..."Kemarin merasa bahagia, sekarang dibuat sangat kecewa. Dunia sedang mengajakku bercanda, ya?"...
...~Reiyana Rendra~...
...----------------...
Flashback Off
Setelah pergi dari rumah keluarga Andara, Reina pergi mencari taksi yang dengan cepat di dapatkannya. Lalu taksi yang di tumpanginya itu segera pergi menuju suatu tempat. Sepanjang jalan Reina tampak termenung memikirkan rangkaian kejadian yang sebelumnya terjadi begitu cepat. Ingin tidak percaya tapi semua itu nyata. Sekarang ia benar-benar hanya bisa menerimanya.
"Nona!?" panggil sopir taksi saat sudah tiba di tempat yang di tuju, tetapi Reina tidak kunjung merespon karena masih sibuk termenung.
Hingga memaksa sopir itu untuk memanggilnya kembali. "Nona!!?"
Ternyata panggilan kedua ini berhasil menyadarkan Reina yang langsung menatap ke arah sopir itu, lalu ke arah luar jendela.
"Sudah sampai?"
"Iya, nona. Sudah sampai," sahut sopir itu mengiyakan.
Reina mengangguk ringan sembari memberikan sejumlah uang pada sopir taksi itu. Beruntungnya tas yang di lemparkan nyonya Melissa berisi barang-barang penting miliknya. Termasuk uang dan ATM miliknya pribadi yang berisikan hasil tabungannya selama ini.
"Terima kasih, nona!"
Lagi-lagi Reina mengangguk sebab saat ini sudah lelah untuk bersuara.
Setelah itu, ia beranjak keluar dari taksi sembari membawa tas miliknya. Tanpa banyak berpikir, ia segera memasuki tempat itu. Dimana tujuannya langsung pada bagian resepsionis.
"Selamat malam, nona muda! Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita yang bertugas sebagai resepsionis di tempat itu.
"Aku ingin membeli mansion terbesar yang kalian miliki," sahut Reina to the point.
Sebelumnya ia sudah memikirkan hal itu dengan penuh pertimbangan. Soal uang? Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ia sangat mampu untuk membeli mansion itu.
"Hah—Apa nona muda tidak salah bicara?" resepsionis itu tersentak kaget.
"Hmmm ya," jawab Reina singkat.
"Dimana orang tua mu gadis kecil?"Tanya resepsionis itu sambil melihat-lihat ke belakang Reina.
"Orang tuaku sudah meninggal. Jadi, tolong jangan membuang banyak waktuku!" Reina mengucapkannya dengan nada datar.
Biasanya Reina memang irit berbicara dengan orang lain, selain orang terdekatnya. Bukan ia sombong tapi hanya malas berbicara. Namun sekarang nada bicaranya teramat datar membuat siapapun akan terkejut mendengarnya.
"Ahhh—Baiklah, nona muda. Tunggu sebentar!" sahut Resepsionis itu dengan ragu
Reina tampak mengangguk pelan. Resepsionis itu segera menelpon atasannya dan berbicara secara singkat. Sebelum akhirnya Resepsionis itu kembali berbicara pada Reina, usai teleponnya terputus.
"Sebelumnya siapa nama nona muda?" resepsionis itu bertanya dengan sopan.
Sesaat Reina terdiam mendengar pertanyaan itu. Nama? Ia telah menghapus nama belakangnya sebelum pergi dari rumah keluarga Andara. Selain itu, tidak mungkin untuknya menggunakan namanya lagi untuk sekarang.
"Reiyana Rendra,"
Nama itu terlintas sekilas dalam pikirannya. Dimana masih terdapat namanya yang sebenarnya dan hanya di ubah sedikit. Sedangkan nama belakangnya itu di singkat dari nama ayahnya—Reyhan Nendra Andara.
`Maafkan aku, ayah. Aku terpaksa mengubah namaku agar keberadaan ku tidak di ketahui mereka,` batin Reiyana
[Note: Mulai saat ini nama Reina di ganti menjadi Reiyana]
"Baiklah, nona Reiyana. Silakan ikuti saya!"
Tanpa membalas apapun, Reiyana segera berjalan mengikuti kemana Resepsionis itu mengarahkannya. Hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan.
Tok... Tok.. Tok...
"Masuk!" seru seseorang dari dalam ruangan yang tidak lain adalah atasan dari Resepsionis itu.
Resepsionis itu pun segera membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Reiyana untuk masuk.
"Permisi bos! Ini nona muda yang ingin membeli mansion tadi," ucap Resepsionis itu pada atasannya yang tengah duduk di meja kerjanya.
Atasannya itu merupakan pria paruh baya yang masih tampak awet muda. Sekilas tampak menatap Reiyana, lalu beralih melirik sang karyawan.
"Kau bisa pergi!"
"Baik bos!" Resepsionis itu bergegas keluar dari sana, usai di perintahkan.
Sehingga sekarang di dalam ruangan itu hanya tersisa Reiyana bersama pria paruh baya—Pemilik tempat tersebut.
"Silakan duduk!" ujar pria paruh baya itu dengan senyuman tipis.
Lagi-lagi, Reiyana tidak membalas dan langsung duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Apakah benar nona muda ingin membeli Mansion terbesar yang kami punya??" tanya pria paruh baya itu to the point.
"Benar," jawab Reiyana membenarkan.
"Mansion seperti apa yang nona muda inginkan?" pria paruh baya itu bertanya dengan nada ramah tapi terdengar bersemangat.
"4 atau 5 lantai, berfasilitas canggih dan terletak di pinggiran kota," sahut Reiyana singkat tapi jelas.
"Ah—Kebetulan sekali kami memiliki Mansion seperti itu. Hanya saja itu satu satunya yang terbesar kami punya. Harganya yang fantastis membuatnya belum laku terjual sampai saat ini. Nona yakin ingin membelinya?" pria paruh baya itu memastikan terlebih dulu, sembari menahan perasaan bersemangat dalam dirinya.
"Tentu saja. Sebutkan harga yang perlu aku bayar untuk memilikinya!?"
"Harganya cukup fantastis mengingat kualitas dan juga fasilitasnya, sekitar 4 triliunan. Apa nona masih yakin untuk membelinya?" sekali lagi pria paruh baya itu bertanya untuk memastikan.
Dan—Apa yang Reiyana lakukan? Ia langsung mengeluarkan sebuah Blackcard dari dalam tasnya. Blackcard itu di berikan oleh bibi pengasuhnya beberapa bulan lalu, sebelum meninggal dunia. Bibi pengasuhnya memberikan 3 jenis kartu dengan Limit tidak terbatas. Dimana ia juga di beri pesan kalau itu merupakan titipan orang tuanya dan harus di simpan dengan baik. Dari situ pula Reiyana mulai merasakan kejanggalan dan menyelidiki semuanya. Hingga akhirnya ia menemukan fakta mengejutkan yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
Kembali ke ruangan tadi...
Pria paruh baya itu melongo melihat Blackcard yang saat ini tengah ada di hadapannya. Jelas saja melongo karena tidak semua orang punya Blackcard itu di dunia ini. Lalu bagaimana Reiyana memilikinya? Itulah pertanyaan yang sedang pria paruh baya itu pertanyakan dalam pikirannya.
`Bagaimana bisa nona kecil ini bisa memiliki blackcard yang terbatas ini!? Tidak mungkin ia memilikinya kalau latar belakangnya sembarangan,' batin pria paruh baya itu.
Tapi—Sudahlah. Pria paruh baya itu memilih untuk tidak terlalu penasaran karena sekarang yang terpenting adalah melakukan transaksi menguntungkan ini.
"Baiklah, nona muda. Ikutlah dengan saya untuk melihatnya terlebih dulu!"
Reiyana mengangguk singkat. Lalu mereka berdua segera pergi dari sana menggunakan mobil paruh baya itu.
...•Bersambung•...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 594 Episodes
Comments
Rini Kusmiyanti
aku Suka
2022-04-03
0
IG sidevistabawel
akhirnya novel ini ketemu juga sekian lama aku cri akhirnya ketemu untuk baca ulang 😊 semngat kak ijin baca ulang y kak 🙏
2021-10-11
0
Kharin Ree Zanzea
tertarik kyaknya seru.🤔🤔.. lanjut thor
2021-07-10
0