..."Bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan yang tidak pernah ku harapkan"...
...~Rian Samudra~...
...----------------...
Kini Reiyana sudah tiba di pusat perbelanjaan terbesar yang ada di sana. Ia pun segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam bangunan pusat perbelanjaan tersebut. Banyak pasang mata yang terpesona akan dirinya tapi ia tampak tidak peduli sama sekali. Lihatlah—Bagaimana ia hanya sibuk berbelanja semua kebutuhan yang butuhkannya. Dari pakaian, aksesoris, beberapa bahan makanan, serta tidak lupa pula perlengkapan sekolah karena ia akan mendaftar sekolah di SMA terfavorit di kota tersebut.
[Note: Reiyana pergi ke kota tersebut setelah di usir dari keluarga Andara yang tinggal di kota sebelah]
Setelah memastikan kebutuhannya sudah di beli semua, Reiyana pergi ke sebuah restoran yang ada di sana. Ia akan makan siang terlebih dulu karena memang sudah waktunya.
"Pelayan!" panggil reiyana pada salah seorang pelayan restoran. Dimana pelayan itu segera datang menghampirinya.
"Selamat siang. Nona ingin memesan apa?" sapa pelayan itu dengan ramah.
Reiyana tidak langsung menjawab, melainkan melihat buku menu yang ada di meja tersebut. "Satu paket Ayam bakar, kentang goreng sama minumannya cappucino,"
"Apa ada yang lain lagi, nona?" pelayan itu bertanya usai mencatat pesanan Reiyana.
"Itu saja," jawab Reiyana singkat.
"Baik. Pesanan nona akan segera siap. Mohon menunggu sebentar!"
Kemudian pelayan itu pergi dari hadapannya. Reiyana pun memutuskan untuk bermain ponsel seraya menunggu pesanannya. Hingga tidak berselang lama, pesanannya d antarkan seorang pelayan. Tanpa membuang waktu, ia segera memakannya.
SKIP
Usai makan, Reiyana pergi dari sana karena sudah cukup puas berbelanja. Saat akan masuk ke dalam mobil setibanya di parkiran, ia tidak sengaja melihat seorang wanita tua dan laki-laki muda sedang mengemis di pinggir jalan. Entah mengapa hati Reiyana tergerak untuk menghampiri mereka berdua.
"Permisi!?" ucap Reiyana setibanya dihadapan kedua orang itu.
"Non minta uangnya, non! Saya dan anak saya belum makan dari kemarin," wanita tua itu langsung mengulurkan tangannya pada Reiyana dengan raut wajah menyedihkan.
"Ibu sudah tua. Kenapa mengemis seperti ini?" tanya Reiyana seraya berjongkok agar lebih nyaman berbicara.
"Ini semua karena ayahku!" bukan wanita tua itu yang menjawab, tetapi laki-laki muda di sebelahnya.
Reiyana mengernyitkan dahinya. Namun sebelum ia bertanya, wanita tua yang tidak lain adalah ibu dari laki-laki muda itu langsung menyela.
"Maafkan anak saya, nona. Dia hanya berbicara sembarangan,"
Mengerti akan hal yang tidak seharusnya ia cari tahu lebih lanjut, Reiyana mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Kalian tinggal dimana?"
"Kami sudah tidak punya tempat tinggal, nona! Jadi kami beristirahat dimana ada tempat saja," ucap wanita tua itu berterus terang.
"Hmm. Bagaimana kalau sekarang kalian ikut bersamaku?" Reiyana menawarkannya secara spontan tanpa banyak berpikir.
Hal itu sontak membuat kedua orang di depannya terkejut. Tetapi, tak ayal wanita itu langsung menolak secara halus.
"Maaf, nona. Kami tidak enak hati kalau ikut bersama nona,"
Reiyana mengerti alasan sebenarnya dari penolakan tersebut. "Saya tahu jelas apa yang membuat ibu menolak. Kalian tidak perlu khawatir, saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin memberikan kehidupan yang layak untuk kalian,"
"Tapi—"
Sebelum wanita tua itu memberikan penolakan untuk kedua kalinya, Reiyana sudah lebih dulu menyelanya.
"Tawaran saya bukan untuk mendapat penolakan. Selain itu, saya juga serius akan tawaran ini!" seru Reiyana bernada datar, tidak seperti sebelumnya.
Ia bersikeras ingin membawa kedua orang itu ikut bersamanya, mungkin karena merasa nasibnya dengan mereka sama.
"Sudahlah, bu. Tidak ada salahnya kita ikut dengannya. Siapa tahu kehidupan kita akan lebih layak," bisik sang anak yang merasa tawaran Reiyana tidak boleh di sia-siakan.
Wanita tua itu pun menghela nafas. Ucapan anaknya tidak salah. Mungkin saja tawaran ini akan memperbaiki kehidupan mereka.
"Baiklah. Kami bersedia ikut nona," akhirnya itulah keputusan yang ia buat.
Reiyana tersenyum samar, sampai kedua orang itu tidak ada yang menyadarinya. "Sebelumnya siapa nama ibu?"
"Nama saya—Suriyati, nona. Panggil saja bi Yati," jawab wanita tua itu memperkenalkan dirinya.
"Lalu kau?" tunjuk Reiyana pada anak bi Yati.
"Rian Samudra," laki-laki muda yang di perkirakan seumurannya itu langsung memperkenalkan dirinya dengan singkat.
Rian Samudra—Laki-laki muda yang cukup tampan dengan tinggi ideal. Di lihat dari sikapnya, Reiyana tahu kalau Rian itu sebenarnya tipe yang cukup tenang. Tadi ia hanya emosi sesaat saat menjawab pertanyaannya.
"Umur?" tanya Reiyana lagi.
"Baru 17 tahun," jawab Rian
"Berarti kau lebih tua setahun dariku," Reiyana bersedekap dada seraya beranjak berdiri.
"Benarkah?"
Reiyana menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan Rian. "Masih sekolah?"
Pertanyaan itu jelas membuat perubahan raut wajah Rian menjadi sendu. "Sudah tidak lagi sejak satu tahun lalu,"
"Hmm. Kalau begitu kau akan kembali sekolah bersamaku di salah satu SMA terfavorit di sini,"
Ucapan Reiyana barusan membuat Rian terkejut, sekaligus tidak percaya. Jika itu sungguhan, ia akan sangat senang bisa kembali bersekolah.
"Apa nona serius?" tanya Rian memastikan.
"Aku tidak sedang bercanda,"
...》Bersambung《...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 594 Episodes
Comments
Kharin Ree Zanzea
emm syuka bgt sifat reiyana baik meskipun dingin .lanjut terus thor💪
2021-07-10
0
chris sibarani
Hahaha.. Dah lama gak baca cerita ada kata "kau" seperti nya orang sumatera penulis nya yah.. Sungguh menarik
2021-04-30
0
Herna Wati
ibu pengemis itu dijadikan pembantu di mansion nya.
anak laki itu nanti dijadikan pengawal
kalau ga salah begitu ya thor
2021-03-28
2