Melody From Pshycopath
Gitar dan piano adalah dua benda yang sangat identik dengannya. produser adalah hal yang familiar dengannya. Dunia pun tau reputasi lelaki tampan ini. Setiap petikan darinya adalah sesuatu yang mampu mengantarkanmu ke dalam fantasinya.
Alunan musik bersama lagu yang ia ciptakan seperti sihir yang akan membuat siapa saja yang mendengarkannya akan terhanyut di dalam dunianya. Namun, siapa sangka jika setiap syair yang ia nyanyikan adalah sebuah bencana. Setiap lirik lagunya adalah sebuah kematian. Setiap ia mengumandangkan lagu-lagunya. Maka, bersiaplah!
Perlahan namun pasti lagunya lah yang akan menjadi pengantar kematianmu. Lagunya adalah penyayat jiwa. Musiknya adalah tetes darah di dalam hidupmu. Dia adalah malaikat maut untukmu.
Greg Rangley - Lelaki sempurna bak pangeran yang sering di ceritakan dalam dongeng-dongeng. Pangeran tampan dengan wibawa yang melekat di dalam dirinya. Namun, di balik wajah manisnya, dia berbahaya. Misterius, satu kata yang mampu di gambarkan dari sikap dinginnya. Tidak ada yang tau siapa dia sebenarnya pun tidak ada yang mengerti seperti apa sosoknya.
you're like a game.
So play well, because I can't guarantee your life in peace.
"Hentikan!!! Kumohon, siapapun hentikan lagu itu" Gadis berambut pirang itu terus berteriak-teriak sambil menutup telinganya. Ia terlihat frustasi di ruangan gelap nan misterius yang saat ini sedang di tempatinya. Bau anyir menyeruak pekat, bermacam potongan tubuh manusia berjejer rapi pada rak-rak di sana, seolah itu adalah sebuah pajangan berharga.
Gadis yang sebenarnya cantik itu, menangis tersedu, terlihat sangat kacau. Tangan beserta kakinya di gembok pada sebuah batu semen.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Gadis itu menegang, ia diam membisu. Ia tau siapa yang datang, caranya membuka pintu perlahan, ketukan suara sepatunya terdengar dramatis. Gadis itu menahan nafas melawan rasa takutnya atas seseorang yang telah mengurungnya di tempat mengerikan itu.
"Ini baru awalnya, saat kau berani melawanku maka, kau pun berani mengambil resiko dariku" Suara dari siluet tegas di depan pintu memecahkan keheningan.
"Lepaskan aku" Gadis itu berkata sambil terus meneteskan air matanya.
"Tidak" Jawaban singkat itu menyulut emosi gadis mungil itu.
"Brengs*k, lelaki macam apa kau yang berani menyiksa seorang gadis?"
"Kau tau? Gadis sepertimu lah yang pantas untuk di siksa" Greg melangkahkan kakinya semakin mendekati gadis yang melontarkan kata tak sopan padanya.
Tubuh gadis itu bergetar tatkala tangan dingin Greg menyentuh dagunya, membimbing wajah gadis itu untuk menatapnya.
"Aku tidak takut, sungguh. Seperti apapun kau menyiksaku, aku tidak akan pernah takut"
Greg tersenyum meremehkan. Dia jelas tau suara gadis itu bergetar, menunjukkan ketakutannya.
"Aku akan membebaskanmu dari tempat ini. Pelayan akan mengantarkanmu ke tempatmu yang seharusnya" Greg berdiri dan melangkahkan kakinya ke luar ruangan.
...***...
Ini adalah awal kehancuran hidupku. Aku terus menitikan air mata. Meringkuk sendiri di kamar itu. Setelah aku di bebaskan dari penjara mengerikan miliknya, aku di bawa ke dalam sebuah kamar yang menurutku sangat mewah.
kamar bernuansa putih dan coklat susu, di samping tempat tidur terdapat nakas dan lampu tidur yang tertata sedemikian rupa. Di kamar ini pun terdapat televisi yang menempel di dinding. Simpel dan elegan. Tak jauh dari ranjang, juga terdapat beberapa anak tangga yang ternyata tersambung dengan kamar mandi dan walk in closet yang sudah berisi oleh pakaian dan aksesoris perempuan.
Dari mana lelaki itu mendapatkan barang-barang ini? Atau kamar ini adalah kamar milik kekasihnya? Aku bermain sendiri dengan pikiranku.
"Selamat malam sayang" Aku meneguk salivaku dengan susah payah, aku mengenal suara bariton itu. Saat ini, aku baru saja selesai membersihkan diri, berdiri di tengah-tengah walk in closet. Hanya handuk yang melilit di tubuhku.
"Mau apa kau kesini? Pergi!" Bentakku saat aku menyadari dia mulai mendekatiku.
"Ini rumahku, aku bebas melakukan apapun disini. Aku yang berkuasa di rumah ini" Jawab lelaki yang ku ketahui namanya adalah Greg Rangley, musisi yang sangat di cintai dunia. Wajah malaikatnya benar-benar menipu, lelaki brengs*k sepertinya bagaimana mungkin bisa mendapat kekuasaan yang begitu luas?
"Kumohon, pergilah dari sini" Aku benar-benar di landa ketakutan saat ini. Dia terus mendekatiku, hingga aku menabrak salah satu lemari di ruangan ini dan bersama dengan itu, ia menarik lolos handuk penutup tubuhku satu-satunya.
Lelaki itu, menunjukkan seringaian jahatnya, menatapku seolah ingin menerkamku hidup-hidup. Aku takut, aku memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi selanjutnya, atau hal buruk apa yang akan menimpaku?
...***...
"Aaaaa, hentikan" Gadis mungil itu terus menangis di bawah kungkunganku. Aku sudah terbakar gairah, sama sekali tidak mengindahkan perkataannya. Aku terus melanjutkan aksiku, hingga aku mencapai puncak di dalamnya.
Aku terbaring di sampingnya, melihat ia meringkuk dengan tubuh terbalut selimut membelakangiku. Aku mengerti, hidupnya telah kuhancurkan, aku tau bahwa aku telah merenggut hak berharga dalam hidupnya.
Tapi, melihat seorang gadis menangis karena diriku, baru pertama kali kutemukan. Aku terbiasa dengan gadis-gadis yang menyerahkan diri dengan mudah padaku, dan itu semua karena uang. Cih, menjijikkan sekali.
"Diam" Ucapku dingin, menatap langit-langit kamar ini.
"Kau jahat, kejam. Beginilah caramu memperlakukan seorang wanita? Kau bahkan tidak menghargai seorang wanita. Apa menurutmu gadis seperti apa aku ha?"
Aku menarik rambutnya dari belakang, mendekatkan wajahku padanya. Bibirnya terlihat bergetar, ciri khas seseorang yang tengah dilanda ketakutan.
"Kau benar sekali. Untukku, wanita adalah sampah. Untukku, semua wanita adalah jal*ng, dan untuk menghargaimu? Kau butuh kuhargai berapa gadis manis? Bukankah tidak sia-sia aku membawamu kemari? Katakan, berapa yang kau mau!" Jawabku menyeringai.
"Lelaki bajing*an, kenapa tidak kau bunuh saja aku?"
Berani sekali dia melontarkan perkataan seperti itu padaku?
"Kau mau kubunuh? Baiklah, akan aku kabulkan permintaanmu, sayang. Kemari!" Aku kembali menarik rambutnya, menyeret gadis ini ke dalam kamar mandi, menenggelamkan kepala gadis manis ini ke dalam bath up yang sudah terisi air.
Gerakan tubuhnya memberontak, lalu aku menariknya dari bath up. Dengan sisa kekuatannya, gadis ini terus memberontak, mencoba lepas dariku? Cih, sia-sia saja. Tenaganya hanya akan habis dan tidak dapat membuahkan hasil apapun.
Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar menggigil, seperti terhuyung, pusing? Namun, ia tetap ingin tetap lepas dariku. Aku mendorongnya hingga dia tersungkur dibawah guyuran shower. Isak tangisnya semakin jelas terdengar. Aku mendekatinya lagi, mencengkram lengannya dengan tatapan dingin khas diriku.
"Kau pikir aku akan bermain-main dengan ucapanku? Bukankah kau sendiri yang meminta untuk segera di bunuh?" Ucapku sarkatis.
"K-Kau ib-iblis" Jawabnya terbata. Aku mengangkat alisku sebelah. Aku iblis?
"Aku dewa kematian" Ucapku meralat ucapannya.
"K-Kau jahat, keluarkan aku dari neraka ini"
Cih, masih sanggup saja gadis ini bertahan. Dia pikir, siapa yang sedang dihadapi?
Musisi ternama dunia?
atau Bos pemilik club malam?
"Neraka? Ini adalah tempatmu, bahkan jika kau harus mati maka, hanya di tempat ini kau mati" Jawabku dingin, lengannya mulai memerah karena cengkraman tanganku.
"Bunuh saja aku sekarang, aku tidak akan sanggup disini. Aku nenyumpahimu, kau tidak akan mendapatkan seorang gadis dari kalangan manapun itu, sekalipun itu adalah seorang jal*ng"
PLAK
Aku menamparnya, tidak keras. Hanya sebatas peringatan untuknya.
"Kematianmu pasti akan datang namun, secara perlahan" Dia hanya diam, tak berkata apapun. Aku merasakan tubuhnya melemas, semakin lama semakin tak berdaya, secara perlahan, dia memejamkan matanya. Dia pingsan.
Aku menyeringai, berakhir menggendongnya, membawa gadis itu ke kamar tidurku dan mengganti bajunya di sana. Aku memerintahkan pelayan memanggil dokter, untuk memeriksa keadaannya.
"Tuan, ini adalah informasi tentang gadis itu" Itu sekreatis pribadiku, Cheston namanya. Satu-satunya orang yang mengatahui sisi gelap seorang Greg Alexander. Lelaki itu memberikan sebuah berkas dalam amplop berwarna biru padaku.
"Hm" Ucapku lalu langsung diikuti anggukan dari Cheston sebelum akhirnya lelaki itu pergi dari ruang kerja milikku.
"Aleycia Delwyn, Belanda 20 Juni 1995. Anak angkat dari pasangan Dejuan Delwyn dan Martha Delwyn. Seperti nama yang tidak asing"
Tok
Tok
Tok
Belum selesai aku mengingat pasangan Delwyn itu, suara ketukan pintu mengalihkan atensiku
"Masuk" Teriakku.
Cklek
Suara pintu terbuka, menampilkan sosok dokter keluarga Alexander.
"Dia hanya kelelahan tuan, ada baiknya jika gadis itu istirahat dulu untuk beberapa waktu, jangan lupakan pola makannya. Mungkin besok keadaannya sudah membaik" Ucap dokter itu, aku hanya mengangguk mengerti lalu mengibaskan tanganku di samping kepala. Menandakan bahwa dia harus pergi.
"Permisi tuan" Ucapnya, aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Setelah itu, aku berjalan menuju kamarku, menatap gadis yang baru saja aku ketahui bernama Aleycia Delwyn itu. Dia terlihat sangat kelelahan, wajah polosnya mengingatkanku akan pertemuan pertama kali di club malam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments