Bab 5

Wajah Christopher menggelap. Nafasnya memburu dan penuh dengan amarah yang sudah tidak terbendung lagi. Dan dalam satu gerakan kasar, tangannya mencengkeram rambut Mia dan memaksakan wajah perempuan itu menengadah agar menatapnya.

"Alasan aku ingin bercerai denganmu..." ucapnya dengan suara dingin dengan penuh tekanan. "Karena aku sudah melihat semua kebenarannya."

Tatapan Christopher menajam.

"Ini tidak ada hubungannya dengan Lusy. Dan aku... sama sekali tidak pernah mencintaimu."

Mia tertegun. Matanya membulat lalu bibirnya bergetar pelan. "K-Kamu... berbohong."

Christopher mendesis rendah. "Lee Mia, kau pikir aku tidak tahu bahwa kau hanya berpura-pura menjadi korban disini? Bagiku, kau itu hanyalah beban."

Suaranya meninggi. "Kalau aku kembali bersama Lusy, itu bukan urusanmu!"

Ia mendekat, wajahnya tepat di depan Mia. Tatapannya mengandung ancaman yang nyata. "Dan dengarkan ini baik-baik. Jika kau berani membuka mulutmu kepada ibuku tentang hubungan kami... Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup."

Setelah itu, ia melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Mia hingga terhempas ke lantai.

Tanpa sepatah kata lagi, Christopher membuka pintu dan melangkah keluar.

Mia tergeletak di lantai dan tubuhnya bergetar hebat. Matanya memerah, kemudian tangisnya pecah disela-sela jeritan putus asa.

"Kalau kalian memang ingin kembali bersama... LALU KENAPA?!"

Isak tangisnya berubah menjadi amarah yang membara. "Selama aku belum menandatangani surat cerai itu... hubungan kalian tetaplah perselingkuhan!"

Ia menatap pintu yang terbuka, ucapan berikutnya suaranya berubah menjadi lolongan marah dan perih. "Ahn Lusy... pelacur sialan itu tetaplah perusak rumah tangga orang!"

Langkah Christopher terhenti di ambang pintu. Ia berbalik dengan perlahan. Mimik wajahnya kini diliputi amarah yang jauh lebih gelap. Tanpa bicara lagi, ia menghampiri Mia dalam beberapa langkah panjang.

BRAKK!!

Tendangannya menghantam perut Mia tanpa ampun. Tubuh Mia meringkuk seketika, namun belum sempat ia menarik nafas, satu tendangan lain menghantam dadanya.

Mia mengerang, tubuhnya menggeliat di lantai. "A-Aarrggh...!"

Christopher mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya. Dengan gerakan tenang, ia menyalakannya, lalu berlutut di hadapan Mia. Ia menghisap rokok dalam-dalam sebelum kembali menjambak rambut Mia dan memaksanya menatap ke atas.

"Kau sendiri yang cari mati, Mia," ucapnya dingin.

"Jangan salahkan aku jika aku akan mengabulkannya. Kau sudah melewati batas kesabaranku."

Mia terengah dan perutnya terasa sakit yang luar biasa, namun matanya tetap menatap pria di depannya.

"Apa... kau pikir ibumu akan setuju dengan perceraian ini?" desisnya lemah.

Ia terbatuk menahan rasa sakit, namun ia tetap melanjutkan, "Kau pikir dia akan menyambut pelacur seperti Lusy ke dalam rumahnya?"

"Jangan lupa... aku masih pemilik saham Lee Crop Company. Dan aku masih istri sahmu... sampai surat itu disahkan."

Tatapan Christopher berubah liar. Dalam ledakan kemarahan yang membabi buta, tangannya kembali mencengkeram kepala Mia dan dengan kasar menghantamkannya ke lantai.

DUKK!!

Darah mengalir dari pelipis Mia. Tubuhnya seketika lunglai dan beberapa detik kemudian matanya perlahan terpejam. Kesadarannya mulai memudar.

Christopher berdiri dengan tenang, menatap tubuh tak berdaya itu tanpa ekspresi. Ia menghembuskan asap rokok ke udara dengan rasa tidak bersalah.

Lalu ia meninggalkannya dalam kegelapan dan sunyi.

-⬤-

Cahaya putih yang sedikit menyilaukan, menyambut kamar rawat inap saat Mia perlahan membuka matanya. Aroma antiseptik rumah sakit langsung menusuk di indra penciumannya. Pandangannya kabur, tapi ia bisa merasakan kelembutan bantal di bawah kepalanya dan denyut sakit yang masih terasa di pelipisnya.

"Ugh... di mana aku?" gumamnya lemah.

Sosok pria paruh baya yang duduk di samping ranjang langsung bangkit dari duduknya dan segera mendekati Mia.

"Syukurlah Anda sudah sadar, Nona," ucapnya dengan wajah lega. "Anda sudah koma selama dua hari."

"Dua... hari?" Mia mengulang sambil matanya melebar.

"Dokter bilang Anda mengalami gegar otak ringan. Tapi kini Anda sudah melewati masa kritisnya," jelas pria itu, Paman Jack, orang kepercayaan keluarga Lee sejak lama.

Sebelum Mia sempat bertanya lebih lanjut, pintu kamar rawat terbuka. Sosok Christopher masuk dengan langkah tenang dan wajah tanpa ekspresi, dan pandangannya langsung tertuju pada tubuh Mia yang terbaring pucat, lengkap dengan perban di pelipisnya.

"Ibuku ada di sini," katanya datar. "Tutup mulut sialanmu itu."

Kata-katanya bagai cambuk bagi Mia. Belum sempat ia membalas ucapannya, pintu kembali terbuka. Seorang wanita elegan masuk dengan langkah cepat, wajah cantiknya dipenuhi dengan rasa kekhawatiran. Tanpa ragu, ia langsung menghampiri Mia dan menggenggam tangan pucat gadis itu.

"Mia... Apakah kamu masih terasa sakit?" tanyanya cemas.

"Kalau iya, katakan saja," lanjutnya, lalu menoleh sekilas ke arah anaknya. "Aku akan memukulnya kembali untukmu!"

Mia langsung menarik tangan Irene dan menggeleng pelan kemudian tersenyum lemah.

"Tidak apa-apa, Ibu. Kelihatannya memang mengerikan, tapi aku tidak merasa sakit, kok."

Irene mengerjapkan mata, lalu menatap tajam ke arah putranya.

"Christopher! Ke sini sekarang!"

Pria itu mendekat, meski jelas terlihat tidak nyaman. Belum sempat ia membuka mulut, tiba-tiba satu tamparan keras mendarat di pipinya.

PLAKK!!

"I-Ibu...?" Christopher menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.

"Berani-beraninya kau bicara soal perceraian?!" Irene membentak dengan mata yang membara. "Aku hanya pergi sebentar untuk urusan bisnis, dan kau memperlakukan Mia seperti ini?!"

Napasnya memburu, suaranya gemetar karena amarah. "Apa aku mengajarkanmu menjadi pria seperti ini? Sekarang kau bahkan tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan!"

Mia menatap ibu mertuanya tidak percaya. Tak pernah ia bayangkan bahwa Irene, ibu mertua yang selama ini tampak terlihat lembut dan tenang saat bersamanya, akan menampar anak kandungnya sendiri hanya demi membelanya.

Irene menatap putranya dengan sorot mata yang tajam. Suaranya meninggi, menusuk udara seperti petir yang menggelegar.

"Aku peringatkan, Christopher. Jangan pernah lagi mencoba menjalankan ide-ide gilamu itu. Kau pikir bisa membodohiku dengan cara seperti ini?"

Christopher terdiam, tetapi sorot matanya menggelap.

Irene melangkah lebih dekat dan nada suaranya semakin tajam.

"Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau telah membawa kembali perempuan itu? Lusy?" Suaranya menggema tegas di ruangan putih rumah sakit. "Segera akhiri hubungan kalian. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghancurkan hidupnya!"

Christopher mengepalkan tangannya dengan kuat. Pandangannya melirik tajam ke arah ranjang, lebih tepatnya ke arah Mia. Namun bibirnya tetap terkatup rapat dan memilih untuk bungkam.

Irene belum selesai, ia melanjutkan, "Apa kau tahu perempuan macam apa Lusy itu? Dulu dia—"

"Ibu!" seru Mia dengan cepat, suaranya lembut namun dengan sorot wajah memohon. "Ibu pasti sangat lelah setelah penerbangan panjang dari Australia. Lebih baik ibu beristirahat dulu, ya…"

Ia memaksakan senyumnya guna mencoba mengalihkan suasana. "Paman Jack akan menjagaku dengan baik disini. Ibu tidak perlu khawatir."

Irene menoleh pada Mia, ia tampak masih ragu. Tapi sebelum ia bisa menjawab, asistennya masuk dan berbisik pelan di telinganya.

"Nyonya, proyek dari Singapura sudah dinegosiasikan. Kita harus kembali untuk penandatanganan segera."

Irene menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Baik. Tapi sebelum itu..." Ia menatap semua orang yang ada di dalam ruangan. "Aku ingin berbicara sebentar dengan menantuku. Keluar dulu, semuanya."

Jack dan semua yang ada disana, kecuali Mia, memberi hormat singkat dan keluar. Pintu ditutup dengan rapat. Irene duduk di samping ranjang lalu menggenggam tangan Mia dengan hangat dan tulus.

"Mia…" ucapnya pelan, suaranya melunak drastis. "Tentang Christopher… keluarga kami sungguh minta maaf padamu. Semua ini terjadi karena kesalahan kami. Khususnya aku."

Mia menatap wanita paruh baya itu dengan mata membelalak. Irene tampak menyesal. Sangat menyesal.

"Aku yang menyuruh Lusy pergi," lanjut Irene. "Aku memberinya uang dalam jumlah yang besar agar dia menjauh dari kehidupan Christopher. Tapi yang dia minta bukanlah uang, melainkan izin belajar musik di luar negeri. Aku pikir masalahnya sudah selesai. Tapi ternyata, dia kembali lagi… dan menjebakmu. Semua ini adalah salahku."

Mia menunduk. Hatinya terasa sesak. "Ibu, aku tidak apa-apa…"

Irene meremas tangan Mia lebih erat.

"Kau adalah menantuku yang paling pantas. Kau adalah orang yang tulus, lembut, dan penuh dengan kesabaran. Sayangnya, putraku belum cukup dewasa untuk menyadari itu semua… Tapi aku berharap suatu hari nanti dia bisa melihatmu dengan hati yang benar."

Mia tak mampu berkata apapun. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya agar tak jatuh.

Beberapa menit kemudian, Irene berdiri dan melangkah keluar. Di luar kamar, Christopher berdiri bersandar di dinding. Dan saat melihat ibunya keluar, ia langsung menegakkan tubuhnya.

"Ibu, lebih baik beristirahat dulu sebelum ke Singapura," ucapnya kaku.

Irene menatap putranya dengan dingin. "Tidak perlu."

Ia mendekat dan menatap langsung ke mata Christopher. "Jaga Mia baik-baik. Dia adalah satu-satunya hal yang masih membuatku bangga padamu."

Tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, Irene berbalik dan melangkah pergi dengan anggun. Christopher tetap berdiri di sana. Kemudian menoleh sebentar ke arah pintu kamar Mia, tetapi ia tidak ada niatan untuk masuk ke dalam sana. Sebaliknya, ia melangkah menjauh, keluar dari rumah sakit dan kembali ke dunianya yang penuh ego dan bayang-bayang Lusy.

***

Suasana ruang kerja Christopher dipenuhi oleh keheningan, yang hanya dipecah oleh suara halaman majalah yang dibalik dengan perlahan. Di atas sofa berkulit mewah, Lusy duduk dengan santai sambil mengunyah camilan dan membaca majalah musik.

“Aku sungguh merasa sangat bosan…” gumamnya lalu menghela napas panjang.

Lusy menutup majalah itu, kemudian meletakkannya di meja kecil di samping sofa, lalu ia bangkit berjalan menuju meja kerja Christopher.

Christopher baru saja selesai membaca sebuah dokumen penting. Ia meletakkannya perlahan, lalu mengangkat wajahnya. Tatapan tenangnya langsung mengarah pada perempuan yang baru saja mendekat.

“Ada apa?” tanyanya, bibirnya menyungging senyum tipis penuh dengan sindiran. “Seorang pemalas seperti dirimu turun dari sofa? Apakah dunia akan kiamat?”

Lusy tersenyum kecil, ia tidak tersinggung sedikit pun. Ia bersandar lembut di sisi meja, rambut panjangnya tergerai rapi, dan matanya menatap Christopher dengan penuh ketenangan.

“Aku hanya ingin melihatmu, kau sepertinya sangat kelelahan,” katanya dengan manja, “jadi kupikir… kenapa tidak sedikit membantumu, Direktur?”

Christopher menatap perempuan itu lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit diartikan, bukan sekadar nostalgia, tetapi juga penyesalan yang mendalam. Ia mengangkat tangan, lalu dengan lembut mengusap rambut Lusy.

“Bisa bersamamu lagi seperti ini…” ucapnya pelan, “…rasanya seperti aku kembali hidup.”

Lusy diam sejenak. Ia tak menjawab, hanya menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang tidak biasa.

“Kau terlalu memikirkan hal-hal yang sudah terjadi, Chris,” katanya.

Christopher menunduk sejenak, lalu menarik napas panjang.

“Lusy… maafkan aku.” Suaranya terdengar berat. “Empat tahun terakhir pasti sangat berat untukmu. Semua ini karena kesalahanku. Aku terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu.”

Ia menatap Lusy dengan mata yang kini terlihat lebih jujur. “Seandainya waktu itu aku langsung meminta Ibu agar mengizinkanku menikah denganmu… kau tidak akan harus berjuang sendirian di luar negeri.”

Lusy menunduk, lalu perlahan tersenyum. Senyumnya begitu tipis.

“Aku tidak pernah menyalahkanmu, Chris,” ucapnya dengan lembut. “Karena bagiku… yang terpenting adalah kenyataan bahwa kau masih berada di sisiku sekarang.”

.

.

.

.

.

.

.

- TBC -

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!