinya bercampur aduk antara marah, frustasi, dan lelah. “Lalu untuk apa semua ini, Greg? Untuk apa kau membawaku ke pesta itu? Untuk apa kau berusaha membuatku terlihat lebih baik di hadapan mereka?”
Greg menatapnya lama sebelum akhirnya bersandar ke kursinya, menghela napas pelan. “Untuk membuktikan bahwa kau tidak butuh mereka lagi.”
Aleycia terdiam.
“Kau mungkin membenciku,” lanjut Greg. “Tapi aku tidak ingin kau terus hidup dalam bayang-bayang masa lalumu yang menyedihkan.”
Aleycia menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Kau menghancurkan hidupku dan sekarang kau ingin aku percaya bahwa kau peduli padaku?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments