"Ihhh… kenapa semua lowongan udah tutup? Ini koran hari inikan? Aneh? Coba satu lagi… semoga diterima. Amin." ucap Sasa, Menelepon lowongan pekerjaan dikoran.
Sasa pun berdoa berharap perusahaan itu bisa menerimanya. Dan sasa mulai menekan tombol teleponnya dengan perlahan dan menelepon nomor perusahaannya.
Ricky yang sudah sampai di lampu merah dan melihat wanita yang duduk sambil bertelepon. Sama persis dengan wanita yang Alex sebutkan. Dan Rickypun mendengar semua pembicaraan Sasa dengan karyawan perusahaan yang Sasa telepon.
Tuuuuuut…..tuuuuuttt…..tutttttttt
"Hallo selamat siang?" Suara perempuan dari perusaan yang Sasa lamar.
"Ya buk. Selamat siang… apa benar ini hotel grand suaka?" Dengan hati deg degan Sasa berusaha tenang berbicara.
"Ya. Benar mbak, Dengan siapa saya bicara?" Ucap staff penerima telepon lowongan pekerjaan dari koran.
"Nama saya Sasa buk…. Apa bener hotel ini membuka lowongan pekerjaan?" Tanya sasa.
"Ya Benar, tapi maaf sudah penuh. Anda telat satu jam, Lowongan kerja sudah kami tutup." Ucap staff
"Oh. I.ia terimakasih" Sasa pun menutup telponnya. Dan pergi berjalan sambil menunduk. Ricky mengikutinya. Dan sambil menelepon hotel grand suaka untuk menelepon kembali Sasa. Supaya diterima di Hotel tersebut.
"Hallo selamat siang?" ucap Karyawan hotel grand suaka
"Ya selamat siang. Saya Ricky Asisten pribadi pemilik Tower High. Tadi ada wanita yang baru saja menelepon, Siapa namanya?" Tanya Ricky dengan tegas
"Ohh...ia, Namanya Sasa pak. Dia ingin bekerja di hotel kita pak, Tapi saya sudah bilang kalau penerimaanya sudah penuh pak..." Ucap karyawan hotel
"Telepon dan terima dia kembali. Besok saya akan menginterviewnya." Ucap Ricky
"Tapi pak?" Ucap Karyawan hotel
"Saya tidak mau dengar alasan apapun. Pokoknya besok saya sudah bertemu dengannya… ini perintah GM." Ucap Ricky sedikit menekan.
"Baik pak. Akan kami telepon segera." Jawab karyawan yang takut mendengar perintah dari Alex GM. Dan Rickypun mematikan ponselnya
"Dengar perintah GM ajah, semua takut… Emang aku tidak berpengaruh apah?" Ucap Ricky yang ngelantur bahwa pemilik hotel lebih takut pada bosnya Alex GM dibanding dirinya.
Ricky masih tetap mengikuti Sasa dari belakang
Tiba tiba kring kring kring… Suara telepon genggam Sasa berbunyi. Sasa melihat ponselnya dan kebingungan. Karna dia tidak menyimpan nomor perusaan tersebut.
"Ha...halooo? Ini siapa" Tanya Sasa
"Maaf, apa benar ini yang bernama Sasa?" ucap karyawan hotel
"Iaah… Benar. Ini siapa yah?" Ucap Sasa bertanya sambil berjalan menghempas hempaskan koran lowongan pekerjaan
"Maaf buk. Kami dari hotel grand suaka, masih membuka lowongan pekerjaan untuk ibu, Karna masih kurang satu lagi. Apakah ibu masih ingin bekerja bersama kami?" Tanya karyawan Hotel.
Dan seketika itu Sasa berhenti berjalan dan langsung menjawab.
"Ia..ia… saya mau buk!" Sasa menjawab cepat tanpa berfikir panjang.
"Baik buk. Besok ibuk interview jam sembilan pagi jangan sampai terlambat, atau ibu akan langsung di anggap gugur dari hotel kami." ucap Karyawan hotel
"Ia buk. Saya pasti datang dan tidak akan terlambat." Ucap Sasa menjawab dengan keyakinan.
"Baik. Kami tunggu, terimakasih selamat siang." Ucap karyawan, hotel dan menutup telponnya.
Ricky pun tersenyum dan berhenti mengikutinya, dan balik arah. Tiba tiba Alex datang menghampiri Ricky.
"Mana, mana dia?" Tanya Alex, sambil melihat sekeliling.
"Siapa?" Jawab Ricky.
"Wanita itu. Kau bilang sudah melihatnya, dimana dia?" Tanya Alex yang ingin sekali berjumpa dengannya.
"Alex… dengar. Aku tidak mau kamu. Berlebihan terhadap wanita itu. Jika kalian berjodoh, Kalian pasti bertemu. Tidak sekarang, ya mungkin besok, lusa atau hari berikutnya." Terang Ricky. Berpura pura tidak melihat Sasa
"Maksud kamu apa?" Tanya Alex seakan dia dipermainkan oleh Ricky
"Lex… kamu harus bisa menahan diri. Kalau kamu terlalu memaksa, Kamu juga Tidak akan bisa mencintainya dengan baik. Yang ada Dia akan semakin menjauh." Jawab Ricky yang ingin menenangkan Alex yang sudah mati penasaran
"Ricky! Kamu tidak tau betapa sesaknya dadaku mengingatnya. Mengingat mata indahnya dan mengingat tangisnya yang setiap kali aku mengingatnya hatiku sangat sakit. Paham!" ucap Alex, marah. Tiba tiba menarik krah baju Ricky dengan kedua tangannya, bahkan menariknya dengan sangat kencang.
Rickypun melepas tangan Alex dengan pelan.
"Hem… Makanya, ini karma bagimu. Sudah tau melakukan kesalahan. Kenapa kemaren kamu membiarkannya begitu saja dan meninggalkannya dirumah sakit sendirian. Dan satu lagi, Dia akan lebih sakit lagi kalau dia tau kau mencarinya. Yang sudah meremehkannya dengan uang satu juta… dunia ini tak sama lex, tak semua wanita itu matre. Jadi ini pelajaran bagimu. Untuk lebih menghargai wanita lagi. Aku pergi dulu" Jawab Ricky yang sudah berpengalaman soal cinta.
"Ricky...Ricky… aku belom siap bicara…" Ucap Alex, sangat marah melihat Ricky yang langsung masuk ke mobil dan pergi.
Sementara Ricky ketakutan didalam mobil, sambil melaju kencang meninggalkan Alex.
"Semoga ucapanku tadi tidak membuatku dipecat besok. Iii itu sangat menyeramkan." Ucap Ricky dalam mobil
Sementara Alex masih dilampu merah menunggu. Berharap Sasa lewat lagi dari sana.
Sasapun sampai dirumah, bahkan hampir terjatuh didepan pintu. saking senangnya ingin memberitahu ibu dan ayahnya….
"Buuu…. Ayaaah…" panggil Sasa, lalu memeluk Ayah dan Ibunya yang kebetulan berdiri dekat pintu rumah.
Ayah dan Ibunya masih bingung. sambil meluk dan mengelus rambut Sasa
"Ayok, duduk dulu… baru cerita pelan pelan." Ayah mengajak Sasa duduk diruang tamu
"Jadiiii… Sasa udah dapat kerja, Buk!" Ucap Sasa
Sasa sangat bersemangat bercerita kepada ibu san ayahnya.
"Oh yah? ibu seneng banget dengernya Nak, dimana?" Tanya ibu
"Di Hotel Buk, meskipun sekarang cuma Cleaning Service dulu.. tapi tenang. Ada jenjang karirnya kok, gajinya juga lumayan dan bahkan… Hotelnya sangat besar dan." Ucap Sasa, tiba tiba terdiam karna jari telunjuk ibunya mendarat dibibirnya.
"Ssssttttt…. Nak. Dengar Ibu… Apapun pekerjaan mu, Yang penting Halal. Kamu harus nyaman, dan bisa mencintai pekerjaanmu itu" Ucap ibu, menarik tangannya dari bibir Sasa yang terlalu banyak bicara dan bersemangat.
"Ya Nak.. Kamu sudah dewasa dan sudah bisa menentukan pilihan kamu sendiri. Ayah dan Ibumu akan selalu mendukung Mu apapun itu." Ucap Ayah, Memeluk Sasa dengan sangat hangat.
"Makasih ayah, buk. Sasa sayang sama ayah dan ibu" ucap Sasa
"Ayah, ibuk juga sayang sama Sasa…" saut Ayah
"Ya sudah, Kita makan malam diluar saja hari ini. Buat ngerayain Putri tercinta ayah yang sudah dapat kerja bagus… Dan ayah yang teraktir." ucap ayah Sasa
"Yang bener Yah? Yodah Sasa mandi dulu ya Yah... Baru kita berangkat" Ucap Sasa
"Ya sudah. Kita siap siap yok Yah." Ajak Ibu
"Yok buk. Sasakan kalau mandi secepat kilat.. hahaha" Ucap Ayah bercanda dengan Ibu
"Ia.. Ayah bener hahaha." Ucap Ibu, Sambil berjalan menuju kamar.
Sementara Alex masih menunggu Sasa sampai malam dilampu merah. Berharap Sasa akan menghampirinya.
"Yah.. Buk.. Sasa dah siap nih. ayok." Ajak Sasa
"Yok, Ibu juga sudah siap." Ucap Ibu dari kamar
"Ayah juga udah siap nih…" Ucap Ayah, keluar dari kamar tiba tiba melihat putrinya berdandan cantik.
"Gimana cantik kan?" Tanya Sasa pada Ayah dan Ibunya.
"Ya Tuhan. Cantik sekali putri Ayah. Persis seperti Ibumu dulu. Bikin Ayah cinta sampai sekarang." Ucap Ayah
"Oooo so sweet sekali… semoga nanti Sasa dapat jodoh kaya Ayah yang sayangnya sampai lupa dengan dirinya sendiri. Haha" Ucap Sasa, bermanja dengan Ibu dan Ayahnya.
"Sudah sudah, Ayok kita pergi. Nanti terlalu lama." Ajak Ibu yang ingin cepat cepat makan.
Mereka pun pergi berjalan menuju kuliner di pinggir jalan dekat lampu merah tempat Alex menunggu.
Saat mereka ingin menyebrang tiba tiba Ayah Sasa diserempet mobil, dan sejenak keadaan dijalan itu tiba tiba seperti berhenti, dan jelas mata Sasa melihat ayahnya yang terluka parah…
sontak Sasa berteriak.
"Ayah…. Ayah dengar Sasa… toloooong… tolong Ayah sasa…" jerit Sasa, meminta pertolongan ke orang orang yang mengelilingi Sasa, Ayah, dan Ibunya…
"Tolong pak, tolong suami saya…" Ibu Sasa minta tolong sambil berdiri memohon kepada orang orang.
Saat itu Alex mendengar suara kecelakaan itu, tapi Alex hanya berdiri saja. Terdengar sangat ribut karna kerumunan orang orang.
Seseorang pun ada yang mau membantu, dan melarikan ke rumah sakit terdekat. Didalam mobil Sasa sangat panik dan terus mengelus elus kepala Ayahnya dan menggenggam tangan ayahnya… Sasapun sesekali melihat Ibunya yang sangat kawatir akan kehilangan Ayahnya.
Alex yang duduk dekat lampu merah, melihat kearah mobil yang Sasa naiki bersama Ayah dan Ibunya.
Tapi Alex tidak melihat Jelas wajah Sasa. Meski Alex melihat Sasa dari kaca mobil yang transparan.
Suara ponsel Alexpun berbunyi
"Halo.." Alex menjawab
"Kamu dimana? Cepat pulang kerumah" Mama Alex
"Hemm" jawab Alex sambil melihat kekiri dan kekanan. Dan akhirnya pergi dengan hati yang kecewa. lalu masuk kedalam mobilnya dan melaju kencang sambil memutar lagu yang sangat menyentuh hati. Dan Alexpun mematikan musik itu. Karna lirik lagu tersebut, sama dengan isi hatinya.
setelah sampai dirumah. Alex melihat keluarga Elsa. Dan Alexpun berjalan perlahan menuju ruang tamu yang sudah ada keluarga Elsa dan Mamanya Alex. Alexpun duduk tepat disebelah Mamanya.
"Sini sayang. Duduk disebelah Mama" Ucap Mama Alex dengan wajah bersandiwara, yang selama ini tidak pernah cocok dengan Alex.
"Ada apa ini? Jangan melakukan sesuatu tanpa izin dari Ku." Ucap Alex dengan wajah serius.
"Mama sudah mengatur semua acara, pernikahanmu dengan Elsa. Jadi Mama dan keluarga Elsa sudah menentukan tanggal pernikahan kalian." Ucap Mama, memberitahu Alex.
"Ma, Dari dulu Alex tidak pernah setuju atas semua yang Mama rencanakan buat Alex, bahkan Mama tidak paham sedikitpun dengan Alex." Ucap Alex, marah pada Mamanya.
Tiba tiba Elsa berdiri
"Alex. Apa lagi? Bukankah semua sudah setuju?" Elsa menghampiri Alex…
Alex menatap Elsa dengan Tajam, Lalu berjalan menuju tangga. tiba tiba Alex berhenti
"Ricky benar Aku tak pernah menghargai perasaan orang, dan membuat wanita itu jauh dariku. Mungkinkah ini sudah jalan Ku. Dan wanita itu memang bukan jodoh Ku. Semoga dengan aku membuka hatiku untuk Elsa. Aku bisa mencintai Elsa lagi. Akan Aku coba lagi." Ucap dalam hati Alex
Alexpun berbalik badan
"Baik. Aku akan menikah dengan Elsa, bulan depan… tapi jangan memaksa Ku, sebisa mungkin akan Ku coba." Ucap Alex berbalik dan pergi kekamarnya.
"Mah… Pah… Alex setuju." Elsa pun memeluk Papah dan Mamahnya dan memeluk Mama Alex, sepakat mempersiapkan semua.
"Semoga keputusan Ku benar. Huffff…" ternyata harus ada yang terluka untuk kebahagiaan banyak orang lain." Ucap Alex berbicara sendiri dikamar dan akhirnya tidur.
Sementara Sasa sampai dirumah sakit, para perawat dan Dokterpun menjemput Ayah Sasa ke depan pintu rumah sakit dengan meletakkan Ayahnya dibrankar dorong.
Saat Sasa, Ibunya, Perawat Dan Dokter mendorong ayahnya keruang IGD untuk ditangani Dokter… Tidak sengaja, melihat Sasa mendorong ayahnya ke IGD. Dan mengikuti Sasa.
"Maaf buk sampai disini saja" ucap perawat, menahan ibu dan sasa didepan pintu IGD.
Tiba tiba Roy datang menghampiri Sasa yang duduk didepan pintu IGD
"Sasa?" panggil Roy
Sasapun melihat Roy.
"Yah" jawab Sasa, melihat Roy dengan air mata yang berlinang wajahnya
Roy melihat Ibu Sasa, lalu mengulurkan tangannya ke ibu Sasa
"Saya Roy… teman Sasa Buk!..." ucap Roy
"Ohh. Ia…" jawab ibu yang masih menangis
"Siapa yang sakit?" Tanya Roy pada Sasa
"Ayahku Roy, Baru diitabrak orang dan langsung pergi." Jawab Sasa
Saat Roy akan bertanya pada Sasa. Tiba tiba Perawat dan Dokter keluar dari ruang IGD.
"Maaf, siapa keluarganya?" Tanya Perawat
"Saya… saya anaknya" jawab Sasa
"Beliau harus dioperasi. Karna benturan dikepala Beliau sangat keras. Sehingga mengakibatkan pendarahan diotak. Untuk itu kalian harus mengurus persetujuan operasi dan juga biaya administrasinya. Jikalau sudah beres. Maka operasi akan berjalan besok." ucap Dokter
"Baik Dok. Akan kami selesaikan hari ini" Jawab Sasa
"Baik. Saya permisi dulu" ucap dokter dan perawat rumah sakit meninggalkan mereka.
"Ayo Buk, kita selesaikan adminstrasinya dulu." Ajak Sasa. Dan Roy masih ikut bersama mereka.
"Ia…" jawab ibu yang masih sedih
Sesampai ditempat pembayaran administrasi Ayahnya. Sasapun bertanya atas nama Ayahnya.
"Ini mbak. yang harus mbak bayarkan besok. semakin cepat bayar, maka operasi akan dilaksanakan besok." Ucap perawat, memberi kwitansi atas pembayaran operasi ayahnya.
"Hah… Dua puluh juta? Buk? Bagaimana ini? Dari mana kita dapat uang sebanyak ini?" Tanya Sasa pada ibunya membuat air matanya semakin deras.
"Sudah sudah biar besok Ibu coba pinjam sama majikan Ibu." Ucap ibu Sasa
Setelah mendengar Sasa dan Ibunya kesulitan, Roy langsung mengambil kertas yang ada ditangan Sasa. Dan memberikan kertas tersebut kepada staff rumah sakit.
"Ini… saya bayar. Saya mau operasi besok berjalan lancar, tanpa ada hambatan. Saya yang bertanggung jawab atas semua ini." Perintah Roy ke salah satu perawat tempat pembayaran tersebut. Dan memberikan kartu kreditnya
"Baik Pak. Kami akan lakukan sesuai perintah Bapak" Jawab salah satu perawat yang berjaga malam itu
"Baik" Jawab Roy ke perawat rumah sakit
"Roy… kenapa?" Tanya Sasa
"Apanya? Bukankah seorang teman pantas melakukan ini?" tetang Roy
"Tapi kamu kan?" Seketika ucapan Sasa terputus
"Ia… Aku tau. Aku bukan siapa siapa kalian. Anggap aja Aku Temanmu! bagaimana? Dan semua ini anggap saja pengorbanan seorang teman." Jawab Roy yang ingin dekat dengan Sasa.
"Aku janji. Aku akan bayar itu semua" Ucap Sasa atas semua kebaikan Roy
"Okeh… jadi sekarang kita bertemankan?" Ucap Roy mengulurkan tangannya kepada Sasa.
"Ia…, Terimakasih yah." Ucap Sasa, tersenyum. serasa bebannya terlepas.
"Mmm bagaimana kalau kalian saya antar pulang.. ini sudah malam…" tanyak Roy.
"Tidak Roy. Kami akan menginap disini menemani ayah sampai pagi…" jawab Sasa.
"Nak… kamu harus pulang. Besok kamu interview" suruh Ibu Sasa
"Tapi Buk… teman Ibu disini siapa?" Tanya Sasa.
"Eee… begini saja. Ibu dan Sasa pulang. Biar Saya suruh bagian rumah sakit ini untuk penjagaan didepan ruangan Bapak, bagaimana?" Ucap Roy.
"Tidak Nak… ibu bisa minta tolongkan? tolong antarkan Sasa. Besok dia harus kerja Nak." Suruh Ibu
"Baik Buk!" Saut Roy
"tapi buk?" Ucap Sasa
"Ibu, baik baik saja. Ibu tidak tenang meninggalkan Ayahmu sendirian disini. Ibu ingin menemani Ayahmu terus Nak." ucap Ibu menenangkan Sasa.
"Baik buk. Tapi Sasa beli makanan sama ibu dulu yah. Ibukan belom makan malam." ucap Sasa
"Iah…" jawab ibu
"Yok… saya temani belikan makanan?" Ajak Roy
merekapun berjalan bersama mengantarkan Ibu kedepan ruangan Ayah Sasa.
"Tunggu sebentar ya buk." Ucap Sasa.
Roy dan Sasa pun menuju besmen tempat parkiran. Dan merekapun masuk kemobil. Mereka hanya diam saja. Roy sesekali melihat Sasa yang masih sedih. Roypun tidak mau membuat suasana hati Sasa semakin sedih. Sampai akhirnya mereka berhenti disalah satu toko roti, membeli makanan untuk Ibunya. Roy mengikuti Sasa sampai ke tempat pembayaran. Saat kasir toko roti mulai menghitung belanjaan Sasa. Sasa mencari cari uang dikantongnya yang sebenarnya dia tidak bawa uang. Sampai akhirnya Roy yang membayarkannya lagi, dengan mengambil kartu ATMnya dan menyuruh kasir itu untuk diam. Dan Roy mengambil semua pesanan roti Sasa dan menunjukkan kehadapan Sasa.
"Yok. Mungkin Ibu disana sudah lapar." Ucap Roy, Pergi kemobil dengan membawa roti ditangannya.
"Roy… tunggu… Terima kasih yah." ucap Sasa pada Roy,
Dan Roy berhenti. saat Roy hampir sampai kepintu mobilnya. Roy hendak embukakan pintu mobil untuk Sasa.
"I.ia… sama sama. apa kita sudah bisa pergi?" Tanya Roy, tersenyum.
"Roy. Seandainya kamu tidak ada.. Ayah ku pasti…" Sasa menunduk dan menangis lagi mengingat kejadian Ayahnya.
Dan Roypun langsung memeluknya dengan hangat.. menepuk nepuk pundak Sasa dengan lembut. Tanpa sadar dalam kesedihan. Sasa tetap menangis dipelukan Roy. Tiba tiba Alex lewat tanpa melihat ke kiri dan terus melaju kencang…
Dan Sasa tersadar saat kesedihannya mulai reda…
"Maaf… aku terbawa suasana." Sasa langsung masuk ke dalam mobil.
Roypun tersenyum sebelum berbalik badan kearah mobil. Seketika wajah Roy berubah jadi biasa biasa saja. Dan merekapun pergi ke rumah sakit tempat Ayah Sasa dirawat.
Lagi lagi Sasa mengucapkan terima kasih pada Roy
"Terimakasih." ucap Sasa sambil menatap serius kedepan
"Ia...ia...ia...dan ya…. Aku tidak tau sudah berapa kali kamu ucapkan itu… Dan kamu harus dengar ini! Aku iklas bantu kamu, bukan karna niat apapun itu… jadi stop bilang, terimakasih." Ucap Roy dengan sungguh sungguh.
Sasapun tersenyum dan menatap Roy. Tapi Roy pura pura tidak melihat tatapan Sasa. Dan Sasapun menunduk dan tersenyum menyadari kebaikan Roy.
Dan merekapun sampai di rumah sakit tersebut. Sasa, mengantarkan makanan buat Ibunya. Dan Sasa pamit pada ibunya untuk pulang.
"Buk. Ibu bener tidak apa apa sendiri?" Tanya Sasa sekali lagi pada Ibunya.
"Ia sayang. Ibu tidak apa apa. Besok kamu harus cepat pergi, jangan sampai terlambat yah nak" Ucap ibu yang lelah menanti Suami tercintanya
"Baik Buk… sampai jumpa besok" Ucap Sasa
"Yah… Hati hati ya nak" pesan ibu
Sasa mengangguk dan pergi
"Mari Saya antar" ajak Roy
"Makasih Roy" Ucap Sasa, tersenyum kepada Roy
"Iaaa..." ucap Roy dan berjalan dibelakang Sasa
Sasapun pergi berjalan menuju mobil Roy.
"Roy…" Sasa memanggil, tapi Sasa terdiam kembali. Menunduk dan menarik nafas panjang.
"Kenapa? Mau bilang terimakasih lagi???" Jawab Roy yang langsung membaca pikiran Sasa sambil menyetir mobil.
Sasapun tersenyum malu, dan sesekali menunjukkan arah jalan kerumahnya
"Nah itu rumahnya. Kamu tidak singgah dulu?" Tanyak Sasa
"Emm... kayanya Aku langsung balik ajah deh. Orang tuaku baru sampai dari luar negeri. Mungkin mereka sudah menungguku dari tadi. Enggak apa apakan?" ucap Roy
"Oohhh... begitu." ucap Sasa dan keluar dari mobil Roy
"Sampai jumpa." Ucap Roy dan melambaikan tangannya kepada Sasa lalu pergi.
Sementara Sasa melambaikan tangan kepada Roy yang sudah tidak terlihat lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Fitrah Edy Kasea Manik
lanjud mbak dah lama menunggu episod selanjudnya
2020-10-23
1