(Bukan) Pengantin Idaman

(Bukan) Pengantin Idaman

BAGIAN 1

"SAH!"

"SAH!"

Seruan lantang dua saksi tersebut membuat gadis cantik berkerudung putih bersih tersebut tersentak. Satu kalimat itu jatuh seperti palu vonis di dadanya. Saat itulah ia tersadar bahwa sekarang statusnya sudah berubah. Ia resmi menjadi seorang istri.

Segera ia mengangkat tangannya untuk mengaminkan setiap doa yang dibacakan oleh penghulu. Tak urung air mata ikut turun dari sudut matanya. Lantas setelah itu, suara MC dengan begitu riang memintanya untuk menuju tempat akad berlangsung.

"Kamu sudah diminta ke sana, Jas."

"Ayo, biar kami bantu untuk berdiri."

Pengantin cantik itu mengangguk. Senyum tulus nan anggun tidak lepas dari wajah cantiknya. Namanya Shaffiya Jasmine, orang-orang lebih akrab memanggilnya dengan nama Jasmine. Ia pun segera berdiri dibantu dua sahabat baiknya, menggenggam buket bunga putih yang sedikit bergetar di tangan.

"Udah jangan nangis. Nanti make-up nya luntur." Naina-sahabatnya yang memakai kaca mata berbisik mengingatkan.

"Pas di depan Kak Adimas, kamu harus tersenyum. Jangan nangis begini." Fita-sahabatnya yang berada di sisi kanannya ikut menimpali.

Jasmine menatap mereka berdua bergantian. Hatinya begitu bahagia karena kehadiran dua perempuan baik ini. "Jazakunnallahu khoyr, ya. Kalian berdua sudah mau hadir dan bersedia mengiringiku ke pelaminan."

Dua perempuan itu mengangguk cepat. Lalu tanpa bicara lagi, mereka mulai melangkah perlahan. Saat pintu ruangan khusus untuknya terbuka dan kakinya mulai melangkah menuju lokasi akad yang memang diadakan secara outdoor tersebut, degup jantung Jasmine semakin tidak beraturan.

Matanya menatap takjub dengan dekorasi cantik yang minimalis tersebut. Di bantu oleh Naina dan Fita, Jasmine pun mulai melangkah menuju lokasi. Detik itu, lokasi tersebut terasa lebih sunyi namun menenangkan. Beberapa tamu masih berbisik pelan, musik sakral masih mengalun lembut, dan fotografer tak berhenti mengabadikan momen.

Senyumnya tidak lepas dari wajah cantiknya. Matanya menyapu para tamu yang juga tersenyum padanya. Senyumnya berubah menjadi tatapan haru saat ia melihat sosok perempuan yang sangat ia hormati. Neneknya yang duduk di samping Eyang Ningsih. Lalu di sisi sebelahnya, ia juga tersenyum pada sepasang suami istri yang baru ia kenal satu bulan yang lalu, merekalah Pak Khalid Ibrahim dan istrinya Ibu Raya, mertuanya.

Lalu saat semakin dekat dengan tempat akad, matanya bertemu dengan tatapan tajam milik seorang lelaki. Tatapan tajam nan dingin itu adalah milik Adimas Muhammad Ibrahim, suaminya.

Adimas berdiri tegak di ujung pelaminan. Tatapannya tajam, tanpa senyum. Wajah itu memang rupawan, gagah dan tenang seperti biasa. Tapi Jasmine tahu, ada banyak kebencian dari lelaki itu untuknya.

Langkah demi langkah terasa berat. Jasmine bahkan lupa rasanya bernapas. Sekuat apapun Jasmine menyangkal, namun tetap saja, cara lelaki itu menatapnya seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.

Jasmine pun tiba. Fita dan Naina pun langsung menuju kursi tamu sesaat setelah memastikan Jasmine duduk dengan nyaman. Begitu ia duduk, si penghulu lalu mempersilahkan Adimas memasangkan cincin ke jari Jasmine. Begitu pula sebaliknya.

Setelah itu, Jasmine pun dipersilahkan mencium tangan Adimas. Walaupun ragu, namun Jasmine melakukannya dengan perlahan. Tangan mungilnya lalu menyentuh jemari Adimas untuk dicium. Kulit tangan pria itu terlihat putih bersih dan hangat, tapi detiknya dingin membekukan hati. Jasmine menunduk, lalu dengan begitu khidmat ia mencium punggung tangan tersebut.

Saat Jasmine hendak bangun, detik itulah ia merasakan Adimas mencium keningnya dengan begitu lembut.

Jasmine sempat menutup mata. Menikmati sedetik hangatnya kehangatan yang ia tahu palsu. Tapi begitu ia membuka mata, yang menantinya adalah pandangan tajam, menusuk dan penuh kebencian. Bahkan saat Adimas akan menjauhkan wajah darinya, sesaat lelaki itu berbisik dengan begitu dingin.

"Jangan terlalu serius. Pernikahan ink tidak berarti apa-apa untuk saya. Semuanya palsu."

Senyuman Jasmine menghilang perlahan. Matanya menatap Adimas yang kini sudah menatap ke depan dengan senyum ramah. Detik kemudian, ia pun ikut menatap ke depan. Saat itulah ia bisa melihat orang-orang yang ia sayangi tampak memandang mereka dengan haru kebahagiaan.

Sayangnya, senyumannya itu terutama Adimas adalah palsu. Kenyataannya pernikahan ini seperti awal dari penderitaan untuk mereka berdua. Lelaki yang berdiri di sampingnya, yang fotonya ada di buku nikahnya dan yang tadi melakukan ucapan janji atas dirinya bukanlah lelaki yang siap menawarkan kebahagiaan untuknya.

Sementara itu, Adimas menatap orang-orang di depannya dengan muak. Masih terekam jelas dalam ingatannya saat ia selesai melakukan ijab kabul tadi, senyum lega dari wajah-wajah keluarga yang selama ini tak benar-benar pernah memihaknya.

Adimas mengeraskan rahangnya. Ia menarik napas panjang, menatap ke samping dengan Jasmine yang masih tersenyum ramah pada semua yang hadir.

Wajah yang dulu pernah ia ingat sebagai gadis keras kepala, usil, pembuat onar. Kini tampil dengan anggun dalam balutan gaun putih yang menjuntai sempurna. Jilbab syar’i membingkai wajah ovalnya, membuatnya terlihat...cantik. Bahkan matanya yang dulu selalu menantang, kini begitu lembut.

Sebentar. Hanya sebentar.

Adimas terpaku. Ada sepersekian detik di mana ia nyaris... kagum.

Namun rasa itu segera terganti dengan amarah yang telah lama tertanam dalam. Jasmine tetap Jasmine. Di balik penampilan santunnya, ia tetap gadis yang dulu telah menghancurkan mimpi seseorang yang ia cintai.

Dan kini, gadis itu pembuat masalah itu berdiri di sampingnya sebagai istrinya.

Takdir memang sedang mempermainkannya. Bahkan untuk pernikahan ini pun, ia hanyalah cadangan. Iya, pengantin pengganti karena pengantin yang asli menolak perjodohan dengan alasan harus segera menyelesaikan disertasinya.

Namanya Adrian Mumtaz Ibrahim. Nama itu membuat detak jantung Adimas melonjak. Adiknya yang sempurna. Pewaris sah Ibrahim Grup. Anak kesayangan keluarga Ibrahim. Berbeda dengannya yang selalu dipandang sebelah mata.

Dirinya memang hanyalah cadangan. Tatapan semua orang seperti menertawakannya dalam diam.

Senyum perempuan yang ia panggil ibu begitu bahagia. Tatapan lelaki yang begitu ia benci terlihat begitu haru namun Adimas tahu itu hanyalah kepalsuan. Bahkan Eyangnya ikut terharu.

Matanya masih menatap Jasmine dengan begitu tajam. "Kau milikku sekarang, Jasmine. Dan aku akan membuatmu menyesal karena pernah masuk dalam hidupku."

...****************...

Waktu berlalu, resepsi digelar dengan megah. Musik, lampu, tawa—semua tampak sempurna. Tapi bagi Adimas, semuanya palsu.

Dan di antara keramaian, matanya menangkap satu wajah yang membuat jantungnya berdebar kencang. Perasaannya mendadak dipenuhi kerinduan yang menbuncah. Di sanalah, tepatnya di ujung panggung pelaminan perempuan berambut panjang dengan tampilan anggun meneduhkan itu berada.

Namanya Rindu Ayuningtyas. Perempuan yang menempati posisi kedua hatinya setelah mamanya. Hanya dia yang bisa melihat Adimas tidak sebagai bayangan apalagi cadangan dari Adrian.

Ia datang bersama dua sahabatnya, Willi dan Rama. Rindu kini tampil lebih dewasa, cantik dalam kebaya pastel, anggun tanpa perlu banyak aksesori. Pandangannya tenang, damai, seperti yang selalu ia kenal.

Begitu tatapan mereka bertemu, Rindu tersenyum lembut. “Selamat, ya, Kak.” ucapnya, lalu memeluknya pelan namun terasa begitu hangat. "Aku turut bahagia dengan kebahagiaanmu." Suara itu berbisik indah.

Seketika rasa bersalah menghantam dadanya. Perasaan menyesal karena ia tidak bisa menjaga Rindu beberapa tahun silam.

"Terima kasih," Hanya itu yang bisa Adimas katakan begitu pelukan hangat itu terlepas.

Rindu mengangguk. Lalu Rindu bergeser ke samping. Dua sahabat Adimas yang lain juga mengucapkan selamat. Namun tetap saja, mata Adimas terus fokus pada Rindu.

Gadis itu masih selalu tersenyum. Saat Rindu menghampiri Jasmine pun, senyumnya masih sama, begitu tulus. Adimas lalu menoleh pada Jasmine. Namun Jasmine, yang tadinya begitu lihai tersenyum pada para tamu, tiba-tiba terlihat kaku. Senyum di wajahnya terkesan dipaksakan. Matanya tak berani menatap Rindu.

"Selamat ya, Jas. Setelah lama tidak bertemu, ternyata sekalinya bertemu malah di sini. Titip abangku yang ganteng ini," gurau Rindu menatap Adimas sekilas.

"Terima kasih." Berbeda dengan Adimas yang mengucapkan itu dengan sepenuh hati, Jasmine justru membalasnya dengan begitu datar.

Mata Adimas melihat itu semua. Tentang bagaimana Jasmine memperlakukan Rindu tanpa bersalah. Sementara Rindu memperlakukannya dengan begitu baik. Kemarahan dalam dada Adimas membuncah lagi. Ia menatap Jasmine lama, begitu lama... hingga gadis itu menyadarinya, namun dengan cepat Jasmine memalingkan wajahnya, lalu tersenyum pada Willi dan Rama.

Tepat saat tidak ada lagi tamu yang ke pelaminan dan memberikan waktu sebentar untuk Adimas dan Jasmine duduk melegakan kaki dan wajah, Adimas berbisik dengan begitu menusuk.

“Seharusnya kamu malu bertemu Rindu. Bukan justru menatap Rindu dengan perasaan tanpa rasa bersalah seperti tadi. Ingat, aku akan membuatmu menderita sama seperti yang kamu lakukan pada Rindu dulu."

Jasmine menoleh perlahan. Namun alih-alih khawatir, ia justru tersenyum memperlihatkan lesung pipi di sebelah kanan wajahnya. "Terkadang kebenaran itu butuh waktu. Kalau nanti sudah waktunya terjadi, jangan sampai kebencianmu itu berubah menjadi penyesalan," balasnya dengan pelan.

Adimas tersenyum, namun sorot matanya seolah ingin membunuh Jasmine saat itu juga. "Pernikahan ini, aku berjanji, aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan pernikahan ini."

Terpopuler

Comments

Titik Sofiah

Titik Sofiah

Awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trlalu berat

2025-06-10

0

lihat semua
Episodes
1 BAGIAN 1
2 BAGIAN 2
3 BAGIAN 3
4 BAGIAN 4
5 BAGIAN 5
6 BAGIAN 6
7 BAGIAN 7
8 BAGIAN 8
9 BAGIAN 9
10 BAGIAN 10
11 BAGIAN 11
12 BAGIAN 12
13 BAGIAN 13
14 BAGIAN 14
15 BAGIAN 15
16 BAGIAN 16
17 BAGIAN 17
18 BAGIAN 18
19 BAGIAN 19
20 BAGIAN 20
21 BAGIAN 21
22 BAGIAN 22
23 BAGIAN 23
24 BAGIAN 24
25 BAGIAN 25
26 BAGIAN 26
27 BAGIAN 27
28 BAGIAN 28
29 BAGIAN 29
30 BAGIAN 30
31 BAGIAN 31
32 BAGIAN 32
33 BAGIAN 33
34 BAGIAN 34
35 BAGIAN 35
36 BAGIAN 36
37 BAGIAN 37
38 BAGIAN 38
39 BAGIAN 39
40 BAGIAN 40
41 BAGIAN 41
42 BAGIAN 42
43 BAGIAN 43
44 BAGIAN 44
45 BAGIAN 45
46 BAGIAN 46
47 BAGIAN 47
48 BAGIAN 48
49 BAGIAN 49
50 BAGIAN 50
51 BAGIAN 51
52 BAGIAN 52
53 BAGIAN 53
54 BAGIAN 54
55 BAGIAN 55
56 BAGIAN 56
57 BAGIAN 57
58 BAGIAN 58
59 BAGIAN 59
60 BAGIAN 60
61 BAGIAN 61
62 BAGIAN 62
63 BAGIAN 63
64 BAGIAN 64
65 BAGIAN 65
66 BAGIAN 66
67 BAGIAN 67
68 BAGIAN 68
69 BAGIAN 69
70 BAGIAN 70
71 BAGIAN 71
72 BAGIAN 72
73 BAGIAN 73
74 BAGIAN 74
75 BAGIAN 75
76 BAGIAN 76
77 BAGIAN 77
78 BAGIAN 78
79 BAGIAN 79
80 BAGIAN 80
81 BAGIAN 81
82 BAGIAN 82
83 BAGIAN 83
84 BAGIAN 84
85 BAGIAN 85
86 BAGIAN 86
87 BAGIAN 87
88 BAGIAN 88
89 BAGIAN 89
90 BAGIAN 90
91 BAGIAN 91
92 BAGIAN 92
93 BAGIAN 93
94 BAGIAN 94
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAGIAN 1
2
BAGIAN 2
3
BAGIAN 3
4
BAGIAN 4
5
BAGIAN 5
6
BAGIAN 6
7
BAGIAN 7
8
BAGIAN 8
9
BAGIAN 9
10
BAGIAN 10
11
BAGIAN 11
12
BAGIAN 12
13
BAGIAN 13
14
BAGIAN 14
15
BAGIAN 15
16
BAGIAN 16
17
BAGIAN 17
18
BAGIAN 18
19
BAGIAN 19
20
BAGIAN 20
21
BAGIAN 21
22
BAGIAN 22
23
BAGIAN 23
24
BAGIAN 24
25
BAGIAN 25
26
BAGIAN 26
27
BAGIAN 27
28
BAGIAN 28
29
BAGIAN 29
30
BAGIAN 30
31
BAGIAN 31
32
BAGIAN 32
33
BAGIAN 33
34
BAGIAN 34
35
BAGIAN 35
36
BAGIAN 36
37
BAGIAN 37
38
BAGIAN 38
39
BAGIAN 39
40
BAGIAN 40
41
BAGIAN 41
42
BAGIAN 42
43
BAGIAN 43
44
BAGIAN 44
45
BAGIAN 45
46
BAGIAN 46
47
BAGIAN 47
48
BAGIAN 48
49
BAGIAN 49
50
BAGIAN 50
51
BAGIAN 51
52
BAGIAN 52
53
BAGIAN 53
54
BAGIAN 54
55
BAGIAN 55
56
BAGIAN 56
57
BAGIAN 57
58
BAGIAN 58
59
BAGIAN 59
60
BAGIAN 60
61
BAGIAN 61
62
BAGIAN 62
63
BAGIAN 63
64
BAGIAN 64
65
BAGIAN 65
66
BAGIAN 66
67
BAGIAN 67
68
BAGIAN 68
69
BAGIAN 69
70
BAGIAN 70
71
BAGIAN 71
72
BAGIAN 72
73
BAGIAN 73
74
BAGIAN 74
75
BAGIAN 75
76
BAGIAN 76
77
BAGIAN 77
78
BAGIAN 78
79
BAGIAN 79
80
BAGIAN 80
81
BAGIAN 81
82
BAGIAN 82
83
BAGIAN 83
84
BAGIAN 84
85
BAGIAN 85
86
BAGIAN 86
87
BAGIAN 87
88
BAGIAN 88
89
BAGIAN 89
90
BAGIAN 90
91
BAGIAN 91
92
BAGIAN 92
93
BAGIAN 93
94
BAGIAN 94

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!