"Aku menang lotere, Ma," jawab Samuel.
"Wah, bagus juga peruntunganmu sampai bisa menang sebanyak ini." Bu Rosi tidak jadi marah pasal uang yang diberikan Samuel.
"Oh ya, Yuna juga ingin mengajak kalian makan di luar malam ini, Yuna yang traktir. Mama tahu, berkat Samuel akhirnya Yuna bisa diberikan cuti hamil selama satu tahun bahkan lebih, dan bukan itu saja, kehamilan Yuna juga ditanggung oleh perusahaan berupa uang 20 Juta perbulan," timpal Yuna.
"Benarkah? Kenapa tidak bilang dari tadi sih? Mama kan tidak perlu harus marah-marah sampai uratan begini."
"Ya mau gimana bilangnya, orang tadi Mama tidak mau berhenti mengoceh, Yuna kan juga bingung mau kasih tahunya kapan."
"Oke-oke, sekarang kamu dan Samuel pergi istirahat, kalian mengobrollah berdua, kita bertemu lagi malam nanti, Mama mau cari baju yang paling bagus untuk makan malam kita kali ini." Bu Rosi tertawa bahagia sambil mengelus bahu Yuna dengan lembut. Mereka bertiga hanya bisa saling tatap merasa heran dengan perubahan sikap Bu Rosi yang begitu cepat. Memang benar, hanya ada satu yang mampu melembutkan kekerasan hati Bu Rosi, yaitu dengan uang.
~~
"Yuna, Samuel, ayo. Kalian sudah siap belum?" teriak Bu Rosi memanggil anak dan menantunya, tak sabar ingin makan di luar.
"Iya, Ma. Jangan teriak-teriak, kita sudah siap." Yuna dan Samuel keluar dari kamar.
"Kalian berdua kok pakai baju sederhana begitu? Seharusnya pakai yang wah sedikit dong, biar orang-orang yang lihat, nganggap kita itu keluarga kaya yang terpandang," protes Bu Rosi.
"Sudahlah, Ma. Persoalan baju tidak usah diperbesar, kita cuma mau pergi makan malam saja, bukan untuk pamer harta yang tidak kita miliki," tegur suami Bu Rosi.
"Terserahlah. Yuni, kamu sudah siap, Sayang? Apa Rendra datang menjemputmu? tanya Bu Rosi sambil tersenyum cerah pada anak bungsunya.
"Oh, Yuni suruh dia nunggu di restoran saja, Ma. Kasihan jika harus bolak balik cuma mau jemput Yuni."
"Baguslah, anak Mama memang baik hati dan tidak sombong. Ayo, kita berangkat."
Setibanya di restoran yang dituju, mereka langsung menemukan keberadaan Rendra yang memang sudah memesan meja terlebih dahulu untuk makan malam keluarga, tapi Rendra tidak sendiri, ia datang bersama ayahnya.
"Emm ... Om, ternyata Anda datang ke sini juga? Ah, maafkan Yuni yang tidak tahu kalau Om datang." Yuni menyapa dengan sopan.
"Justru Om yang tidak enak hati, Om datang tanpa diundang, habisnya Rendra ini paksa Om untuk datang ke sini, mau tak mau Om pun hadir di tengah kalian, maaf jika kalian tidak berkenan." Daniel Bastoro pun tersenyum pada Yuni dan keluarga.
"Tuan Daniel, Anda terlalu sungkan, justru kamilah yang merasa begitu bangga karena Anda sudi hadir di acara makan malam keluarga kami yang tak seberapa, kami berterkmakasih atas waktu sibuk yang Anda luangkan untuk keluarga kami, terimakasih, Tuan Daniel," ujar Bu Rosi tersenyum ramah.
"Sudah, walau bagaimana pun kita nanti juga akan jadi satu keluarga, melihat kedekatan Rendra dan Yuni, sepertinya kita juga tidak perlu menunda waktu lama untuk menikahkan mereka, benar begitu, Nyonya?" Daniel pun tak kalah ramah menampilkan senyum sempurnanya.
"Betul, Tuan. Mereka memang sangat serasi jika disandingkan." Tak perlu ditanyakan lagi bagaimana bahagia dan berserinya perasaan Bu Rosi ketika menemukan titik terang untuk anak bungsunya, Yuni. Sebentar lagi dia pasti akan besanan dengan keluarga terpandang kelas 4 di negara ini.
Ya, di negara mereka tinggal saat ini, terdapat begitu banyak orang yang berada di kalangan atas juga kaya raya, untuk menentukan tingkat kekayaan dan terpandangnya mereka, dibagi menjadi lima kelas, kelas 1,2,3,4, dan 5. Keluarga Santoso masih berada di kelas 5, satu tingkat di bawah keluarga Bastoro, sementara keluarga Adiguna sendiri, berada di kelas 1. Kelas ini sama halnya seperti sebuah level, semakin tinggi level suatu keluarga, maka semakin tinggi pula orang lain menghormati keluarga tersebut.
"Apakah ini kakaknya Yuni? Saya dengar dia sudah menikah, di mana suaminya?" tanya Daniel.
"Perkenalkan, Om. Ini Samuel, suami saya." Yuna memperkenalkan.
"Oh, ini suami kamu? Maaf-maaf, Om tidak tahu. Ngomong-ngomong dia kerja apa sekarang?" tanya Daniel berpura-pura tidak tahu.
Yuna dan Bu Rosi saling memandang, merasa sungkan jika mengatakan bahwa Samuel menganggur, apalagi jika Yuna yang mengatakannya, Samuel bisa jadi akan tersinggung.
"Em, Tuan. Sebaiknya kita pesan makanan sekarang saja, kita bahas soal Yuni dan Rendra saja, bagaimana?" Bu Rosi mencoba untuk mengalihkan topik, ia tidak mau sampai ada kecanggungan yang terjadi ketika membahas soal Samuel.
"Oh, oke. No problem."
Satu jam berlalu, mereka menyantap hidangan dengan lahap sambil berbincang ria satu sama lain, tak luput pula dari keterangan-keterangan Daniel yang dari tadi hanya memamerkan harta benda yang ia dan keluarga miliki.
Sam duduk santai sambil meminum jusnya, matanya tidak lepas dari wajah munafik Daniel. "*Cih, Salah satu manusia yang paling bisa membuatku jijik adalah sejenis pria tua ini, besar di mulut, tapi kecil di lambung*," Batin Samuel geli.
Memang benar, Daniel hanya bisa memamerkan hartanya yang hanya duduk di kelas 4, ia lupa bahwa masih ada 3 tingkatan lagi di atasnya, yang seharusnya tidak perlu begitu menyombongkan diri. Dan yang membuatnya semakin menggelikan, Bu Rosi malah meladeninya dengan senang hati, seakan ia bangga dengan apa yang diceritakan oleh Daniel si penyombong itu.
"Tampaknya sudah malam juga. Ma, kita pulang yuk," ajak Yuna.
"Ya kamu bayar dulu makanannya, Mama tidak akan pulang jika kamu tidak membayarnya. Kita harus menunjukkan yang terbaik pada keluarga Bastoro, dan kamu jangan bikin Mama malu," balas Bu Rosi dengan ikut berbisik.
Yuni memanggil pelayan untuk melihat tagihan bill yang harus ia bayar.
"32 Juta?" gumamnya sedikit terkejut.
"Astaga! Bisa semahal itu?" Bu Rosi pun ikut terkejut, bagaimana tidak, Bu Rosi terus memesan makanan sesukanya demi memperlihatkan yang paling perfect untuk Daniel, agar mereka terkesan cukup mampu.
"Kenapa, Yuna? Apa perlu aku bantu bayar?" kata Rendra mencari muka.
"Sudah, tidak usah, Nak Rendra. Kita yang akan bayar semuanya," tolak Bu Rosi dengan cepat.
"Bagaimana, Ma? Yuna tidak ada uang segini, hanya ada 20 Juta pemberian bos tadi siang. Atau kalau tidak, Yuna pinjam cek yang diberikan oleh Samuel, nanti akan Yuna bayar setelah ada uangnya." Mereka terus berbicara dengan nada yang begitu pelan.
"Ceknya Mama tinggal di rumah." Bu Rosi mulai geram, tak bisa berpikir dengan jernih.
"Ada apa? Apakah ada yang salah?" Daniel yang melihat wajah pucat Rosi dan Yuna, bertanya dengan sorotan mata yang penuh tanda tanya.
"*Matilah, ini namanya meninggi untuk direndahkan*," batin Rosi kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦a͒r͒r͒o͒w͒ 🏹
Dasar mertua oon
2021-12-26
1
Novianti Ratnasari
ih aku sebel am si bu Rosi.
2021-12-03
0
lala
nexs
2021-10-14
0