..."Kadang kita harus berada di bawah terlebih dahulu agar dapat mencapai puncak teratas"...
...~Reiyana Rendra~...
...----------------...
Membutuhkan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke mansion yang di maksudkan. Dimana Mansion itu benar-benar berada di pinggiran kota. Dengan gerbang mansion yang berdiri menjulang tinggi dan kokoh. Di sekeliling Mansion itu di penuhi pepohonan yang rindang. Lokasi yang begitu sesuai dengan keinginan Reiyana.
"Bagaimana, nona muda?" tanya pria paruh baya itu saat mobilnya berhenti tepat di depan gerbang Mansion.
"Seperti yang ku harapkan," jawab Reiyana tanpa mengalihkan pandangannya yang tengah menatap ke sekitar Mansion.
Pria paruh baya itu tersenyum puas. "Di dalamnya juga tidak akan mengecewakan nona muda,"
Kemudian pria paruh baya itu segera melajukan mobilnya memasuki halaman utama Mansion yang luas, usai membuka pintu Gerbang dengan tombol otomatis. Dan—Interior bangunan Mansion yang sangat simpel tapi terkesan begitu mewah itu berhasil membuat perhatian Reiyana terpusat sepenuhnya pada Mansion.
"Mari masuk, nona!" ajak pria paruh baya itu saat sudah turun dari mobil.
Reiyana mengangguk setuju, sembari mengikuti langkah pria paruh baya itu masuk ke dalam Mansion yang sudah di buka pintunya. Diam-diam ia berdecak puas saat melihat isi Mansion tersebut. Dimana semua yang terdapat dalam Mansion tersebut sama persis dengan yang di harapkannya.
"Apa ada yang tidak sesuai dengan keinginan nona muda?"
"Tidak. Semuanya sudah memenuhi keinginanku," jawab Reiyana seraya kembali meneliti ke sekitar.
"Syukurlah kalau benar begitu, nona muda. Saya senang bisa memuaskan anda dengan Mansion ini," tutur pria paruh baya itu, tersenyum senang.
"Hmm. Sekarang lakukanlah pembayaran untuk Mansion ini!" Reiyana sudah tidak ingin membuang waktu.
Baginya Mansion ini sudah memenuhi harapannya dan tidak perlu banyak berpikir lagi untuk membelinya.
Pria paruh baya itu mengangguk mengerti. "Tunggu sebentar, nona!"
Kemudian pria paruh baya itu pergi sebentar ke mobilnya untuk mengambil surat kepemilikan Mansion itu, beserta tanda transaksi yang memang sudah di bawanya. Lalu ia segera kembali menghampiri Reiyana yang tampak sudah duduk di sofa ruang tamu. Mereka berdua langsung memulai proses transaksi.
"Ini Blackcard milik nona muda. Saya sudah menarik uang pembelian Mansion ini sesuai kesepakatan," pria paruh baya itu menyerahkan kembali Blackcard yang sebelumnya Reiyana berikan.
"Dan—Ini surat kepemilikan Mansion ini yang resmi menjadi milik nona muda," sambungnya.
Proses transaksi sudah selesai di lakukan. Oleh karena itu surat kepemilikan Mansion itu sekarang di serahkan pada Reiyana.
"Terima kasih," ungkap Reiyana singkat sembari menerima kedua benda itu secara bersamaan.
"Sama-sama, nona muda. Saya senang bisa berbisnis dengan nona!" pria paruh baya itu mengulurkan tangan, ingin berjabat tangan dan Reiyana langsung menyambutnya untuk waktu yang singkat.
Sebelum akhirnya pria paruh baya itu berpamitan pergi. "Baiklah. Kalau begitu saya tidak mengganggu nona lagi di sini,"
"Tunggu sebentar!" seru Reiyana menghentikan pria paruh baya itu.
"Ada apa, nona?"
"Saya ingin minta sesuatu hal pada Anda," Reiyana mengatakannya dengan nada yang terdengar dingin.
"Apa itu, nona? Silakan katakan saja!" sahut pria paruh baya itu mempersilahkan.
"Bisakah anda menyimpan identitas saya dari orang luar? Saya tidak ingin ada yang mengetahui keberadaan saya di sini," pinta Reiyana dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Tentu saja bisa karena nona adalah pembeli mansion saya. Pasti saya akan menjaga privasi nona dari siapapun," jawab pria paruh baya itu dengan tegas.
"Hmm baguslah," Reiyana berdeham singkat.
"Kalau tidak ada hal lain lagi yang nona inginkan, saya permisi! Ini kunci Mansionnya dan selamat malam, nona muda!" pria paruh baya itu berpamitan sambil memberikan kunci mansion tersebut.
Setelah kepergian pria paruh baya itu, Reiyana segera mengunci Mansionnya. Kemudian ia pergi menuju lift yang langsung mengantarnya naik ke lantai paling atas. Setibanya di sana, ia memilih kamar yang paling luas untuknya tempati ke depannya. Dikarenakan di usir tanpa membawa pakaian satupun, oleh karena itu ia hanya membasuh wajahnya dan beristirahat sejenak.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tiba-tiba Reiyana merasa lapar dan memutuskan untuk turun ke lantai dasar. Dimana di situlah terdapat ruang dapur yang begitu lengkap isinya. Bahkan di dalam kulkas pun sudah terdapat berbagai jenis bahan makanan. Tentu saja hal itu dapat terjadi karena sebelum sampai mansion, pria paruh baya tadi sudah memerintahkan seseorang untuk mengisi bahan makanan di dalam kulkas.
Sehingga Reiyana tidak perlu repot lagi pergi membeli makanan. Ia hanya perlu segera bermain dengan peralatan dapur untuk memasak makanan untuknya makan. Eitsss—Jangan salah, meski umurnya baru 16 tahun tapi ia sudah sangat pandai memasak.
SKIP
Reiyana telah selesai bermain dengan peralatan dapur dan kini sudah tersaji beberapa jenis makanan yang siap di santap nya. Tetapi saat ia akan makan di meja makan yang sangat luas, tiba-tiba saja air matanya menetes mengingat bagaimana makan malam di rumah keluarga Andara dulu. Namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
`Tidak! Aku tidak boleh memikirkan, apalagi menangisi mereka semua. Mulai sekarang aku akan menjalani hidupku sendiri tanpa mereka,` batin Reiyana
Reiyana segera melanjutkan makan malamnya seorang diri. Sesudah makan malam, ia membereskan semuanya terlebih dahulu baru kemudian kembali ke lantai atas untuk tidur karena esok adalah hari yang melelahkan baginya.
... 》Bersambung《...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 594 Episodes
Comments
Unkz Phaa
aku mampir thor
2022-05-20
0
xell
gw dulu umur 7 dah pinter masak
2021-04-02
0
taurus
menarik
2021-03-17
0